Salam Sejahtera...

Pada Senin, 5 Maret 2007, Eri menulis:

> Ini hanya sebuah tanggapan terhadap sebuah adegan di film. bukan tuduhan
> dengan maksud memojokkan sex tertentu di real life.

Saya sudah sampai pada taraf, di mana singgungan pada keimanan saya pun tidak 
menjadi hal 
yang bisa membangkitkan amarah saya. Ini bisa terjadi, karena telah menempuh 
perjalanan 
batiniah, yang tidak sama untuk setiap orang. Dalam hal ini, menjadi pemirsa ST 
adalah 
bagian pematangan itu.

Hari Minggu, 4 Maret 2007, sepulang ibadah, saya pulang menggunakan bis kota. 
Saya sempat 
marah pada kondektur, yang seakan menuduh saya belum membayar ongkos, padahal 
baru 30 
detik sebelumnya sama melakukan itu. Saya kemudian terhenyak. Mengapa ? Saat 
itu, saya 
sedang memasuki Minggu II melakukan puasa, sebagai rentetan 7 minggu yang akan 
berakhir 
pada April.

Puasa ini dilakukan sejak usai makan malam sampai dengan makan malam 
berikutnya. Dapat 
dikatakan bahwa saya menjadi sabar dan jernih dalam berpikir. Namun ternyata 
saya 'jatuh' 
juga, ketika marah pada si kondektur itu. Itu sebenarnya mengingatkan bahwa 
sayalah 
makhluk yang tidak sempurna.

Saya menyampaikan cerita di atas bukan bermaksud berbicara mengenai agama, 
melainkan 
mengisahkan bagaimana perjalanan hidup seseorang dibentuk oleh berbagai hal. 
Pepatah 
bangsa Kulit Merah mengatakan agar kita berjalan menggunakan moccasin orang 
lain sebelum 
berbicara, yang artinya memahami dulu cara dan dasar berpikir orang lain 
sebelum melakukan 
tuduhan padanya.

Pola seperti yang disampaikan oleh ST, khususnya TNG. Di dalamnya tidak ada 
sentimen ras 
dan kelamin, juga demikian mengenai agama. Segala hal yang bertentangan 
ditanyakan atau 
dipelajari alasannya, bukannya langsung dihardik sebagai bentuk penghakiman. 
Itu yang saya 
tangkap dan itu yang kemudian saya jadikan salah satu pedoman dalam berujar dan 
bertindak.


> Rekan yang lain, saya mohon juga pengertiannya untuk menilai topik ini lebih
> dalam lagi mengingat di sini ada member wanita.

Penyampaian saya pada surat sebelumnya yang bersubyek "Murahan" hendaknya 
dimaknai 
menggunakan kacamata filosofis. Siapa di antara kita yang pantas menjadi hakim 
di antara 
sesamanya, kecuali menjadikan hal itu sebagai pengajaran bagi dirinya sendiri ? 
Pergaulan 
kita dengan ST, seyogyanya menjadikan kita arif dan terukur dalam menilai 
segala sesuatu. 
Itu berlaku bagi Anda semua dan -terutama- bagi saya.


Sharif Dayan

Kirim email ke