Bg. Manap YB, Tulisan itu saya telah trima melalui whatsapp.. Kalau di Jerman ada aturan seoerti yg tertulis dalam artikel itu, wah baik sekali. Sewaktu kecil. nenak saya selalu mengingatkan , sebutir nasi yn ditinggalkan dipiring akan "menangis ". Disini kecendrungannya kalau pergi makan " biufet" - meja yang panjang dipenuhi belasan jenis masakan/makanan, dan tendensinya, mereka suka membuat suatu "gunung dipiringnya - kalau tak suka , ya tak dimakan, ditinggalkan dimeja dan pergi serve dgn piring baru.
Salam hangat, Lin. 2018-01-26 10:37 GMT+05:30 ajeg [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Setuju, anak-anak, orang muda, perlu terus diajak ngobrol. > Tentang apa pun. Lebih menyenangkan sambil mengudap > penganan yang disukai. Damai di perut, damai di bumi. Itulah > yang dicari. > > Masalahnya, sekarang ini makanan sehari-hari kita kan seolah > hasil kerja para importir dan pedagang besar di pasar bebas. > Sampai-sampai ada yang tak malu menulis, "negara-negara di > mana terdapat warung McDonald's tidak akan saling menyerang!" > Lalu dia dikeploki separuh dunia. Diberi penghargaan Pulitzer > karena dianggap berjasa menyebarkan paham "perdagangan bebas > di pasar bebas membawa kemakmuran dan perdamaian". > Karena itu, yang tidak sependapat, bebas pula mereka perangi. > > --- ranau12@... wrote: > > Bung Lin yb. > > Tulisan bung di bawah ini menginspirasi saya juga. Karena itu dalam > menanggapi tulisan bung ini saya mau menceritakan sedikit pengalaman hidup > saya. > > Ketika saya masih anak-anak, saya mendapat pendidikan dalam keluarga > bahwa kalau makan jangan sampai makanan di piring dihabisi semua.. Kalau > makanan sampai habis semua, maka rezeki tidak akan datang lagi. > > Saya mengikuti nasehat dan pandangan yang demikian itu sampai dewasa. > Setiap habis makan ada saja sisa makanan yang saya tinggalkan di piring > yang akhirnya akan dibuang begitu saja. > > Setelah sekolah ke luar negeri saya mulai melihat cara orang dari > berbagai negeri makan sesuai dengan kebiasaan masing-masing. Yang paling > berkesan, ketika kami melakukan kerja badan di perkebunan jeruk di Kuba. > Saya tinggal satu asrama dengan mahasiswa dari Tiongkok dan kami makan > selalu bersama di satu meja. Saya perhatikan orang-orang Tiongkok setiap > kali makan, piringnya selalu bersih, tidak ada sisa-sisa makanan. > > Lalu saya bertanya kepada mereka mengapa setiap kali makan saya lihat > piring kalian bisa bersih begitu. Salah seorang dari mereka yang bernama > Fidel ( nama aslinya Zhang shao thi) menjelaskan kepada saya bahwa:"Ketua > Mao mengajarkan kepada kami bahwa kami tidak boleh membuang makanan, karena > makanan yang kita makan ini hasil kerja rakyat dan lagi di dunia ini masih > banyak orang yang tidak cukup makanan." > > Itulah asal mula saya tidak mau lagi menyisakan makanan di piring > setelah habis makan sampai sekarang. > Fidel (Zhang Shao Thi) menjadi teman saya. Kami bertemu lagi beberapa > tahun kemudian di Nan Chang, karena dia bekerja di bagian luar (wai phan) > PKT propinsi Chiang Shi. Dia ikut membimbing kami meninjau dan belajar ke > Yen An. > > Sayapun merasa tidak sampai hati melihat makanan yang dibuang kecuali > kalau bukan terpaksa. Apalagi kalau kita sering melihat masih begitu > banyaknya orang terutama anak-anak di Afrika yang kelaparan. > > Saya lihat kalau di tanah air kita banyak juga orang yang memesan > makanan di rumah makan yang berlebihan dan tidak habis dimakan. Tapi > biasanya sisa makanan itu ada yang dibungkus lalu dibawa pulang. Mungkin > di Eropa cara ini tidak biasa dilakukan orang. > > Dengan pengalaman bung bersama teman-teman di Jerman itu, maka kita > tidak boleh jemu menasehati siapa saja terutama anak-anak supaya tidak > membuang makanan kecuali kalau terpaksa misalnya makanan sudah rusak. > Tepat sekali pribahasa "Money is yours, but resources belong to the > siciety". > > Salam > S.Manap. > > Den onsdag, 24 januari 2018 17:02 skrev ehhlin@... : > > Kopas : *BACAAN INSPIRATIF :* Jerman adalah sebuah negara industri > terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup > foya-foya. Ketika saya tiba di Hamburgg , bersama rekan-rekan kami masuk ke > restoran. Kami melihat banyak meja yang kosong. Ada satu meja dimana > sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada 2 piring makanan dan dua kaleng > bir di meja mereka. Saya bertanya dalam hati, “Apa hidangan yang begitu > simple ini bisa disebut romantis?“ > > Kemudian ada beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan > dihidangkan, pelayan membagi makanan & mereka menghabiskan setiap butir > makanan yang ada di piring mereka. > > Karena kami lapar, rekan kami memesan lebih banyak makanan. Saat selesai, > tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat kami habiskan di meja. > > Tapi begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang duduk dari > meja sebelah menegur kami dalam bahasa Inggris, dan menyatakan bahwa mereka > tidak senang karena kami memubazirkan makanan. > > Sahabat saya lalu menjawab teguran itu: *“Lho kami yang membayar kok, ini > bukan urusan kalian jika makanan kami tersisa.“* > > Mendadak wanita tua itu dan temannya meradang. Salah satunya segera > mengeluarkan HP & menelpon seseorang. Tak lama kemudian seorang pria > berseragam yakni Sekuritas Sosial negeri itu tiba. Setelah mendengar sumber > masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 pada kami. Kami > semua terdiam. > > Petugas tersebut lalu berkata dengan suara yang galak: > > *“PESANLAH MAKANAN YG SANGGUP ANDA MAKAN, UANG ITU MILIKMU TAPI SUMBER > DAYA ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YANG > KEKURANGAN... KALIAN TIDAK PUNYA ALASAN UNTUK MENYIA-NYIAKAN SUMBER DAYA > ALAM TERSEBUT”* > > Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tsb membuat kami sungguh > merasa malu. Bayangkan, kita yang berasal dari negara yang tidak > makmur-makmur amat hidup dengan gengsi, dan sering pesan makanan > berlebihan, apalagi saat menjamu tamu. > > Pelajaran ini sangat penting. *“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE > SOCIETY.”* > > Kawan, marilah mengurangi pemubaziran, karena uang memang milikmu, tapi > sumber daya alam itu milik bersama. > > Sebarkan! > > >
