Ada dari ex siswa Ureca, yang meneruskan tulisan saya ke teman sekolahnya dulu di SMA Budi Utomo, seorang Prof. yang sedang mengumpulkan sejarah berdirinya TH Bandung. Ya, ada beberapa hal kebetulan, seperti Sucipto Nagaria yang dimintai sumbangan oleh ITB. Dia jawab, pasti dia sumbang, ITB kan Alma Maternya. Wakil rektornya kaget, tidak tahu kalau dia itu lulusan ITB, juga tidak tahu kalau kakek buyutnya salah satu dari 3 orang Tionghoa yang ditunjuk di Panitia 13 orang untuk dirikan suatu Fakultas Teknik di Hindia Belanda. Sucipto nya juga tidak cerita pada sang wakil Rektor tentang kakek buyutnya dan hubungannya dengan pendirian TH Bandung. Banyak dari ex ITB juga tidak tahu. Waktu saya ceritai Ketua Reunie TFI di Surabaya, dia tanya Sucipto Nagaria yang duduk semeja dengan kami. Waktu Sucipto bilang benar, lalu sang ketua berdiri, dan beritahu semua bahwa cucu buyut orang yang ikut bantu dirikan TH Bandung ada ditengah kita. Sucipto diminta berdiri untuk ceritakan asal mula berdirinya TH Bandung.
Op ma 28 jun. 2021 om 10:54 schreef BILLY GUNADIE <[email protected]>: > Terima kasih banyak atas tulisan Meneer Djie yang melengkapi Dr. Ong. > Kalau Belanda yang mendirikan, tentunya atas initiative Mr. Phoa? > Ada beberapa yang menjadi pertanyaan saya. > Tahun 1920 harga mas sekitar 20$/ounce. > Kompleks gedung kampus ITB Jalan Ganesha, sebesar itu apakah sampai Makan > beaya 3.5juta f.? Rumah di Bandung sekitar jalan Dago, 29-30ribu f.. > > Juga tidak pernah ada Rektor dari etnis Tionghoa? Yang pernah ada ketua > Dewan Mahasiswa The Gian.Heng (Seni Rupa 1962?). > Bangunan aslinya hanya yang menggunakan atas sirap (kayu), dengan pilar > batu alam dan semen. Selebihnya prefab termasuk gedung lab Kimia, gedung 3 > tingkat Geologi, bagian barat kampus. > Perlu juga diketahui, berpuluhan tahun penerimaan etnis Tionghoa dijatah > 3%, atas dasar populasi kependudukan. > 1968, Rektor Kuntoadji baru kembali dari Belanda, penerimaan atas dasar > hasil tes, terjadi istilah Ganesha Sipit, dan penskoran pada saat Mapram. > > Akan saya usahakan kontak Dr. Ong via editornya atau ex-siswanya. > Terima kasih yang sebesar besarnya pada Meneer Djie, yang sudi menulis > secara detail. > > > > > > > > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android > <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature> > > On Mon., Jun. 28, 2021 at 3:10 a.m., kh djie > <[email protected]> wrote: > > Bung Billy, > > Ada yang kurang tepat di tulisan Dr. Han Ling tentang berdirinya Technishe > Hogeschool Bandung seolah olah bukan didirikan oleh Belanda. Sumbangan dari > masyarakat Tionghoa, dari orang2 kaya yang dikumpulkan oleh Phoa Keng Hek, > kapitein der Chinezen Nio Hoey Oen dan H.H. Kan memang banyak sekali > f.500.000. Tetapi sumbangan yang terkumpul dari kaum industrialis Belanda, > pengusaha2 perkebunan Belanda dalam semalam lebih banyak yaitu f. 3000.000 > dan sumbangan 30 ha tanah oleh walikota Bandung, sehingga akhirnya Bandung > dan bukan Batavia yang terpilih sebagai tempat berdirinya TH Bandung. Semua > ex mahasiswa bagian Teknik ITB pasti pernah praktikum Fisika Dasar di Lab. > Bosscha, sumbangan Bosscha, pengusaha perkebunan tehyang banyak > sumbangannya pada TH Bandung dan yang mendirikan Bosscha Sterrenwacht di > Lembang (Patungnya Bosscha dipindahkan ke dalam). Ayah Bosscha pernah jadi > rektor TH Delft. > > Sehabis Reunion TFI ( TH Bandung, Fakultas Ilmu Pasti Ilmu Alam-Fakultas > Teknik sebagai bagian dari UI, ITB), kami ikut Post Reuinion Tour dari > Shanghai ke Korea Selatan dan Jepang. Waktu balik di Shanghai, kami > dijemput Sucipto Nagaria (Liong Sie Tjin) mau diajak lihat