Saya merasakan ada yang tidak logis dalam penjelasan yang disimpulkan oleh Chiang Kaisek ini.
Am Wed, 11 Aug 2021 10:47:17 +0800 schrieb "Chan CT" <[email protected]>: > Daripada pikiran dan energi dipusatkan membongkar kepalsuan dan > kebusukan remo Tiongkok dengan dasar kebencian berlebih begitu yang > TIDAK ada artinya sedikitpun, tak ada orang yang bisa mempercayai > obrolan tanpa DASAR! Dan PASTI TIDAK akan berhasil menghambat gerak > kemajuan apalagi menghancurkan keberhasilan perjuangan 1,4 milyar > Rakyat Tiongkok yang telah bertekad menempuh Jalan Sosialisme > Berkarakter Tiongkok, ... Kenapa sinenek tidak berusaha introspeksi, > memeriksa dimana kesalahan sendiri sehingga sampai sekarang TIDAK > JUGA berhasil tegak berdiri kembali! Menangkan perjuangan RAKYAT > Indonesia yang sampai sekarang masih saja kelimpungan, ...! Lhaa, ... > AS super power adidaya didunia ini yang masih diakui berkekuatan > besar sudah belasan tahun, sejak Obama, Trump yang menggempur > gila-gilan dan berlanjut dengan Biden sekarang berusaha menghambat > kemajuan RRT yang dianggap “ANCAMAN” terberat nampaknya juga masih > kewahalan, kok! > > Cobalah BELAJAR bagaimana Chiang Kaisek berusaha menyimpulkan sebab2 > KEKALAHAN menghadapi Mao Tsetung/PKT, dari tahun 1946, semula > kekuatan tentara dari jumlah 5-6 X lebih banyak dan dengan > kecanggihan persenjataan yang jauh lebih unggul, TETAP saja kalah > telak??? Apa dan dimana KESALAHAN terjadi di KMT??? Dari catatan > harian Chiang yang diungkap VOA (Link dibawah ini, sekalipun dalam > bhs. Tionghoa, mestinya nenek Tatiana tetap bisa mengerti dengan > baik!) cukup menarik diperhatikan: antara lain Chiang menyatakan: 1. > Tidak boleh bersandar pada BANTUAN Amerika! Karena kenyataan, setelah > beda pendapat dengan AS, Chiang hendak bertahan kuasai kedaulatan > wilayah Tiongkok, sedang AS yang hendak wujudkan perjanjian Yalta > (ditahun 1945, AS-Soviet-Inggris, bersepakat membagi wilayah Tiongkok > menjadi utara untuk PKT dan selatan sungai Yang Tse untuk KMT), > hentikan dan tidak melanjutkan perang usaha membasmi komunis PKT! 2. > Dekadensi, kemerosotan moral pejabat/tokoh KMT, berebutan kekuasaan, > harta rampasan perang Jepang dan saat perang berlanjut, lebih dahulu > memikirkan keselamatan jiwa dan harta pribadi kalau kalah perang > melawan PKT! 3. TIDAK mendapat dukungan rakyat luas, sebaliknya PKT > yang berorientasi pada rakyat, melancarkan landreform didesa-desa > mendapat dukungan kuat rakyat banyak. Membuat PKT dalam waktu singkat > berhasil dengan kecepatan tinggi penambahan jumlah tentara, sedang > jumlah tentara KMT terus merosot dengan kecepatan tinggi akibat > kesulitan merekrut tentara yang luka dan mati! > > Tentu Chiang sekalipun berhasil simpulkan kesalahan sendiri, dia > TETAP saja GAGAL merubah dan memperbaiki langkah sampai ajalnya, ... > karena PENDIRIAN Chiang yang egoistis dan otoriter melulu untuk > kepentingan diri sendiri, keluarga dan klik nya saja, sedang PKT > berprinsip kepemimpinan kolektif yang terus disempurnakan dan melulu > untuk kepentingan rakyat banyak. Begitulah PKT dalam perjalanan 100 > tahun telah membuktikan KEBERHASILAN membangun masyarakat adil-makmur > dan mendapatkan dukungan kuat rakyat Tiongkok, ...! > > > 解密时刻:日记中的蒋介石—宋庆龄和傅作义的反毛隐秘 (完整版) > https://www.youtube.com/watch?v=2YQOMNkkMIg > > > > From: 'Tatiana Lukman' via GELORA45 > Sent: Tuesday, August 10, 2021 3:23 PM > To: Chan CT ; GELORA45_In > Subject: RE: [GELORA45] Lencana Ketua Mao > > Membongkar Kepalsuan dan Kebusukan Klik Revisionis Modern Tiongkok > (Bagian 2) > > 4 April 2021 | 20:17 > > Ilustrasi perbandingan Tiongkok di bawah Xi Jinping setelah restorasi > kapitalisme dan di bawah Mao Zedong dengan sosialisme/The Economist > > Koran Sulindo – William Hinton, dalam Mao, Rural Development, and > Two-Line Struggle menulis bahwa seruan Liu Shaoqi untuk > mengkonsolidasi “sistem demokrasi baru”, pada 50-an, dalam praktik, > sebenarnya merupakan seruan untuk membangun kapitalisme. Mula-mula > Hinton melihat perbedaan pandangan antara Mao dan Liu berkaitan > dengan jalan terbaik menuju sosialisme. Namun akhirnya ia menjadi > sadar bahwa perbedaan pandangan itu bersifat kelas. Masing-masing > mewakili pandangan kelas yang antagonis. > > Kesimpulan Mao bahwa kontradiksi antagonis yang menghalangi > pembangunan sosialis terdapat di dalam partai komunis sendiri, sangat > mengejutkan Hinton. Mao adalah pemimpin komunis pertama di dunia yang > mengemukakan hal itu. Banyak orang kiri, bahkan komunis, yang > menganggap Mao “gila” menempatkan kawan-kawan seperjuangan lama > sebagai musuh Revolusi Besar Kebudayan Proletar (RBKP). Bukan Mao > yang “gila”, melainkan merekalah yang tidak mengerti dan menolak > mengakui kebenaran kata-kata Mao, 1957:” Masih ada sisa-sisa tuan > tanah dan klas komprador yang sudah digulingkan, masih ada borjuasi > dan pengubahan terhadap borjuis kecil baru saja dimulai. Perjuangan > klas antara proletariat dan borjuasi, antara berbagai kekuatan > politik dan antara proletariat dan borjuasi di bidang ideologi akan > makan waktu panjang, berliku-liku dan kadang-kadang bahkan sangat > tajam. Kaum proletariat berusaha mengubah dunia menurut pandangan > dunianya sendiri dan begitu juga kaum borjuasi. Dalam hal ini, > masalah siapa yang akan menang, sosialisme atau kapitalisme masih > belum sungguh-sungguh dipecahkan”. > > Setelah reform kapitalis Deng menghancurkan basis ekonomi sosialis, > baru Hinton sadar dan mengerti apa yang dimaksud Mao dengan “jalan > kapitalis” dan “pengambil jalan kapitalis”. > > Perjuangan Kelas dan Kemunafikan Kaum Revisionis > > > Salah satu pelajaran penting dari RBKP adalah kesadaran bahwa selama > periode pembangunan sosialis masih terus ada perjuangan kelas yang > tercermin dalam perjuangan dua garis dalam PKT. Kemenangan Revolusi > Demokrasi Baru (RDB) yang melahirkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), > 1949, tidak menghilangkan kontradiksi antara garis Mao yang konsekwen > maju di jalan sosialis dan garis Liu Shaoqi yang ingin membangun > kapitalisme. Partai lahir dan hidup dalam sebuah masyarakat berkelas, > maka perjuangan ideologi melawan borjuasi merupakan perjuangan kelas > yang masih harus dilancarkan. Lahirlah slogan Maois “Jangan pernah > melupakan perjuangan kelas”. > > Bandingkan dengan laporan politik Liu Shaoqi kepada Kongres PKT ke > VIII 1956, yang menegaskan bahwa perjuangan yang menentukan antara > sosialisme dan kapitalisme sekarang telah berakhir. Sedangkan Deng > dalam pidatonya di depan sidang CCPKT tahun 80-an berkata, > ”Mengatakan bahwa perjuangan klas masih belum selesai? Itulah fikiran > Revolusi Kebudayaan..” > > Sementara itu, Mobo Gao berpendapat Deng Xiaoping dan konco-konconya > sebetulnya bukan marxis. Pada dasarnya mereka adalah orang-orang > nasionalis revolusioner yang turut serta dalam RDB karena itu > merupakan satu-satunya jalan guna mencapai martabat dan persatuan > rakyat Tiongkok. Ketika itu, nasionalisme dan perjuangan kelas > bergandengan tangan. Tapi, setelah pembebasan 1949, kedua tema itu > tidak bisa lagi jalan bersama. > > Jangan pernah melupakan perjuangan kelas! Qiān wàn bùyào wàngjì jiējí > dòuzhēng > > > > Setelah merasa kekuasaannya terkonsolidasi, Deng dengan terbuka > mengajukan garis “modernisasi, keterbukaan”, teori “kucing putih > kucing hitam”, “menghentikan” perjuangan kelas dan mengutamakan > pembangunan ekonomi. Tapi, benarkah kaum revisionis yang berkuasa itu > menghentikan perjuangan kelas? Yang mereka hentikan adalah Revolusi > Kebudayaan yang merupakan perjuangan kelas yang dilancarkan kelas > proletariat melawan kaum revisionis dalam partai yang mengambil jalan > kapitalis. > > Adanya perjuangan kelas tidak tergantung pada pengakuan siapapun. Ia > ada secara objektif. Penyangkalan Liu dan Deng tidak berarti > perjuangan kelas atau kontradiksi kelas itu hilang. > > Tiap kontradiksi mengandung dua aspek yang bertentangan. Tahun 1953, > Mao mengemukakan kontradiksi pokok antara klas proletariat dan klas > borjuasi. Tahun 60-an, selama RBKP berlangsung, Mao menunjukkan > sasaran atau aspek yang harus ditundukkan adalah kaum revisionis > reaksioner yang berkuasa dalam partai dan mengambil jalan kapitalis. > Celakanya, aspek inilah akhirnya yang berdominasi melalui kudeta > 1976! Jadi sebenarnya klik revisionis Deng melancarkan perjuangan > kelas sengit melawan kaum Maois dan berhasil menang! > > Setelah berkuasa, mereka sama sekali tidak mengendorkan perjuangan > kelas! Perlawanan buruh, tani dan penduduk menentang reform kapitalis > dan penggusuran selalu mendapat penindasan polisi, tentara dan > centeng-centengnya. Jangan lupa penindasan Tian An Men, 1989! > > Di abad ke-21, seiring dengan meningkatnya kesadaran di kalangan > buruh, mahasiswa dan intelektual, pembungkaman dan penindasan makin > intensif. Tahun 2012, beberapa situs yang memuat tulisan dan komentar > yang berseberangan dengan terompet penguasa ditutup. Antara lain > situs Utopia, maozedongflag.net, chineseworkers.net dan masih banyak > lagi. Ketika itu, Bo Xilai, pejabat partai tertinggi Chongqing, yang > mempopulerkan lagu-lagu zaman Mao, ditangkap dan masuk penjara dengan > tuduhan korupsi. Kawan-kawannya pun dicopot dari jabatannya. Desember > 2015, sejumlah besar organisasi dan LSM pendukung buruh menjadi > sasaran serangan aparat kepolisian. Dalam penindasan yang dinamakan > “709” (9 Juli), sekitar 200 pengacara dan aktivis HAM ditangkap. > Beberapa di antaranya didakwa “subversi kekuasaan negara” dan dituduh > berkolaborasi dengan “kekuatan asing”. > > Kaum Marxis-Leninis-Maois-Kiri > > Ini foto mahasiswa dan aktivis yang terlibat dalam aksi-aksi protes > dan solidaritas dengan buruh pabrik yang memproduksi peralatan las > dengan teknologi Jasic di Shenzhen. Mereka yang disorot dengan warna > merah ditangkap. Para siswa inilah yang disebut “ > Marxis-Leninis-Maois Kiri”. > > > > Kita lihat di foto pemudi dan pemuda umur 20-an. Banyak di antara > mereka berasal dari keluarga kaya, karena biaya pendididkan > universitas mahal. Mereka belajar di universitas-universitas elite > terkenal seperti Universitas Peking, Tsinghua, Universitas Rakyat. Di > situ mereka jadi anggota grup-grup studi “Marxist Society”. Di > samping mempelajari dan mendiskusikan marxisme, banyak yang terjun > langsung dan bekerja di pabrik. Di situlah mereka mengenal dan > merasakan sendiri penghisapan brutal yang diderita kaum buruh. > > Misalnya, siswa yang pakai nama samaran Luke, cerita bahwa ia menjadi > marxis berkat pengalaman bekerja dengan 20 orang buruh muda di sebuah > workshop di pinggiran kota Peking. Mereka merakit kotak-kotak karton > selama 12 jam di ruangan di bawah titik beku tanpa pemanas. Ia sangat > terkejut melihat tangan para pekerja perempuan yang tinggal di > workshop itu, “bengkak seperti lobak” karena kedinginan. Semua mereka > tak dapat menyelesaikan pendidikannya. Majikan mendatangkan mereka > dari pedesaan dan tidak tahu kapan bisa kembali. Luke berkata: “Cara > produksi kapitalis ini dapat mengubah manusia menjadi budak-budak > feodal”. Sejak itu, Luke, bersama dengan siswa kiri lainnya, > mengorganisasi, bicara dalam pertemuan, mendukung tukang sapu, tukang > sampah, tukang masak, penjaga dan pekerja lain yang bekerja di kampus. > > Juni 2015, Shen Mengyu tamat jurusan Mathematics and Computational > Science di Universitas Sun Yatsen. Bukannya cari pekerjaan di > perusahaan IT, ia malah masuk pabrik dan bekerja di jalur perakitan. > > Sebagai siswa, ia sudah sering mendengar cerita bagaimana buruh > dilindas roda pembangunan, tentang buruh pabrik Foxconn yang lompat > dari gedung asrama atau pabrik, 40 ribu jari-jari putus setiap tahun > di Pearl River Delta, 280 juta buruh migran yang mengorbankan masa > remajanya untuk membangun kota tapi tidak bisa tinggal di kota, > tentang penyakit yang disebabkan karena pekerjaan, seperti keracunan > benzol, leukemia, pneumoconiosis yang membuat penderita sesak nafas > dan ingin lebih cepat mati. Kaum buruh membangun kota-kota dengan > darah dan keringatnya, tapi kemudian digilas dan diusir dari kota. > > Buruh penderita pneumoconiosis, penyakit akibat kerja yang paling > umum. Diperkirakan terdapat 6 juta penderita pneumoconiosis di > Tiongkok > > > > Shen mulai mempelajari undang-undang dan peraturan perburuhan dan > pergi ke daerah industri dan kampung-kampung buruh di kota, untuk > mengenal dan mengerti kehidupan serta kesulitan-kesulitan yang mereka > hadapi. Kalau turun hujan, garasi bawah tanah di mana buruh tinggal, > tergenang air, pakaian dan tempat tidur basah kuyup. Shen menjelaskan > peraturan dan undang-undang perburuhan, namun kata-kata hitam di atas > putih tidak dapat memberi mereka kontrak kerja. Di pabrik sepatu > Dongguan Yuyuan, Shen mendengar buruh yang sudah kerja 10 tahun lebih > dan hampir pensiun, baru tahu bahwa pabrik tidak membayar bagian dari > jaminan sosial yang merupakan kewajibannya. > > Shen jadi bingung dan syok! Kekuasaan macam apa ini yang membuat > undang-undang sama sekali tak berguna? Dihadapkan pada kenyataan > kejam itu, Shen jadi sadar buruh lahir miskin akan mati miskin pula. > Akhirnya Shen bekerja di pabrik suku cadang Guangzhou Rihong > Electromechanical Co. Ltd. yang dimodali Jepang. Jadilah dia buruh > industri. > > Hari pertama Shen masuk kerja di workshop, bunyi raungan mesin > seperti memecahkan gendang telinganya, bau minyak dan debu metal > memenuhi seluruh workshop. Peringatan bahaya benzol dan bahan kimia > lainnya sangat menakutkan. Buruh mengenakan masker sekali