Wanita Indonesia Ganti Hati di Iran

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com*-*Meski diblokade oleh Amerika Serikat (AS),
ternyata Iran tetap berkembang. Bahkan ilmu kedokteran di negeri para
mullah itu berkembang sangat dahsyat. Termasuk tranplantasi hati.
Dokternya, Dr Ali Malek Hosseini, sudah menangani lebih 10.000 kali
transplant. Ingat! Ibnu Sina, bapak kedokteran dunia lahir di Iran!

*Kini orang Indonesia memilih ganti di Iran, bukan Tiongkok. *

Benarkah? Silakan ikuti tulisan menarik Dahlan Iskan, wartawan handal,
di *Disway,
HARIAN BANGSA *dan *BANGSAONLINE.com *hari ini, 21 Juni 2021. Selamat
membaca:

*SEBENARNYA *saya tidak heran, tapi terkejut juga: ada orang Indonesia
memilih transplantasi liver di Iran. Sukses pula. Sekarang masih di rumah
sakit di sana. Menunggu kapan boleh pulang.

Sudah lama saya dengar –dari dokter ahli Indonesia– bahwa ilmu kedokteran
di Iran sangat maju. Transplant apa saja bisa. Termasuk transplant pankreas
dan sumsum. Bahkan kemampuan di bidang stemcell-nya masuk lima terbaik
dunia.

Tapi baru sekali ini saya tahu: ada orang Indonesia memutuskan melakukan
transplantasi hati ke Iran. Berarti Tiongkok bukan satu-satunya pilihan
lagi. Atau Singapura.

Yang transplantasi hati ke Iran itu seorang wanita. Janda. Dengan donor
putrinya sendiri.

Sang putri berumur 22 tahun. Masih kuliah di semester akhir di Universitas
Trisakti Jakarta. Jurusan arsitektur.

Trisakti memberikan kelonggaran kepada sang putri: skripsi tugas akhirnya
boleh mundur. Dia harus ikut ibunyi ke Iran. Hati sang putri harus dipotong
setengahnya. Untuk menggantikan hati ibunyi yang sudah rusak –akibat
sirosis. Hati sang ibu sudah dibuang total. Untuk diisi separo hati milik
sang putri.

Kini sang putri masih dirawat di rumah sakit yang sama. Hati sang calon
arsitek –yang tinggal separo itu– akan utuh kembali dua bulan lagi. Sedang
separo hati yang dipasang di sang ibu akan menjadi hati yang utuh tiga
bulan mendatang.

Hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh begitu cepat. Telinga juga
bisa tumbuh tapi terbatas.

Cara transplant seperti itu juga berhasil dilakukan selebriti Setiawan
Djody –juga dari hati milik putrinya. Di Singapura. Lebih 10 tahun lalu.

Sedang yang saya alami berbeda. Saya mendapatkan hati utuh dari seseorang
yang meninggal muda di Tianjin, Tiongkok.

Yang lebih mengejutkan saya: transplantasi itu bukan dilakukan di Teheran,
ibu kota Iran. Bukan pula di kota besar lainnya seperti Mashhad dan
Isfahan. Tapi di kota Shiraz –mungkin kota besar keempat atau kelima di
Iran. Saya belum pernah ke Shiraz.

"Kami pilih ke Shiraz karena ada departemen internasionalnya," ujar
Mochamad Baagil, kakak pasien. "Sebenarnya saya sendiri yang akan
memberikan separo hati saya ke kakak. Tapi tidak cocok," ujar Baagil.

Sebenarnya, kata Baagil, banyak rumah sakit di Iran yang bisa melakukan
transplant. Tapi lebih untuk orang Iran sendiri. Sedang yang di Shiraz ini
untuk internasional. Banyak pasien dari Qatar, Uni Emirat Arab, dan negara
sekitar.

Keluarga Baagil ini asli Kudus. Tapi sudah lama pindah ke Jakarta. Baagil
sendiri tamat SMA masih di Kudus, di SMAN 2. Lalu kuliah di Institut Sains
dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta jurusan teknik sipil. ISTN dulunya
dikenal sebagai Akademi Teknik Nasional (ATN) yang didirikan ahli beton
terkemuka Indonesia Prof Dr Roosseno Soerjohadikoesoemo. ISTN berada di
bawah Yayasan Perguruan Cikini. Yang punya lembaga pendidikan terkenal di
Jalan Cikini Jakarta.

Setelah lulus ISTN dengan pujian Baagil langsung ke S2 di Technische
Universität Dresden, Jerman. Kini Baagil bekerja sebagai konsultan
perusahaan asing di Jakarta untuk masalah gedung-gedung pencakar langit.

Baagil juga masih di Shiraz. "Saya tunggu sampai kakak boleh pulang,"
ujarnya pada saya kemarin.

Meski Shiraz agak jauh di timur laut Teheran, ternyata keluarga ini tidak
harus mendarat dulu di Teheran. "Ada pesawat langsung dari Dubai ke
Shiraz," ujar Baagil.

Ternyata kota Shiraz cukup besar. Penduduknya sekitar 4 juta –sekelas
Surabaya. Ini kota tua. Kekaisaran Parsi zaman dulu beribu kota di Shiraz.
Karena itu peradaban dan ilmu pengetahuan di Shiraz sangat maju.

Yang saya juga heran: di Shiraz, di tengah blokade ekonomi Barat, berhasil
dibangun mal besar. Salah satu yang terbesar di dunia. Ini berita baru bagi
saya. Waktu saya ke Iran dulu mal belum ada. Tidak terlihat bangunan atau
toko jelek tapi juga tidak ada mal. Tidak ada kaki lima tapi juga tidak ada
supermarket internasional. Tidak ada mobil jelek tapi juga tidak ada Mercy
di jalan-jalan. Berarti Iran sudah berubah banyak. Dan memang mal ini masih
baru. Belum genap lima tahun.

Di tengah blokade Amerika yang begitu keras dan panjang ternyata ekonomi
Iran masih jalan. Memang inflasi di negara itu tertinggi di dunia. Mata
uangnya menjadi yang terlemah dibanding negara mana pun. Tapi semangat
hidupnya tidak bisa diblokade.

Saya jadi ingat ketika mengunjungi instalasi LNG dan pabrik turbin di Iran.
Saya harus akui: Iran adalah satu-satunya negara Islam yang mampu
memproduksi turbin untuk pembangkit listrik besar.

Rumah sakit di Shiraz itu sendiri ternyata sangat besar. Modern. Seperti di
Tianjin. Statusnya juga sama: RS Transplant Center. Bisa mengerjakan
transplant organ apa saja di situ. Saya jadi ingat: bapak kedokteran dunia
adalah orang Iran: Ibnu Sina. Yang di Barat dikenal sebagai Ibn Sina atau
Avicenna. Yang juga dikenal sebagai bapak fisika.

Transplantasi hati untuk ibu dari Jakarta itu dilakukan oleh Dr Ali Malek
Hosseini. Ia mendapat gelar ''Bapak transplant Iran''. Sudah 26 tahun
Hosseini menjalankan transplantasi di sana. Sudah menangani lebih 10.000
kali transplant.

Dr Hosseini dua tahun lebih tua dari umur saya. Lahir di desa dan sampai
SMA masih di desa itu. Lalu masuk D1 ilmu keguruan untuk kembali mengajar
di desanya.

Dua tahun mengajar barulah Hosseini ikut tes masuk universitas. Diterima.
Ia memilih fakultas peternakan.

Belum lagi lama di fakultas itu ibundanya meninggal dunia: sakit liver.
Sejak itu Hosseini ikut tes lagi masuk fakultas kedokteran. Diterima.

Jadilah Hosseini dokter di Shiraz. Lalu dapat beasiswa memperdalam ilmu
transplant di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Dari mana Baagil tahu kalau Iran punya kemampuan transplant itu? "Sejak
tinggal di Jerman saya sudah tahu," ujarnya. Apalagi ia sendiri sudah
beberapa kali ke Iran –meskipun baru sekali ini ke Shiraz.

Baagil kini menyiapkan diri untuk ke S-3. Juga di Jerman. Ia akan melakukan
penelitian gedung tinggi dengan struktur tanpa balok.

Sejak SMA Baagil sudah tertarik mengikuti pembahasan soal apa yang terjadi
di Iran. Termasuk aliran keagamaannya. Dan masuk ke dalamnya. (*)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavhXA8kC4Han2koW6ac8S3x7_GKioUssxVrqf6zvzbYGdg%40mail.gmail.com.

Reply via email to