Kalau ngak salah Kasus mud flow /eruption di Kuala Simpang (Jambi  ??)
pernah terjadi ditiga desa , gimana penyelesaian akhirnya, mungkin ada yang
tahu. ???.  dan
Ada pula  mud erupsi disekitar well pad Kotabatak baru2 ini setelah
gempa Nias 8,9 skala Richer, pada hal pemboran 1000 ft lagi ke target.
Mohon pencerahan.(Pak Awang??)

Perlu diketahui Utang Indonesia,
Setiap 1 orang penduduk menanggung hutang luar negeri 6 jt Rp (Bila jumlah
penduduk 210 jt)

Salam
HF


----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: "IAGI NET" <[email protected]>
Sent: Thursday, June 29, 2006 4:23 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Gempa, Pemicu Banjir Lumpur Porong?


Kalo mau dihubung-hubungkan dengan gempa..saya kok tetep kurang percaya,
tapi kalo penjelasannya kembali ke "underground blow out" yang men-trigger
terjadinya bencana..saya lebih percaya ke kesimpulan tersebut...


Regards,
YP

|         |           Ariadi Subandrio   <ariadisubandrio@ yahoo.com>   >
|         |                            |
                                     |
 |       To:       IAGI NET <[email protected]>
|
 |       cc:
|
 |       Subject:  [iagi-net-l] Gempa, Pemicu Banjir Lumpur Porong?
|




 
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
 Kiriman informasi dari tetangga “Banjir Lumpur Porong “.




   ...buat temen2 geolog, ditunggu komentarnya...



         Assalamu'alaykum Wr.Wb.

   Masa Allah...Astaghfirullah al adziiim...Benarkan demikian?  Namun
Ustadz Nana Djumhana kebetulan memang juga seorang geolog, tentunya sangat
layak tausiyahnya  kita percayai.  Yang mengherankan jika "bencana Porong"
ini memang "natural disaster", kenapa ya Lapindo yg notabene Bakrie Group
committed untuk mengganti?   Apa karena akan ada penggantian asuransi jika
"human error"? Apa hanya sejumlah itu (US$. 27 Juta) cukup untuk
mengkompensasi semua kerugian yang ada?  Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaykum Wr.Wb.
[EMAIL PROTECTED] (Kakek 3 Cucu).



   ----- Original Message -----
   From: Nila Anggria

   To: undisclosed-recipients:

   Sent: Friday, June 23, 2006 12:48 PM

   Subject: FW: [bdi-kps] Mimbar Jum'at 258 : Bencana Porong




   Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
 Bencana ternyata bukan dari sumur Lapindo… mungkin juga pulau jawa bakal
tenggelam..
 Bacalah ulasan pak Ustadz yg seorang geolog ini…
 Wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
 -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of
Nana Djumhana
Sent: Friday, June 23, 2006 6:43 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bdi-kps] Mimbar Jum'at 258 : Bencana Porong
           Assalamu'alaikum wr.wb.

   Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

   "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya
gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
Dan Kami telah menjadikan untukmu segala keperluan hidup di bumi, dan
(menciptakan) makhluk-makhluk yang sekali-kali kamu bukan pemberi rizki
kepadanya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami lah
khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran
tertentu"
(QS Al Hijr 19-21).

   "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di
dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena
pembicaraanmu tentang berita dusta itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima
berita dusta itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa
yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga dan kamu menganggapnya sesuatu
yang
ringan saja, padahal di sisi Allah (hal itu) adalah besar. Dan mengapa
kamu
tidak berkata di waktu mendengar berita dusta itu : 'Sekali-kali tidaklah
pantas bagi kita memperbincangkan hal ini. Maha suci Allah, ini merupakan
dusta yang besar'. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) berbuat yang
seperti itu kembali untuk selama-lamanya jika kamu orang-orang beriman,
dan
Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu. Dan Allah maha mengetahui lagi
maha bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan
keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang
pedih di dunia dan di akhirat. Dan
Allah maha mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (QS An Nuur 14-19).

