Bg. Manap, koreksi : ....pergi makan "buffet", Lin 2018-01-26 12:26 GMT+05:30 Hsin Hui Lin <[email protected]>:
> Bg. Manap YB, > Tulisan itu saya telah trima melalui whatsapp.. Kalau di Jerman ada > aturan seoerti yg tertulis dalam artikel itu, wah baik sekali. > Sewaktu kecil. nenak saya selalu mengingatkan , sebutir nasi yn > ditinggalkan dipiring akan "menangis ". > Disini kecendrungannya kalau pergi makan " biufet" - meja yang panjang > dipenuhi belasan jenis masakan/makanan, dan tendensinya, mereka suka > membuat suatu "gunung dipiringnya - kalau tak suka , ya tak dimakan, > ditinggalkan dimeja dan pergi serve dgn piring baru. > > Salam hangat, Lin. > > 2018-01-26 10:37 GMT+05:30 ajeg [email protected] [GELORA45] < > [email protected]>: > >> >> >> Setuju, anak-anak, orang muda, perlu terus diajak ngobrol. >> Tentang apa pun. Lebih menyenangkan sambil mengudap >> penganan yang disukai. Damai di perut, damai di bumi. Itulah >> yang dicari. >> >> Masalahnya, sekarang ini makanan sehari-hari kita kan seolah >> hasil kerja para importir dan pedagang besar di pasar bebas. >> Sampai-sampai ada yang tak malu menulis, "negara-negara di >> mana terdapat warung McDonald's tidak akan saling menyerang!" >> Lalu dia dikeploki separuh dunia. Diberi penghargaan Pulitzer >> karena dianggap berjasa menyebarkan paham "perdagangan bebas >> di pasar bebas membawa kemakmuran dan perdamaian". >> Karena itu, yang tidak sependapat, bebas pula mereka perangi. >> >> --- ranau12@... wrote: >> >> Bung Lin yb. >> >> Tulisan bung di bawah ini menginspirasi saya juga. Karena itu dalam >> menanggapi tulisan bung ini saya mau menceritakan sedikit pengalaman hidup >> saya. >> >> Ketika saya masih anak-anak, saya mendapat pendidikan dalam keluarga >> bahwa kalau makan jangan sampai makanan di piring dihabisi semua.. Kalau >> makanan sampai habis semua, maka rezeki tidak akan datang lagi. >> >> Saya mengikuti nasehat dan pandangan yang demikian itu sampai dewasa.. >> Setiap habis makan ada saja sisa makanan yang saya tinggalkan di piring >> yang akhirnya akan dibuang begitu saja. >> >> Setelah sekolah ke luar negeri saya mulai melihat cara orang dari >> berbagai negeri makan sesuai dengan kebiasaan masing-masing. Yang paling >> berkesan, ketika kami melakukan kerja badan di perkebunan jeruk di Kuba. >> Saya tinggal satu asrama dengan mahasiswa dari Tiongkok dan kami makan >> selalu bersama di satu meja. Saya perhatikan orang-orang Tiongkok setiap >> kali makan, piringnya selalu bersih, tidak ada sisa-sisa makanan. >> >> Lalu saya bertanya kepada mereka mengapa setiap kali makan saya lihat >> piring kalian bisa bersih begitu. Salah seorang dari mereka yang bernama >> Fidel ( nama aslinya Zhang shao thi) menjelaskan kepada saya bahwa:"Ketua >> Mao mengajarkan kepada kami bahwa kami tidak boleh membuang makanan, karena >> makanan yang kita makan ini hasil kerja rakyat dan lagi di dunia ini masih >> banyak orang yang tidak cukup makanan." >> >> Itulah asal mula saya tidak mau lagi menyisakan makanan di piring >> setelah habis makan sampai sekarang. >> Fidel (Zhang Shao Thi) menjadi teman saya. Kami bertemu lagi beberapa >> tahun kemudian di Nan Chang, karena dia bekerja di bagian luar (wai phan) >> PKT propinsi Chiang Shi. Dia ikut membimbing kami meninjau dan belajar ke >> Yen An. >> >> Sayapun merasa tidak sampai hati melihat makanan yang dibuang kecuali >> kalau bukan terpaksa. Apalagi kalau kita sering melihat masih begitu >> banyaknya orang terutama anak-anak di Afrika yang kelaparan. >> >> Saya lihat kalau di tanah air kita banyak juga orang yang memesan >> makanan di rumah makan yang berlebihan dan tidak habis dimakan. Tapi >> biasanya sisa makanan itu ada yang dibungkus lalu dibawa pulang. Mungkin >> di Eropa cara ini tidak biasa dilakukan orang. >> >> Dengan pengalaman bung bersama teman-teman di Jerman itu, maka kita >> tidak boleh jemu menasehati siapa saja terutama anak-anak supaya tidak >> membuang makanan kecuali kalau terpaksa misalnya makanan sudah rusak. >> Tepat sekali pribahasa "Money is yours, but resources belong to the >> siciety". >> >> Salam >> S.Manap. >> >> Den onsdag, 24 januari 2018 17:02 skrev ehhlin@... : >> >> Kopas : *BACAAN INSPIRATIF :* Jerman adalah sebuah negara industri >> terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup >> foya-foya. Ketika saya tiba di Hamburgg , bersama rekan-rekan kami masuk ke >> restoran. Kami melihat banyak meja yang kosong. Ada satu meja dimana >> sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada 2 piring makanan dan dua kaleng >> bir di meja mereka. Saya bertanya dalam hati, “Apa hidangan yang begitu >> simple ini bisa disebut romantis?“ >> >> Kemudian ada beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan >> dihidangkan, pelayan membagi makanan & mereka menghabiskan setiap butir >> makanan yang ada di piring mereka. >> >> Karena kami lapar, rekan kami memesan lebih banyak makanan. Saat selesai, >> tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat kami habiskan di meja. >> >> Tapi begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang duduk dari >> meja sebelah menegur kami dalam bahasa Inggris, dan menyatakan bahwa mereka >> tidak senang karena kami memubazirkan makanan. >> >> Sahabat saya lalu menjawab teguran itu: *“Lho kami yang membayar kok, >> ini bukan urusan kalian jika makanan kami tersisa.“* >> >> Mendadak wanita tua itu dan temannya meradang. Salah satunya segera >> mengeluarkan HP & menelpon seseorang. Tak lama kemudian seorang pria >> berseragam yakni Sekuritas Sosial negeri itu tiba. Setelah mendengar sumber >> masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 pada kami. Kami >> semua terdiam. >> >> Petugas tersebut lalu berkata dengan suara yang galak: >> >> *“PESANLAH MAKANAN YG SANGGUP ANDA MAKAN, UANG ITU MILIKMU TAPI SUMBER >> DAYA ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YANG >> KEKURANGAN... KALIAN TIDAK PUNYA ALASAN UNTUK MENYIA-NYIAKAN SUMBER DAYA >> ALAM TERSEBUT”* >> >> Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tsb membuat kami sungguh >> merasa malu. Bayangkan, kita yang berasal dari negara yang tidak >> makmur-makmur amat hidup dengan gengsi, dan sering pesan makanan >> berlebihan, apalagi saat menjamu tamu. >> >> Pelajaran ini sangat penting. *“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO >> THE SOCIETY.”* >> >> Kawan, marilah mengurangi pemubaziran, karena uang memang milikmu, tapi >> sumber daya alam itu milik bersama. >> >> Sebarkan! >> >> >> > >
