aih, jadi ikutan gatel ni ama persoalan Tari Pendet. Dari berita yang
dikeluarkan Antara News tersebut, kayaknya malah makin bikin imej Malaysia 
makin ancur aja deh. Masak negara sebesar itu yang udah mau dibikinin iklan ama 
stasiun TV yang sangat besar - si Discovery Channel
- tidak menempatkan orang yang bener-bener tau apa tujuannya dan apa
maunya pemerintah negaranya di tim Discovery Channel sebagai quality
assurance, untuk memantau kualitas dan memastikan si Discovery Channel
ga produksi hal-hal yang engga-engga. Apakah orang ini tidak
mendapatkan pengarahan yang jelas dari pemerintahnya? Ato dianya aja
yang kurang paham ama budayanya dan efek jangka panjangnya ya? Kalo
dari berita itu, kesan buat saya malah mau nyalah2in pihak ketiga. Si
Discovery Channel katanya udah mengirimkan surat permintaan maaf ke
Departemen Pariwisata & Budaya Indonesia. 

But anyway, saya setuju bahwa kita sebagai orang Indonesia
juga harus mulai kenceng-kenceng mempromosikan hasil budaya dan
mengabadikan berbagai kekayaan kultur kita. untuk berpangku tangan dan
membiarkan orang mendapatkan kesan yang salah, rasanya kok salah juga. 

Saya
jadi keinget aja ama pelajaran sejarah di SD tentang divide et impera,
buset... ternyata efeknya ampe sekarang pun kita jadinya terpecah-pecah
ama saudara serumpun. 

Salam,
venus

--- On Wed, 8/26/09, ambar.briastuti <[email protected]> wrote:

From: ambar.briastuti <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Re: Just an Idea [was Malaysia Klaim Tari Pendet]
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 26, 2009, 9:10 AM






 




    
                  Yang ironis adalah, salah satu program dokumenter Enigmatic 
Malaysia yang disiarkan Discovery Channel itu berjudul The Melakan Portugese — 
Preserving Their Heritage memenangkan Sarasvati Award 5th Special Jury Prize 
pada 6th Bali International Film Festival 2008 on Oct 11.



Udah saatnya membuat dokumenter yang mengangkat budaya dengan serius. 



===========



Pendet dance ad not produced by Malaysian govt



Kuala Lumpur (ANTARA News) - The Balinese Pendet dance advertisement in a 
Malaysian tourism promotional program, which sparked anger in Indonesia, was 
not produced by Malaysia`s culture and tourism ministry (KRU) but by the 
Singapore-based Discovery Channel, a Malaysian official said.



"The ads in a series of documentary films in the Enigmatic Malaysia program 
were not produced by us but by the Discovery Channel," President and Chief 
Executive Officer of KRU Group Norman Abdul Halim said here on Tuesday.



Halim, who was accompanied by Ketut Wiryadinata of the Indonesian Ministry of 
Tourism and Culture, was explaining the matter to the Indonesian press at the 
Indonesian embassy in Kuala Lumpur.



"We knew that there were protests and anger in Indonesia only after Indonesian 
newsmen contacted us yesterday," Halim said.



He said that his side had contacted the Discovery Channel which he claimed had 
also withdrawn the promotional ad and replaced it with a new one.



There were six documentary films in KRU`s Enigmatic Malaysia program broadcast 
by 23 countries throughout the world. The themes of the documentary films are 
"The Malakan Portuguese - Preserving Their Heritage," "Bajau Laut - Nomad of 
The Sea", "Keris - The Myth & the Magic," "Kellie`s Castle - Myth & Mystery", 
"Batik" and "Wau".



"On the Batik (traditional Javanese cloth), the documentary film clearly 
explained that Malaysian batik originates from the Javanese batik," Halim, who 
claimed his parents are descendants from North Sumara, said.



Ketut Wiryadinata admitted he had watched the documentary film on batik. He 
said that the documentary film produced by KRU revealed the fact that the 
Malaysian batik originated from Java.



"We have identified in our meeting today (with Halim) the point of 
misunderstanding on the issue where Malaysia was believed to have claimed 
Bali`s Pendet dance. This is not true at all because the promotional ad was 
made by the Singapore-based Discovery Channel. We will report this to the 
minister," he said.(*)



COPYRIGHT © 2009



--- In indobackpacker@ yahoogroups. com, "puguh_imanto" <puguh_imanto@ ...> 
wrote:

>

> 

> Temans,

> 

> Saya masih belum punya jawaban yang pasti mengapa produser Rumah Produksi 
> yang jualan program dokumenter ke tivi berlangganan tidak terlalu antusias 
> memproduksi tema-tema dari Indonesia. Ato si channel tivi berlangganan yang 
> tidak antusias untuk membeli sehingga tidak ada yang mau memproduksi.

> 

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke