Dear all ....
Awal saya minta maaf kepada seluruh alumni AKA atas informasi yang saya kirimkan
dengan judul "SANDIWARA", apabila informasi tsb tidak mengena di hati
rekan-rekan sekalian.
Saya sangat menyesal apabila ternyata ada sejumlah alumni yang tidak berkenan
informasi tsb disampaikan melalui milis aka ini seperti Ibu Sulis, Bp. Lukman,
Bp. Iwan, Bp Alex dan Bp. Rogator. Mohon maaf sebesar-besarnya.

Tanpa bermaksud untuk memperpanjang masalah tsb ada beberapa hal yang ingin saya
sampaikan berkenaan dengan kritikan para alumni tentang informasi yang saya
kirim.

1. Apakah informasi ilmiah hanyalah sebuah informasi yang bersifat angka aktual,
hasil analisis AAS,HPLC atau GC? sehingga informasi-informasi seperti yang saya
sampaikan "nggak ilmiah" banget. Setahu saya di LIPI saja ada peneliti yang
berkutat dengan masalah-masalah politik, sosial dan budaya. Apakah analisis
mereka (yang notabene ada yang Master atau Doktor sesuai dengan ilmu mereka)
bukan karya ilmiah? sehingga tidak layak untuk dijadikan wacana bagi alumni?
memang tulisan yang saya kirimkan bukan termasuk dalam karya ilmiah tapi
setidaknya bisa membuka alam pikiran alumni aka bahwa hidup tidak hanya bekerja
di lab atau mengajar tapi lebih dari itu ....

2. Saya sangat setuju dengan tulisan ibu sulis yang mengatakan bahwa "selama ini
di aka memang terjadi gap terhadap golongan tertentu & itulah yang menjadi
mahasiswa/i aka berjalan di tempat, dengan kata lain pakai kacamata kuda tanpa
mengikuti perubahan disekelilingnya yang berwarna-warni".
Di aka memang banyak kelompok-kelompok, tapi coba lihat secara jujur, setiap
kelompok terdiri dari orang-orang yang "nyambung" satu dengan yang lain.
Alangkah sadisnya apabila kita menganggap semua orang harus berdiri dalam
kelompok yang sama sehingga tidak nyambung dan menyebabkan kreativitas atau
keinginan orang tsb tidak berkembang. Di AKA ada anak-anak rohis (dengan
ana/antumnya), anak MAKAPALA (yang sering naik gunung), anak-anak KABEL (yang
setiap kuliah duduk dibelakang), atau anak-anak PMK. Mereka hidup berkomunitas
karena memang mereka begitu adanya, kita tidak memaksa mereka untuk hidup dalam
komunitas yang sama karena wadah tsb (ROHIS, MAKAPALA, KABEL dan PMK) yang akan
mengakomodir setiap apa yang mereka inginkan. Anggapan saya, hidup dalam
komunitas yang berbeda adalah sah-sah saja (kaya' lagu dangdut euy), toh kita
masih satu keyakinan bahwa aka adalah almamater kita yang kita cintai. SETUJU
???
Seringkali ilmu kuliahan tidak mengajarkan apa yang kita sebut sebagai pelajaran
kehidupan. Anak-anak AKA seringkali sibuk dengan kuliahnya (dari pagi sampai
sore bahkan malam), tapi saya rasa bukan hal tsb yang menjadikan kita
beranggapan bahwa anak aka sering pake kacamata kuda sehingga tidak mengikuti
perubahan yang terjadi di sekelilingnya (masyarakat atau kehidupan sosial).
Kepekaan seseorang terhadap sekelilingnya akan muncul manakala mereka hidup
didalamnya (ini yang paling ekstrim), termasuk didalamnya anak-anak aka. Karena
kesibukan kita dikuliahan menyebabkan kita jarang "bersentuhan" dengan
masyarakat akan tetapi ketika kita sudah bekerja kita akan melihat kehidupan
yang sesungguhnya -seseorang yang berbeda prinsip, berbeda sifat, kehidupan
politik dsb-. Nah permasalahannya adalah apakah kita akan terus
mempertahankannya? mengganggap bahwa hidup hanyalah laboratorium saja?
menganggap hidup hanyalah dari rumah ke pabrik dan sebaliknya? menganggap bahwa
kehidupan politik bukanlah bagian dari hidup kita? jawabannya saya kembalikan ke
diri kita masing-masing.

3. Perlu kita sadari bersama adalah kita hidup di dunia industri yang masih
dikendalikan suhu politik, berapa banyak PMA yang cabut ke Vietnam, Thailand dan
Philipina karena iklim invetasi yang tidak menguntungkan. Sudah saatnya kita
juga memikirkan politik sebagai kehidupan kita, cobalah berkaca dengan Argentina
yang sudah melaksanakan perintah "dewa IMF" dengan menjual aset BUMN mereka dan
dampaknya? mereka masih dalam keterpurukan. Indonesia? sama saja, berapa banyak
BUMN yang potensial di jual dengan harga "asongan", sudah pulihkan ekonomi
indonesia? belum !!! karena terlalu banyak orang yang mengatakan dirinya
nasionalis tapi pada kenyataannya masih "luar-negerialis - tau deh bahasa yang
tepat apa". Saya berusaha tidak menjelek-jelekkan seseorang atau satu kelompok,
tapi saya coba untuk mengajak kepada seluruh kita untuk melihat dengan tidak
menggunakan "kacamata kuda", bahwa kehidupan yang kita jalani ini tidak sebatas
kehidupan kita saja, tapi masih ada kehidupan orang-orang lain (masih banyak
orang yang hidup dengan 1000 rupiah/hari, mau beli apa mereka dengan uang
sebesar itu?? naik angkot saja cuman sekali jalan!!).
Berkaitan dengan menjelek-jelekkan orang, apakah POLRI dan PENGADILAN yang
sering mengungkap kejahatan atau korupsi termasuk didalamnya? gak perlulah
dijawab, khawatir ntar timbul masalah lagi.
Sekian tanggapan dari saya, saya tidak memancing konflik ataupun menginginkan
perpecahan diantara alumni aka. Walaupun saya berbeda dengan yang lain tetapi
bagi saya alumi aka tetaplah seseorang yang saya hormati apakah dia berbeda
dengan saya. Memang saya belum bisa menyumbangkan apa-apa kepada aka, tapi saya
bangga sebagai lulusan aka (walaupun setiap ada ujian her, nama saya hampir
selalu ada he he he).
Sekali lagi, MAAF kepada yang kurang berkenan dengan tulisan saya, mohon jangan
dijadikan sebagai alasan untuk membenci saya apalagi menyebabkan kita pecah.
Untuk alumni, jangan cuman kerja doang atau kalo ada tulisan yang tidak mengena
dengan forum ilmiah "terbakar". Kalo ada undangan dari pak Iwan untuk
silaturahim "terbakar" juga untuk dateng, katanya cinta ama aka tapi koq untuk
menyisihkan waktu satu hari untuk dateng aja koq sering gak bisa (kecuali yang
gawe di LN atau LJBTB (jabotabek-maksudnya) ...
Terakhir, HIDUP AKA! kalo jadi trainer ke orang-orang pabrik saya selalu cerita
bahwa saya lulusan aka lho (ini tanda kalo saya bangga dengan aka).....



wassalam


muslich riza / 942635

----- Forwarded by Muslich Riza/BSFM on 10/04/2004 08:38 -----
|--------+---------------------------------->
|        |          "sulis"                 |
|        |          <[EMAIL PROTECTED]|
|        |          amail.com>              |
|        |                                  |
|        |          09/04/2004 10:39        |
|        |          Please respond to       |
|        |          diah.sulistiowati       |
|        |                                  |
|--------+---------------------------------->
  >--------------------------------------------------------|
  |                                                        |
  |      To:                                               |
  |      cc:                                               |
  |      bcc:                                              |
  |      Subject:                                          |
  >--------------------------------------------------------|




dear all,

saya sangat setuju dengan pendapat pak Lukman, sangatlah tidak dewasa apabila
kita memojokan suatu golongan tertentu tanpa memikirkan akibatnya, yaitu
perpecahan diantara para alumni aka. bukannya kita memikirkan sesuatu untuk
membuat aka menjadi lebih maju dan terbuka terhadap perbedaan. padahal perbedaan
justru yang membuat kita "kaya". selama ini di aka memang terjadi gap terhadap
golongan tertentu dan itulah yang menjadi mahasiswa/i aka berjalan di tempat
dengan kata lain pakai kacamata kuda tanpa mengikuti perubahan di sekelilingnya
yang berwarna-warni, apa iya mau seperti itu terus? please, wake up! setelah
membaca wacana dibawah saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, bukankah
seorang muslim tidak boleh menjelek-jelekkan sesamanya? lebih baik bercermin
pada diri kita sendiri, apa kekurangan kita sebagai manusia. atau memang mau
bercermin di kaca yang retak?

lagipula sangat naif mempercayai wacana di bawah tanpa menganalisisnya terlebih
dahulu, saya yakin semua yang kuliah di AKA orang pandai semua sehingga tidak
terjebak terhadap opini di bawah ini. dan satu lagi saya bukan pendukung SBY
ataupun Mega, hanya prihatin terhadap milis ini.


