Jonathan: "Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih 
waras." hal ini menyatakan kebanyakan sejarahwan Indonesia tidak waras dan si 
Gongong ini dikatakan salah satu yang waras, bukankah hal ini berarti si 
Gonggong itu exceptional salah satu dari sedikit yang waras, atau dengan kata 
nge-trend disebut "one of the best". Kalau hal ini bukan pujian, terus apa lagi?

 

Nesare: kalau ane bilang si A, si B, si C waras, apakah ane mendukung si A, si 
B, si C? Gimana logikanya waras = memuji. Lalu konteksnya tulisan dulu itu apa? 
ente tahu ndak? Baca ndak? Kalau sudah baca ngerti ndak? Ane bilang anhar 
gonggong waras karena dia gak bela PKI, juga gak bela soeharto. Ini waras. 
Warasnya dari sudut pandang sejarah. Ketika anhar gonggong bilang PKI menangpun 
akan bunuh2 dan PKI itu atheis, ini ane salahkan. Kenapa? Walaupun fakta 
sejarah bisa begitu, tetapi PKI diindonesia itu konteksnya lain. Semuanya atau 
hampir semuanya manusia Indonesia itu agamais. Bunuh2an kalau PKI menang itu 
adalah salahnya anhar gonggong karena dia tersamarkan. Tersamarkan akibat dia 
anti komunisme. Ini persis terjadi sama yusuf hasyim anaknya kiai haji hasyim 
as’yari yg waktu dulu adalah salah satu ansornya NU. Dia itu ketakutan krn 
banyak bunuh orang PKI sampai trauma. Setelah insyaf dia pernah minta ketemu 
sama salah satu anaknya Aidit tetapi gak digubris.

 

Jonathan: "Dia tidak membela PKI maupun Soeharto." disini khan beliau bermaksud 
mengatakan si Gonggong itu imparsial, tidak memihak, pandangannya lurus, tidak 
membela salah satu pihak baik PKI ataupun Soeharto. Kalau ini bukan pujian, 
terus apa lagi?

 

Nesare: baca saja gak becus! Anhar gonggong tidak membela PKI. Anhar gonggong 
tidak membela soeharto. Ini konteks tulisan itu! Apakah ini bukan objektif? 
Anhar gak bela kedua belah pihak dalam tulisan ini. Gimana bisa diklaim ane 
muji anhor gonggong? Ini masalah objektifitas. Moso’ ini masalah puji memuji?

 

Jonathan: "Dia melihatnya dari sudut pandang sejarah." terlihat sekali dalam 
konteks diatas "PKI maupun Soeharto" sang penulis mengatakan si Gonggong 
melihat dari sudut pandang sejarah, dus maksud beliau sejarah yg dikemukakan si 
Gonggong itu benar. Kalau ini bukan pujian, terus apa lagi?

 

Nesare: koq bisa jump to conclusion dari "Dia melihatnya dari sudut pandang 
sejarah” ke “nesare memuji anhar gonggong”? Lah jelas sekali pendapat anhar 
gonggong adalah tidak membela PKI dan tidak membela soeharto. Koq memuji? Kalau 
anhar gonggong membela PKI atau membela soeharto, ente mau bilang ane membenci 
alias tidak membenci anhar gonggong? Gitu logikanya ya? Koq aneh2 saja 
permainan logika ente ini?!!

 

Jonathan: "Disini dia objektif." si penulis memperjelas lagi betapa si Gonggong 
dalam mengemukakan sejarah "PKI maupun Soeharto" dengan objektif. Kalau ini 
bukan pujian, terus apa lagi?

 

Nesare: jelas anhar gonggong objektif. Dia gak bela PKI maupun soeharto. Apakah 
anhar gonggong benar, itu lain perkaranya. Kenapa? Karena objektif tidak sama 
dengan benar. Kalau anhar gonggong yg memang dari sononya benci komunisme 
bilang dia bela soeharto, ini baru namanya tidak objektif. Kenapa dia tidak 
objetif kalau bilang dia mendukung soeharto? Itu karena dia mendukung posisinya 
yang anti komunisme.  Tetapi dia gak bilang dia mendukung soeharto makanya dia 
objektif. Otak ente itu gak nyampe! Otak itu lebih parah drpd otak kunyuk! 
Makanya jangan sombong!

 

Jonathan: "Dia tidak personal." lagi2 disini menyangatkan arti, dalam konteks 
"PKI maupun Soeharto" tidak ada hal personal yg dikemukakan si Gonggong. Kalau 
ini bukan pujian, terus apa lagi?

 

Nesare: jelas sekali dia tidak personal. Salahnya dimana? Dia anti komunisme. 
Terus dia bilang dia gak bela soeharto dan tidak bela PKI. Ini kan jelas2 tidak 
personal. Kalau dia personal kan harusnya dia ngomong soeharto gak salah. 
Tetapi kan dia gak bilang begitu. Dia gak bela soeharto!!!

Lalu apa urusan “dia tidak personal” dengan “ane memuji anhar gonggong”? Ini 
orang (bukan kunyuk loh!) ngaco aja!!!

 

Jonathan: Bukankah puja puji setinggi langit itu jelas diutarakan thd Anhar 
Gonggong. Tetapi sekali lagi lupakan sajalah anggap tidak ada, lha wong yang 
ngomong kunyuk kok buat apa diambil pusing.

 

Nesare: dimana ane memuji anhar gonggong? Sekarang ditambah embel2 “setinggi 
langit” lagi. Hebatttt kan orang satu ini yg asal jeplak!

 

Jonathan: Saya akhiri sampai disini pembahasan omongan si kunyuk. Btw kata 
"kunyuk" itu merupakan kiasan bahasa Indonesia se-hari2 yang dipopulerkan oleh 
Gus Dur dengan kisah legendaris "MayJen Kunyuk".

 

Nesare: hehehehe argument ente itu gak ada. Bolak balik mainan Bahasa. 

Oh begitu artinya kunyuk ya? Itu istilah ente ya. Kalau orang banyak bacanya 
lain: kunyuk = binatang.

Oh ya kalau mau ngutip2 gus dur, tolong jangan dilabelkan ke ane karena ane 
bukan jendral. Atau ente dapet wangsit dari dewa dewi bahwa ane itu jendral 
ya?! Hehehehe.

 

Hati2 kalau ngomong! Apalagi diruang public!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, March 14, 2017 10:48 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai

 

  

Bung Chan, saya cuman mau memperjelas saja kalimat dibawah jelas sekali 
merupakan pujian thd Anhar Gonggong, Kita lihat saja kalimat demi kalimat:

 

"Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih waras." hal ini 
menyatakan kebanyakan sejarahwan Indonesia tidak waras dan si Gongong ini 
dikatakan salah satu yang waras, bukankah hal ini berarti si Gonggong itu 
exceptional salah satu dari sedikit yang waras, atau dengan kata nge-trend 
disebut "one of the best". Kalau hal ini bukan pujian, terus apa lagi?

 

"Dia tidak membela PKI maupun Soeharto." disini khan beliau bermaksud 
mengatakan si Gonggong itu imparsial, tidak memihak, pandangannya lurus, tidak 
membela salah satu pihak baik PKI ataupun Soeharto. Kalau ini bukan pujian, 
terus apa lagi?

 

"Dia melihatnya dari sudut pandang sejarah." terlihat sekali dalam konteks 
diatas "PKI maupun Soeharto" sang penulis mengatakan si Gonggong melihat dari 
sudut pandang sejarah, dus maksud beliau sejarah yg dikemukakan si Gonggong itu 
benar. Kalau ini bukan pujian, terus apa lagi?

 

"Disini dia objektif." si penulis memperjelas lagi betapa si Gonggong dalam 
mengemukakan sejarah "PKI maupun Soeharto" dengan objektif. Kalau ini bukan 
pujian, terus apa lagi?

 

"Dia tidak personal." lagi2 disini menyangatkan arti, dalam konteks "PKI maupun 
Soeharto" tidak ada hal personal yg dikemukakan si Gonggong. Kalau ini bukan 
pujian, terus apa lagi?

 

Bukankah puja puji setinggi langit itu jelas diutarakan thd Anhar Gonggong. 
Tetapi sekali lagi lupakan sajalah anggap tidak ada, lha wong yang ngomong 
kunyuk kok buat apa diambil pusing.

 

Saya akhiri sampai disini pembahasan omongan si kunyuk. Btw kata "kunyuk" itu 
merupakan kiasan bahasa Indonesia se-hari2 yang dipopulerkan oleh Gus Dur 
dengan kisah legendaris "MayJen Kunyuk".

 

---

Kutipan:

Jangan begitu. Peristiwa pembunuhan massal 1965 ini banyak yang tidak tahu. 
Yang tahupun tidak sepenuhnya tahu benar apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih waras.

Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari sudut pandang 
sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak personal.

 
<https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/176895?soc_src=mail&soc_trk=ma>
 https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/176895

 

 

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , 
<jonathangoeij@... <mailto:jonathangoeij@...> > wrote :



lha wong memang omongan kunyuk, mau ngomong apalagi bung Chan. sebelumnya khan 
tanya omongan mana yg memuji lha sudah jelas memuji bilang melihat dari sudut 
pandang sejarah dan objektif terus ngeles lagi. ini khan jelas2 omongan kunyuk. 
kalau bukan kunyuk terus apa namanya? debat kusir? kan saya sudah bilang 
lupakan saja.



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <SADAR@... 
<mailto:SADAR@...> > wrote :



Bung Goei, ... INGAT, berusahalah BERDISKUSI secara baik-baik, ajukan 
argumentasi saja TANPA harus mengkunyukkan lawan diskusi! Kalau memang sudah 
TIDAK ADA argumentasi yang bisa diajukan, yaa diam saja!

 

Salam,

ChanCT

 

 

From: jonathangoeij@... [GELORA45]

Sent: Tuesday, March 14, 2017 5:54 AM

To: [email protected] <mailto:[email protected]> 

Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai

 

 

lupakan saja, lha wong yg ngomong kunyuk.



---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :



Dari mana tulisan saya ini yang bilang saya memuji2 anhar gonggong?

Bisa baca endak? Sudah baca keseluruhan tulisan ane?

Kalau sudah baca, ngerti ndak tulisan saya itu?

 

Tulisan saya ini “Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari 
sudut pandang sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak personal” ente anggap ane 
muji2 anhar gonggong?

 

Coba kasih argumen ente disini, gimana ane memuji anhar gonggong, kenapa ane 
memuji anhar gonggong dst…dst….

 

Bandingkan dengan ikranegara dan taufik ismail yg juga sangat waras tetapi anti 
komunismenya bikin mereka pandangan dalam disiplin ilmunya menjadi tersamarkan.

 

Begitu juga dengan yg dikiri seperti tatyana yg bagi ane sangat waras tetapi 
karena anti kanan bikin tulisan2nya menjadi tersamarkan juga.

 

Ini ide seorang kunyuk. Mana argument ente yang katanya seorang manusia dan 
bukan kunyuk kan?

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, March 13, 2017 12:23 PM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai

 

 

 

yang ngomong kunyuk.

 

---

Kutipan:

Jangan begitu. Peristiwa pembunuhan massal 1965 ini banyak yang tidak tahu. 
Yang tahupun tidak sepenuhnya tahu benar apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih waras.

Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari sudut pandang 
sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak personal.

 
<https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/176895?soc_src=mail&soc_trk=ma>
 https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/176895

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Siapa yang memuji2 anhar gonggong?

Jangan pake’ rasanya!

Tulis disini siapa: saya atau djie?

 

Nesare

 

 

From: GELORA45@yahoogroupscom [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, March 13, 2017 11:03 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: Re: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai

 

 

 

tempo hari rasanya ada yg me-muji2 gonggong

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <djiekh@... 
<mailto:djiekh@...> > wrote :

benar2 gonggong double gong, goblok sekali..........

 

2017-03-13 15:20 GMT+01:00 nesare1@... [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >:

 

Gimana bisa selesai? Supersemar itu cacat hukum. Supersemar itu cacat sejarah.

Koq bisa seorang anhar gonggong katanya sejarahwan bilang supersemar itu sudah 
selesai?

Aduh ini omongan seorang anhar gonggong yang anti komunisme.

Sayangnya dia lebih memposisikan dirinya sebagai pembenci dibandingkan sebagai 
seorang sejarahwan!

 

Korban nyawa rakyat Indonesia yang tidak ketahuan ujung pangkalnya harus 
di”selesaikan” begitu saja oleh seorang anhar gonggong?

Sejahrawan satu ini perlu mengetahui artinya hukum dan pembalasan sejarah atas 
suatu peristiwa sejarah.

Saya tidak yakin dia ini seorang sejahrawan. Sekurang2nya dia perlu mikirin hal 
ini apakah dia seorang sejarahwan.

 

Jelas dia gak akan mengerti bagaimana sejarah hittler nazi dan yahudi dimana 
sampai sekarangpun orang yahudi masih belum selesai nguber orang2nya hittler 
nazi.

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, March 13, 2017 4:04 AM
To: [email protected] <mailto:[email protected]> ; 
[email protected] <mailto:[email protected]> ; 
[email protected] <mailto:[email protected]> 
Subject: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai [5 
Attachments]

 

 

 



 
<https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui-peristiwa-supersemar-sudah-selesai>
 https://nasional.tempo.co/ read/news/2016/02/13/ 078744643/sejarawan-ui- 
peristiwa-supersemar-

 
<https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui-peristiwa-supersemar-sudah-selesai>
 sudah-selesai


Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah


Selesai


Sabtu, 13 Februari 2016 | 15:15 WIB

*       
*       
*       
*       



Anhar Gonggong. TEMPO/Yosep Arkian

 <http://tempo.co/> TEMPO.CO, Jakarta - Sejarawan Universitas Indonesia Anhar 
Gonggong menyatakan, keberadaan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 
seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Menurut dia, salah satu kejadian 
sejarah tersebut telah usai.

"Apalagi Pak Harto sudah meninggal, Bung Karno juga sudah meninggal," ujar 
Anhar dalam diskusi Peringatan 50 Tahun Supersemar yang diselenggarakan oleh 
Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar di Hotel Bidakara, 
Pancoran, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 13 Februari 2016.

Menurut Anhar, publik selalu menyangsikan keberadaan dokumen Supersemar yang 
asli. Namun, ia  meyakini bahwa dokumen itu pasti ada. "Pasti ada. Saya 
melakukan berbagai observasi tentang itu. Isinya lah yang menjadi persoalan," 
ujarnya.

Menurut Anhar, ketika Supersemar digunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk 
membubarkan PKI, Presiden RI saat itu, Soekarno, marah dan mencabut surat itu 
melalui surat yang dikeluarkan pada 13 Maret. "Tapi, kalau Soeharto tidak 
membubarkan PKI, semakin tinggi tuntutan orang untuk membubarkan itu. Siapa 
yang bisa menahan massa pada saat itu?"

 


Baca:  
<https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/12/173744404/pembuatan-ktp-anak-gratis-biaya-ditanggung-apbn>
 Pembuatan KTP Anak Gratis, Biaya Ditanggung APBN

 

Karena itu, menurut Anhar, Supersemar bukan sekedar surat perintah yang 
digunakan oleh Soeharto untuk merebut kekuasaan. Supersemar,  dikeluarkan 
melalui proses yang lama untuk mencari jalan penyelesaian. "Wajar jika 
menimbulkan konflik. Jadi, apanya yang perlu dijernihkan?" ujarnya.

Dengan begitu, menurut Anhar, perdebatan mengenai latar belakang dikeluarkannya 
Supersemar oleh Soekarno juga telah berakhir.  Soekarno dan Soeharto memiliki 
perannya masing-masing bagi bangsa ini. "Saya nggak pernah mengartikan Soekarno 
dan Soeharto jelek sepenuhnya." 

Anhar berujar, Supersemar bukan salah satu tonggak sejarah Indonesia. Tonggak 
sejarah hanya lah peristiwa pergerakan nasional 28 Oktober, Proklamasi 
Kemerdekaan 17 Agustus, dan Hari Pahlawan 10 November. "Mari kita tempatkan ini 
sebagai peristiwa sejarah yang biasa saja." 

ANGELINA ANJAR SAWITRI

 

 

 



Kirim email ke