Assalamu'alaikum Wr.Wb

Oh iyah ikutan nimbrung deh di detik2 terakhir diskusi ttg sosek....karna saikin hijou ni isogashii....

Kali ini saya ingin memberikan ide dalam mengahadapi Perdagangan Internasional terutama peran serta dalam WTO.

Menurut pandangan saya, Sistem Pertanian Indonesia dapat dikategorikan pertanian tradisional, karena sebagian besar petani kita masih menggunakan TEKNOLOGI KONVENSIONAL yaitu seperti cangkul, bajak, dan kerbau dalam melakukan kegiatan pertaniannya.

 

Pertama-tama,

Disamping itu juga,@[EMAIL PROTECTED] Indonesia memiliki latar belakang pendidikan yang sangat rendah. Satu hal penting@yaitu; petani Indonesia memiliki akses yang sangat terbatas sekali untuk melakukan pinjaman uang ke bank yang tersedia di daerah2 mereka tersebut, karena rendahnya pendidikan yang mereka miliki serta kepercayaan bank kepada para petani tradisional tidak terlalu besar, sehingga mereka sangat ketat dalam memberikan pinjaman modal, yang terkadang  suka [EMAIL PROTECTED] mereka jadi sangat tergantung dengan apa yg dinamakan "ILLEGAL LENDER" alias [EMAIL PROTECTED] sering kali mencekik leher para petani kita, karena tidak sanggup membayar bunga pinjaman yang terlampau sangat tinggi. 

 

Kondisi seperti ini membuat kondisi komoditas pertanian Indonesia belum siapa bersaing dalam berpartisipasi di Perdagangan Pasar Global.

 

Whether ready or not, Indonesia tetap harus menghadapi Sistem Perdaganagn Internasional dibawah koordinasi WTO.

 

Misal, Jika Indonesia siap untuk menghadapinya, maka kita akan mendapatkan beberapa keuntungan yang dapat diraih melalui peran serta dalam WTO ini. Contohnya;

1.International trade may increase the utilization of national resources

2. Increase the economic of scale, intensify and capitalize the international capital flow.

 

Sementara itu, Indonesia harus memperhatikan juga mengenai negative impact-nya. Persaingan yang ketat antara negara2 yang berpartisipasi dalam Pasar Global,  salah satunya disebabkan oleh protection yg dilakukan oleh negara2 maju kepada para petaninya dan juga Banjirnya produk luar negeri di dalam Indonesian market. 

Maka kondisi seperti ini semakin membuat Indonesia menjadi semakin sulit dalam berkompetisi dengan produk negara lain.

 

Oleh karena itu,  Pemerintah Indonesia harus bertindak secara tangkas dan teliti, serta membuat sebuah strategi yang cocok / ideal untuk meningkatkan komoditas pertanian kita.

 

Menurut pendapat saya, ada 2 strategi yang dapat diterapkan:

1. Strategi Orientasi Internal : dimana memiliki objektif yaitu; memperkuat posisi negara kita melalui peningkatan kompetitif khususnya produk pertanian Indonesia sehingga kita produk kita tidak kalah bersaing dengan produk negara lain. Kemudian, penigkatan penggunaan dan pemanfaatan lahan yang subur tapi terbatas melalui perogram Intensifikasi program, Peningkatan Kualitas SDM para petani kita, Menambah Kredit Akses, dan lainnya.

 

2. Strategi Orientasi Esternal 

 

yang memilikin objektif sebagai berikut, yaitu: melakukan penetrasi kedalam Pasar Luar Negeri melalui peningkatan kualitas produk pertanian kita melalui apa?certification, penyederhanaan BUREAUCRACY pada prosedur ekspor, melakukan negosiasi dengan WTO dan hubungan kerjasama bilateral maupun millateral dengan negara2 maju dalam Pengaturan Strategi Pemasaran Produk Pertanian Indonesia, dan sebagainya.

 

Ada satu pengalaman juga, beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Tokyo Ohta Market yang merupakan Pasar terbesar di jepang yang menjual Yasai (sayuran) dan Kajitsu(buah2an) dari berbagai daerah di jepang serta barang impor dari luar negeri dengan beragam macam kualitas dan harga.

 

Saya menanyakan kepada orang yg mempunyai tanggung jawab sebagian besar terhadap pasar ini (Katou-san), yaitu; Apakah produk pertanian Indoneisa dapat masuk ke dalam pasar Ohta ini?

Kemudian Katou san berkata, bahwa produk Indoensia sekitar tahun 80-an pernah masuk ke dalam pasar ini hanya mengalami Kegagalan yang besar sekali  yg menyebabkan produk pertanian indonesia tidak diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam Ohta Market ini. Dengan demikian, maka dapat terlihat bahwa perlindungan jepang terhadap komoditas barang pertaniannya sendiri sangat tinggi sekali, sehingga tidak ingin disaingi oleh negara lain. Hanya karena saya belajar di bidang Bio-Business...mempunyai cita2 untuk menembus Tokyo-Ohta-Market ini melalui kegiatan ekspor Produk Pertanian Indonesia.

 

Kabar terbaru juga, baru2 ini <Malaysia dan Jepang> menandatangai Jiyuu Boueki Kyoutei (Free Trade Agreement).

Wah Indonesia sudah harus bersiap untuk mempunyai saingan lebih banyak lagi di bidang pertanian, terutama negara2 di kawasan ASEAN.

 

Sekian dulu diskusi yang dapat saya sampaikan pada Dialog SOSEK kali ini, 

Terima Kasih atas perhatiannya,

 

Wassalam,

  



---
Muhamad Nasrul Pradana ( ƒ_ƒi)
Faculty of International Agriculture and Food Studies 
Department of Internatinal Bio-Business Studies
Tokyo University of Agriculture
Sakuragaoka Dorm, 201-1A
3-9-37 Sakuragaoka, Setagaya-ku
Tokyo 156-0054
Japan
Tel. +81-3-5450-9758   ( Home )
       +81-80-5524-2312 ( Mobile ) e-mail ( hp ) : [EMAIL PROTECTED]
 


Yahoo! Sports
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
           http://iasa-online.org
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke