Bung Berthold ternyata juga seorang penulis sci-fi ya.

Welcome. Di sini juga banyak penulis sci-fi.

 

Saya akan sempatkan untuk baca tulisan anda.

 

 

Salam,

ER

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Berthold Sinaulan
Sent: Monday, 21 December 2009 4:41 PM
To: [email protected]
Subject: OOT: Maaf ini hanya cerita Re: [Indo-StarTrek] CLIMATE SUMMIT:
Another Human set Back!

 

  

OOT: Ini kutipan dari kisah "Bravo 8: Hujan Meteor" yang dimuat di Wikimu
pada Selasa, 15 Desember 2009:
 
 
Para pencinta lingkungan memutuskan perubahan besar-besaran dengan pindah ke
Planet Bumian. Namun yang boleh pindah dan ikut mereka, hanyalah mereka yang
memang mencintai lingkungan. Para perusak lingkungan, para koruptor yang
mengakibatkan Planet Bumi semakin rusak, dan tokoh-tokoh perusak lainnya,
tidak diajak. Mereka dibiarkan tinggal di Planet Bumi yang semakin panas.
Hal itu terjadi pada tahun 2121, dan itulah dianggap sebagai awal tahun yang
disebut AGC.
 
Cerita lengkapnya silakan baca di bawah ini.
Terima kasih.
 
Berthold Sinaulan
 
 
Bravo 8: Hujan Meteor
oleh: Berthold Sinaulan 
Kanal: Sastra 

 "Horeeee!!! Akhirnya kita berhasil," Komandan Bravo 8, Dirk Hendrik,
setengah berteriak menyatakan kelegaannya.
 
"Ya, kita memang akhirnya berhasil lolos dari serbuan hujan meteor Xaxava,"
Berty Sinaran yang bertugas di bagian komunikasi Bravo 8 menimpali.
 
Bravo 8, pesawat angkasa luar terbaru Kebangsaan Indoplanet, baru saja
berhasil menghindari serbuan hujan ratusan dan bahkan mungkin ribuan
meteorit yang merupakan pecahan meteor Xaxava, dalam perjalanan pulang dari
misi penelitian ke Planet Exograz. Bravo 8 baru saja melewati lingkar luar
Planet Exograz dan memasuki jagad raya 1312, ketika tiba-tiba ratusan
meteorit berterbangan ke arah Bravo 8.
 
Berty Sinaran yang pertama kali mendeteksi kedatangan hujan meteor itu,
segera memberitahu Komandan Dirk Hendrik. Sinaran dan petugas data Bravo 8,
Dlothreb Naluanis, benar-benar kebingungan. Bagaimana mungkin ratusan
meteorit yang berada di garis perjalanan Bravo 8, baru terdeteksi menjelang
Bravo memasuki jagad raya 1312?
 
Naluanis segera mengecek peralatan Radtop Bravo 8, radar top hasil karya
para ilmuwan dan teknolog Planet Exograz. Seharusnya Radtop bisa mendeteksi
keberadaan hujan meteor itu, kalau memang mereka ada di garis perjalanan
Bravo 8, sebelum pesawat angkasa luar mengikuti alur garis perjalanan pulang
dari Planet Exograz.
 
"Aneh, ini memang benar-benar aneh," Naluanis masih tetap kebingungan seusai
Bravo 8 berhasil lolos dari serbuan ratusan meteorit Xaxava.
 
Keheranan itulah yang membuat Naluanis segera menemui Profesor Markie
Dandra, salah satu gurubesar Universitas Nasional Kebangsaan Indoplanet,
sesaat setelah Bravo 8 mendarat mulus di Landasan Interkoneksi di negaranya.
Profesor Dandra juga merupakan pembimbing Naluanis, ketika dia menyelesaikan
program data Bravo 8, sebelum pesawat luar angkasa itu diluncurkan pada
tanggal 8 bulan 8 tahun 88 AGC (After Great Change).
 
Penamaan tahun AGC itu diusulkan pertama kali oleh Profesor Dandra kepada
sidang Dewan Utama Kebangsaan Indoplanet, setahun setelah terjadinya
perubahan besar-besaran di tata surya. Pada tahun 2121 yang dikenal dalam
tahun manusia sebelumnya, terjadilah perubahan besar-besaran atau great
change itu. Sejak lebih dari 60 tahun sebelumnya atau pada sekitar tahun
2060, manusia menemukan Planet Bumian yang terletak hanya sepuluh tahun
cahaya dari Planet Bumi.
 
Sejak saat itu, manusia melakukan eksplorasi terhadap Planet Bumian yang
kondisinya mirip sekali dengan Planet Bumi dan bisa ditinggali manusia tanpa
memerlukan bantuan peralatan oksigen khusus. Bahkan dibandingkan dengan
Planet Bumi yang semakin kering dan panas, cuaca di Planet Bumian terbilang
sejuk dan memiliki air berlimpah serta sinar matahari yang cukup hangat,
namun tak terik menyakitkan.
 
Eksplorasi yang dilakukan manusia akhirnya berhasil menjadikan Planet Bumian
sebagai tempat tinggal bagi manusia. Maka, ketika Planet Bumi semakin panas,
terjadilah pemberontakan para pencinta lingkungan yang berhasil menguasai
pesawat-pesawat luar angkasa.
 
Para pencinta lingkungan memutuskan perubahan besar-besaran dengan pindah ke
Planet Bumian. Namun yang boleh pindah dan ikut mereka, hanyalah mereka yang
memang mencintai lingkungan. Para perusak lingkungan, para koruptor yang
mengakibatkan Planet Bumi semakin rusak, dan tokoh-tokoh perusak lainnya,
tidak diajak. Mereka dibiarkan tinggal di Planet Bumi yang semakin panas.
Hal itu terjadi pada tahun 2121, dan itulah dianggap sebagai awal tahun yang
disebut AGC.
 
Sedangkan negara yang bernama Kebangsaan Indoplanet itu diawali sepuluh
tahun setelah para pencinta lingkungan itu pindah ke Planet Bumian. Sepuluh
tahun pertama di Planet Bumian, mereka masih sibuk menata ulang planet
tersebut agar semakin layak dihuni manusia.
 
Jadi bila dihitung-hitung sejak saat itu, maka sekarang adalah tahun 100 AGC
dan 90 tahun berdirinya Kebangsaan Indoplanet. Dalam rangka untuk
memperingati tahun 100 AGC dan 90 tahun Kebangsaan Indoplanet, maka dua
tahun sebelumnya pada tanggal 8 bulan 8 tahun 88 AGC, diluncurkanlah pesawat
Bravo 8.
 
Tujuannya untuk melakukan misi penelitian ke Planet Exograz. Planet itu
ditemukan sekitar 10 tahun lalu, dan setelah diteliti ternyata dapat
dijadikan tempat tinggal yang baru bagi mahluk hidup. Dewan Utama Kebangsaan
Indoplanet yang dipimpin oleh Ketua Rary Philastamp memutuskan untuk
menjadikan Planet Exograz sebagai tempat untuk pembudidayaan tumbuhan dan
peternakan hewan, sekaligus tempat pelestarian flora dan fauna. Tujuannya
agar seluruh rakyat Kebangsaan Indoplanet dapat mempunyai bahan makanan yang
cukup dan sekaligus dapat tetap melihat, mengamati, dan mempelajari semua
flora dan fauna yang pernah ada.
 
Misi penelitian yang dipimpin Komandan Dirk Hendrik bertujuan untuk mendata
ulang segala hal yang berhubungan dengan tujuan penggunaan Planet Exograz
itu. Hal itu telah berhasil dikerjakan dengan sukses oleh semua awak Bravo
8. Sayangnya, seperti telah diceritakan, Bravo 8 hampir saja tamat
riwayatnya karena hujan meteor Xaxava, ketika pesawat tersebut dalam
perjalanan kembali dari Planet Exograz ke Landasan Interkoneksi Kebangsaan
Indoplanet.
 
Untung saja, keahlian Komandan Bravo 8 itu, berhasil membuat pesawat
tersebut mendarat mulus di Landasan Interkoneksi Kebangsaan Indoplanet.
Persoalannya, kegagalan pesawat itu mendeteksi keberadaan hujan meteor di
garis perjalanan Bravo 8, tentu saja tidak boleh terulang lagi. Kenapa hal
itu bisa terjadi? Apakah ada kerusakan pada peralatan di pesawat Bravo 8
atau pun di gedung pengawas pesawat luar angkasa Kebangsaan Indoplanet yang
seharusnya bisa membantu mengirim informasi kepada para awak pesawat Bravo
8? Kalau benar rusak, apakah memang rusak karena ketidaksengajaan atau
justru karena sabotase?
 
Catatan: Ini adalah cerita fiksi dan bila ada kebetulan serta kesamaan pada
nama-nama dan jalan cerita, itu hanyalah kebetulan saja.

New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and
@rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail. <http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke