Seperti permasalahan IA ini sudah terdenganr oleh karyawan yang non IA.
Selentingannnya beragam, tetapi kalau senior kita itu prof, selentingannya cukup enak. Tapi ya, setahu saya hanya beberapa saja.Tetapi sebagai anggota IA yang baik, sekali lagi, saya dukung Pak Nanta....

Alangkah indahnya kalau seandainya Telkom ini dipimpin oleh orang-orang yang prof., dan betul-betul memikirkan kepentingannya perusahaan.
Saya pribadi akan rela dipimpin oleh pemimpin-peminpin seperti itu.

Semoga orang-orang seperti Pak Nanta, dan Pak Erwin dan senior-senior yang prof , dapat mendobrak budaya lama Telkom. Semoga, tapi kapan ya .....



At 02:27 PM 5/16/02 +0700, you wrote:
>>>>
Dicky, maksudmu ki opo ... NNNN
Mau nikah ya nikah sajalah ...
mumpung harga jualmu masih sangat tinggi ...






At 02:08 PM 5/16/2002 -0700, you wrote:
Saran yang bagus Pak Andang,
Kalau saya pribadi untuk rekan-rekan yang mempunyai harga jual tinggi
kenapa tidak kerja di luar (seperti Pak Erwin CS). Setelah diluar bisa
ngajak-ngajak kami, bila perlu familipun boleh ikut (tapi kalau enggak bisa
kerja bolehlah dipecat, biar enggak parah-parah kali KKN-nya)
Karena saya pribadi pesimis, sarjana di Telkom sudah banyak, dan itu tentu
saja membawa konsekwensi yang cukup jelas perebutan yang cukup keras untuk
level atau jabatan. Dan parahnya dengan budaya kita (KKN), tentu saja akan
akan terjadi persaingan yang tidak sehat . Persaingan yang tidak sehat akan
menimbulkan perasaan iri yang lebih hebat, dibandingkan kalau dilakukan
dengan sehat.
Untuk Pak Ermono, secara pribadi saya akui telah berkontribusi besar thd
pendapatan dengan billing onlinenya, (rekan yan lain tentunya juga ada),
diharapkan tetap bersabar, kalau enggak gawat, pendapatan tidak tercapai e
malah impian untuk naik tentunya tidak tercapai gara-gara anggaran tidak ada.

At 11:48 AM 5/16/02 +0700, you wrote:
>Yth. Kawans IA,
>Menyikapi penolakan direksi atas pengajuan eskalasi oleh Sekar DPP dan
>nuansa yg berkembang di IA Sumatra, ada bbrp hal yg sama-sama kita pikirkan :
>1. Usulan eskalasi itu muncul dr treatment alumni STT Telkom termasuk aksi
>cubes dlsb, artinya kita diam berarti akan memicu perpecahan alumni secara
>nasional krn gotong royongnya tak terjadi (perlu diingat kasus gagalnya
>tukar guling Divre IV triger utamanya adalah kesatuan pandang seluruh DPW
>Sekar secara nasional). Dan tidak menutup kemungkinan apabila ada masalah
>di Sumatra (suatu saat), maka dukungan dr alumni di Jawa akan kurang
>(artinya antar alumni ngurus masings).
>2. Melakukan reaksi atas penolakan direksi tsb akan membawa bbrp konsekeunsi;
>3. Tanggapan IA Sumatra kalau boleh dibilang sangat beragam dan memiliki
>bbrp penafsiran;
>4. Reaksi terkeras muncul dr temans alumni yg ada di divre II/V krn faktor
>(manusiawi) penempatan OS baru di lokasi tsb (dimana nota bene adalah
>yunior-yunior mrk), sementara di Divre I belum ada penempatan OS baru shg
>eskalasi emosionalnya pun berbeda.
>
>Dr bbrp kondisi tsb plus usulan temans IA terdapat bbrp varian untuk
>menyikapinya :
>1. Melakukan hal yg akan terjadi di alumni di Divre II/V, dimana resiko yg
>muncul pasti akan kontra dg manajemen di msgs lokasi. Tapi utungnya
>solidaritas akan maksimal dan bisa jadi akan gol tapi juga bisa makin
>runyam (high risk);
>2. Apabila Divre II/V melakukan aksi cubes masal, mungkin kita ikut
>bertoleransi secara perwakilan dan hrs mengkomunikasikan ke manajemen msgs
>lokasi shg keharmonisan tetap terjaga sementara fungsi solidaritas dg
>sesama alumni serta triger ke direksi juga jalan (kalau di SBS Diditr siap
>mewakili untuk cubes ke Lampung);
>3. Melakukan triger bedol desa ke kompetitor/company lainnya sebagaimana
>Pak Erwin usulkan. Ini sangat profesional, tapi pertanyaannya apakah
>semuanya memiliki daya jual yang sama? Bagaimana yang tertingggal? Lalu
>bgmn nasib yg akan bedol desa ternyata di tolak? Tapi ada jalan tengah,
>yakni kita melakukan sortir (utamakan yg berdaya jual tinggi seperti temans
>di IT) lalu kita melakukan pendekatan kolektif ke bbrp company dan bluusss
>masuk, shg komunitas yg tetap tinggal di Telkom tdk merasa ditinggalkan dan
>tdk teraniaya oleh manajemen.
>4. Kita tidak mau tahu, artinya apapun yang dilakukan temans di divre II/V.
>Cuman sikap ini kurang bagus atau hanya pasrah (tidak layak untuk sekelas
>alumni STT yg dulu seleksinya amput-amputan).
>5. Melakukan deklarasi mendukung upaya temans Divre II/V (diekpos) tapi
>cubes masal tidak dilakukan atau deklarasi ada dan cubes secara perwakilan.
>
>Dmk sekilas masukan, dan menurut saya yang bisa dilakukan adalah butir 2,
>butir 3 dg cara bedol desa yang selektif dan 5. Gimana Pak Ramzy dan Pak
>Nanta selaku pengurus DPW Sekar dari unsur alumni, any comment?????????
>
>
>AAS/Sumbagsel
>
>
<<<<




Kirim email ke