Teman, 

Saya malah takjub kalo ada bangsa Indonesia, apalagi traveler, yang tidak marah 
melihat hasil budayanya dicuri dan diaku sebagai milik Malaysia. Saya mulai 
menghargai Indonesia sejak saya bisa traveling, ketika saya selalu mencari 
tarian tradisional di tiap negara yang saya kunjungi. Ternyata tidak semua 
negara punya tarian dan kebudayaan tradisional, sebut saja negara-negara di 
Amerika Utara, Singapore, Hongkong, Malaysia (notabene tarian Sumatera & 
Dayak), Phillipine (yang sangat western), etc....etc...... Maka saya pun jadi 
sadar tidak semua negara sanggup punya budaya yang adiluhung seperti Indonesia, 
 bisa dibayangkan rasanya ketika itu dicuri. 

Indonesia adalah THe Biggest Archipelago In The World dengan 17.000 pulau 
lebih, memiliki sekitar 400 etnis dan 700 bahasa lokal. Berapa jumlah hasil 
"work of art" dari ratusan etnis tsb? Ribuan tarian, ribuan literatur, puluhan 
juta kerajinan tangan, dlsb. Jika kita harus mempatenkan satu demi satu, bisa 
dibayangkan berapa biayanya dan saya tidak heran kalo ternyata nanti ada yg 
'kelupaan' dipatenkan saking banyaknya. Jika harus dipatenkan, maka yang paling 
tepat yang melakukannya adalah pemerintah daerah. Tapi, apakah pemerintah pusat 
dan daerah punya dana utk mempatenkan hasil budaya sebanyak itu? Apalagi 
Indonesia adalah bangsa yang artistik, selalu saja ada hasil budaya yang 
diciptakan, hingga saat ini pun. Silakan pergi ke STSI (Sekolah Tinggi Seni 
Indonesia) Solo dan tanyakan tarian klasik apa saja yg baru diciptakan. 

Karena itu, kalau tidak salah UNESCO melarang mempatenkan hasil budaya (CMIIW) 
untuk menghindari negara yang kaya mencuri dan mempatenkan hasil budaya negara 
lain yg kebetulan tidak punya uang utk mempatenkan, seperti Malaysia kepada 
Indonesia. Oleh karena itu, Singapore bisa bebas "memperdagangkan" budaya China 
& India sebagai komoditi pariwisata, tapi tidak bisa meng-klaim nya sebagai 
hasil budaya warisan leluhur Singapore. Beda dengan Malaysia yang tidak punya 
international conduct/attitude, meng-klaim bahwa Tari Pendet sebagai hasil 
budaya tanah melayu (secara historis, Bali tidak pernah berhasil dikolonisasi 
Jawa, apalagi menjadi tanah melayu??)

Lalu apa yang sudah dilakukan generasi muda? Sudah banyak sekali! Saat ini di 
SMA-SMA ekskul tarian daerah sudah hype, sama hype nya dgn cheer leaders, 
mahasiswa2 dan rombongan kesenian pagelaran di negara2 asing, Mbak Indah & Mas 
Iwan menyebarkan stiker gratis :"Travel Warning : Indonesia, Dangerously 
Beautiful", dan saya terharu membaca bagaimana puluhan siswa SMA bertekad 
pagelaran memperkenalkan angklung sebagai heritage Indonesia berkeliling 
negara2 Eropa dengan modal tiket one way saja, tidak tahu bagaimana bisa pulang 
nanti, etc......etc......Sudah banyak sekali! Dan harus ditambah peran serta 
dari teman-teman semua......

Hasil akhir dari semua ini adalah positioning di benak masyarakat 
international. Saat ini yg terjadi adalah perang positioning dlm marketing 
pariwisata. JIka kita semua sering2 posting "underground" mengenai kekayaan 
budaya Indoensia di web2 traveler spt wikitravel, tripadvisor, dlsb, maka di 
benak dunia bahwa Tari Pendet akan tetap milik Bali dan Wayang tetap milik Jawa 
(Indonesia). 

Dari blog Multiply saya, saya sering mendapatkan pertanyaan2 dari orang asing 
yang kebetulan mampir, salah satunya kontributor majalah Eropa dan seorang 
mahasiswa S3 Antropologi berkebangsaan Australia yang menanyakan tentang 
Tabuik. Karena lokasinya yang berdekatan, bukan tidak mungkin Tabuik akan 
diklaim sebagai milik Malaysia (walaupun rasanya tidak mungkin, krn utk itu 
Malaysia harus create upacara Tabuik yg biayanya besar. Lebih murah menyuruh 
orang menari Bali, bukan?) Tapi jika nanti Tabuik dicuri Malaysia, setidaknya 
saya bisa berharap warga Eropa dan Australia yg pernah baca tentang Tabuik akan 
tertawa keras, respon yang sama ketika saya melihat di TV bahwa Malaysia 
mengklaim Tari Pendet dari tanah Melayu 

Karena pernah menulis tentang budaya Sumatra Barat, dan budaya Negeri Sembilan 
(Malaysia) berasal dari Sumatra Barat, saya tidak heran jika suatu saat nanti 
saya diklaim oleh Malaysia sebagai penulis asal Malaysia. Untuk itu, saya sudah 
siap2 untuk konferensi pers : Akte kelahiran, kartu keluarga, KTP dan paspor 
keluaran Jakarta Selatan, INDONESIA. 
 