Sulis




Sekedar wacana u/ perenungan!

UNTUK MEMBUKA PIKIRAN KITA SEMUA .....

SBY BERSANDIWARA DENGAN MEGA ??

Telaah Panas 1
SBY ternyata direstui MEGA, Kalau ada pemilihan aktor dan artis peraih oscar
pemilu 2004 ini pasti jatuh ke SBY dan Mega. Mereka berdua telah piawai bermain
sandiwara dengan pemeran pembantu Bambang Kesowo dan sutradara Taufik Kiemas.
Menurut kawan tadi, sandiwara ini terinspirasi kisah Inul, dan kemudian mendapat
"pembenaran" skenario dari kasus pemilu Taiwan(dimana Chen Shui-bian
"bersandiwara" dengan menyuruh orang menembak dirinya, sehingga Lien Chan yang
sebelumnya leading jadi kalah di pemilu). INTINYA bahwa secara psikologis rakyat
cenderung iba terhadap pihak yang tersia-siakan. Sebetulnya skenario ini (SBY
dipaksa mundur) sempat ragu-ragu dijalankan, tetapi hasil pemilu Spayol kemudian
Taiwan ternyata memberikan satu keberanian. Begitu SBY mengundurkan diri,
langsung ribuan gambarnya di bendera partai demokrat terpasang di seluruh
Indonesia. Media massa memback up penuh SBY (coba lihat di TV, hampir tiap hari
ada beritanya). Terus sandiwaranya untuk apa? INI YANG PENTING, di lingkungan
ring 1 Mega sudah 100% yakin hanya AR satu-satunya lawan berat. Dengan munculnya
SBY sebagai capres, sudah dihitung matang HANYA akan mengurangi suara AR tidak
bagi Mega. Sebab, pendukung ATM(Asal Tidak Mega) mempunyai calon alternatif
selain AR. Artinya, suara yang mustinya ke AR terbagi ke SBY. Kenapa SBY mau?
Ada "hitung-hitungan" tersendiri (dengar-dengar kembali sebagai menko polkam di
kabinet Mega tapi dengan kekuasaan layaknya Perdana Menteri), dan yang pasti
juga sudah dibahas dengan partai Demokrat.

Telaah Panas 2
Ada "kesepakatan" tidak tertulis, untuk menonjolkan parpol Islam tertentu dengan
"menenggelamkan" parpol lain di pemberitaan media massa terlebih-lebih yang
berbau AR. Kenapa begitu? Soalnya, biar pendukung AR bingung, tidak pede, dan
ragu-ragu.(Coba lihat TV, setelah banteng dan beringin, pasti PKS dan demokrat
yang riwa-riwi di TV) Ekstrimnya lagi, ada keinginan agar suara PKS diatas PAN.
(Sebetulnya tadinya  PKB yang 'mau ditonjolkan dengan "menggarap" Gus Dur ngotot
maju. Tapi Gus Dur kayaknya sudah "ngerti" arah angin sehingga buru-buru
"menggoda SBY".) Kenapa begitu? Jelas, kalau suara PKS diatas PAN, AR jadi
teramat wagu dan saru kalo AR ngotot jadi presiden. Dan Nur Wahid akan
"terjebak" pada permainan Mega untuk maju sebagai capres. Soale Mega teramat
yakin, Nur Wahid jauh lebih gampang dikalahkan. Isunya, sudah disediakan
setumpuk amunisi buat menyerang Nur Wahid di pemilu presiden. Antara lain, Hantu
Syariat Islam, Talibanisme, Poligami, Riba, kekacauan sistem perbankan, dll. Dan
Mega yakin, secara umum rakyat Indonesia "takut" bin ngeri dengan semua itu.

PERCAYA GA PERCAYA, Tolong isu panas ini didiskusikan, siapa tahu berguna.
Jangan sampai kita terlena, tahu-tahu Nyonya Meneer lagi yang terpampang di
sekolah-sekolah. Apa kuat kita harus menanggung sengsara 5 tahun lagi.
Tobat-tobat!!




---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/

Kirim email ke