Setuju, anak-anak, orang muda, perlu terus diajak ngobrol.
Tentang apa pun. Lebih menyenangkan sambil mengudap 
penganan yang disukai. Damai di perut, damai di bumi. Itulah 
yang dicari.
Masalahnya, sekarang ini makanan sehari-hari kita kan seolah 
hasil kerja para importir dan pedagang besar di pasar bebas. 
Sampai-sampai ada yang tak malu menulis, "negara-negara di 
mana terdapat warung McDonald's tidak akan saling menyerang!" 
Lalu dia dikeploki separuh dunia. Diberi penghargaan Pulitzer 
karena dianggap berjasa menyebarkan paham "perdagangan bebas 
di pasar bebas membawa kemakmuran dan perdamaian". 
Karena itu, yang tidak sependapat, bebas pula mereka perangi.
--- ranau12@... wrote:
    Bung Lin yb.
   Tulisan bung di bawah ini menginspirasi saya juga. Karena itu dalam 
menanggapi tulisan bung ini saya mau menceritakan sedikit pengalaman hidup saya.
   Ketika saya masih anak-anak, saya mendapat pendidikan dalam keluarga bahwa 
kalau makan jangan sampai  makanan  di piring dihabisi semua.. Kalau makanan 
sampai habis semua, maka rezeki tidak akan datang lagi.
    Saya mengikuti nasehat dan pandangan yang demikian itu sampai dewasa. 
Setiap habis makan ada saja sisa makanan yang saya tinggalkan  di piring yang 
akhirnya akan dibuang begitu saja.
   Setelah sekolah ke luar negeri saya mulai melihat cara orang dari berbagai 
negeri makan sesuai dengan kebiasaan masing-masing.  Yang paling berkesan, 
ketika kami melakukan kerja badan di perkebunan jeruk di Kuba. Saya tinggal  
satu  asrama dengan mahasiswa  dari Tiongkok dan kami makan selalu bersama di 
satu meja. Saya perhatikan orang-orang Tiongkok setiap kali makan, piringnya 
selalu bersih, tidak ada sisa-sisa makanan.
   Lalu saya bertanya kepada mereka mengapa setiap kali makan saya lihat piring 
kalian bisa bersih begitu. Salah seorang dari mereka yang bernama Fidel ( nama 
aslinya Zhang shao thi) menjelaskan kepada saya bahwa:"Ketua Mao mengajarkan 
kepada kami bahwa kami tidak boleh membuang makanan, karena makanan yang kita 
makan ini hasil kerja rakyat  dan lagi di dunia ini masih banyak orang yang 
tidak cukup makanan."
   Itulah asal mula saya tidak mau lagi menyisakan makanan di piring setelah 
habis makan sampai sekarang.    Fidel (Zhang Shao Thi) menjadi teman saya. Kami 
bertemu lagi beberapa tahun kemudian di Nan Chang, karena dia bekerja di bagian 
luar (wai phan) PKT propinsi Chiang Shi. Dia ikut membimbing kami meninjau dan 
belajar ke Yen An.
   Sayapun merasa tidak sampai hati melihat makanan yang dibuang kecuali kalau 
bukan terpaksa. Apalagi kalau kita sering melihat masih begitu banyaknya orang 
terutama anak-anak   di Afrika yang  kelaparan.
   Saya lihat kalau di tanah air kita banyak juga orang yang memesan makanan di 
rumah makan yang berlebihan dan tidak habis dimakan. Tapi biasanya sisa makanan 
itu ada  yang dibungkus lalu dibawa pulang. Mungkin di Eropa cara ini tidak 
biasa dilakukan orang.
   Dengan pengalaman bung bersama teman-teman di Jerman itu, maka kita tidak 
boleh jemu menasehati siapa saja terutama anak-anak supaya tidak membuang 
makanan kecuali kalau terpaksa misalnya makanan sudah rusak.  Tepat sekali 
pribahasa "Money is yours, but resources belong to the siciety".
   Salam
 S.Manap.
Den onsdag, 24 januari 2018 17:02 skrev ehhlin@... :
 
   Kopas : *BACAAN INSPIRATIF :* Jerman adalah sebuah negara industri 
terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup foya-foya. 
Ketika saya tiba di Hamburgg , bersama rekan-rekan kami masuk ke restoran. Kami 
melihat banyak meja yang kosong. Ada satu meja dimana sepasang anak muda sedang 
makan. Hanya ada 2 piring makanan dan dua kaleng bir di meja mereka. Saya 
bertanya dalam hati, “Apa hidangan yang begitu simple ini bisa disebut 
romantis?“  
Kemudian ada  beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan dihidangkan, 
pelayan membagi makanan  & mereka menghabiskan setiap butir makanan yang ada di 
piring mereka.
Karena kami lapar, rekan kami memesan lebih banyak makanan. Saat selesai, 
tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat  kami habiskan di meja.
Tapi begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang duduk dari meja 
sebelah menegur kami dalam bahasa Inggris, dan menyatakan bahwa mereka tidak 
senang karena kami memubazirkan makanan.
Sahabat saya lalu menjawab teguran itu:  *“Lho kami yang membayar kok, ini 
bukan urusan kalian jika makanan kami tersisa.“*
Mendadak wanita tua itu dan temannya meradang. Salah satunya segera 
mengeluarkan HP & menelpon seseorang. Tak lama  kemudian seorang pria 
berseragam yakni Sekuritas Sosial negeri itu tiba. Setelah mendengar sumber 
masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 pada kami. Kami semua 
terdiam.
Petugas tersebut lalu berkata dengan suara yang galak:
*“PESANLAH MAKANAN YG SANGGUP ANDA MAKAN, UANG ITU MILIKMU TAPI SUMBER DAYA 
ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YANG KEKURANGAN.. KALIAN 
TIDAK PUNYA ALASAN UNTUK MENYIA-NYIAKAN SUMBER DAYA ALAM TERSEBUT”*
Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tsb membuat kami sungguh merasa 
malu. Bayangkan, kita yang berasal dari negara yang tidak makmur-makmur amat 
hidup dengan gengsi, dan sering pesan makanan berlebihan, apalagi saat menjamu 
tamu.
Pelajaran ini sangat penting. *“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE 
SOCIETY.”*
Kawan, marilah mengurangi pemubaziran, karena uang memang milikmu, tapi sumber 
daya alam itu milik bersama.
Sebarkan!  

Kirim email ke