Yth. Kawans IA,
Menyikapi penolakan direksi atas pengajuan eskalasi oleh Sekar DPP dan
nuansa yg berkembang di IA Sumatra, ada bbrp hal yg sama-sama kita pikirkan :
1. Usulan eskalasi itu muncul dr treatment alumni STT Telkom termasuk aksi
cubes dlsb, artinya kita diam berarti akan memicu perpecahan alumni secara
nasional krn gotong royongnya tak terjadi (perlu diingat kasus gagalnya
tukar guling Divre IV triger utamanya adalah kesatuan pandang seluruh DPW
Sekar secara nasional). Dan tidak menutup kemungkinan apabila ada masalah
di Sumatra (suatu saat), maka dukungan dr alumni di Jawa akan kurang
(artinya antar alumni ngurus masings).
2. Melakukan reaksi atas penolakan direksi tsb akan membawa bbrp konsekeunsi;
3. Tanggapan IA Sumatra kalau boleh dibilang sangat beragam dan memiliki
bbrp penafsiran;
4. Reaksi terkeras muncul dr temans alumni yg ada di divre II/V krn faktor
(manusiawi) penempatan OS baru di lokasi tsb (dimana nota bene adalah
yunior-yunior mrk), sementara di Divre I belum ada penempatan OS baru shg
eskalasi emosionalnya pun berbeda.

Dr bbrp kondisi tsb plus usulan temans IA terdapat bbrp varian untuk
menyikapinya :
1. Melakukan hal yg akan terjadi di alumni di Divre II/V, dimana resiko yg
muncul pasti akan kontra dg manajemen di msgs lokasi. Tapi utungnya
solidaritas akan maksimal dan bisa jadi akan gol tapi juga bisa makin
runyam (high risk);
2. Apabila Divre II/V melakukan aksi cubes masal, mungkin kita ikut
bertoleransi secara perwakilan dan hrs mengkomunikasikan ke manajemen msgs
lokasi shg keharmonisan tetap terjaga sementara fungsi solidaritas dg
sesama alumni serta triger ke direksi juga jalan (kalau di SBS Diditr siap
mewakili untuk cubes ke Lampung);
3. Melakukan triger bedol desa ke kompetitor/company lainnya sebagaimana
Pak Erwin usulkan. Ini sangat profesional, tapi pertanyaannya apakah
semuanya memiliki daya jual yang sama? Bagaimana yang tertingggal? Lalu
bgmn nasib yg akan bedol desa ternyata di tolak? Tapi ada jalan tengah,
yakni kita melakukan sortir (utamakan yg berdaya jual tinggi seperti temans
di IT) lalu kita melakukan pendekatan kolektif ke bbrp company dan bluusss
masuk, shg komunitas yg tetap tinggal di Telkom tdk merasa ditinggalkan dan
tdk teraniaya oleh manajemen.
4. Kita tidak mau tahu, artinya apapun yang dilakukan temans di divre II/V.
Cuman sikap ini kurang bagus atau hanya pasrah (tidak layak untuk sekelas
alumni STT yg dulu seleksinya amput-amputan).
5. Melakukan deklarasi mendukung upaya temans Divre II/V (diekpos) tapi
cubes masal tidak dilakukan atau deklarasi ada dan cubes secara perwakilan.

Dmk sekilas masukan, dan menurut saya yang bisa dilakukan adalah butir 2,
butir 3 dg cara bedol desa yang selektif dan 5. Gimana Pak Ramzy dan Pak
Nanta selaku pengurus DPW Sekar dari unsur alumni, any comment?????????


AAS/Sumbagsel

Kirim email ke