Kawans,

Terima kasih atas diskusinya yang menarik.....

Mas Indra Btara......saya setuju dengan analisanya!




   
 

Dulu saya pernah posting di milis
ini mengenai hasil riset psikografi wisatawan di/ke Indonesia .  Saya ubek2 di 
milis tapi koq sudah gak ada…..apa
gugling saya kurang jago ya…..

   

Kalau tidak salah, dari hasil
penelitian itu, ternyata psikografi wisatawan itu secara garis besar tergradasi
atas : 

   

1) Yang suka petualangan dan yang
penting experience, apa pun ditempuh asal mendapatkan experience. Tidak peduli
infrastruktur karena gali lubang kucing pun tak apa. Issue security tidak jadi
soal. Di benaknya : ‘Bom bali itu kemarin, hari ini bom nya lain lagi dan yang
kena pasti bukan saya’. Inilah wisawan yg tetap datang ke Bali dan menghidupkan
kembali Bali pasca bom Bali . 

   

2) Segmen2 wisatawan yg pingin
experience tapi juga tidak mau susah-susah banget, bisa bertoleransi thd
infrastruktur asal gak parah. Rada parno dengan issue security tapi toh disini
ada yg cukup nekad juga. Ke Aceh anyway utk diving walaupun kabarnya  OPM 
ngintip2….

   

3) Segmen2 wisatawan yg maunya
nyaman2 saja dan baru mau ke destinasi tertentu asal ada fasilitas sekelas
hotel bintang 5. Malas susah, lebih suka ikut tour. CInta kemapanan dan yang 
pasti2 saja. Paling takut dgn issue security. 


   

Untuk Indonesia yang alamnya
cantik, kulturnya eksotis tapi infrastrukturnya kurang dan sering dibom oleh
bomber Malaysia sehingga afiliasi2 AS menetapkan Travel Warning ke Indonesia,
maka target market yg harus digarap adalah segmen 1 dan 2. Mereka2 ini most
likely juga orang2 yang paling banyak menggunakan internet utk mencari data
& destinasi yang tepat. Independent traveler mayoritas ada di segmen2
ini.  

   

Saya pernah coba berdiskusi
dengan orang Dinas Pariwisata saat pameran, dan sama dengan pengalaman Diesty
([email protected]), dia menjawab bahwa independent travelers itu segmen
yg gak punya duit. Buat apa banyak2 diundang ke Indonesia…..lebih baik bidik
“big bucks” yang gak masalah tinggal di hotel bintang 5, walaupun cuma 1-2 hari 
tapi
dollar yg sudah dikeluarkan jauh lbh besar daripada independent traveler yg
sebulan di Indonesia.  

   

Si Bapak ini rupanya hanya pake
pendekatan segmentasi demografi dan bukan psikografi. Psikografi menjelaskan, 
orang2
di segmen 1 & 2 tidak selalu orang2 yg gak punya uang. Mereka rela bayar
guide mahal ke tempat berbahaya sebulan. 

   

OK, asumsikan segmen 1 & 2
memang banyak travelers hemat-nya  (budget travelers). Tapi para budget 
traveler in punya kelebihan lain :
mereka adalah marketer yang palng efektif karena mereka komunal,  suka sharing 
info dan photo di internet.
Jangan main2 dgn ‘words of mouth’ dari independent traveler yang diposting di
internet ini, karena info mereka paling dipercaya dibandingan iklan travel
agent. Merekalah sebenarnya penentu trend destinasi, kalau dari hasil diskusi 
mereka banyak yang bilang
jelek dan bahaya maka travel agent pun segan menjualnya. Jadi, membidik segmen
1 & 2 berarti membidik konsumen yang juga marketer. Membidik mereka berarti 
sekaligus melakukan marketing yg ampuh dgn biaya murah karena mereka otomatis  
melakukan marketing gratis : posting dan sharing di internet, dibaca jutaan 
prospective tourists di seluruh dunia. 

Untuk itu, harusnya marketer Depbudpar kudu aktif mantengin forum2 seperti 
Thorntree, Frommers, dlsb, seperti halnya salah seorang rekan IBP dari Thailand 
Authority Tourism mantengin IBP......  

     

Lalu, perlukah infrastruktur kalo
target marketnya para independent traveler? Perlu. Mayoritas wisatawan peduli
thd infrastruktur, walau tidak harus mewah. Dan setuju dgn Puguh, terutama
keamanan dan kejelasan administrasi, harga terpampang jelas, gak di pimpong
calo, dlsb. Untuk yang terakhir adalah intangible yang sangat mempengaruhi
experience, padahal experience-lah yg dicari independent traveler ini. 

   

Infrastruktur tidak selalu top
down seperti kata Mbak Ambar. Mungkin bisa dicontoh   Thailand dlm pembangunan
infrastruktur. Pemerintahnya membagikan seperti guideline infratruktur ke
daerah2nya, sehingga saat pemda atau msyarakat pingin bikin sarana swadaya 
masyarakat,
mereka sudah pny panduannya harusnya seperti apa. MIsalnya, toilet ada airnya,
terang dan tidak bau. (Mas Indra,  correct me if  I'm wrong). Di Indonesia, 
banyak tempat wisata tidak ada WC nya atau
jika dibangun maka tidak ada airnya. 

   

Mengenai renstra, terima kasih
buat Mas Edi Zhen yang peduli. Setelah  saya browsing karena penasaran, rupanya 
Indonesia baru
saja mengeluarkan UU no. 10 th 2009. tentang Kepariwisataan. Heran baru dibuat?
Hehe…….positive thinking lah……..lebih baik dimulai walau terlambat. Di dalam UU
tsb, renstra itu diterjemahkan dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
yg terdiri dari nasional, propinsi dan kabupaten ( kota ). Nah pendapat teman2 
semua rupanya
sudah cocok, tidak jauh dari yg dtetapkan UU. Masalahnya, tinggal bagaimana
renstranya….. Renstra daerah itu seringkali tidak mengindahkan renstra nasional
dgn alasan otonomi daerah. Yg dikejar Pendapatan Asli Daerah saja, tdk peduli
utk itu mengeksploitasi sumber daya alam sendiri dan tidak peduli dampaknya bagi
daerah lain. 

   

Kalau tidak salah ada forum para
pengamat pariwisata yang suka kumpul dan beri masukan utk kebijakan pariwisata,
dan pendapatnya didengar oleh pemerintah. Apa ya namanya? Ada yg bisa Bantu? 
Teman2 IBP pasti senang
bisa ikutan datang  dan sumbang saran
disana. Saya tertarik datang, dan hayuk temen2 kalo mau ikutan bareng……….

   

Kawans, berbeda dengan banyak
teman disini, I have faith to this country, including the government. Seorang 
teman
di pemerintahan cerita bhw sejak reformasi  sudah ada angin segar di 
pemerintahan….. Ada aliran yg malu
mbohongi rakyat, tapi ada jg yg susah berubah. 
Kebetulan kantor saya saat ini sedang berururusan dengan beberapa badan
pemerintahan. Dan yang paling mengejutkan saya : No money involved! Beneran
lho! Tidak sepeser pun….! Saya tahu karena saya ikut duduk bareng  
mendiskusikan  kerjasamanya. Yang paling
saya suka saat traveling adalah saat stereotyping yg ada di benak dikejutkan
oleh kenyataan. Dan temuan ini mengejutkan saya..…kejutan yang  meruntuhkan 
stereotyping saya tentang pemerintah yg suka morotin......kejutan yang 
menyenangkan  :-)




   Waktu kuliah, jadi ingat ada yang namanya proses “Rearrangement”
di Kimia Organik. Ketika satu senyawa bereaksi/ berubah jadi senyawa baru, maka
strukturnya akan berantakan……...chaos…........hingga dia meletakkan ulang 
“tulang-tulang”nya
tahap demi tahap menjadi struktur baru,  dan  mencapai
kestabliannya….   

Changes take time…..Do take part
of it…..





   Salam, 



Tari



YM ID : [email protected]

http://kuntarini.multiply.com

http://profiles.friendster.com/kuntarini

--- On Thu, 7/2/09, Indra Btara <[email protected]> wrote:

From: Indra Btara <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia..
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "Ambar Briastuti" <[email protected]>
Date: Thursday, July 2, 2009, 5:55 PM









        










Dear all,
 
Mari kita pilih Mba Ambar sebagai menteri pariwisata.... :) 
(berangan-angan suatu hari ada mentri yang muncul dari IBP... yuukk)
 
Teteep pengen ikut komentar lagi.
 
Pengen coba lihat dari sisi marketing (saya bukan ahli jadi maaf kalo salah).
Kalau kita posisikan tempat wisata sebagai sebuah produk yang mau kita pasarin.
Pasti akan kita lihat apa core competence dari produk itu, siapa target pasar 
yang mau dituju, dengan segmentasi, targeting dll. Lalu produk tersebut kita 
sesuaikan dengan kebutuhan target pasar tersebut.
Nah disini kan kelihatan bahwa siapa pasar dari suatu tempat wisata. Turis 
lokal, turis lokal berduit, turis bule, turis asia, backpacker, pencinta 
adventure, ecotourism dll. 
Tentunya tidak pasti bahwa saat kita tuju satu pasar tertentu, pasar yang lain 
ga boleh dateng, tetep boleh dong, tapi kita kan tetep fokus untuk 
memasarkannya.
Misal Borobudur. Ini target pasarnya luas banget dan pasarnya udah established. 
Tapi saat kita mau memasarkan ke target pasar baru, misal turis berduit dari 
Eropa. Berarti kita harus mengembangkan fasilitas dan memasarkan sesuai dengan 
target pasar baru tersebut. 

 
Trus kalau Orang utan di Kalimantan. Pasarnya adalah orang-orang yang sangat 
mencintai lingkungan, peduli kelestarian alam, dan tidak keberatan dengan 
tinggal di rumah penduduk, bikin tenda dihutan dll. Tentu tidak perlu kita buat 
hotel berbintang lima. Nilai adventure dan lingkungannya akan berubah sama 
sekali. Tapi tetap kita bisa jual dengan cara yang lain. Buat paket yang 
memudahkan wisatawan untuk datang dan guide yang jelas dan bertanggung jawab. 

Di Afrika, di salah satu taman nasionalnya yang pernah saya baca (belum bisa 
kesana sih... hehe), mereka buat penginapan-penginapan yang jenisnya seperti 
rumah tradisional atau tenda-tenda besar yang isi dan pelayanannya bintang 5, 
tanpa meninggalkan unsur lingkungan dan adventure-nya. Dan dijual mahal sekali 
paket wisatanya.

 
Artinya tidak setiap tempat wisata bisa kita perlakukan sama dalam 
pengembangannya, ada kekuatan produknya sendiri, target pasar yang dituju, 
lingkungan, masyarakat sekitar serta kebijakan pemerintah sendiri.
Dan salah satu unsur yang kuat adalah marketing. Bisa melalui word of mouth 
seperti yang dilakukan lewat IBP saat ini, bisa dengan iklan-iklan yang 
dilakukan oleh malaysia secara besar-besaran. Walaupun produk berkualitas 
akhirnya yang akan lebih diminati orang. Tapi kan tetep bagaimana turis mau 
datang kalau sama sekali engga tahu tentang tempat wisata kita. 

 
Toh kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan informasi, transportasi, paket-paket 
perjalanan yang ditawarkan (baik yang naik-naik gunung atau sekedar jalan-jalan 
dikota) semua memegang peranan penting yang membuat wisatawan akhirnya 
memutuskan untuk berkunjung. Tentu dengan tujuannya masing-masing.

 
Infrastruktur dan transportasi? Penting pastinya. Kunjungan ke bandung 
meningkat tajam dari malaysia gara-gara Air Asia. Kita-kita juga jadi hobi ke 
phi phi kalo mau cari pantai, karena bisa lebih murah dari pada ke lombok.

 
Keterlbatan dan mental masyarakat? Penting banget. Mereka harus merasa 
dilibatkan dan diuntungkan dengan adanya wisata. dan jangan sampai turis-turis 
merasa tertipu dan kecewa sama perilaku masyarakat yang memaksa dan mencoba 
ambil untung setinggi-tingginya. Jadi bad marketing. Mereka ga sadar pada 
akhirnya itu merugikan mereka sendiri.

 
Duh kayanya mulai ngelantur nih. Maaf kalo aga ga jelas dan kemana mana.
 
Tujuan akhirnya sih sama seperti semua, berharap wisata di indonesia maju. 
 
Thanks semua.
Indra


 
On 7/2/09, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote:







Mas Anas, Yosephina, Erika, Diesty, Adi

Sengaja saya memberikan contoh ektrem tentang infrastruktur karena
ingin menegaskan bahwa jika kita menunggu infrastruktur dibangun dulu
baru membangun citra dan imej, rasanya sudah terlambat beberapa

langkah. Saya percaya infrastruktur itu bisa mengikuti asalkan kita
membangun dengan mendengarkan nilai lokal. Poin yang saya ingin
sampaikan, janganlah kita menunggu infrastruktur dengan tidak
melakukan apa-apa. Atau kita menjadi backpacker yang 'manja'. Bukankan

ada tantangan tersendiri mencobai sesuatu yang susah, unknown, dan
terkadang membuat keingin tahuan makin besar?

