Sudah 5 tahun gelibat-gelibet LBP-RRC ini dimunculkan dalam berbagai varian 
pemberitaan, padahal isinya masih berkutat di jualan proyek yang itu-itu juga: 
KEK Sumut; KEK Kaltara; KEK Sulut; dan KEK Bali-Lombok. Sementara, Jokowi cuma 
kebagian proyek hiburan KA cepat JKT-BDG yang 4 tahun mangkrak (lantas kemana 
itu guyuran investasi via Keqiang?).
Belum sadar-sadar juga si Jokowi.

--- SADAR@... wrote:
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman melalui Deputi 
Bidang Koordinasi Infrastruktur memfasilitasi pertemuan antardelegasi Republik 
Rakyat China dengan para pelaku usaha Indonesia, di Jakarta, Jumat (14/6) dalam 
Indonesia Business Visit and China International Contractors Association 
(Chinca).
 
 Kegiatan itu dihadiri 31 pelaku usaha dari perwakilan Chinca dan pimpinan dari 
berbagai perusahaan di bidang energi, transportasi dan pengembangan 
infrastruktur, manufaktur permesinan, serta lembaga pembiayaan atau keuangan 
yang sebagian besar datang dari kota Beijing dan sekitarnya serta merupakan 
grup perusahaan atau BUMN besar China.
 
 Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Ridwan Djamaluddin dalam siaran pers di 
Jakarta, Sabtu, menyampaikan Indonesia masih terfokus pada pulau Jawa. 
Pemerintah berharap pembangunan infrastruktur bisa lebih merata ke wilayah lain.
 
 "80 persen kontribusi GDP (Gross Domestic Product/Produk Domestik Bruto) kita 
masih berasal dari Jawa, di Indonesia kita menyadari kemajuan pembangunan masih 
diperlukan pemerataan, sehingga upaya kita sekarang adalah melakukan 
pembangunan di kawasan-kawasan luar jawa sehingga pemerataan menjadi lebih 
baik," ujarnya.
 
 Sejak tahun 2017, pemerintah Indonesia berdasarkan masukan dari perusahaan 
swasta maupun BUMN, menyusun proposal yang kemudian terkumpul menjadi 30 proyek 
di empat koridor pembangunan dengan nilai mencapai 91,1 miliar dolar AS.
 
 Koridor tersebut antara lain, pada koridor Sumatra Utara fokus dalam hak 
ekonomi bagian barat untuk memfasilitasi kerja sama ASEAN dan sekitarnya; 
koridor Kalimantan Utara fokus pada pengembangan energi dan mineral; Sulawesi 
Utara disiapkan untuk pertumbungan kawasan pasifik dalam ranah parisiwata dan 
industri; sementara Bali disiapkan untuk pusat inovasi kawasan ASEAN.
 
 Deputi Ridwan juga menegaskan bahwa kerja sama tersebut bersifat saling 
menguntungkan dan semua negara yang akan melakukan investasi ke Indonesia wajib 
memenuhi lima kriteria dan tiga sistem kerja sama "Basic Principles of GMF-BRI 
Cooperation.
 
 "Saya ingin menekankan, kita tidak hanya bekerjasama komersial dalam jangka 
pendek, tapi kita juga buka ruang dalam jangka panjang, di luar empat koridor 
ini ada juga proyek non koridor yang sudah diinisiasi oleh pelaku industri yang 
hanya memerlukan dukungan kebijakan pemerintah," tambahnya.
 
 Perwakilan Ketua Chinca Xin Xiuming menilai Indonesia mengalami perkembangan 
ekonomi yang luar biasa, dan pihaknya sangat antusias untuk berpartisipasi 
dalam pembangunan infrastruktur di Tanah Air.
 
 "Kami mendorong semangat anggota kami dalam bergabung dalam pembangunan, dan 
sebagai organisasi kontraktor infrasturuktur China, kami juga mau menjalin 
komunikasi yang baik dengan Indonesia, kami percaya dengan usaha kita dan 
dukungan dari berbagai pihak, kerja sama dua negara dalam infrastruktur akan 
berjalan dengan baik," tambahnya.
 
 Sementara itu, Duta Besar RI untuk China dan Mongolia menambahkan hubungan 
bilateral akan lebih bagus lagi jika dirasakan oleh masyarakat dari kedua belah 
pihak negara, pelaku bisnis yang akan merealisasikan program dari hubungan 
bilateral ini.
 
 Kegiatan itu diharapkan dapat memberi informasi kerja sama dalam kerangka 
"Regional Comprehensive Economic Corridor" (RCEC) Global Maritime Fulcrum - 
Belt and Road Initiative (GMF-BRI) antara Indonesia dan China serta mendapatkan 
peluang peluang investasi proyek di bidang infrastruktur, energi, pekerjaan 
umum dengan melakukan interaksi langsung antara pelaku bisnis Indonesia dan 
China.
 
 Baca juga: NTT berencana pinjam Rp3 triliun dari China biayai infrastruktur 
jalan
 
 Baca juga: Temui Jokowi, AIIB China tawarkan pinjaman satu miliar dolar 
Ini positif-negatif perang dagang AS-China bagi Indonesia
 
   
 
| 
 | 
 |

 
   

Kirim email ke