Ikutan sharing ya.. Maap,kalo utk hal ini,aku kurang setuju yg namanya publikasi tempat2 wisata yg masih perawan ato yg ada,spy lebih dieksploitasi lebih lanjut lagi. Alasannya sederhana aja,krn kita masih tinggal dinegara yg serba ga jelas seperti Indonesia ini.Ga jelas hukumnya,ga jelas peraturannya,ga jelas komitmennya.Tiap ganti Pemerintahan,ganti aturan2 yg makin ga jelas aja dan hanya tau eksploitasi tanpa menjaga ato mengganti.Kalo setelah dieksploitasi,lalu dijaga dan ada re-strukturisasi nya,mgkn ga masalah,lhaa ini kan kagak ada.. Dlm kurun 10 thn belakangan ini aja,negeri kita sendiri yg mengalami banyak kerugian akibat ekploitasi berlebihan itu.Terutama utk sumber daya alam.Mungkin krn sudah bnyknya tempat2 pariwisata yg dibuka,justru malah mengundang ide lain bagi yg gila duit dan materi (pdhal duit ga dibawa mati yaaa..),sehingga tempat2 yg seharusnya jadi bagian pariwisata dan cagar alam ato taman nasional,malah dieksploitasi utk pertambangan,buka perusahaan baru dilahan hutan yg masuk dlm jantung bumi seperti kalimantan dan sumatera,dll yg ujungnya2 cuma memperkaya sebagian umat aja. Contohnya Aceh,yg beberapa taon belakangan,Minyak dan LNGnya dikuras habis2an.perut bumi disekitarnya pun mulai kosong karna eksploitasi besar2an itu,dan akhirnya..praakkk,lapisan kulit itu patah karna kosong dan berat mengangkat beban kulit bumi yg diatasnya,lalu yg diatas bergeser kebawah,menyedot air laut,jadilah tsunami. Aku rasa cukup 1x bencana alam terbesar itu yg terjadi diIndonesia karna eksploitasi besar2an.Aceh juga punya TN juga kan?belakangan aku kurang tau,apa TN itu ikut rusak ato tidak. Seandainya komitmen pemerintahan yg jadi kepala keluarga negeri ini emang sadar utk melestarikan tempat2 tsb,mungkin jadi lain ceritanya.Pegawai negeri sipil Indonesia kan lumayan banyak,pasti ditiap daerah-daerah ada donk divisi kepariwisataan ato apalah namanya,mengingat indonesia tergolong negeri wisata,yaah mereka donk yg harusnya lebih gencar mengingatkan masyarakat ditempat mereka bekerja utk sadar wisata dan mau menjaga fasilitas.Ngapain negri ini bayar banyak karyawan tapi ga efisien?boros kan.Mereka donk yg hrs lebih banyak memberikan pendidikan kemasyarakat sekitar dlm hal kepariwisataan,utk taraf awalnya,menurutku. Aku justru lebih suka dengan adanya hukum adat yg kuat didaerah seperti Bali dan Padang selagi Indonesia blm punya komitmen kuat utk menjaga sumber2 kekayaan alam dan pariwisata dinegerinya sendiri dlm jangka waktu lama.Itu jauh lebih baik utk menjaga keaslian dan mempertahankan tempat2 yg masih ada utk anak cucu kita 10 ato 20 thn kedepan kelak,supaya merekapun bisa menikmati apa yg kita nikmati,seasli sekarang ini. Buatku cukup,info ato milis seperti ini aja sebagi informasi utk lebih mengenalkan alam indonesia.Lebih baik mencegah daripada memperbaiki,apalagi kalo udah parah,seperti banyak tempat wisata yg ada sekarang ini. Sori kalo beda pendapat,krn kenyataan yg aku lihat saat ini,dinegeri ini. Salam,Erika
--- On Tue, 6/30/09, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote: From: Ambar Briastuti <[email protected]> Subject: Re: [indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia.. To: "[email protected]" <[email protected]> Cc: "Indra Btara" <[email protected]>, [email protected] Date: Tuesday, June 30, 2009, 3:41 PM Mas Anas, Sari, Yosephine, Dani, Yuanz, Indra, Tari, Sebelumnya makasih bangets atas koreksi tentang World Heritage Sites di Vietnam yang tercatat punya 5 buah, bukan nol seperti di email sebelumnya. Buat temen2 yang pengen tahu daftar lengkapnya bisa dilihat disini http://whc.unesco. org/en/list Pertanyaan mudah : Apa sih yang membuat kita pengen mengunjungi sebuah tempat? Duluuuu saya percaya bahwa infrastruktur adalah kunci utama. Kalau ngga ada jalan, mana ada sih orang mo datang. Kalau ngga ada toilet mana ada sih orang mo singgah. Hingga kemudian saya mencoba backpacker, ke tempat-tempat yang dianggap "tidak layak" tadi. Ada yang nyari transport aja susah bukan main, apalagi tempat menginap. Seorang kawan di kaki Merapi pernah menjawab ragu ketika saya usulkan membuat jalur treking (ngga musti muncak). Tanyanya, "Trus mereka ini mau diinepin dimana mbak?". Saya bilang, "Yah di tempat penduduk, dengan fasilitas yang lebih baik". Dia masih sangsi, karena sebagian penduduk disana, antara rumah dan kandang ternak terkadang menjadi satu. Lantas saya cerita pengalaman saya trekking di Thailand Selatan, di Chiang Do. Tiga hari trek itu, saya menginap di gubuk beratap jerami, dengan tempat tidur beralas biasa. Karena dingin, cuma diberi sleeping bag tipis. Tidak ada listrik, jadi hanya lilin. Tidak ada kendaraan, jadi dipesankan pick up chevrolet dengan jalanan yang 'menyenangkan'. Kelima kawan saya (semuanya foreigners, dua dari Australia, dua dari Malaysia, dan satu Inggris) menyatakan berbahagia dengan kondisi ini. Walau tak jauh dari situ ada kandang babi dan kambing. Mereka tentu sudah 'diperingatkan' bahwa ini bukan sembarang travelling. Nah kembali ke infrastruktur. Siapa sih yang membutuhkan infrastruktur? Apakah jalan yang mulus akan menjadi jaminan tempat itu laris manis. Atau hotel dan kawasan menarik akan membuta pengunjung kesana? Belajar dari mentalitas bangsa Asia (maaf kalau tersinggung) , kita ini suka membuat dan membangun hal yang baru, tetap lupa memelihara. Padahal memelihara itu mungkin usahanya 10x dari membangun, karena membutuhkan kesabaran, passion dan kesungguhan. Kebanyakan infrastruktur pariwisata dibangun berdasar azas 'trickle down effect' yakni dari yang punya duit turun ke lapisan bawah atau pelaku wisata. Akibatnya begitu dibuatkan fasilitas, tidak ada yang merasa mempunyai, terlebih mau memelihara. Kan itu tanggung jawab pemerintah, mereka to yang bikin. Ngapain saya yang bersih2. Beda dengan wisata di Bali misalnya. Tanpa mengurangi peran pemerintah, di era awal pariwisata kebanyakan dilakukan oleh kawasan bawah dengan modal seadanya. Tergiur berita keindahan Bali, para turis datang dan memilih tinggal dengan penduduk. Lahirlah homestay, bed n breakfast atau hostel. Sungguh sangat sulit meyakinkan pubilk Indonesia bahwa tanpa infratruktur memadai-pun kita bisa. Bukannya menafikkan, tetapi itu bukanlah "the only factor" yang membuat sebuah negara maju di bidang pariwisata. Lihatlah Malaysia. Dibanding Indonesia, penginapan dan jalan disana bisa dibilang ngga ada apa2. Tapi karena terkoneksi dengan baik dan merasa percaya diri dengan asset mereka, toh dijual dengan mengesankan. Karena itu kenapa ada backpacker, bukannya traveller. Karena mindset seorang backpacker berbeda dengan traveller. Ia tidak mengharuskan transport yang mapan, penginapan yang empuk atau makanan yang super lezat. Mereka adalah orang2 yang bersedia menjadi bagian dari pangsa pasar yang berbeda dari "ordinary tourist". Kita jadi bertanya, apakah memang kita bisa dikatagorikan seperti itu? Jika tidak, berarti memang perpektif kita masih seperti dulu, yang mengandalkan mass-market, bukannya untuk adventures, ecotourism dan cultural yang lebih ke small group dan personal. Karena itu saya salut banget dengan upaya daerah yang mengeliat, mencoba memberikan wacana baru. Seperti Jember dan Blitar misalnya. Siapa sih yang mau kesana tiga tahun silam? Ibarat orang jualan soto klethak di Bantul, biarpun kudu masuk kampung, jalanan jelek tetep mau datang. Mas Anas : salut dengan blog kalimantan-nya, semoga makin rajin posting tentang potensi daerah. Ngga perlu malu, ngga perlu minder. Seperti Pak Petrus di Ujung Genteng, yang akhirnya membujuk orang untuk datang. Salam, Ambar B 2009/6/29 Indra Btara <indrabt...@gmail. com> mempromosikan dengan serius. Pengen banget usul kalo bisa fokus pada beberapa hal dulu, jangan sekaligus membangun seluruh tempat wisata. Misal 2-3 tahun depan kita fokus ke world heritage (seperti yang Mba Ambar bilang ada 7). Promosiin itu abis-abisan, perbaiki infrastruktur di 7 area tersebut, permudah penerbangan ke 7 area tersebut, persiapkan mental masyarakat di area tersebut, dll. Soalnya kalau terlalu banyak yang mau kita promosiin jadinya masing2 dipromo tapi kecil-kecil, nanggung. Giliran wisata budaya, di beberapa tahun ke depan. Pilih beberapa budaya yang layak kita jual. Kesannya pilih kasih, tapi kita perlu fokus dulu. Kalo sudah banyak yang datang toh nantinya mereka juga akan tahu bahwa masih banyak pilihan mereka.