   Maha benar segala firman Allah. Maha suci Allah yang telah menurunkan
al-Furqaan kepada hambaNya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada
seluruh alam, yang kepunyaanNya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia
tidak
mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan, dan Dia telah
menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan kadar ukurannya dengan
sangat
akurat (QS Al Furqaan 1-2). Yang telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang
maha
pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulangkali adakah
yang kamu lihat itu sesuatu yang tidak seimbang ? (QS Al Mulk 3). Segala
puji dan ungkapan syukur hanya bagi Allah atas segala karunia dan
rahmatNya
yang berlimpah kepada kita semua, dan atas perkenaanNya kita dipertemukan
kembali melalui mimbar yang hadir di pagi hari Jum'at terakhir di bulan
Jumadil Awal (26 Jumadil Awal 1427 H), yang bertepatan dengan tanggal 23
Juni 2006, dengan kajian tentang
musibah banjir lumpur di Porong, Sidoarjo, yang selama ini dianggap
sebagai human error dari pemboran eksplorasi minyak dan gas, benarkah
demikian ? Maka ikutilah bahasannya. Namun sebelum itu, selaku umat Nabi
Muhammad salallahu alaihi wassalam, seyogyanya kita bermohon semoga
shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, seluruh keluarga dan
para sahabatnya, serta semua pengikutnya yang senantiasa istiqamah
mendakwahkan Islam dimana dan kapan saja.

   Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

   Ketika kita sedang terkonsentrasi kepada pemberitaan masalah gempa yang
melanda wilayah Jogjakarta dan sekitarnya serta penanganan korban pasca
gempa tersebut, dan juga berita tentang Gunung Merapi yang dianggap sudah
menurun aktivitasnya sehingga statusnya diturunkan dari "awas" menjadi
"siaga", namun baru beberapa jam kemudian justru gunung tersebut
memuntahkan lava pijar yang diikuti awan panas "wedhus gembel" yang lebih
besar, yang memakan korban dua orang relawan yang berusaha berlindung di
dalam bunker. Nun di timur, di Jawa Timur, tepatnya di daerah Porong,
Sidoarjo terjadi pula musibah yang cukup merepotkan dan mengganggu
penduduk
setempat dan kegiatan industri yang berada di sekitarnya, yaitu banjir
lumpur panas, yang terjadi dua hari setelah gempa bumi yang mengguncang
Jogja dan sekitarnya. Sehingga penduduk setempat diungsikan ke tempat yang
aman dan kegiatan industri berhenti total karena lumpur panas terus
mengalir dari dalam bumi, dan menutupi daerah
setebal lebih dari satu meter serta mengganggu kelancaran arus lalu-lintas
jalan toll Gempol - Surabaya, bahkan saat ini ditutup sebagian dan akan
dialihkan melalui jembatan bailley yang hampir selesai dibangun. Semburan
lumpur panas tersebut keluar melalui tiga titik dengan volume sekitar
40.000 - 50.000 meter kubik per hari, yang masih terus mengalir hingga
hari
ini, dan tidak tahu sampai kapan akan berhenti. Sehingga timbunan lumpur
di
sekitar sumber semburannya saat ini telah mencapai dua-setengah meter
tingginya, dan mungkin akan terus bertambah dan membentuk gunung kecil.
Kebetulan di dekat lokasi semburan lumpur tersebut, perusahaan minyak
nasional Lapindo Brantas sedang melakukan pemboran eksplorasi, sehingga
semburan lumpur itu dianggap "drilling hazard", oleh karenanya Lapindo
Brantas yang harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas bencana ini. Sejak
awal seluruh media massa menyampaikan hal ini dan membentuk opini
masyarakat awam, termasuk pemerintah, dimana
semburan lumpur panas tersebut berasal dari kebocoran gas yang terjadi
karena adanya pemboran tersebut. Atau dengan kata lain bencana semburan
lumpur panas tersebut sebagai akibat "human error". Benarkah demikian ?



