Bung Chan, saya cuman mau memperjelas saja kalimat dibawah jelas sekali 
merupakan pujian thd Anhar Gonggong, Kita lihat saja kalimat demi kalimat:
"Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih waras." hal ini 
menyatakan kebanyakan sejarahwan Indonesia tidak waras dan si Gongong ini 
dikatakan salah satu yang waras, bukankah hal ini berarti si Gonggong itu 
exceptional salah satu dari sedikit yang waras, atau dengan kata nge-trend 
disebut "one of the best". Kalau hal ini bukan pujian, terus apa lagi?
"Dia tidak membela PKI maupun Soeharto." disini khan beliau bermaksud 
mengatakan si Gonggong itu imparsial, tidak memihak, pandangannya lurus, tidak 
membela salah satu pihak baik PKI ataupun Soeharto. Kalau ini bukan pujian, 
terus apa lagi?
"Dia melihatnya dari sudut pandang sejarah." terlihat sekali dalam konteks 
diatas "PKI maupun Soeharto" sang penulis mengatakan si Gonggong melihat dari 
sudut pandang sejarah, dus maksud beliau sejarah yg dikemukakan si Gonggong itu 
benar. Kalau ini bukan pujian, terus apa lagi?
"Disini dia objektif." si penulis memperjelas lagi betapa si Gonggong dalam 
mengemukakan sejarah "PKI maupun Soeharto" dengan objektif. Kalau ini bukan 
pujian, terus apa lagi?
"Dia tidak personal." lagi2 disini menyangatkan arti, dalam konteks "PKI maupun 
Soeharto" tidak ada hal personal yg dikemukakan si Gonggong. Kalau ini bukan 
pujian, terus apa lagi?
Bukankah puja puji setinggi langit itu jelas diutarakan thd Anhar Gonggong. 
Tetapi sekali lagi lupakan sajalah anggap tidak ada, lha wong yang ngomong 
kunyuk kok buat apa diambil pusing.
Saya akhiri sampai disini pembahasan omongan si kunyuk. Btw kata "kunyuk" itu 
merupakan kiasan bahasa Indonesia se-hari2 yang dipopulerkan oleh Gus Dur 
dengan kisah legendaris "MayJen Kunyuk".
---Kutipan:Jangan begitu. Peristiwa pembunuhan massal 1965 ini banyak yang 
tidak tahu. Yang tahupun tidak sepenuhnya tahu benar apa yang sebenarnya sudah 
terjadi.Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih waras.Dia 
tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari sudut pandang sejarah. 
Disini dia objektif. Dia tidak 
personal.https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/176895


---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :

lha wong memang omongan kunyuk, mau ngomong apalagi bung Chan. sebelumnya khan 
tanya omongan mana yg memuji lha sudah jelas memuji bilang melihat dari sudut 
pandang sejarah dan objektif terus ngeles lagi. ini khan jelas2 omongan kunyuk. 
kalau bukan kunyuk terus apa namanya? debat kusir? kan saya sudah bilang 
lupakan saja.


---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

Bung Goei, ... INGAT, berusahalah BERDISKUSI secara baik-baik, ajukan 
argumentasi saja TANPA harus mengkunyukkan lawan diskusi! Kalau memang sudah 
TIDAK ADA argumentasi yang bisa diajukan, yaa diam saja! Salam,ChanCT  From: 
jonathangoeij@... [GELORA45]Sent: Tuesday, March 14, 2017 5:54 AMTo: 
[email protected]: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa 
Supersemar Sudah,Selesai  lupakan saja, lha wong yg ngomong kunyuk.

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Dari mana tulisan saya ini yang bilang saya memuji2 anhar gonggong?Bisa baca 
endak? Sudah baca keseluruhan tulisan ane?Kalau sudah baca, ngerti ndak tulisan 
saya itu? Tulisan saya ini “Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia 
melihatnya dari sudut pandang sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak personal” 
ente anggap ane muji2 anhar gonggong? Coba kasih argumen ente disini, gimana 
ane memuji anhar gonggong, kenapa ane memuji anhar gonggong dst…dst…. 
Bandingkan dengan ikranegara dan taufik ismail yg juga sangat waras tetapi anti 
komunismenya bikin mereka pandangan dalam disiplin ilmunya menjadi tersamarkan. 
Begitu juga dengan yg dikiri seperti tatyana yg bagi ane sangat waras tetapi 
karena anti kanan bikin tulisan2nya menjadi tersamarkan juga. Ini ide seorang 
kunyuk. Mana argument ente yang katanya seorang manusia dan bukan kunyuk kan? 
Nesare  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, March 13, 2017 12:23 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai   yang 
ngomong kunyuk. ---Kutipan:Jangan begitu. Peristiwa pembunuhan massal 1965 ini 
banyak yang tidak tahu. Yang tahupun tidak sepenuhnya tahu benar apa yang 
sebenarnya sudah terjadi.Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia 
yang masih waras.Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari 
sudut pandang sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak 
personal.https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/176895

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Siapa yang memuji2 anhar 
gonggong?Jangan pake’ rasanya!Tulis disini siapa: saya atau djie? Nesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, March 13, 2017 11:03 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai   
tempo hari rasanya ada yg me-muji2 gonggong

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :benar2 gonggong double 
gong, goblok sekali.......... 2017-03-13 15:20 GMT+01:00 nesare1@... [GELORA45] 
<[email protected]>:





 Gimana bisa selesai? Supersemar itu cacat hukum. Supersemar itu cacat 
sejarah.Koq bisa seorang anhar gonggong katanya sejarahwan bilang supersemar 
itu sudah selesai?Aduh ini omongan seorang anhar gonggong yang anti 
komunisme.Sayangnya dia lebih memposisikan dirinya sebagai pembenci 
dibandingkan sebagai seorang sejarahwan! Korban nyawa rakyat Indonesia yang 
tidak ketahuan ujung pangkalnya harus di”selesaikan” begitu saja oleh seorang 
anhar gonggong?Sejahrawan satu ini perlu mengetahui artinya hukum dan 
pembalasan sejarah atas suatu peristiwa sejarah.Saya tidak yakin dia ini 
seorang sejahrawan. Sekurang2nya dia perlu mikirin hal ini apakah dia seorang 
sejarahwan. Jelas dia gak akan mengerti bagaimana sejarah hittler nazi dan 
yahudi dimana sampai sekarangpun orang yahudi masih belum selesai nguber 
orang2nya hittler nazi. Nesare   From: [email protected] 
[mailto:mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, March 13, 2017 4:04 AM
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Subject: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai [5 
Attachments]   

https://nasional.tempo.co/ read/news/2016/02/13/ 078744643/sejarawan-ui- 
peristiwa-supersemar-sudah-selesai
Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah

Selesai
Sabtu, 13 Februari 2016 | 15:15 WIB   
   - 
   - 
   - 
   - 
Anhar Gonggong. TEMPO/Yosep ArkianTEMPO.CO, Jakarta - Sejarawan Universitas 
Indonesia Anhar Gonggong menyatakan, keberadaan Surat Perintah Sebelas Maret 
(Supersemar) seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Menurut dia, salah satu 
kejadian sejarah tersebut telah usai.

"Apalagi Pak Harto sudah meninggal, Bung Karno juga sudah meninggal," ujar 
Anhar dalam diskusi Peringatan 50 Tahun Supersemar yang diselenggarakan oleh 
Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar di Hotel Bidakara, 
Pancoran, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 13 Februari 2016.

Menurut Anhar, publik selalu menyangsikan keberadaan dokumen Supersemar yang 
asli. Namun, ia  meyakini bahwa dokumen itu pasti ada. "Pasti ada. Saya 
melakukan berbagai observasi tentang itu. Isinya lah yang menjadi persoalan," 
ujarnya.

Menurut Anhar, ketika Supersemar digunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk 
membubarkan PKI, Presiden RI saat itu, Soekarno, marah dan mencabut surat itu 
melalui surat yang dikeluarkan pada 13 Maret. "Tapi, kalau Soeharto tidak 
membubarkan PKI, semakin tinggi tuntutan orang untuk membubarkan itu. Siapa 
yang bisa menahan massa pada saat itu?" 
Baca: Pembuatan KTP Anak Gratis, Biaya Ditanggung APBN Karena itu, menurut 
Anhar, Supersemar bukan sekedar surat perintah yang digunakan oleh Soeharto 
untuk merebut kekuasaan. Supersemar,  dikeluarkan melalui proses yang lama 
untuk mencari jalan penyelesaian. "Wajar jika menimbulkan konflik. Jadi, apanya 
yang perlu dijernihkan?" ujarnya.

Dengan begitu, menurut Anhar, perdebatan mengenai latar belakang dikeluarkannya 
Supersemar oleh Soekarno juga telah berakhir.  Soekarno dan Soeharto memiliki 
perannya masing-masing bagi bangsa ini. "Saya nggak pernah mengartikan Soekarno 
dan Soeharto jelek sepenuhnya." 

Anhar berujar, Supersemar bukan salah satu tonggak sejarah Indonesia. Tonggak 
sejarah hanya lah peristiwa pergerakan nasional 28 Oktober, Proklamasi 
Kemerdekaan 17 Agustus, dan Hari Pahlawan 10 November. "Mari kita tempatkan ini 
sebagai peristiwa sejarah yang biasa saja." 

ANGELINA ANJAR SAWITRI 





  

Kirim email ke