Saya mendukung item 3 dan 5
Ekspos deklarasi mendukung rekan alumni tanpa harus mengorbankan 
kepentingan pihak lain (cukup kita yang dizolimi...) artinya tidak perlu 
cubes, kalaupun terpaksa harus ada ...harus yang benar-benar tidak 
merugikan pihak lain...
Mungkin dapat segera dibuatkan item deklarasinya....pak Andang.

Untuk point 5, saat ini di saya ada beberapa CV dari kawan's alumni yang 
sedang kita coba masukan ke OLO's untuk pengembangan kompetensi mrk....
Ini tidak hanya bermanfaat untuk alumni yang kerja di Telkom saja, tetapi 
bisa untuk seluruh alumni....
saya bersedia sebagai kompulator..

Kedua alternatif tersebut dapat dijalankan paralel, artinya tidak usah 
menunggu item 3 kemudian item 5...
Jalan via Sekar, menurut saya sebaiknya dimulai dari proses pembuatan KKB 
(kontrak kerja bersama) sebagai dasar hukum yang kuat yang dipunyai oleh 
karyawan....(pak Andang mungkin masih punya info ttg KKB ini ??)



At 11:48 AM 5/16/02 +0700, andang ashari wrote:
>Yth. Kawans IA,
>Menyikapi penolakan direksi atas pengajuan eskalasi oleh Sekar DPP dan
>nuansa yg berkembang di IA Sumatra, ada bbrp hal yg sama-sama kita pikirkan :
>1. Usulan eskalasi itu muncul dr treatment alumni STT Telkom termasuk aksi
>cubes dlsb, artinya kita diam berarti akan memicu perpecahan alumni secara
>nasional krn gotong royongnya tak terjadi (perlu diingat kasus gagalnya
>tukar guling Divre IV triger utamanya adalah kesatuan pandang seluruh DPW
>Sekar secara nasional). Dan tidak menutup kemungkinan apabila ada masalah
>di Sumatra (suatu saat), maka dukungan dr alumni di Jawa akan kurang
>(artinya antar alumni ngurus masings).
>2. Melakukan reaksi atas penolakan direksi tsb akan membawa bbrp konsekeunsi;
>3. Tanggapan IA Sumatra kalau boleh dibilang sangat beragam dan memiliki
>bbrp penafsiran;
>4. Reaksi terkeras muncul dr temans alumni yg ada di divre II/V krn faktor
>(manusiawi) penempatan OS baru di lokasi tsb (dimana nota bene adalah
>yunior-yunior mrk), sementara di Divre I belum ada penempatan OS baru shg
>eskalasi emosionalnya pun berbeda.
>
>Dr bbrp kondisi tsb plus usulan temans IA terdapat bbrp varian untuk
>menyikapinya :
>1. Melakukan hal yg akan terjadi di alumni di Divre II/V, dimana resiko yg
>muncul pasti akan kontra dg manajemen di msgs lokasi. Tapi utungnya
>solidaritas akan maksimal dan bisa jadi akan gol tapi juga bisa makin
>runyam (high risk);
>2. Apabila Divre II/V melakukan aksi cubes masal, mungkin kita ikut
>bertoleransi secara perwakilan dan hrs mengkomunikasikan ke manajemen msgs
>lokasi shg keharmonisan tetap terjaga sementara fungsi solidaritas dg
>sesama alumni serta triger ke direksi juga jalan (kalau di SBS Diditr siap
>mewakili untuk cubes ke Lampung);
>3. Melakukan triger bedol desa ke kompetitor/company lainnya sebagaimana
>Pak Erwin usulkan. Ini sangat profesional, tapi pertanyaannya apakah
>semuanya memiliki daya jual yang sama? Bagaimana yang tertingggal? Lalu
>bgmn nasib yg akan bedol desa ternyata di tolak? Tapi ada jalan tengah,
>yakni kita melakukan sortir (utamakan yg berdaya jual tinggi seperti temans
>di IT) lalu kita melakukan pendekatan kolektif ke bbrp company dan bluusss
>masuk, shg komunitas yg tetap tinggal di Telkom tdk merasa ditinggalkan dan
>tdk teraniaya oleh manajemen.
>4. Kita tidak mau tahu, artinya apapun yang dilakukan temans di divre II/V.
>Cuman sikap ini kurang bagus atau hanya pasrah (tidak layak untuk sekelas
>alumni STT yg dulu seleksinya amput-amputan).
>5. Melakukan deklarasi mendukung upaya temans Divre II/V (diekpos) tapi
>cubes masal tidak dilakukan atau deklarasi ada dan cubes secara perwakilan.
>
>Dmk sekilas masukan, dan menurut saya yang bisa dilakukan adalah butir 2,
>butir 3 dg cara bedol desa yang selektif dan 5. Gimana Pak Ramzy dan Pak
>Nanta selaku pengurus DPW Sekar dari unsur alumni, any comment?????????
>
>
>AAS/Sumbagsel

Kirim email ke