   Bencana semburan lumpur panas ini terjadi dua hari setelah gempa bumi
yang mengguncang wilayah Jogja dan sekitarnya. Sejak ditayangkan pertama
kali di televisi dan diberitakan di media massa, sebagai seorang geolog
yang kebetulan mempunyai data bawah tanah daerah bencana Porong, terus
terang saya menyangkal apa yang diberitakan oleh media massa, dan meyakini
bahwa kejadian itu merupakan bencana alam murni. Hal ini disampaikan tanpa
ada maksud membela Lapindo yang harus bertanggung-jawab atas bencana ini,
tetapi karena sebagai praktisi pemboran yang mengetahui prosedur dan
akibat
yang terjadi jika drilling hazard. Dan hal ini semakin jelas dan lebih
meyakinkan lagi ketika saya rapat dengan eksplorasi BP Migas yang dihadiri
juga oleh staf dari bagian pemboran, pada hari Kamis siang 15 Juni pekan
lalu (materi rapatnya tentang pemboran di Irian Jaya Barat, dan usai rapat
dibicarakan tentang banjir lumpur tersebut), bahwa tidak ada kesalahan
prosedur akibat human error dalam
pemboran yang dilakukan oleh Lapindo, dan semburan lumpur tersebut
merupakan bencana alam sebagai "mud vulcano" yang muncul di tiga titik
agak
jauh dari lokasi pemboran, kemungkinan sebagai dampak dari adanya gempa
Jogja terhadap daerah bencana Porong. Lumpur panas yang menyembur keluar
itu jelas dan dapat dipastikan bukan lumpur yang digunakan dalam pemboran
eksplorasi, tetapi merupakan lumpur laut yang diperkirakan berumur sekitar
5 sampai 15 juta tahun, yang terjebak dan tidak sempat membatu di antara
batuan sedimen yang lebih tua dan lebih muda dalam lapisan kulit bumi.
Sehingga ketika ada kesempatan  keluar ke permukaan bumi melalui rekahan
atau patahan, maka muncullah semburan lumpur panas yang berbau tidak enak
dan berasa asin, yang dalam istilah geologi disebut dengan "mud vulcano".
Hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kegiatan gunung api seperti
yang sedang terjadi di Gunung Merapi, meskipun ada kata vulcano. Pernahkah
anda mendengar "Bledug Kuwu" ?
Itulah contoh mud vulcano.



   Mud vulcano "Bledug Kuwu' letaknya empat kilometer selatan kota kecil
Wirosari (di tepi barat jalan Wirosari - Sragen), yaitu antara Purwodadi -
Blora, Jawa Tengah, atau kira-kira 200 kilometer sebelah barat agak
barat-laut dari lokasi bencana semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, Jawa
Timur. Sudah ratusan tahun mengalirkan lumpur panas, meskipun saat ini
alirannya intermitten (terputus-putus), dan sudah lama airnya dibuat garam
oleh penduduk setempat. Kalau kita perhatikan lumpur yang keluar dari
"Bledug Kuwu" dan dibandingkan dengan lumpur yang keluar dari semburan di
daerah bencana Porong, maka secara fisik akan mirip. Data bawah tanah yang
ada di wilayah bencana (lihat sketsa yang terlampir, atau kalau ada yang
penasaran dan ingin tahu, bisa datang ke tempat saya), struktur Porong
secara geologi merupakan sebuah antiklin barat timur agak ke timur-laut
melanjut ke Selat Madura, terbentuk karena adanya "shale diapir" yang
berasosiasi dengan pensesaran. Padahal target
pemboran yang dilakukan Lapindo itu adalah batuan karbonat formasi Kujung
yang ada di bawah "shale diapir" tersebut, dan lokasi pemboran berada
menjauhi atau di tepinya "shale diapir", karena sangat berbahaya dan tidak
mungkin lokasi pemborannya di tengah atau puncak dari "shale diapir" untuk
dapat mencapai target tersebut. Kalau kita lihat Peta Struktur Elemen
Utama
separuh bagian timur Pulau Jawa (juga bisa dilihat di tempat saya), maka
sistim sesar atau patahan yang ada, secara langsung atau tidak langsung
tampak saling berkaitan, sebagai akibat adanya sistim tumbukan lempeng
Samudra Hindia dan lempeng Kontinen Asia Tenggara. Sehingga ketika terjadi
gempa bumi di daerah Jogja, dimana yang banyak menimbulkan kehancuran
bangunan dan menelan korban jiwa adalah yang berada di jalur-jalur sistim
patahan, maka sangat mungkin akan berpengaruh ke tempat lainnya juga, yang
dalam hal ini adalah ke daerah Porong. Barangkali dampak gempa tersebut
telah mengaktifkan sesar antiklin
Porong  atau membuat rekahan pada batuan penutup yang menahan "shale
diapir" tadi, sehingga lumpur panas yang bertekanan cukup tinggi dan
membentuk "shale diapir" tersebut keluar melalui rekahan atau patahan, dan
terjadilah "mud vulcano" pada tiga titik, sebagai suatu bencana alam
murni,
dan boleh kita namai sebagai "Bledug Porong". Kalau dianggap sebagai
"drilling hazard", seharusnya lumpur itu keluar dari satu titik pemboran,
dan kenyataannya lumpur itu keluar dari tiga titik yang agak jauh dari
titik pemboran. Tetapi mengapa sampai saat ini bencana tersebut dianggap
"human error" dari aktivitas pemboran yang dilakukan oleh Lapindo Brantas,
dan bukan sebagai bencana alam ?





   Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,



   Meskipun bencana banjir lumpur yang terjadi di Porong, Sidoarjo ini
tidak menimbulkan korban jiwa manusia secara langsung, namun akan
berdampak
luas dan merugikan bagi kehidupan di wilayah bencana. Dari segi
lingkungan,
adanya banjir lumpur panas dan asin serta mengandung sedikit gas hidrogen
sulfida yang beracun ini jelas merupakan pencemaran dan akan merusak
lingkungan. Lumpur tersebut akan terus mengalir sampai waktu yang tidak
kita ketahui, seperti halnya "Bledug Kuwu" yang sudah ratusan tahun masih
terus mengalir sampai saat ini meskipun alirannya terputus-putus. Jika
aliran lumpur ini tidak segera ditangani secara tepat dan benar, akan
mencemari wilayah yang lebih luas. Dan tanah yang tercemari lumpur ini
tidak akan dapat ditanami lagi karena kadar garam yang terkandung dalam
lumpur tersebut sangat tinggi. Sedang untuk menghentikan aliran lumpur
tersebut dengan pemboran miring akan sangat sulit dan memakan biaya yang
sangat besar, dan belum tentu berhasil baik.
Maka sebaiknya melokalisir atau membatasi ruang gerak tempat keluarnya
lumpur dan kemudian mengalirkannya ke suatu tempat lain yang beresiko
lebih
rendah. Dampak yang membahayakan dengan adanya aliran lumpur dari dalam
bumi ini adalah cepat atau lambat akan terjadi penurunan tanah atau ambles
karena terjadi "settlement" di daerah bencana dan jalurnya, sehingga
bangunan yang ada di atasnya akan mengalami kerusakan atau ambruk. Jika
turunnya permukaan tanah hanya beberapa sentimeter saja, tidak begitu
bermasalah. Tetapi jika turunnya lebih dari dua meteran, maka tidak
menutup
kemungkinan air laut Selat Madura akan menginvasi masuk ke daratan
sehingga
daerah itu akan menjadi teluk, atau paling tidak menjadi rawa untuk
selamanya. Hal ini sebenarnya merupakan suatu sunnatullah pada alam,
khususnya pada muka bumi yang akan terus mencari keseimbangan, sesuai
firman Allah dalam QS Al Hijr 19-21 yang terjemahannya dikutipkan pada
awal
mukadimah mimbar ini. Maka untuk menghindari
kemungkinan tersebut, sebaiknya pemerintah daerah Jawa Timur, khususnya
Kabupaten Sidoarjo, segera bertindak untuk memindahkan pemukiman dan
industri serta fasilitas kehidupan yang ada di wilayah mud vulcano yang
rawan bencana penurunan tanah. Bukankah Allah telah mengingatkan pula
sunnahNya bagi manusia : "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu
masyarakat sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu
masyarakat,
maka tak ada yang dapat menolaknya, sekali-kali tidak ada pelindung bagi
mereka selain Dia" (QS Ar Ra'd 11).



   Dari segi sosial dan ekonomi, tentu adanya banjir lumpur ini akan
berdampak negatif. Belum diketahui berapa kerugian material maupun
non-material akibat banjir lumpur ini, karena aliran lumpur tersebut tidak
diketahui sampai kapan akan berhenti. Yang jelas berapa banyak penduduk
akan kehilangan tempat tinggal dan berapa banyak buruh yang menganggur
karena industri di wilayah bencana berhenti total. Apalagi jika kemudian
terjadi settlement sehingga permukaan tanah tempat bangunan pemukiman dan
industri berdiri itu ambles dan menyebabkan kerusakan atau kehancuran
bangunan dan berbagai prasarana kehidupan yang ada di daerah bencana
tersebut. Belum lagi dengan tersendatnya transportasi dan lumpuhnya jalan
toll Gempol-Surabaya yang berdampak kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Apakah semua ini harus ditanggung oleh Lapindo ? Kasihan benar. Kita tidak
tahu mengapa para pakar kebumian di perusahaan itu tidak menyampaikan
kebenaran sesuai data yang dimiliki, untuk menyanggah
pemberitaan dari media massa yang sudah menjadi opini publik. Atau memang
ada maksud tertentu dengan membiarkan anggapan orang bahwa bencana banjir
lumpur itu disebabkan oleh human error dari aktivitas pemboran eksplorasi
yang dilakukan Lapindo ? Wallahu'alam. Untuk diketahui saja bahwa pemilik
perusahaan tersebut adalah seorang mentri koordinator pada kabinet SBY
saat
ini. Disamping itu, operasi pemboran tersebut diasuransikan dengan ganti
rugi sebesar US $ 27 juta, namun jika terbukti bencana itu disebabkan oleh
alam, maka tidak akan mendapat ganti rugi. Dan secara bisnis, bisa saja
perusahaan itu kemudian dianggap "force majeure", tetapi dampaknya
terhadap
perusahaan lain seperti JOB Pertamina-Petrochina Tuban yang juga melakukan
operasi di sebelah wilayah kerja Lapindo, akan bercitra negatif dan
ditolak
masyarakat setempat. Maka berkaitan dengan hal ini, Allah telah
mengingatkan : "Sesungguhnya mereka merencanakan (suatu) rekayasa dengan
perekayasaan (yang canggih).
Dan Aku pun merekayasa (pula) dengan perekayasaan (yang jauh lebih
canggih). Karenanya diberi tangguh orang-orang ingkar itu dengan pemberian
tempo yang sebentar kepada mereka" (QS Ath Thaariq 15-17). Bagi kita,
berhati-hatilah terhadap suatu berita, apalagi berita itu diragukan
kebenarannya atau berita yang tidak benar alias dusta. Allah telah
mengingatkan hal ini dan mengancam dengan azab yang keras di dunia dan di
akhirat kelak bagi yang menyebarkan berita yang tidak benar dan dianggap
sebagai suatu kebenaran, seperti dalam firmanNya QS An Nuur 14-19 yang
terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Sebelum mengakhiri
mimbar ini, dengan adanya musibah yang datang berturut-turut, termasuk
banjir bandang di Sulawesi Selatan pada pekan ini, mari kita berdo'a agar
diselamatkan dari berbagai musibah, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah
saw : "Allahumma innii a'udzubika min jahdil balaai wa darkisy syaqaai wa
suuil qadhaai wa syamaatatil a'daai (Ya Allah, aku
berlindung kepadaMu dari musibah berat, dari kecelakaan yang menimpa, dari
ketentuan yang jelek, dan dari kejahatan musuh yang aniaya)" (HR Bukhari,
Muslim dan Nasa'i dari Abi Hurairah). Akhirul kalam, alhamdulillahi rabbil
'aalamiin.

   Wassalamu'alaikum wr.wb.

   Nana Djumhana














---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs.Try it free.



__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam http://id.mail.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke