Ha ha ha Miss Tari bisa aja.. saya memang backpacker kok, cuma sekarang sudah 
punya buntut jadi ya sekarang carinya tempat2 yang family-friendly, sekaligus 
coba bantu rekan IBP yang perlu informasi atau ada masalah. 

Tapi sekedar perbandingan ilmiah, kami di Thailand tourism memang sangat 
welcome untuk backpackers. Secara garis besar (tentunya ada diferensiasi 
pemasaran lain) kami hanya membedakan turis berdasarkan "quality tourists" dan 
"non-quality tourists". Backpacker adalah bagian dari "quality tourists", yaitu 
yang mau menghargai adat budaya lokal. Sedangkan non-quality tourists adalah 
turis yang tidak menghargai adat budaya lokal (termasuk adat ketimuran). 
Biarpun si turis ini milyarder, kalau dia terus memaki-maki orang lokal ya 
tidak perlu diterima. Apalagi yang merusak lingkungan, terlibat narkoba, sex 
offender atau child pornography, perdagangan manusia dan tindakan ilegal 
lainnya. Terus terang ada negara2 tertentu yang banyak turisnya berperilaku 
seperti ini, dan negara2 itulah yang lebih diawasi dalam pemberian visa atau 
mendapat perlakuan "khusus". 

Sama seperti Tari, saya juga melihat ada perbaikan dalam pariwisata Indonesia. 
Bahkan nama Indonesia, khususnya Bali, beberapa tahun terakhir masuk dalam peta 
persaingan pemasaran, terutama untuk pasar Australia, Malaysia, Jepang dan 
Korea.

Bahwa gerakannya lambat, ya memang. Tapi sekedar info, kehidupan seorang 
'pejabat' itu tidak mudah lho. Banyak bener office-politics-nya, dan banyak 
tekanan serta intrik2. Salah sedikit saja, karir melayang, dan banyak sekali 
'pihak2 berkuasa' yang berusaha mengendalikan. 
Jadi memang tidak mudah mengganti mental atau pola pikir yang telah karatan 
atau ketakutan selama berpuluh2 tahun. 
 



--- In [email protected], Ms tari rahardjo 
<kuntarini_rahsilaw...@...> wrote:
>
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Brillian analysis, Indra Btara!!
> 
> 
> 
>   
> 
> 
> Dulu saya pernah posting di milis
> ini mengenai hasil riset psikografi wisatawan di/ke Indonesia.  Saya ubek2 
> di milis tapi koq sudah gak ada…..apa
> gugling saya kurang jago ya…..
> 
>  
> 
> Kalau tidak salah, dari hasil
> penelitian itu, ternyata psikografi wisatawan itu secara garis besar 
> tergradasi
> atas : 
> 
>  
> 
> 1) Yang suka petualangan dan yang
> penting experience, apa pun ditempuh asal mendapatkan experience. Tidak peduli
> infrastruktur karena gali lubang kucing pun tak apa. Issue security tidak jadi
> soal. Di benaknya : ‘Bom bali itu kemarin, hari ini bom nya lain lagi dan 
> yang
> kena pasti bukan saya’. Inilah wisawan yg tetap datang ke Bali dan 
> menghidupkan
> kembali Bali pasca bom Bali. 
> 
>  
> 
> 2) Segmen2 wisatawan yg pingin
> experience tapi juga tidak mau susah-susah banget, bisa bertoleransi thd
> infrastruktur asal gak parah. Rada parno dengan issue security tapi toh disini
> ada yg cukup nekad juga. Ke Aceh anyway utk diving walaupun kabarnya  OPM 
> ngintip2….
> 
>  
> 
> 3) Segmen2 wisatawan yg maunya
> nyaman2 saja dan baru mau ke destinasi tertentu asal ada fasilitas sekelas
> hotel bintang 5. Malas susah, lebih suka ikut tour. 
> 
>  
> 
> Untuk Indonesia yang alamnya
> cantik, kulturnya eksotis tapi infrastrukturnya kurang dan sering dibom oleh
> bomber Malaysia sehingga afiliasi2 AS menetapkan Travel Warning ke Indonesia,
> maka target market yg harus digarap adalah segmen 1 dan 2. Mereka2 ini most
> likely juga orang2 yang paling banyak menggunakan internet utk mencari data
> & destinasi yang tepat. Independent traveler mayoritas ada di segmen2
> ini.  
> 
>  
> 
> Saya pernah coba berdiskusi
> dengan orang Dinas Pariwisata saat pameran, dan sama dengan pengalaman Diesty
> (ynataperm...@...), dia menjawab bahwa independent travelers itu segmen
> yg gak punya duit. Buat apa banyak2 diundang ke Indonesia…..lebih baik bidik
> “big bucks” yang gak masalah tinggal di hotel bintang 5, walaupun cuma 
> 1-2 hari tapi
> dollar yg sudah dikeluarkan jauh lbh besar daripada independent traveler yg
> sebulan di Indonesia.  
> 
>  
> 
> Si Bapak ini rupanya hanya pake
> pendekatan segmentasi demografi dan bukan psikografi. Psikografi menjelaskan, 
> orang2
> di segmen 1 & 2 tidak selalu orang2 yg gak punya uang. Mereka rela bayar
> guide mahal ke tempat berbahaya sebulan. 
> 
>  
> 
> OK, asumsikan segmen 1 & 2
> memang banyak travelers hemat-nya  (budget travelers). Tapi para budget 
> traveler in punya kelebihan lain :
> mereka adalah marketer yang palng efektif karena mereka komunal,  suka 
> sharing info dan photo di internet.
> Jangan main2 dgn ‘words of mouth’ dari independent traveler yang 
> diposting di
> internet ini, karena info mereka paling dipercaya dibandingan iklan travel
> agent. Merekalah sebenarnya penentu trend destinasi, kalau dari hasil diskusi 
> mereka banyak yang bilang
> jelek dan bahaya maka travel agent pun segan menjualnya. Jadi, membidik segmen
> 1 & 2 berarti membidik konsumen yang juga marketer. Membidik mereka berarti 
> sekaligus melakukan marketing yg ampuh dgn biaya murah karena mereka 
> otomatis  melakukan marketing gratis : posting dan sharing di internet, 
> dibaca jutaan prospective tourists di seluruh dunia. 
> 
> Untuk itu, harusnya marketer Depbudpar kudu aktif mantengin forum2 seperti 
> Thorntree, Frommers, dlsb, seperti halnya salah seorang rekan IBP dari 
> Thailand Authority Tourism mantengin IBP......  
> 
>   
> 
> Lalu, perlukah infrastruktur kalo
> target marketnya para independent traveler? Perlu. Mayoritas wisatawan peduli
> thd infrastruktur, walau tidak harus mewah. Dan setuju dgn Puguh, terutama
> keamanan dan kejelasan administrasi, harga terpampang jelas, gak di pimpong
> calo, dlsb. Untuk yang terakhir adalah intangible yang sangat mempengaruhi
> experience, padahal experience-lah yg dicari independent traveler ini. 
> 
>  
> 
> Infrastruktur tidak selalu top
> down seperti kata Mbak Ambar. Mungkin bisa dicontoh  Thailand dlm pembangunan
> infrastruktur. Pemerintahnya membagikan seperti guideline infratruktur ke
> daerah2nya, sehingga saat pemda atau msyarakat pingin bikin sarana swadaya 
> masyarakat,
> mereka sudah pny panduannya harusnya seperti apa. MIsalnya, toilet ada airnya,
> terang dan tidak bau. (Mas Indra,  correct me if  I'm wrong). Di Indonesia, 
> banyak tempat wisata tidak ada WC nya atau
> jika dibangun maka tidak ada airnya. 
> 
>  
> 
> Mengenai renstra, terima kasih
> buat Mas Edi Zhen yang peduli. Setelah  saya browsing karena penasaran, 
> rupanya Indonesia baru
> saja mengeluarkan UU no. 10 th 2009. tentang Kepariwisataan. Heran baru 
> dibuat?
> Hehe…….positive thinking lah……..lebih baik dimulai walau terlambat. 
> Di dalam UU
> tsb, renstra itu diterjemahkan dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
> yg terdiri dari nasional, propinsi dan kabupaten (kota). Nah pendapat teman2 
> semua rupanya
> sudah cocok, tidak jauh dari yg dtetapkan UU. Masalahnya, tinggal bagaimana
> renstranya….. Renstra daerah itu seringkali tidak mengindahkan renstra 
> nasional
> dgn alasan otonomi daerah. Yg dikejar Pendapatan Asli Daerah saja, tdk peduli
> utk itu mengeksploitasi sumber daya alam sendiri dan tidak peduli dampaknya 
> bagi
> daerah lain. 
> 
>  
> 
> Kalau tidak salah ada forum para
> pengamat pariwisata yang suka kumpul dan beri masukan utk kebijakan 
> pariwisata,
> dan pendapatnya didengar oleh pemerintah. Apa ya namanya? Ada yg bisa Bantu? 
> Teman2 IBP pasti senang
> bisa ikutan datang  dan sumbang saran
> disana. Saya tertarik datang, dan hayuk temen2 kalo mau ikutan 
> bareng……….
> 
>  
> 
> Kawans, berbeda dengan banyak
> teman disini, I have faith to this country, including the government. Seorang 
> teman
> di pemerintahan cerita bhw sejak reformasi  sudah ada angin segar di 
> pemerintahan…..Ada aliran yg malu
> mbohongi rakyat, tapi ada jg yg susah berubah. 
> Kebetulan kantor saya saat ini sedang berururusan dengan beberapa badan
> pemerintahan. Dan yang paling mengejutkan saya : No money involved! Beneran
> lho! Tidak sepeser pun….! Saya tahu karena saya ikut duduk bareng  
> mendiskusikan  kerjasamanya. Yang paling
> saya suka saat traveling adalah saat stereotyping yg ada di benak dikejutkan
> oleh kenyataan. Dan temuan ini mengejutkan saya..…kejutan yang  
> meruntuhkan stereotyping saya tentang pemerintah yg suka morotin......kejutan 
> yang menyenangkan  :-)
> 
> 
> 
> 
>  Waktu kuliah, jadi ingat ada yang namanya proses “Rearrangement”
> di Kimia Organik. Ketika satu senyawa bereaksi/ berubah jadi senyawa baru, 
> maka
> strukturnya akan berantakan……...chaos…........hingga dia meletakkan 
> ulang “tulang-tulang”nya
> tahap demi tahap menjadi struktur baru,  dan  mencapai
> kestabliannya…. 
> 
> Changes take time…..Do take part
> of it…..
> 
> 
> 
> 
> 
>  Salam, 
> 
> 
> 
> Tari
> 
> 
> 
> YM ID : kuntarini_rahsilaw...@...
> 
> http://kuntarini.multiply.com
> 
> http://profiles.friendster.com/kuntarini
> 
> --- On Thu, 7/2/09, Indra Btara <indrabt...@...> wrote:
> 
> From: Indra Btara <indrabt...@...>
> Subject: Re: [indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia..
> To: "[email protected]" <[email protected]>
> Cc: "Ambar Briastuti" <ambar.briast...@...>
> Date: Thursday, July 2, 2009, 5:55 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>         
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Dear all,
>  
> Mari kita pilih Mba Ambar sebagai menteri pariwisata.... :) 
> (berangan-angan suatu hari ada mentri yang muncul dari IBP... yuukk)
>  
> Teteep pengen ikut komentar lagi.
>  
> Pengen coba lihat dari sisi marketing (saya bukan ahli jadi maaf kalo salah).
> Kalau kita posisikan tempat wisata sebagai sebuah produk yang mau kita 
> pasarin.
> Pasti akan kita lihat apa core competence dari produk itu, siapa target 
> pasar yang mau dituju, dengan segmentasi, targeting dll. Lalu produk tersebut 
> kita sesuaikan dengan kebutuhan target pasar tersebut.
> Nah disini kan kelihatan bahwa siapa pasar dari suatu tempat wisata. Turis 
> lokal, turis lokal berduit, turis bule, turis asia, backpacker, pencinta 
> adventure, ecotourism dll. 
> Tentunya tidak pasti bahwa saat kita tuju satu pasar tertentu, pasar yang 
> lain ga boleh dateng, tetep boleh dong, tapi kita kan tetep fokus untuk 
> memasarkannya.
> Misal Borobudur. Ini target pasarnya luas banget dan pasarnya udah 
> established. Tapi saat kita mau memasarkan ke target pasar baru, misal turis 
> berduit dari Eropa. Berarti kita harus mengembangkan fasilitas dan memasarkan 
> sesuai dengan target pasar baru tersebut. 
> 
>  
> Trus kalau Orang utan di Kalimantan. Pasarnya adalah orang-orang yang sangat 
> mencintai lingkungan, peduli kelestarian alam, dan tidak keberatan dengan 
> tinggal di rumah penduduk, bikin tenda dihutan dll. Tentu tidak perlu kita 
> buat hotel berbintang lima. Nilai adventure dan lingkungannya akan berubah 
> sama sekali. Tapi tetap kita bisa jual dengan cara yang lain. Buat paket yang 
> memudahkan wisatawan untuk datang dan guide yang jelas dan bertanggung jawab. 
> 
> Di Afrika, di salah satu taman nasionalnya yang pernah saya baca (belum bisa 
> kesana sih... hehe), mereka buat penginapan-penginapan yang jenisnya seperti 
> rumah tradisional atau tenda-tenda besar yang isi dan pelayanannya bintang 5, 
> tanpa meninggalkan unsur lingkungan dan adventure-nya. Dan dijual mahal 
> sekali paket wisatanya.
> 
>  
> Artinya tidak setiap tempat wisata bisa kita perlakukan sama dalam 
> pengembangannya, ada kekuatan produknya sendiri, target pasar yang dituju, 
> lingkungan, masyarakat sekitar serta kebijakan pemerintah sendiri.
> Dan salah satu unsur yang kuat adalah marketing. Bisa melalui word of mouth 
> seperti yang dilakukan lewat IBP saat ini, bisa dengan iklan-iklan yang 
> dilakukan oleh malaysia secara besar-besaran. Walaupun produk berkualitas 
> akhirnya yang akan lebih diminati orang. Tapi kan tetep bagaimana turis mau 
> datang kalau sama sekali engga tahu tentang tempat wisata kita. 
> 
>  
> Toh kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan informasi, transportasi, 
> paket-paket perjalanan yang ditawarkan (baik yang naik-naik gunung atau 
> sekedar jalan-jalan dikota) semua memegang peranan penting yang membuat 
> wisatawan akhirnya memutuskan untuk berkunjung. Tentu dengan tujuannya 
> masing-masing.
> 
>  
> Infrastruktur dan transportasi? Penting pastinya. Kunjungan ke bandung 
> meningkat tajam dari malaysia gara-gara Air Asia. Kita-kita juga jadi hobi ke 
> phi phi kalo mau cari pantai, karena bisa lebih murah dari pada ke lombok.
> 
>  
> Keterlbatan dan mental masyarakat? Penting banget. Mereka harus merasa 
> dilibatkan dan diuntungkan dengan adanya wisata. dan jangan sampai 
> turis-turis merasa tertipu dan kecewa sama perilaku masyarakat yang memaksa 
> dan mencoba ambil untung setinggi-tingginya. Jadi bad marketing. Mereka ga 
> sadar pada akhirnya itu merugikan mereka sendiri.
> 
>  
> Duh kayanya mulai ngelantur nih. Maaf kalo aga ga jelas dan kemana mana.
>  
> Tujuan akhirnya sih sama seperti semua, berharap wisata di indonesia maju. 
>  
> Thanks semua.
> Indra
> 
> 
>  
> On 7/2/09, Ambar Briastuti <ambar.briast...@...> wrote:
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Mas Anas, Yosephina, Erika, Diesty, Adi
> 
> Sengaja saya memberikan contoh ektrem tentang infrastruktur karena
> ingin menegaskan bahwa jika kita menunggu infrastruktur dibangun dulu
> baru membangun citra dan imej, rasanya sudah terlambat beberapa
> 
> langkah. Saya percaya infrastruktur itu bisa mengikuti asalkan kita
> membangun dengan mendengarkan nilai lokal. Poin yang saya ingin
> sampaikan, janganlah kita menunggu infrastruktur dengan tidak
> melakukan apa-apa. Atau kita menjadi backpacker yang 'manja'. Bukankan
> 
> ada tantangan tersendiri mencobai sesuatu yang susah, unknown, dan
> terkadang membuat keingin tahuan makin besar?
> 
> Poin lain adalah seorang backpacker itu tidak musti kere. Ada nilai
> etika yang saya pegang, yakni jika kita melakukan backpacking atau
> 
> kegiatan adventures, saya berusaha uang yang saya bayar dirasakan oleh
> penduduk tanpa melalui beberapa tangan di tengah. Biarpun mahal, jika
> uang itu adalah untuk yang saya tinggali, no problem. Jadi maaf buat
> yang selalu mengatakan backpacker itu selalu murah. Sekali lagi saya
> 
> tegaskan tidak.
> 
> Saya berikan perbandingan antara trekking di Thailand. Dalam tiga hari
> dalam kondisi 'tidak layak' tadi saya disuguhi kehangatan penduduk
> suku Lisu. Ketidak nyamanan itu 'terbayar' dengan kenangan manis yang
> 
> tak akan saya lupakan. Berapa biaya? silakan ditengok disini
> http://www.chiangdao.com/nest/natastrek.htm belum termasuk tambahan
> 
> transpor ke lokasi dan penginapan setelahnya.
> 
> Jika pemerintah hanya memberikan perhatian pada 'turis kaya' (ie
> berduit memilih tempat yang "umum") itu juga cukup menggelikan, karena
> terkadang bule miskin aja dikatagorikan kaya hanya karena ia bule.
> 
> Padahal pangsa pasar turis 'tak berduit' itu lebar banget, seperti
> dari Malaysia, Singapura juga Vietnam. Apakah mereka kaya? wah saya
> kira ya mereka ini samalah dengan kita, memanfaatkan free admin fee
> dari Airasia atau Tiger Airways. Seorang uncle Ho -supir taksi di
> 
> Singapura bahkan ingin berlibur di Jogja setelah ada direct flight
> Changi-Adisucipto.
> 
> Sebenarnya saya agak pesimis dengan pemerintah. Saya merasakan
> keputus-asaan yang sama dengan teman-teman. Harapan saya, presiden
> 
> manapun yang terpilih bakal menyadari kekurangan ini. Kita punya
> potensi tapi tidak menyadari, atau tidak tahu?
> 
> Terus-terang ada poin tersembunyi yang saya ingin capai. Yakni untuk
> adik-adik yang memulai backpacking, terutama yang kuliah, sekolah atau
> 
> baru pengen mencicip. Mereka diberi kesempatan untuk melihat
> negara/tempat lain, sebuah kesempatan yang langka. Saya berharap dari
> perjalanan backpacking, akan melahirkan calon-calon birokrat di masa
> datang yang lebih peduli dan punya visi kedepan. Apalagi jika mereka
> 
> mau mencoba 'ngere' merasakan kegetiran masyarakat bawah. Mungkin
> menjadi tidak serakah, mungkin menjadi lebih bijak, mungkin menjadi
> seorang peduli lingkungan. Mungkin meluaskan pandangan tentang
> Indonesia, melihat dari luar, mencintai lebih dalam. Jadi jangan malu
> 
> posting catper yah?
> 
> Jika saya bermimpi semua orang jadi backpacker, wah bakalan ambruk
> ekonomi. Betul, tidak semua orang bisa mengikuti backpacker yang
> sesungguhnya. Setiap orang punya level sendiri-sendiri, dan itu saya
> 
> hormati. Ohya sedikit cerita, saya sendiri udah menikah dan malah
> makin kenceng backpacking karena mantan pacar kebetulan berhobi yang
> sama. Bagi saya, menikah dan (semoga) punya anak tidak akan mengganti
> life style backpacking. Ada seorang kawan bilang, jika pengen tahan
> 
> sakit ya sering-seringlah keluar. Semakin menghadapi kondisi tak ramah
> semakin terbangun antibodi. Nah cuman yang kayak gitu kan tidak
> berlaku pada semua orang. He he he...
> 
> Backpacker hanya salah satu alternatif saja, yang lebih peduli pada
> 
> ecotourism, adventures dan cultural. Tapi bukan berarti orang yang
> ngga backpacker juga ngga peduli. Semua kembali kepada kondisi fisik,
> kemauan dan seberapa jauh keingin tahuan menjelajah dunia dan
> Indonesia.
> 
> 
> Salam,
> Ambar B
> 
> 2009/6/30 Yosephine Rima <bluewaterbeachg...@...>:
> 
> > Mba Ambar
> > Saya sendiri ga masalah dengan infrastruktur & transport yang seadanya
> > karena memang disitulah keluar jiwa seninya seorang backpacker.
> > Pernah menginap di gubug yang cuma dilapisin gedeg yang super tipis dengan
> 
> > kamar mandi terbuka dan cuma bermodalkan sarung dan malamnya hujan lagi!
> > tapi semua dibawa senang hati karena yang berangkat rombongan nekad modal
> > dan jiwa.
> > Tapi masalahnya yang mau menikmati keindahan Indonesia yang bejibun kan ga
> 
> > hanya golongan backpacker aja.
>


Kirim email ke