Bung Manap,
Ada beberapa buffet di Belanda, niru dari Jerman. Boleh makan sekenyangnya,
tetapi
kalau tersisa, tidak dihabiskan, didenda E 2.50
Kami pernah makan bersama 16 orang, di restaurant Taiwan di Amerika. Kami
pesan
15 macam saja, karena kalau 16 macam, pasti tidak habis. Kelnernya tanya,
lalu yang
satu lagi apa ? Kami bilang, kami semua sudah tua2 tidak bisa makan banyak.
Lalu dia
diam, tetapi mukanya kecut. Mungkin pikirnya, duduki 16 kursi, kok pesannya
hanya 15 ?
Atau langganan dia biasanya pesan ber-limpah2 ?
Kalau di sini kami kebetulan dengan teman2 berempat makan, pesannya ya
hanya 3 macam.
Kalau empat macam, ya kekenyangan, tidak habis. Kalau kepingin bawa pulang,
ya pesan
3 macam untuk dimakan, dan satu supaya baru dimasak kalau kami hampir
selesai makan.
Kalau yang ajak makan Tionghoa totok, wah mereka pesannya ber-limpah2.
Mungkin takut
diomongi kalau pesannya pas2an, yang nraktir orangnya kikir. Ya, jadinya
dia harus bawa
banyak sisa makanan pulang. Kalau di restauran Tionghoa, bawa sisa pulang,
sudah biasa.
Ada yang langsung taruh bak2 plastik, dan kantong plastik. Yang beli wadahi
sendiri, apa
yang mau dibawa pulang.
Di Amerika juga sudah biasa, sisa dibawa pulang, istilahnya minta doggy bag
?
Waktu pesta saya pensiun, saya tanya satu operator yang doyan sekali makan,
dan baru
bercerai dengan istrinya, apa dia mau sisa2nya dibawa pulang, jadi dia
tidak perlu masak.
Wah, kepala pabrik di samping saya bilang, wah, sisa kok dibawa pulang.
(Wah, rupanya
tersinggung, kok orang dibawai sisa makanan ?? ). Belum saya awab, wanita
yang biasa
urusi marketing bilang, itu sudah biasa kalau di Amerika dengan doggy bag,
dan juga di
restaurant2 Tionghoa di mana saja. Kalau saya yang jawab, mungkin dia tidak
percaya.......
Salam,
Djie

2018-01-25 10:04 GMT+01:00 S Manap [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>      Bung Lin yb.
>
>
>    Tulisan bung di bawah ini menginspirasi saya juga. Karena itu dalam
> menanggapi tulisan bung ini saya mau menceritakan sedikit pengalaman hidup
> saya.
>
>    Ketika saya masih anak-anak, saya mendapat pendidikan dalam keluarga
> bahwa kalau makan jangan sampai  makanan  di piring dihabisi semua.. Kalau
> makanan sampai habis semua, maka rezeki tidak akan datang lagi.
>
>     Saya mengikuti nasehat dan pandangan yang demikian itu sampai dewasa.
> Setiap habis makan ada saja sisa makanan yang saya tinggalkan  di piring
> yang akhirnya akan dibuang begitu saja.
>
>    Setelah sekolah ke luar negeri saya mulai melihat cara orang dari
> berbagai negeri makan sesuai dengan kebiasaan masing-masing.  Yang paling
> berkesan, ketika kami melakukan kerja badan di perkebunan jeruk di Kuba.
> Saya tinggal  satu  asrama dengan mahasiswa  dari Tiongkok dan kami makan
> selalu bersama di satu meja. Saya perhatikan orang-orang Tiongkok setiap
> kali makan, piringnya selalu bersih, tidak ada sisa-sisa makanan.
>
>    Lalu saya bertanya kepada mereka mengapa setiap kali makan saya lihat
> piring kalian bisa bersih begitu. Salah seorang dari mereka yang bernama
> Fidel ( nama aslinya Zhang shao thi) menjelaskan kepada saya bahwa:"Ketua
> Mao mengajarkan kepada kami bahwa kami tidak boleh membuang makanan, karena
> makanan yang kita makan ini hasil kerja rakyat  dan lagi di dunia ini masih
> banyak orang yang tidak cukup makanan."
>
>    Itulah asal mula saya tidak mau lagi menyisakan makanan di piring
> setelah habis makan sampai sekarang.
>    Fidel (Zhang Shao Thi) menjadi teman saya. Kami bertemu lagi beberapa
> tahun kemudian di Nan Chang, karena dia bekerja di bagian luar (wai phan)
> PKT propinsi Chiang Shi. Dia ikut membimbing kami meninjau dan belajar ke
> Yen An.
>
>    Sayapun merasa tidak sampai hati melihat makanan yang dibuang kecuali
> kalau bukan terpaksa. Apalagi kalau kita sering melihat masih begitu
> banyaknya orang terutama anak-anak   di Afrika yang  kelaparan.
>
>    Saya lihat kalau di tanah air kita banyak juga orang yang memesan
> makanan di rumah makan yang berlebihan dan tidak habis dimakan. Tapi
> biasanya sisa makanan itu ada  yang dibungkus lalu dibawa pulang. Mungkin
> di Eropa cara ini tidak biasa dilakukan orang.
>
>    Dengan pengalaman bung bersama teman-teman di Jerman itu, maka kita
> tidak boleh jemu menasehati siapa saja terutama anak-anak supaya tidak
> membuang makanan kecuali kalau terpaksa misalnya makanan sudah rusak.
> Tepat sekali pribahasa "Money is yours, but resources belong to the
> siciety".
>
>    Salam
>  S.Manap.
>
>
>
>
>
>
> Den onsdag, 24 januari 2018 17:02 skrev "Hsin Hui Lin [email protected]
> [GELORA45]" <[email protected]>:
>
>
>
> Kopas : *BACAAN INSPIRATIF :* Jerman adalah sebuah negara industri
> terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup
> foya-foya. Ketika saya tiba di Hamburgg , bersama rekan-rekan kami masuk ke
> restoran. Kami melihat banyak meja yang kosong. Ada satu meja dimana
> sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada 2 piring makanan dan dua kaleng
> bir di meja mereka. Saya bertanya dalam hati, “Apa hidangan yang begitu
> simple ini bisa disebut romantis?“
>
> Kemudian ada  beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan
> dihidangkan, pelayan membagi makanan  & mereka menghabiskan setiap butir
> makanan yang ada di piring mereka.
>
> Karena kami lapar, rekan kami memesan lebih banyak makanan. Saat selesai,
> tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat  kami habiskan di meja.
>
> Tapi begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang duduk dari
> meja sebelah menegur kami dalam bahasa Inggris, dan menyatakan bahwa mereka
> tidak senang karena kami memubazirkan makanan.
>
> Sahabat saya lalu menjawab teguran itu:  *“Lho kami yang membayar kok, ini
> bukan urusan kalian jika makanan kami tersisa.“*
>
> Mendadak wanita tua itu dan temannya meradang. Salah satunya segera
> mengeluarkan HP & menelpon seseorang. Tak lama  kemudian seorang pria
> berseragam yakni Sekuritas Sosial negeri itu tiba. Setelah mendengar sumber
> masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 pada kami. Kami
> semua terdiam.
>
> Petugas tersebut lalu berkata dengan suara yang galak:
>
> *“PESANLAH MAKANAN YG SANGGUP ANDA MAKAN, UANG ITU MILIKMU TAPI SUMBER
> DAYA ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YANG
> KEKURANGAN.. KALIAN TIDAK PUNYA ALASAN UNTUK MENYIA-NYIAKAN SUMBER DAYA
> ALAM TERSEBUT”*
>
> Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tsb membuat kami sungguh
> merasa malu. Bayangkan, kita yang berasal dari negara yang tidak
> makmur-makmur amat hidup dengan gengsi, dan sering pesan makanan
> berlebihan, apalagi saat menjamu tamu.
>
> Pelajaran ini sangat penting. *“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE
> SOCIETY.”*
>
> Kawan, marilah mengurangi pemubaziran, karena uang memang milikmu, tapi
> sumber daya alam itu milik bersama.
>
> Sebarkan!
>
>
> 
>

Kirim email ke