penjualan real > estatenya (Summarecon Agung) di Pudong Shanghai,dan dikelilingkan Shanghai, > antaranya daerah Bund dulu. Di tengah jalan, dalam bus, saya disodori Sie > Tjin copy surat tercetak. Saya baca lho Staatsblad jaman Hidia Belanda > tentang pembentukan komisi Keuangan13 orang untuk Mendirikan Suatu sekolah > tinggi Teknik. > > Saya baca ada nama Phoa Keng Hek, Nio Hoey Oen, dan HH Kan. Saya bilang > Phoa Keng Hek dan kapitein der Chinezen Nio Hoey Oen yang dirikan > perkumpulan THHK dan setahun kemudian dirikan sekolah PaHoa (Patekoan Tiong > Hoa Hwee Koan), tempat Sie Tjin sekolah dan lulus SMA nya. Dia tanya saya, > kok saya tahu. Saya bilang, saya baca di bukunya Benny Gator Setiono,” > Tionghoa dalam Pusaran Politik”. > > Sie Tjin bilang, Nio Hoey Oen itu engkong buyutnya. Saya tanya, apa > engkong luar? Dia jawab, engkong dalam, nama lainnya adalah Liong Yin Tang. > Belakangan tentang komisi 13 orang itu ditulis lengkap di buku biografi > dari keluarga Liong : Pancaran Cahaya 7 generasi. > > Istri saya, setelah kerja beberapa tahun di Geologisch Instituut di > Leiden, oleh direkturnya ditawari belajar ambil ijasah di Delft mengingat > akan ada fusi beberapa tahun lagi antara Leiden dan Utrecht. Karena istri > saya alumni TH Delft, jadi kami terima majallah berkala dari TU Delft, dan > pada waktu ITB berdiri 100 tahun, TU Delft memuat tulisan tentang > berdirinya ITB dan sangkut pautnya dengan TU Delft. Dan dari bahan2 itu > saya menulis artikel di Hua Yi blad negeri Belanda tentang 100 tahun > berdirinya ITB. > > Ini terjemahannya ke bahasa Indonesia : * 100 tahun > Institut Teknologi Bandung.* > > Diterjemahkan dari majallah Hua Yi > Belanda. > > Seratus tahun lalu, tepatnya 3 Juli 1920, Institut Teknologi Bandung > didirikan. > > Sekitar tahun 1900, 25 - 30% dari semua insinyur Delft bekerja di Hindia > Belanda, tetapi ini terhenti karena Perang Dunia Pertama (1914-1918). > > Pada bulan Februari 1914, Pemerintah Hindia Belanda membentuk Komite > Keuangan untuk Yayasan Eener Technische Hoogerchool dengan Ketua Gubernur > Batavia H Rijfsnijderf dan Sekretaris Mr. I.Hen, dengan anggota: > > 1. E.A. Zelinga Azn, Presiden Javasche Bank > > 2. C. Canne, Ketua Dewan Kota Batavia > > 3. F.H.K. Pemimpin Redaksi Bataviasch Handelsblad > > 4. G.P.N. Elenbaas, Arsitek > > 5. R.M. Ario Dhipokoesoemo, Bupati Batang > > 6. Raden Batin Djaja Negara, Kepala Jaksa di Batavia > > 7. Kapiten der Chinezen Nio Hoey Oen (Liong Yin Tang) > > 8. Phoa Keng Hek, Presiden Perkumpulan Tiong Hwa Hwee Kwan > > 9. H.H. Kan, Tuan Tanah, Anggota Dewan Kota Batavia > > 10. Dr. J. Noordhoek, Direktur S.T.O.V.I.A > > 11. Dr. Ingr.P.N. Degens, Guru K.W.S. > > 12. F.J.H Cowan, Sekretaris Departemen Kehakiman > > 13. Dr. W.M.G. Schumann, Ambtenaar ter beschikking b/d Burg. Geneeskundige > Dienst > > Namun pada tahun 1915, Menteri Pendidikan Belanda menggagalkan rencana > pendirian Technische Hogeschool di Hindia Belanda, dengan alasan jumlah > siswa yang mungkin mendaftar terlalu sedikit. > > Pada tahun 1917 delegasi dari Hindia Belanda mendatangi parlen Belanda > yang kali ini mendapat perhatian dari pemerintah di Belanda yang menyetujui > rencana pendirian Technische Hogeschool di Hindia Belanda. > > Mengapa Technische Hogeschool akhirnya bisa didirikan di Hindia Belanda? > > 1. Ada kebutuhan besar akan insinyur di bidang pertambangan dan pengeboran > minyak bumi. > > 2. Pengaruh politik etis. > > 3. Tumbuhnya seruan untuk kemerdekaan Indonesia. > > 4. Saat itu jumlah lulusan HBS dan AMS cukup banyak. > > 5. Ide untuk mendirikan TH didukung oleh K.A.R. Bosscha, sejumlah pemilik > industri, pengusaha, dan pengusaha perkebunan. Bosscha adalah seorang > pengusaha perkebunan yang sangat kaya, filantroop dan putra dari Dr. J. > Bosscha, salah satu rektor TH Delft. > > Nio Hoey Oen (Liong Yin Tang), Phoa Keng Hek dan H.H. Kan telah > mengumpulkan 500.000 gulden dari orang-orang Tionghoa kaya. Bosscha dan > pengusaha lainnya telah mengumpulkan 3 juta gulden dalam 1 malam. Walikota > Bandung telah menawarkan lahan seluas 30 ha secara gratis untuk pendirian > Perguruan Tinggi Teknik ini. Kemudian Bandung ditetapkan sebagai lokasi > Sekolah Menengah Teknik ini. > > Insinyur Delft terlibat dalam pendirian TH Bandung. Guru besar matematika > dan mekanik terapan Jan Klopper, misalnya, berkontribusi pada Program > Pembelajaran dan menjadi rektor magnificus pertama di Bandung. Awalnya, > sekolah tersebut hanya menawarkan jurusan teknik sipil. Gelombang pertama > terdiri dari 25 siswa, termasuk seorang perempuan. Pada tahun kedua > keberadaannya, mahasiswa paling terkenal dari Bandung mendaftar: Sukarno, > presiden pertama Indonesia merdeka. > > Bung Karno pernah dipanggil rektornya karena adanya laporan polisi tentang > aktivitas politiknya.Bung Karno diminta memilih terus sebagai mahasiswa > atau keluar dan aktif di politik. Bung Karno berjanji akan menyelesaikan > studienya. Setahun kemudian bung Karno menghadap Jan Klopper, minta pada > sang rektor agar bung Karno dibebaskan dari janjinya, mengingat rakyat > begitu menderita dan bung Karno harus aktif di politik. Jan Klopper > memberikan ijin dan mengagumi kejantanan bvung Karno yang datang berterus > terang. > > Bahkan kini ada ikatan khusus antara Bandung dan Delft. Kolaborasi terjadi > di berbagai bidang seperti pengelolaan air dan pendidikan arsitektur. > Kuliah Karel Luyben tahunan yang rencananya akan berlangsung di Bandung > pada bulan Juli ini telah ditunda karena adanya krisis korona. Pameran di > Arsitektur dan Teknik Sipil juga akan dibatalkan untuk sementara waktu. > > TH Bandung kemudian menjadi bagian dari Universitas Indonesia. Pada > tanggal 2 Maret 1959, TH Bandung dipisahkan dari Universitas Indonesia dan > ditetapkan sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). 38 tahun setelah > berdirinya TH Bandung pada tahun 1920, Cicit Nio Hoey Oen (Liong Ying Tang) > Liong Sie Tjin (Soetjipto Nagaria) menjadi mahasiswa Teknik Kimia ITB. Dia > lulus pada tahun 1964. > > What a wonderful world - Paduan Suara Guru dan Alumni ITB- 100 tahun ITB : > https://www.youtube.com/watch?v=1PEUHiyezuY > > Summaecon Agung menyumbang 2 ha tanah untuk innovation-park ITB : > > > https://industri.kontan.co.id/news/summarecon-hibah-lahan-itb-innovation-park > > Kiri Herman Nagaria. Sebelahnya, ayahnya, Soetjipto Nagaria, dari > Summarecon Agung. > > Soetjipto Nagaria (Liong Sie Tjin, alumni ITB, buyut Nio Hoey Oen) > menyumbangkan 1 ha lahan untuk ITB dan 1 ha lagi untuk pembangunan ITB > Innovation Park di Gedebage, Bandung. > > Bila kakek buyutnya, Nio Hoey Oen bersama Phoa Keng Hek dll. mendirikan > sekolah Pahoa (Patekoan Tiong Hoa Hwee Koan) ditahun 1901, Liong Sie Tjin > (Soetjipto Nagaria) dan kawan2nya alumni PaHoa mendirikan sekolah Pahoa > integrated dari Taman Kanak-kanak hingga SMA di Serpong kurikulum nasional > dengan tambahan bahasa Mandarin dan pendidikan Confucianisme ( Di Zi Gui). > Sekarang focus pada 3 M : Moral, Mandarin, Matematika. Jumlah siswanya > sudah mencapai 4000 orang. > > Sumber: > > Delft Outlook, No.2, Juli 2020 > > > https://industri.kontan.co.id/news/summarecon-hibah-lahan-itb-innovation-park > > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavhac00xJE4yeB93dNfahQJr9Jf6WPUgs%3DCSjWOZL3wD3w%40mail.gmail.com.