Salam, 


Tari

YM ID : [email protected]
http://kuntarini.multiply.com
http://profiles.friendster.com/kuntarini


--- On Sat, 8/22/09, Samuel Nasada <[email protected]> wrote:

> From: Samuel Nasada <[email protected]>
> Subject: Re: [indobackpacker] Malaysia Klaim Tari Pendet: Sikap Kita?
> To: [email protected]
> Date: Saturday, August 22, 2009, 4:38 PM
> Kebetulan saya sedang jalan2 di
> Malaysia. Saya terkejut melihat Kuala Lumpur begitu majunya
> dibanding Jakarta. Di sana ada monorel, light rail train,
> jalanan rapi dan bersih, dari KL ke Penang 4 jam perjalanan
> semuanya di jalan tol. Waktu saya ke museum Penang, semua
> benda yg dipamerkan ada penjelasan yg rapi dalam bahasa
> Melayu dan Inggris. Beberapa barang Indonesia juga
> dipamerkan, antara lain batik pekalongan yang dipadukan
> dengan baju kebaya mereka. 
>  
> Waktu saya ke museum kota tua di Jakarta, banyak lampu yang
> mati, informasi ttg suatu benda sejarah kadang tidak lengkap
> atau tidak ada sama sekali, tulisan dilarang foto ada di
> mana2 tapi orang2 kita sibuk berfoto dan memegang2 barang2
> antik yg dipamerkan. 
>  
> Bagi para turis, jelas Malaysia lebih nyaman. Pergi ke
> mana2 menggunakan bis antarkota yang di dalamnya hampir
> seperti kursi pesawat terbang kelas bisnis, sangat nyaman.
> Terminal utama di KL pun tertata rapi dengan petunjuk2 yg
> jelas untuk setiap bis.
>  
> Indonesia masih harus belajar banyak. Benar sekali bahwa
> budaya kita jauh lebih kaya daripada mereka, tapi
> penanganannya buruk sekali, baik dari pemerintah maupun para
> warga pemilik budaya itu sendiri. Kita lebih mudah terbakar
> emosi, atau rasa nasionalisme yg berapi-api, tapi
> pengejawantahannya tidak ada. Mungkin kah generasi kita bisa
> memulai sesuatu untuk menjadi lebih baik?
> 
> --- On Fri, 8/21/09, Jimmy J.S <[email protected]>
> wrote:
> 
> 
> From: Jimmy J.S <[email protected]>
> Subject: [indobackpacker] Malaysia Klaim Tari Pendet: Sikap
> Kita?
> To: [email protected]
> Date: Friday, August 21, 2009, 12:14 AM
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> Begitu mendengar kabar bahwa malaysia meng-klaim tari
> pendet dari mereka langsung saja membuat masyarakat
> Indonesia membikin suasana rame twitter & fb. Cacian,
> makian & sumpah serapah dilontarkan didunia maya ini.
> Bahkan saya pribadipun sempat melontarkan " dasar malingasia
> " ( dikit emosi ).
> 
> Tapi akhirnya saya sadari terkadang bangsa kita begitu
> mendengar kabar bahwa kebudayaan kita dicaplok malaysia
> langsung emosi, marah tapi setelah itu tidak ada tindakan
> untuk mempertahankan atau melestarikan budaya bangsa ini.
> Kita tidak pernah tahu sampe kapan budaya bangsa Indonesia
> bisa bertahan ditengah modernisasi dunia saat ini, saya
> sempat berpikir kenapa malaysai begitu "bernafsu" ingin
> merebut beberapa warisan asli budaya bangsa kita ? apakah
> mereka tidak punya budaya asli malaysia seperti kain,
> tarian, makanan ?? saya ga tau jawabannya.
> 
> Tapi yang PASTI saya ketahui adalah malaysia benar-benar
> tahu bahwa kebudayaan Indonesia mulai dari tarian, kain
> tradisional, rumah adat, makanan tradisional akan mempunya
> nilai yang luar biasa mahal jika dikelola dengan baik,
> malaysia tahu benar bahwa ketika sebuah tarian bisa menjadi
> identitas unik sebuah bangsa maka akan menarik pariwisata,
> malaysia tahu benar bahwa kain batik bisa menjadi peluang
> bisnis yg bagus. Setelah tari reog, kain batik, tari pendet,
> angklung apalagi yang akan diklaim ??? jawabannya TIDAK
> TAHU. 
> 
> Buat teman2 yg berada diluar sana yg suka traveling
> kepenjuru dunia banyak hal yg bisa kita sampaikan kepada
> dunia bahwa INDONESIA bangsa yg mempunyai warisan budaya
> yang luar biasa. STOP mencaci, memaki & bersumpah
> serapah kepada tetangga kita. Mari kita tunjukkan kepada
> dunia bahwa kita bangsa yg berbudi luhur, tunjukkan dengan
> cara yang lebih elegan yang akhirnya dunia akan tahu seperti
> apa INDONESIA yg sesungguhnya.
> 
> JAYALAH INDONESIAKU. ......... ......... .........
> ......... ........
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> Indonesian Backpacker Community
> visit our website at http://www.indobackpacker.com atau bisa juga di 
> http://www.backpacker-indonesia.info/
> 
> 
> Silakan membuka arsip milis 
> http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   untuk
> melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.
> 
> No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
> Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 
> 
> Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak
> perlu dan kutip bagian yang perlu saja. 
> 
> Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar
> ataupun photo, tetapi mohon indahkan tentang hak cipta dan
> ukuran file. 
> 
> Cara mengatur keanggotaan di milis ini :
> 
> Mengirim email ke grup : [email protected]
> (moderasi penuh)
> Mengirim email kepada para Moderator/Owner: 
> [email protected]
> Satu email perhari: [email protected]
> No-email/web only: [email protected]
> Berhenti dari milist kirim email kosong : 
> [email protected]
> Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
> [email protected]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
>     mailto:[email protected]
> 
> 
>



      

Kirim email ke