Poin lain adalah seorang backpacker itu tidak musti kere. Ada nilai
etika yang saya pegang, yakni jika kita melakukan backpacking atau

kegiatan adventures, saya berusaha uang yang saya bayar dirasakan oleh
penduduk tanpa melalui beberapa tangan di tengah. Biarpun mahal, jika
uang itu adalah untuk yang saya tinggali, no problem. Jadi maaf buat
yang selalu mengatakan backpacker itu selalu murah. Sekali lagi saya

tegaskan tidak.

Saya berikan perbandingan antara trekking di Thailand. Dalam tiga hari
dalam kondisi 'tidak layak' tadi saya disuguhi kehangatan penduduk
suku Lisu. Ketidak nyamanan itu 'terbayar' dengan kenangan manis yang

tak akan saya lupakan. Berapa biaya? silakan ditengok disini
http://www.chiangdao.com/nest/natastrek.htm belum termasuk tambahan

transpor ke lokasi dan penginapan setelahnya.

Jika pemerintah hanya memberikan perhatian pada 'turis kaya' (ie
berduit memilih tempat yang "umum") itu juga cukup menggelikan, karena
terkadang bule miskin aja dikatagorikan kaya hanya karena ia bule.

Padahal pangsa pasar turis 'tak berduit' itu lebar banget, seperti
dari Malaysia, Singapura juga Vietnam. Apakah mereka kaya? wah saya
kira ya mereka ini samalah dengan kita, memanfaatkan free admin fee
dari Airasia atau Tiger Airways. Seorang uncle Ho -supir taksi di

Singapura bahkan ingin berlibur di Jogja setelah ada direct flight
Changi-Adisucipto.

Sebenarnya saya agak pesimis dengan pemerintah. Saya merasakan
keputus-asaan yang sama dengan teman-teman. Harapan saya, presiden

manapun yang terpilih bakal menyadari kekurangan ini. Kita punya
potensi tapi tidak menyadari, atau tidak tahu?

Terus-terang ada poin tersembunyi yang saya ingin capai. Yakni untuk
adik-adik yang memulai backpacking, terutama yang kuliah, sekolah atau

baru pengen mencicip. Mereka diberi kesempatan untuk melihat
negara/tempat lain, sebuah kesempatan yang langka. Saya berharap dari
perjalanan backpacking, akan melahirkan calon-calon birokrat di masa
datang yang lebih peduli dan punya visi kedepan. Apalagi jika mereka

mau mencoba 'ngere' merasakan kegetiran masyarakat bawah. Mungkin
menjadi tidak serakah, mungkin menjadi lebih bijak, mungkin menjadi
seorang peduli lingkungan. Mungkin meluaskan pandangan tentang
Indonesia, melihat dari luar, mencintai lebih dalam. Jadi jangan malu

posting catper yah?

Jika saya bermimpi semua orang jadi backpacker, wah bakalan ambruk
ekonomi. Betul, tidak semua orang bisa mengikuti backpacker yang
sesungguhnya. Setiap orang punya level sendiri-sendiri, dan itu saya

hormati. Ohya sedikit cerita, saya sendiri udah menikah dan malah
makin kenceng backpacking karena mantan pacar kebetulan berhobi yang
sama. Bagi saya, menikah dan (semoga) punya anak tidak akan mengganti
life style backpacking. Ada seorang kawan bilang, jika pengen tahan

sakit ya sering-seringlah keluar. Semakin menghadapi kondisi tak ramah
semakin terbangun antibodi. Nah cuman yang kayak gitu kan tidak
berlaku pada semua orang. He he he...

Backpacker hanya salah satu alternatif saja, yang lebih peduli pada

ecotourism, adventures dan cultural. Tapi bukan berarti orang yang
ngga backpacker juga ngga peduli. Semua kembali kepada kondisi fisik,
kemauan dan seberapa jauh keingin tahuan menjelajah dunia dan
Indonesia.


Salam,
Ambar B

2009/6/30 Yosephine Rima <[email protected]>:

> Mba Ambar
> Saya sendiri ga masalah dengan infrastruktur & transport yang seadanya
> karena memang disitulah keluar jiwa seninya seorang backpacker.
> Pernah menginap di gubug yang cuma dilapisin gedeg yang super tipis dengan

> kamar mandi terbuka dan cuma bermodalkan sarung dan malamnya hujan lagi!
> tapi semua dibawa senang hati karena yang berangkat rombongan nekad modal
> dan jiwa.
> Tapi masalahnya yang mau menikmati keindahan Indonesia yang bejibun kan ga

> hanya golongan backpacker aja.












    
    







 






      


      

Kirim email ke