pakai yang > tidak dapat secara efektif memblokir debu atau menyaring gas beracun, > dan beberapa bahkan tidak memiliki masker sekali pakai. Ruang kerja > itu panas sepanjang tahun, dan sudah sangat panas di bulan Mei. Itu > normal ketika panas 35 derajat atau lebih, dan di beberapa tempat > bahkan mendekati 50 derajat. Intensitas kerja dan keringat deras > membuat masker yang tipis basah dan membuat orang merasa tercekik, > apalagi masker tebal yang tertutup rapat. > > Buruh Foxconn protes kondisi kerja tak berperikemanusiaan dengan > loncat dari gedung pabrik > > > > Ini sertifikat yang diterima Rihong sebagai ”pemasok unggul” suku > cadang untuk Dongfeng Honda, Guanqi Honda dan Nissan > > > > Lebih mengenaskan lagi keadaan buruh perempuan yang hamil, karena > mereka harus lebih keras bekerja guna mencapai target produksi, > sampai harus mengorbankan hak libur perempuan hamil. Xiaomei, rekan > kerja Shen, selalu keguguran tiap kali hamil selama bekerja di pabrik > itu. Akhirnya ia keluar. > > Itulah yang disebut pabrik suku cadang mobil “berupah tinggi”, di > mana buruh mengorbankan kesehatannya untuk apa yang disebut “upah > tinggi”. Banyak rekan kerja Shen yang menderita rhinitis dan > bronkitis karena bekerja lama di lingkungan yang keras itu, serta > kehilangan pendengaran dan penurunan sel darah putih. Harga yang > harus dibayar buruh untuk melahirkan sertifikat “pemasok unggul” > tentu tidak menarik perhatian pengagum “Sosialisme dengan ciri > Tiongkok”. > > Pengalaman bekerja sebagai buruh itulah yang membuat Shen Mengyu > sadar akan perlunya berjuang untuk perubahan, tidak bisa hanya > mengeluh saja. Buruh kehilangan martabat dan haknya sebagai manusia. > > Para buruh migran ini pasti termasuk dalam “jutaan yang telah > diangkat dari kemiskinan”! Alangkah baiknya kalau antek remo serta > para pengagum “pembangunan” bekerja di pabrik seperti itu. Mereka > tidak akan jadi marxis, tapi setidaknya akan tahu bagaimana buruh > harus bekerja untuk masuk dalam kategori “bebas dari kemiskinan” yang > dipropagandakan kaum penguasa remo serta para centengnya dengan > bangga. > > Kasus Jasic di Shenzhen > > > April 2018, sekitar 89 buruh dan aktivis di pabrik Jasic mencoba > mendirikan serikat buruh independen. Mengapa buruh merasakan perlunya > sebuah serikat buruh independen? Sudah terbukti, dalam setiap konflik > dengan majikan, serikat buruh resmi selalu berpihak kepada kapitalis. > Ditanya mengapa serikat buruh resmi berpihak kepada kaum kapitalis, > seorang pejabat komunis berkata, di mana-mana kita dapat temukan > buruh, tapi kapitalis sedikit. Bayangkan, itulah pendapat orang > “komunis” Tiongkok tentang buruh dan kapitalis. > > 10 Agustus, 2018, anggota Grup Pendukung Solidaritas Buruh Jasic, > menyerahkan surat terbuka menuntut Kejaksaan Distrik Pingshan > Shenzhen supaya melakukan investigasi terhadap penangkapan yang > melanggar hukum. Dari kiri ke kanan: Zheng Yongming, Shen Mengyu, Xu > Zhongliang dan Yue Xin. > > Akibat dari tindakan mencoba mendirikan serikat buruh independen, > beberapa buruh dipecat. > > Akhir Juli, konflik meluas, ketika 20 buruh dan seorang aktivis > mahasiswa ditangkap karena memprotes perlakuan brutal polisi. Awal > Agustus, Shen Mengyu, Yue Xin dan simpatisan lain nya dari > Universitas Peking, Tsinghua, Nanjing dan Sun Yatsen membentuk Grup > Pendukung Solidaritas Buruh Jasic. Mereka cerminkan dukungannya > melalui surat terbuka, tulisan di media sosial, menyebar luaskan foto > dan video pidato dan manifestasi damai di depan pabrik Jasic dan > kantor polisi. Koalisi buruh-mahasiswa itu menuntut pembebasan tanpa > syarat semua buruh yang ditahan, hukuman bagi polisi dan preman yang > memukuli buruh dan mempekerjakan kembali buruh yang dipecat. > > Memperingati Hari Meninggalnya dan Kelahiran Mao > > > Para mahasiswa kiri dari berbagai universitas, buruh dan aktivis > pendukung buruh Jasic juga terlibat dalam aksi bulan September untuk > memperingati 42 tahun meninggalnya Mao, dan Desember 2018, 125 tahun > kelahirannya, di Shaosan, provinsi Hunan. Di sini terbelejeti lagi > kemunafikan rezim kapitalis Xi Jinping. Bukannya mendukung anak-anak > muda yang ingat kepada Mao, malah aparat polisi dikerahkan untuk > menangkap mereka dengan alasan membuat keributan. > > Spanduk paling bawah:”Buruh Jasic memberi penghormatan kepada Ketua > Mao’; Spanduk kedua di belakangnya: ‘Buruh dan mahasiswa muda > berkumpul di Shaoshan, Pikiran Mao selamanya bersinar’; Yang ketiga: > ‘Jadilah murid Mao yang baik untuk selamanya’; Yang paling belakang: > ‘Universitas Peking, Universitas Nanjing, Universitas Rakyat, Studi > Luar Negeri dari Universitas Peking, Universitas Bahasa dan Budaya > Peking, Universitas Kedokteran Tiongkok, Nanjing’ > > > > Qiu Zhanxuan, ketua Marxism Study Society di Universitas Peking, > ditangkap polisi berbaju sipil, dalam perjalanannya menuju peringatan > ulang tahun Mao. Shen Mengyu dan Yue Xin, setelah dibebaskan dari > penangkapan yang pertama, diculik, dalam perjalanan menuju Shenzhen > untuk mendukung buruh Jasic. Setelah mereka hilang, sejumlah > mahasiswa Universitas Peking membentuk “Gerakan mencari Yue” untuk > melobi kebebasannya. Tak lama kemudian, diberitakan salah seorang > organisatornya, Zhang Shengye, hilang. [Tatiana Lukman] > > > > > > Sent from Mail for Windows 10 > > > > From: Chan CT > Sent: Tuesday, August 10, 2021 4:53 AM > To: Tatiana Lukman; GELORA45_In > Subject: Re: [GELORA45] Lencana Ketua Mao > > > > Entah nenek yang satu ini pernah tidak memperhatikan tradisi Tionghoa > dalam ungkapan kuno: “Seribu kawan masih kurang, Satu musuh sudah > berlebih!”, lalu coba kaitkan dengan “perjuangan klas” yang dalam > kenyataan ada dan harus dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat. PASTI > tidak selalu harus diantagoniskan menjadi pertarungan klas yang tidak > terdamaikan dan digempur hancur-hancuran, baik dengan pemogokan buruh > maupun REVOLUSI! TIDAK, ... begitu! Sebaliknya, kedua-belah pihak > harus berusaha sedapat mungkin berdamai, menemukan titik temu untuk > maju bersama dan menang bersama! TETAP bersahabat dan tidak > bermusuhan yang merugikan kedua belah pihak itu! Begitu terhadap > kapitalis perseorangan dalam mengatasi, menyelesaikan pertikaian > dengan buruh, karyawan yang selama ini terjadi. Selalu berusaha > diselesaikan secara damai, termasuk dengan demo dan mogok buruh yang > terjadi. > > > > Memang di UU-Buruh Tiongkok, pasal hak mogok buruh dicabut, > ditiadakan saat UU-Buruh Pekerja tahun 1992, tapi TIDAK berarti hak > mogok buruh dilarang! TIDAK, ...! Karena TETAP ada jaminan bagi > setiap Buruh, karyawan mengajukan pengaduan, tuntutan ketidak adilan > yang dirasakan, baik melalui Serikat Buruh maupun langsung ke Dept. > Perburuhan berbagai tingkat! Dam, ... kenyataan berapa kali > aksi-mogok cukup besar juga terjadi berbagai propinsi, dan berhasil > menangkan TUNTUTAN Buruh! Jadi, aksi-mogok dalam kenyataan sekalipun > “hak aksi buruh mogok” sudah ditiadakan. Dan ingat, ternyata di > Tiongkok buruh diberi hak membentuk Serikat Buruh nya sendiri, ada > belasan serikat buruh yang terbentuk di Tiongkok selatan. Jadi, > kebebasan berorganisasi, bersuara sudah jauh lebih BEBAS ketimbang > ditahun 50-70-an! > > > > Begitu juga sikap ketua Mao dalam menghadapi permusuhan dengan > blok-barat, khususnya AS! Coba saja perhatikan, di Des. tahun 1970, > Harian Rakyat menampilkan foto Ketua Mao bersama Edgar Snow di atas > Tian An Men saat 1 Oktober 1970, untuk menunjukkan Tiongkok tetap > bersahabat dengan Rakyat Amerika!. Kemudian tahun 1971 terjadi > rombongan ping-pong AS datang ke Beijing melangsungkan pertandingan > persahabat, ... menyusul kehadiran Henrry Kissinger berkunjung secara > rahasia di Beijing sehubungan dengan kunjungan resmi Presiden Nixon > di awal Februari 1972, bersalaman dengan ketua Mao! Apa makna disitu? > > > > ini Foto di BBC > > > > Jelas kondisi bermusuhan dengan embargo dan blokade yang dijalankan > AS terhadap RRT sejak awal 1950 sangat TIDAK menguntungkan Tiongkok > dan juga AS sendiri, ...! Pihak RRT lebih dahulu tayangkan dan usaha > membuka persahabatan kedua rakyat, Tiongkok-Amerika! Kemudian > ditingkatkan kepersahabatan kedua negara. Sampai akhirnya membuka > hubungan diplomatik dan perluas hubungan perdagangan, ... yang > kemudian setelah melihat kemajuan dahsyat RRT, oleh Trump dianggap > ancaman bverat yang harus digempur dan berlanjut oleh Biden sekarang > ini. Pertarungan jadi makin sengit, kedua belah pihak belum juga > menemukan titik temu yang lebih baik. Sekalipun kedua belah pihak > sudah merasakan KERUGIAN yang diderita akibat perang dagang yang > terjadi, ... > > > > Jadi, seandainya saja Mao hidup lebih pangjang belasan tahun, PASTI > juga akan sejakan dengan Deng yang prakmatis itu! Kelanjutan > persahabatan RRT-AS itu dengan hubungan dagang yang lebih luas dan > terbuka setelah jalankan “Reformasi dan Keterbukaan” tahun 1980! > Masuknya modal-AS, termasuk IMF/BankDunia yang oleh Deng digunakan > sebaik-baiknya untuk BELAJAR mengerjakan sendiri! Bukan memebiarkan > rakyat Tiongkok hanya menjual tenaga kerja-murah pada modal-asing, > tapi merebut kesempatan untuk belajar dan bisa BERDIKARI, mengerjakan > sendiri bahkan lebih baik! > > > > Itulah jalan Deng untuk mencapai kemakmuran masyarakat, ... BUKAN > dengan jalan meratakan kemiskinan yang ada, tapi lebih dahulu > meningkatkan kemakmuran masyarakat lebih dahulu, mengentaskan lebih > 700 juta rakyat dari kemiskinan absolut menjadi sejahtera, cukup > sandang-pangan. Dan, seiring dengan lebih lanjut meningkatkan > kemakmuran masyarakat mengurangi kesenjangan sosial yang terjadi, > untuk meratakan kemakmuran! > > Itulah sosialisme dalam arti sesungguhnya yang hendak diwujudkan > Tiongkok, meratakan kemakmuran bukan meratakan kemiskinan! > > > > > > > > From: 'Tatiana Lukman' via GELORA45 > > Sent: Monday, August 9, 2021 6:10 PM > > To: Jaya Suprana > > Cc: Lusi D. ; Chan CT ; GELORA45_In > > Subject: RE: [GELORA45] Lencana Ketua Mao > > > > REMO adalah singkatan dari REVISIONISME MODERN. Dalam sejarah > perkembangan ilmu Marxisme-Leninisme-Maoisme, terdapat > penyelewengan/perubahan/revisi terhadap prinsip-prinsip pokok > M-L-M. Yang dimaksud prinsip-prinsip pokok, misalnya, prinsip > perjuangan kelas, kelas borjuasi tidak pernah menyerahkan > kekuasaannya dengan suka rela alias dengan damai, dan masih banyak > lagi. > > > > Ada revisionisme klasik dan revisionisme modern. Ketika orang bicara > tentang revisionisme klasik, ia menunjuk pada tokoh utamanya, Eduard > Berstein, pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Intinya tidak mengakui > perjuangan kelas , berkolaborasi dengan kaum borjuasi, tidak mengakui > perlunya Kediktaturan proletariat untuk membangun sosialisme. > Hasilnya adalah sosial demokrasi (sosdem) yang sekarang banyak > dianut oleh Partai sosialis dan komunis (revisionis) di negara-negara > Welfare state di Eropa Barat. > > > > Revisionisme Modern muncul dengan penyelewengan yang dilakukan oleh > tokoh utamanya, Nikita Khrushchov, tahun 1956. Teori revisionis yang > dijajakan antara lain peralihan secara damai ke sosialisme, Partai > dan Negara seluruh rakyat yang berarti tidak mengakui adanya > perjuangan kelas dalam masyarakat sosialis, koexistensi damai dengan > imperialisme yang berarti melarang /tidak mendukung rakyat melakukan > perjuangan termasuk yang bersenjata melawan imperialisme yang > dikepalai AS. > > > > Klasik atau modern, inti dari revisionisme adalah melanggar > prinsip-prinsip dasar Marxisme. > > > > Sekarang, coba simak ajaran Mao yang berkaitan dengan Revisionisme. > > > > Both dogmatism and revisionism run counter to Marxism. Marxism must > certainly advance; it must develop along with the development of > practice and cannot stand still. It would become lifeless if it > remained stagnant and stereotyped. However, the basic principles of > Marxism must never be violated, or otherwise mistakes will be made. > It is dogmatism to approach Marxism from a metaphysical point of view > and to regard it as something rigid. It is revisionism to negate the > basic principles of Marxism and to negate its universal truth. > Revisionism is one form of bourgeois ideology. The revisionists deny > the differences between socialism and capitalism, between the > dictatorship of the proletariat and the dictatorship of the > bourgeoisie. What they advocate is in fact not the socialist line but > the capitalist line. In present circumstances, revisionism is more > pernicious than dogmatism. One of our current important tasks on the > ideological front is to unfold criticism of revisionism. > > > > Agen remo selalu menggunakan dalih “zaman berubah”, “kenyataan > berubah”, etc dan menuduh saya seolah-olah saya ngeloni “dogma”atau > teori-teori yang dia anggap sdh usang. Mao mengingatkan > “prinsip-prinsip dasar Marxisme selama-lamanya tidak boleh > dilanggar”. Dengan jelas Mao mengajukan bahwa Revisionisme adalah > satu bentuk ideologi borjuis. Mereka tidak membedakan kediktaturan > proletar > > dengan kediktaturan borjuis. > > > > Kediktaturan apa yang ada di tiongkok sekarang? Proletar atau > borjuis? Kalau proletar, mengapa UU dan peraturan yang dulu berlaku > dipreteli? Dulu buruh punya hak mogok, punya sida, artinya 4 > kebebasan: bebas mengexpresikan pendapat, bebas berdiskusi, bebas > menulis koran dinding berhuruf besar… Dulu buruh punya hak libur, > layanan kesehatan dan Pendidikan gratis…Kenapa semua itu sekarang > tidak ada?? 6 juta buruh yang menderita penyakit karena pekerjaannya > sama sekali tidak mendapat layanan kesehatan yang memadai dan > gratis!! Kenapa sampai ada buruh yang bunuh diri karena tidak tahan > lagi dengan rezim kerja yang ada dipabriknya?? > > > > Mao juga mengajukan bahwa dala keadaan sekarang, revisionisme lebih > berbahaya dari pada dogmatism!! > > > > Ini Mao lagi bicara tentang revisionsime. > > > > Revisionism, or Right opportunism, is a bourgeois trend of thought > that is even more dangerous than dogmatism. The revisionists, the > Right opportunists, pay lip-service to Marxism; they too attack > "dogmatism". But what they are really attacking is the quintessence > of Marxism. They oppose or distort materialism and dialectics, oppose > or try to weaken the people's democratic dictatorship and the leading > role of the Communist Party, and oppose or try to weaken socialist > transformation and socialist construction. After the basic victory of > the socialist revolution in our country, there are still a number of > people who vainly hope to restore the capitalist system and fight the > working class on every front, including the ideological one. And > their right-hand men in this struggle are the revisionists. > > > > Sekali lagi Mao bilang revisionisme lebih berbahaya dari pada > dogmatism. Yang diserang kaum revisionis adalah inti sari Marxisme. > Mereka memutarbalik materialism dan dialektika. Mao mengingatkan > “setelah kemenangan revolusi sosialis di negeri kita, masih ada orang > yang berharap merestorasi system kapitalis dan menyerang kelas buruh > di tiap front termasuk di bidang ideologi.” > > Celakanya Mao sudah meninggal, ketika kaum revisionis berhasil > mengalahkan kaum Marxis-Leninis-Maois dan akhirnya merestorasi > kapitalisme!!! > > > > > > > > > > Sent from Mail for Windows 10 > > > > From: Jaya Suprana > Sent: Sunday, August 8, 2021 4:55 AM > To: Tatiana Lukman > Cc: Lusi D.; Chan CT; GELORA45_In > Subject: Re: [GELORA45] Lencana Ketua Mao > > > > MOHON PENCERAHAN TENTANG APA SEBENARNYA ARTI ISTILAH REMO. > > Salam hormat dari jaya suprana > > > > Pada tanggal Sab, 7 Agu 2021 pukul 23.23 'Tatiana Lukman' via > GELORA45 <[email protected]> menulis: > > Inilah kesempatan untuk melihat lagi kemunafikan agen Remo dalam > hubungannya dengan Mao. Memuji Mao hanya sebagai polesan bibir saja!! > Betapa tidak!!! Orang yang sudah memcemooh ratusan kali karya rakyat > tiongkok di bawah pimpinan Mao dalam membangun Sosialisme dengan > mengkwalifikasinya sebagai “meratakan kemiskinan”, kadang-kadang > terpaksa harus mengeluarkan pujian-pujian palsu terhadap Mao. Menuduh > Mao “terlalu pagi membabat kaum kapitalis”, “terlalu cepat membangun > komune rakyat, masuk sosialisme”, Gerakan maju melompat kedepan > salah, RBKP salah, lantas mana karya Mao setelah pembebasan 1949 yang > tidak dicemooh oleh kaum revisionis serta para agennya??? Bahwa > rakyat Tiongkok mencintai Mao, itu betul!!! Tapi kaum remo SANGAT > MEMBENCI MAO, MAKA PENGIKUTNYAPUN DIHANCURKAN SETELAH KUDETA > 1976!!!SOSIALISME DIHANCURKAN, KOMUNE RAKYAT DIHANCURKAN, SEBAGAI > GANTINYA KAPITALISME DAN IMPERIALISME!!! MASIH KURANG BUKTI TKK > KAPITALIS DAN IMPERIALIS??? SIMAK BAIK-BAIK SAMPAI SELESAI DISKUSI > WEBINAR 100 TAHUN PKT OLEH WAKIL DARI AS, CANADA, INDIA DAN FILIPINA!! > > > > Sent from Mail for Windows 10 > > > > From: Lusi D. > Sent: Saturday, August 7, 2021 2:41 PM > To: Chan CT > Cc: GELORA45_In; nasional-list; GELORA45_In; chalik.hamid > Subject: Re: [GELORA45] Lencana Ketua Mao > > > > Saya memandangnya bukan karena sangkaan yang bung persamakan itu. > Tapi > > dari segi patriotisme. Apa ada mirip-miripnya. > > > > > > > > > > Am Sat, 7 Aug 2021 20:03:16 +0800 > > schrieb "Chan CT" <[email protected]>: > > > > > Memang kenapa harus sama dengan Lieus, ... hanya karena > > sama-sama > > > Tionghoa? Lalu, bung yang Jawa juga sama dengan Soeharto yang > > Jawa? > > > Hehehee, ... > > > > > > -----原始郵件----- > > > From: Lusi D. > > > Sent: Saturday, August 7, 2021 5:17 PM > > > To: nasional-list ; GELORA45_In ; chalik.hamid > > > Subject: Fw: [GELORA45] Lencana Ketua Mao > > > > > > Maksud kalimat bung ". . . hati saya masih saja melekat > > tertinggal di > > > Indonesia, dimana saya dilahirkan dan dibesarkan." apa maunya > > seperti > > > Lieus Sungkharisma ini? > > > https://www.youtube.com/watch?v=z3Ae4nDYgVw > > > > > > > > > > > > Beginn der weitergeleiteten Nachricht: > > > > > > Datum: Sat, 7 Aug 2021 10:30:59 +0800 > > > Von: "Chan CT" <[email protected]> > > > An: "Jaya Suprana" <[email protected]>, "GELORA45_In" > > > <[email protected]> Betreff: Re: [GELORA45] Lencana > > Ketua > > > Mao > > > > > > > > > Ooouh, ... jadi dirasakan saya tak gentar membela negara dan > > bangsa > > > Tiongkok? Dilihat dari KTP yang saya pegang sekarang, tentu > > > WN-Tiongkok, tapi hati saya masih saja melekat tertinggal di > > > Indonesia, dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Membela > > keadilan > > > dan kebenaran! Itulah yang sesungguhnya! > > > > > > Terimakasih atas sanjungan begitu tinggi, bung Jaya! > > Hehehee, ... > > > > > > > > > From: Jaya Suprana > > > Sent: Saturday, August 7, 2021 8:57 AM > > > To: Chan CT > > > Cc: GELORA45_In > > > Subject: Re: [GELORA45] Lencana Ketua Mao > > > > > > Saya mengagumi kegigihan semangat maju tak gentar pak Chan > > membela > > > negara dan bangsanya ! Bravissimo Pak Chan ! > > > > > > On Sat, 7 Aug 2021 at 07.42 Chan CT <[email protected]> > > wrote: > > > > > > Lencana Ketua Mao > > > > > > > > > > > > Disaat penobatan Medali-emas Olympic-Tokyo bagi > > Pembalap-sepeda > > > Tiongkok, panitia Olympic memprotes bahkan memberi peringatan > > bisa > > > membatalkan pemenang Tiongkok karena mereka berdua kenakan > > Lencana > > > Ketua Mao, yang dianggap propaganda politik! Katanya melanggar > > > ketentuan Olympic, pasal-50! Apa dan dimana salahnya? > > > > > > Dimedsos juga terjadi banyak komentar atas teguran dan > > peringatan > > > panitia Olympic itu, ... ada yang sangat menarik menjadi > > perhatian > > > saya: Apa itu propaganda politik? Coba saja perhatikan, saat > > > Olympiade Musim Dingin di Salt Lake City, Amerika Serikat, > > polisi AS > > > menyanyikan lagu kebangsaan dan membawa bendera Amerika yang > > > compang-camping kelapangan, > > > > > > > > > Lalu, saat program "Tokyo Eight Minutes" Rio, mantan Perdana > > Menteri > > > Jepang Shinzo Abe berlari sebagai Mario; tahun ini, Kaisar > > Jepang > > > berada di Tokyo Pidato pada upacara pembukaan Olimpiade, > > Jepang > > > mengusulkan untuk mengamati ledakan nuklir Hiroshima di > > Olimpiade > > > Tokyo ... Bukankah ini merupakan "politisasi" yang > > sesungguhnya! > > > Itulah POLITIK, itulah "depolitisasi", ...! Jadi, ketika atlet > > dari > > > berbagai negara menangkan kejuaraan, saat mereka mengibarkan > > bendera > > > nasional dan memngumandangkan lagu kebangsaan, itu juga > > POPLITIK! > > > Lalu, dimana salahnya??? > > > > > > Satu contoh lagi, "The March of the Volunteers" awalnya adalah > > lagu > > > anti-Jepang, penuh dengan sentimen nasionalis. Jadi, apakah > > Komite > > > Olympiade akan melarang kumandangkan lagu Olympiade itu? Lagu > > > kebangsaan setiap negara di dunia seringkali mewakili sejarah > > > berdirinya satu negara dan memiliki ekspresi politik yang > > jelas, > > > apakah harus dilarang? TENTU SAJA TIDAK! > > > > > > Ketidak adilan harus dilawan, ...! Tak ada yang perlu > > ditakuti, ... > > > Ketua Mao adalah pemimpin bangsa Tionghoa yang seanantiasa > > dicintai > > > dan dihormati Rakyat Tiongkok! Ketua Mao itulah yang membuka > > jalan > > > kehidupan baru bagi 1,4 milyar Rakyat Tiongkok sekarang ini, > > kenapa > > > kami tidak boleh kenakan Lencana Ketua Mao saat menerima > > > Medali-emas! Menyandingkan lencana Ketua Mao dengan lambang > > Nasional > > > RRT tidak ada salahnya! Yang mempermasalahkan itulah > > “politisasi” > > > usaha nyata anti-Tiongkok! -- Anda menerima pesan ini karena > > > berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti > > > berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim > > email ke > > > mailto:gelora1945%[email protected]. Untuk melihat > > diskusi ini > > > di web, kunjungi > > > > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AB585DC391804BCFB8753E6FC63B7702%40A10Live. > > > > > > > > -- > > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" > dari Google Grup. > > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup > ini, kirim email ke mailto:gelora1945%[email protected]. > > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210807144123.735e93b9%40lilik-ThinkPad-T420s. > > > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di > Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email > dari grup ini, kirim email ke > [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di > web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/610eb395.1c69fb81.f8a6d.5017SMTPIN_ADDED_MISSING%40gmr-mx.google.com. > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210811101055.613cd5bd%40lilik-ThinkPad-T420s.
