menilai = value, assess...dan lain sebagainya...
 
sangat menarik..I would like to see the end of this discussion...


________________________________

        From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of masnunuk
        Sent: 6. maaliskuuta 2007 13:39
        To: [email protected]
        Subject: [Indo-StarTrek] Re: Murahan?? --- katro nya tukul ---
        
        

        ---kutipan dari www.asalnimbrung.com----
        
        karena ini dimilis dan bukan pm, boleh dong ikut nimbrung... ;)
        
        mestinya ada beda nya judging dengan menilai (bhs inggris nya
menilai
        apa yaa.. ah dasar gw katro...wong ndeso... bhs inggris aja gak
        bisa...dari generasi tua...dengan nilai2 yang juga tua... kalo'
        menilai masih pake tradisi lama...ah dasar gw katro---jurus
laris
        tukul #4: 'hina' diri sendiri)
        
        btw, ada berapa kotak yaa di semesta ini??
        ada kotak Gender... ujung2 nya jangan melecehkan
        ada kotak Jadul dari generasi warkop... ujung2 nya... dasar
jadul!!
        butuh berapa kotak?? kotak siapa yang lebih besar??
        
        Saya yang katro menilai kelakuan Hoshi 'Murahan' Sato di ENT
        :4x18-4x19: In a Mirror, Darkly part I & II
        sebagai yang Murahan krn satu starship di-'embat' semua.
        sampe T'Pol heran hoshi kok masih punya 'sisa tenaga' ;)
        apa di semua seri hoshi seperti itu... kayak nya enggak ;)
        apa semua wanita seperti itu....oh tentu tidak ;)
        
        di sisi lain, secara implisit di nilai(judge??) gen. warkop yang
sdh
        gak lucu.
        
        setelah ini kalo' ada yang akan 'mengutuk' saya krn penilaian
saya,
        gak papa krn penilaian saya memang seperti itu.
        ---tafsiran bebas TNG:1x01-1x02: [EMAIL PROTECTED]
        
        tapi saya gak akan mengutuk seseorang yang meng-kotak-i saya
dengan
        label 'JADUL'
        
        nih gocap 
        MN
        
        --- In [email protected]
<mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> , "warbird692001"
        <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        >
        > 
        > Sharif, judging ourselves is as easy as judging others.
Because being
        > human is basically being selfish, everything is about
ourselves. Me,
        > myself, my family, my house, my career, my etc, my etc. Unlike
other
        > mammals, humans are individualists.
        > 
        > So if you ask me if it's good to become the judge to
ourselves, my
        > answer will be: we have been the judge to ourselves for
millenia. It's
        > not good and it's not bad either. It's what we instinctively
do. 
        > Example: you judge yourself a sexyst, thus it gives you the
right to
        > judge Hoshi and other women for their choices. 
        > 
        > I have a question: 
        > Can you be the jury and the executioner to yourself?
        > 
        > Jury analyzes the case and decides if one's guilty or not. 
        > The executioner determines the penalty of your doings by
looking at
        > the damages you have done whether intentionally or not. 
        > 
        > Humans made mistakes. That we all know.
        > Accepting that fact is not important. 
        > The important thing is how to learn from those mistakes.
        > 
        > Being a judge doesn't qualify us to learn from the mistakes we
made,
        > but being a defendant is. It is not fair to pick out just one
thing
        > and left out the others.. it will be too convenient. Truth is,
we've
        > been conveniently living as judges. 
        > 
        > I'm not saying this is easy, but the best way to improve the
quality
        > of humanity is not to be a judge, jury or executioner to
ourselves.
        > Let others be the judge, jury and executioner, and let
ourselves be
        > the defendants. 
        > 
        > My two cents.
        > 
        > Salam,
        > Indie
        > 
        > 
        > --- In [email protected]
<mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> , Sharif Dayan <dayan@> wrote:
        > >
        > > Itulah karena saya seorang manusia, yang kodratnya tidak
sempurna.
        > Saya mencoba 
        > > memperbaikinya dengan cara menyampaikan secara jujur.
Kejujuran
        > berrisiko dianggap "two 
        > > cents", namun kejujuran itu saya sampaikan dengan -maunya-
rendah
        hati.
        > > 
        > > Cara saya berpikir dan bertindak seperti itu dipengaruhi
antara lain
        > oleh ST. "Jangan 
        > > menjadi hakim bagi sesamamu", demikian yang pernah diajarkan
pada
        > saya. Saya sudah 
        > > menghakimi dengan cara memberikan cap "murahan", namun pada
saat
        > yang sama saya mencoba 
        > > menjadi hakim bagi diri saya sendiri dapat menjadi baik.
Baikkah itu
        > ? Silakan 
        > > masing-masing kita bertanya pada diri sendiri.
        > > 
        > > 
        > > Sharif Dayan
        > >
        >
        
        

         



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke