kendala terbesar pariwisata negeri ini ya di governance-nya. sebenarnya ini penyakit seluruh sektor, tidak cuma pariwisata. contoh dari mbak tari tentang stereotyping "wisatawan harus berduit" itu mewakili segala bentuk dekadensi pemahaman dan praktek. Mata duitan tapi malas kerja memang penyakit yg menjangkiti birokrasi, dan sekarang sudah merambah rakyat kecil, rela baku bunuh demi uang BLT dan sembako, rela memalsukan macam2 makanan hingga membahayakan konsumen demi mendapat untung (kalo bener seperti di tayangan tv). Dengan mental macam gini sebenarnya usaha pariwisata negeri ini akan ambruk (dan memang sedang) karena dana pembangunan infrastruktur (kalo dialokasikan) ujung2nya akan dikorup, tidak ada keramahtamahan lagi kepada turis jika tanpa embel2 uang, dan tidak ada usaha memelihara kawasan/infrastruktur wisata.
entah kenapa, bangsa ini suka merusak apa yg sudah susah2 dijaga dan dibuat. Sekarang ini, TN Komodo mau diusulkan jadi 'the seven wonders" lha kok bupatinya malah kasih ijin pertambangan di dalam kawasan TN. Dimana nalarnya coba??! Miris, semua mau dibabat, digali, dihancurkan... tapi ya, dari pada merutuki seribu kegelapan lebih baik menyalakan satu lilin yg menerangi kita. walau hati menangis melihat banyak kawasan indah negeri ini dihancurkan & dicemari tapi semangat backpacker harus tetap dinyalakan. Sukur2 jika ada segelintir birokrat yg masih sayang sama nasib negeri ini dan anak2 seribu pulaunya. salam, adi On Fri, 3/7/09, Ms tari rahardjo <[email protected]> wrote: From: Ms tari rahardjo <[email protected]> Subject: Re: [indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia.. To: [email protected] Received: Friday, 3 July, 2009, 12:08 PM Kawans, Terima kasih atas diskusinya yang menarik..... Mas Indra Btara......saya setuju dengan analisanya! Dulu saya pernah posting di milis ini mengenai hasil riset psikografi wisatawan di/ke Indonesia . Saya ubek2 di milis tapi koq sudah gak ada…..apa gugling saya kurang jago ya….. Kalau tidak salah, dari hasil penelitian itu, ternyata psikografi wisatawan itu secara garis besar tergradasi atas : 1) Yang suka petualangan dan yang penting experience, apa pun ditempuh asal mendapatkan experience. Tidak peduli infrastruktur karena gali lubang kucing pun tak apa. Issue security tidak jadi soal. Di benaknya : ‘Bom bali itu kemarin, hari ini bom nya lain lagi dan yang kena pasti bukan saya’. Inilah wisawan yg tetap datang ke Bali dan menghidupkan kembali Bali pasca bom Bali . 2) Segmen2 wisatawan yg pingin experience tapi juga tidak mau susah-susah banget, bisa bertoleransi thd infrastruktur asal gak parah. Rada parno dengan issue security tapi toh disini ada yg cukup nekad juga. Ke Aceh anyway utk diving walaupun kabarnya OPM ngintip2…. 3) Segmen2 wisatawan yg maunya nyaman2 saja dan baru mau ke destinasi tertentu asal ada fasilitas sekelas hotel bintang 5. Malas susah, lebih suka ikut tour. CInta kemapanan dan yang pasti2 saja. Paling takut dgn issue security. Untuk Indonesia yang alamnya cantik, kulturnya eksotis tapi infrastrukturnya kurang dan sering dibom oleh bomber Malaysia sehingga afiliasi2 AS menetapkan Travel Warning ke Indonesia, maka target market yg harus digarap adalah segmen 1 dan 2. Mereka2 ini most likely juga orang2 yang paling banyak menggunakan internet utk mencari data & destinasi yang tepat. Independent traveler mayoritas ada di segmen2 ini. Saya pernah coba berdiskusi dengan orang Dinas Pariwisata saat pameran, dan sama dengan pengalaman Diesty (ynatapermana@ yahoo.com) , dia menjawab bahwa independent travelers itu segmen yg gak punya duit. Buat apa banyak2 diundang ke Indonesia…..lebih baik bidik “big bucks” yang gak masalah tinggal di hotel bintang 5, walaupun cuma 1-2 hari tapi dollar yg sudah dikeluarkan jauh lbh besar daripada independent traveler yg sebulan di Indonesia. Si Bapak ini rupanya hanya pake pendekatan segmentasi demografi dan bukan psikografi. Psikografi menjelaskan, orang2 di segmen 1 & 2 tidak selalu orang2 yg gak punya uang. Mereka rela bayar guide mahal ke tempat berbahaya sebulan. OK, asumsikan segmen 1 & 2 memang banyak travelers hemat-nya (budget travelers). Tapi para budget traveler in punya kelebihan lain : mereka adalah marketer yang palng efektif karena mereka komunal, suka sharing info dan photo di internet. Jangan main2 dgn ‘words of mouth’ dari independent traveler yang diposting di internet ini, karena info mereka paling dipercaya dibandingan iklan travel agent. Merekalah sebenarnya penentu trend destinasi, kalau dari hasil diskusi mereka banyak yang bilang jelek dan bahaya maka travel agent pun segan menjualnya. Jadi, membidik segmen 1 & 2 berarti membidik konsumen yang juga marketer. Membidik mereka berarti sekaligus melakukan marketing yg ampuh dgn biaya murah karena mereka otomatis melakukan marketing gratis : posting dan sharing di internet, dibaca jutaan prospective tourists di seluruh dunia. Untuk itu, harusnya marketer Depbudpar kudu aktif mantengin forum2 seperti Thorntree, Frommers, dlsb, seperti halnya salah seorang rekan IBP dari Thailand Authority Tourism mantengin IBP...... Lalu, perlukah infrastruktur kalo target marketnya para independent traveler? Perlu. Mayoritas wisatawan peduli thd infrastruktur, walau tidak harus mewah. Dan setuju dgn Puguh, terutama keamanan dan kejelasan administrasi, harga terpampang jelas, gak di pimpong calo, dlsb. Untuk yang terakhir adalah intangible yang sangat mempengaruhi experience, padahal experience-lah yg dicari independent traveler ini. Infrastruktur tidak selalu top down seperti kata Mbak Ambar. Mungkin bisa dicontoh Thailand dlm pembangunan infrastruktur. Pemerintahnya membagikan seperti guideline infratruktur ke daerah2nya, sehingga saat pemda atau msyarakat pingin bikin sarana swadaya masyarakat, mereka sudah pny panduannya harusnya seperti apa. MIsalnya, toilet ada airnya, terang dan tidak bau. (Mas Indra, correct me if I'm wrong). Di Indonesia, banyak tempat wisata tidak ada WC nya atau jika dibangun maka tidak ada airnya. Mengenai renstra, terima kasih buat Mas Edi Zhen yang peduli. Setelah saya browsing karena penasaran, rupanya Indonesia baru saja mengeluarkan UU no. 10 th 2009. tentang Kepariwisataan. Heran baru dibuat? Hehe…….positive thinking lah……..lebih baik dimulai walau terlambat. Di dalam UU tsb, renstra itu diterjemahkan dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan yg terdiri dari nasional, propinsi dan kabupaten ( kota ). Nah pendapat teman2 semua rupanya sudah cocok, tidak jauh dari yg dtetapkan UU. Masalahnya, tinggal bagaimana renstranya….. Renstra daerah itu seringkali tidak mengindahkan renstra nasional dgn alasan otonomi daerah. Yg dikejar Pendapatan Asli Daerah saja, tdk peduli utk itu mengeksploitasi sumber daya alam sendiri dan tidak peduli dampaknya bagi daerah lain. Kalau tidak salah ada forum para pengamat pariwisata yang suka kumpul dan beri masukan utk kebijakan pariwisata, dan pendapatnya didengar oleh pemerintah. Apa ya namanya? Ada yg bisa Bantu? Teman2 IBP pasti senang bisa ikutan datang dan sumbang saran disana. Saya tertarik datang, dan hayuk temen2 kalo mau ikutan bareng………. Kawans, berbeda dengan banyak teman disini, I have faith to this country, including the government. Seorang teman di pemerintahan cerita bhw sejak reformasi sudah ada angin segar di pemerintahan….. Ada aliran yg malu mbohongi rakyat, tapi ada jg yg susah berubah. Kebetulan kantor saya saat ini sedang berururusan dengan beberapa badan pemerintahan. Dan yang paling mengejutkan saya : No money involved! Beneran lho! Tidak sepeser pun….! Saya tahu karena saya ikut duduk bareng mendiskusikan kerjasamanya. Yang paling saya suka saat traveling adalah saat stereotyping yg ada di benak dikejutkan oleh kenyataan. Dan temuan ini mengejutkan saya..…kejutan yang meruntuhkan stereotyping saya tentang pemerintah yg suka morotin..... .kejutan yang menyenangkan :-) Waktu kuliah, jadi ingat ada yang namanya proses “Rearrangement” di Kimia Organik. Ketika satu senyawa bereaksi/ berubah jadi senyawa baru, maka strukturnya akan berantakan……...chaos…........hingga dia meletakkan ulang “tulang-tulang”nya tahap demi tahap menjadi struktur baru, dan mencapai kestabliannya…. Changes take time…..Do take part of it….. Salam, Tari YM ID : kuntarini_rahsilawa t...@yahoo. com http://kuntarini. multiply. com http://profiles. friendster. com/kuntarini --- On Thu, 7/2/09, Indra Btara <indrabt...@gmail. com> wrote: From: Indra Btara <indrabt...@gmail. com> Subject: Re: [indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia.. To: "indobackpacker@ yahoogroups. com" <indobackpacker@ yahoogroups. com> Cc: "Ambar Briastuti" <ambar.briastuti@ gmail.com> Date: Thursday, July 2, 2009, 5:55 PM Dear all, Mari kita pilih Mba Ambar sebagai menteri pariwisata.. .. :) (berangan-angan suatu hari ada mentri yang muncul dari IBP... yuukk) Teteep pengen ikut komentar lagi. Pengen coba lihat dari sisi marketing (saya bukan ahli jadi maaf kalo salah). Kalau kita posisikan tempat wisata sebagai sebuah produk yang mau kita pasarin. Pasti akan kita lihat apa core competence dari produk itu, siapa target pasar yang mau dituju, dengan segmentasi, targeting dll. Lalu produk tersebut kita sesuaikan dengan kebutuhan target pasar tersebut. Nah disini kan kelihatan bahwa siapa pasar dari suatu tempat wisata. Turis lokal, turis lokal berduit, turis bule, turis asia, backpacker, pencinta adventure, ecotourism dll. Tentunya tidak pasti bahwa saat kita tuju satu pasar tertentu, pasar yang lain ga boleh dateng, tetep boleh dong, tapi kita kan tetep fokus untuk memasarkannya. Misal Borobudur. Ini target pasarnya luas banget dan pasarnya udah established. Tapi saat kita mau memasarkan ke target pasar baru, misal turis berduit dari Eropa. Berarti kita harus mengembangkan fasilitas dan memasarkan sesuai dengan target pasar baru tersebut. Trus kalau Orang utan di Kalimantan. Pasarnya adalah orang-orang yang sangat mencintai lingkungan, peduli kelestarian alam, dan tidak keberatan dengan tinggal di rumah penduduk, bikin tenda dihutan dll. Tentu tidak perlu kita buat hotel berbintang lima. Nilai adventure dan lingkungannya akan berubah sama sekali. Tapi tetap kita bisa jual dengan cara yang lain. Buat paket yang memudahkan wisatawan untuk datang dan guide yang jelas dan bertanggung jawab. Di Afrika, di salah satu taman nasionalnya yang pernah saya baca (belum bisa kesana sih... hehe), mereka buat penginapan-penginap an yang jenisnya seperti rumah tradisional atau tenda-tenda besar yang isi dan pelayanannya bintang 5, tanpa meninggalkan unsur lingkungan dan adventure-nya. Dan dijual mahal sekali paket wisatanya. Artinya tidak setiap tempat wisata bisa kita perlakukan sama dalam pengembangannya, ada kekuatan produknya sendiri, target pasar yang dituju, lingkungan, masyarakat sekitar serta kebijakan pemerintah sendiri. Dan salah satu unsur yang kuat adalah marketing. Bisa melalui word of mouth seperti yang dilakukan lewat IBP saat ini, bisa dengan iklan-iklan yang dilakukan oleh malaysia secara besar-besaran. Walaupun produk berkualitas akhirnya yang akan lebih diminati orang. Tapi kan tetep bagaimana turis mau datang kalau sama sekali engga tahu tentang tempat wisata kita. Toh kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan informasi, transportasi, paket-paket perjalanan yang ditawarkan (baik yang naik-naik gunung atau sekedar jalan-jalan dikota) semua memegang peranan penting yang membuat wisatawan akhirnya memutuskan untuk berkunjung. Tentu dengan tujuannya masing-masing. Infrastruktur dan transportasi? Penting pastinya. Kunjungan ke bandung meningkat tajam dari malaysia gara-gara Air Asia. Kita-kita juga jadi hobi ke phi phi kalo mau cari pantai, karena bisa lebih murah dari pada ke lombok. Keterlbatan dan mental masyarakat? Penting banget. Mereka harus merasa dilibatkan dan diuntungkan dengan adanya wisata. dan jangan sampai turis-turis merasa tertipu dan kecewa sama perilaku masyarakat yang memaksa dan mencoba ambil untung setinggi-tingginya. Jadi bad marketing. Mereka ga sadar pada akhirnya itu merugikan mereka sendiri. Duh kayanya mulai ngelantur nih. Maaf kalo aga ga jelas dan kemana mana. Tujuan akhirnya sih sama seperti semua, berharap wisata di indonesia maju. Thanks semua. Indra On 7/2/09, Ambar Briastuti <ambar.briastuti@ gmail.com> wrote: Mas Anas, Yosephina, Erika, Diesty, Adi Sengaja saya memberikan contoh ektrem tentang infrastruktur karena ingin menegaskan bahwa jika kita menunggu infrastruktur dibangun dulu baru membangun citra dan imej, rasanya sudah terlambat beberapa langkah. Saya percaya infrastruktur itu bisa mengikuti asalkan kita membangun dengan mendengarkan nilai lokal. Poin yang saya ingin sampaikan, janganlah kita menunggu infrastruktur dengan tidak melakukan apa-apa. Atau kita menjadi backpacker yang 'manja'. Bukankan ada tantangan tersendiri mencobai sesuatu yang susah, unknown, dan terkadang membuat keingin tahuan makin besar? Poin lain adalah seorang backpacker itu tidak musti kere. Ada nilai etika yang saya pegang, yakni jika kita melakukan backpacking atau kegiatan adventures, saya berusaha uang yang saya bayar dirasakan oleh penduduk tanpa melalui beberapa tangan di tengah. Biarpun mahal, jika uang itu adalah untuk yang saya tinggali, no problem. Jadi maaf buat yang selalu mengatakan backpacker itu selalu murah. Sekali lagi saya tegaskan tidak. Saya berikan perbandingan antara trekking di Thailand. Dalam tiga hari dalam kondisi 'tidak layak' tadi saya disuguhi kehangatan penduduk suku Lisu. Ketidak nyamanan itu 'terbayar' dengan kenangan manis yang tak akan saya lupakan. Berapa biaya? silakan ditengok disini http://www.chiangda o.com/nest/ natastrek. htm belum termasuk tambahan transpor ke lokasi dan penginapan setelahnya. Jika pemerintah hanya memberikan perhatian pada 'turis kaya' (ie berduit memilih tempat yang "umum") itu juga cukup menggelikan, karena terkadang bule miskin aja dikatagorikan kaya hanya karena ia bule. Padahal pangsa pasar turis 'tak berduit' itu lebar banget, seperti dari Malaysia, Singapura juga Vietnam. Apakah mereka kaya? wah saya kira ya mereka ini samalah dengan kita, memanfaatkan free admin fee dari Airasia atau Tiger Airways. Seorang uncle Ho -supir taksi di Singapura bahkan ingin berlibur di Jogja setelah ada direct flight Changi-Adisucipto. Sebenarnya saya agak pesimis dengan pemerintah. Saya merasakan keputus-asaan yang sama dengan teman-teman. Harapan saya, presiden manapun yang terpilih bakal menyadari kekurangan ini. Kita punya potensi tapi tidak menyadari, atau tidak tahu? Terus-terang ada poin tersembunyi yang saya ingin capai. Yakni untuk adik-adik yang memulai backpacking, terutama yang kuliah, sekolah atau baru pengen mencicip. Mereka diberi kesempatan untuk melihat negara/tempat lain, sebuah kesempatan yang langka. Saya berharap dari perjalanan backpacking, akan melahirkan calon-calon birokrat di masa datang yang lebih peduli dan punya visi kedepan. Apalagi jika mereka mau mencoba 'ngere' merasakan kegetiran masyarakat bawah. Mungkin menjadi tidak serakah, mungkin menjadi lebih bijak, mungkin menjadi seorang peduli lingkungan. Mungkin meluaskan pandangan tentang Indonesia, melihat dari luar, mencintai lebih dalam. Jadi jangan malu posting catper yah? Jika saya bermimpi semua orang jadi backpacker, wah bakalan ambruk ekonomi. Betul, tidak semua orang bisa mengikuti backpacker yang sesungguhnya. Setiap orang punya level sendiri-sendiri, dan itu saya hormati. Ohya sedikit cerita, saya sendiri udah menikah dan malah makin kenceng backpacking karena mantan pacar kebetulan berhobi yang sama. Bagi saya, menikah dan (semoga) punya anak tidak akan mengganti life style backpacking. Ada seorang kawan bilang, jika pengen tahan sakit ya sering-seringlah keluar. Semakin menghadapi kondisi tak ramah semakin terbangun antibodi. Nah cuman yang kayak gitu kan tidak berlaku pada semua orang. He he he... Backpacker hanya salah satu alternatif saja, yang lebih peduli pada ecotourism, adventures dan cultural. Tapi bukan berarti orang yang ngga backpacker juga ngga peduli. Semua kembali kepada kondisi fisik, kemauan dan seberapa jauh keingin tahuan menjelajah dunia dan Indonesia. Salam, Ambar B 2009/6/30 Yosephine Rima <bluewaterbeachgirl@ yahoo.com>: > Mba Ambar > Saya sendiri ga masalah dengan infrastruktur & transport yang seadanya > karena memang disitulah keluar jiwa seninya seorang backpacker. > Pernah menginap di gubug yang cuma dilapisin gedeg yang super tipis dengan > kamar mandi terbuka dan cuma bermodalkan sarung dan malamnya hujan lagi! > tapi semua dibawa senang hati karena yang berangkat rombongan nekad modal > dan jiwa. > Tapi masalahnya yang mau menikmati keindahan Indonesia yang bejibun kan ga > hanya golongan backpacker aja. ____________________________________________________________________________________ Access Yahoo!7 Mail on your mobile. Anytime. Anywhere. Show me how: http://au.mobile.yahoo.com/mail
