Clear DayTANDA PERIGATAN ITU HILANG DICURI 
Kalau kebetulan membaca berita-berita tentang kecelakaan bus yang menimpa 
Mudika Paroki Bunda Hati Kudus, (10/7) Di Desa Bantar Selang (bukan Bantar 
Pelang), Kec. Cikidang, Sukabumi, pasti kita turut bersedih, kecelakaan 
tersebut telah merenggut nyawa. Dan kita akan lebih miris lagi jika membaca 
laporan Komar, salah satu karyawan saya, yang kebetulan turut membantu evakuasi 
korban di lokasi. Begini ceritanya….

 Jam 10 pagi itu, kami sedang menunggu tamu di Pendopo (tempat menunggu 
tamu-tamu yang akan berarung jeram), tiba-tiba datang seorang tamu naik ojek 
dan tergopoh-gopoh menginformasikan bahwa bus yang ditumpangi group mereka 
masuk jurang, segera saya kirim beberapa orang dan tim medis…saya pergi ke 
operator lain untuk memberitahukan tamunya kecelakaan (kebetulan kecelakaan 
tersebut menimpa tamu ‘tetangga’ kami) ……kemudian mendengar cukup banyak korban 
yang luka parah, saya kirim lagi semua sisa tim medis , truk dan kendaraan lain 
untuk membawa korban ke RS….

 Tragisnya bus masuk jurang persis di tempat kami meletakkan spanduk peringatan 
‘AWAS, TURUNAN TAJAM, BERBAHAYA!’ yang  hilang dicuri orang beberapa waktu yang 
lalu……….

 Besoknya saya cek tanda-tanda peringatan yang dipasang DLLAJ, juga hilang, 
konon kabarnya besinya dijual ……..

 Memang banyak variable yang menjadi penyebab kecelakaan yang sudah 2 kali 
terjadi di tempat tersebut, ada cerita tentang rem yang blong, kemampuan supir, 
jalan licin, turunan tajam dan masih banyak lagi…tanda-tanda peringatan di 
jalan juga bisa jadi salah satu upaya mengeliminir resiko tersebut…tapi apa 
daya…masyarakat kita (para pencuri rambu) belum menyadarinya….

 Amalia Yunita

 

Kutipan dari Kompas

Bus Masuk Jurang, Tiga Mudika BHK Tewas 

Sukabumi, Kompas - Tiga anggota Muda-mudi Katolik atau Mudika dan pendampingnya 
dari Paroki Bunda Hati Kudus, Kemakmuran, Jakarta Pusat, Minggu (10/7) siang, 
tewas akibat bus PO Fajar B-7949 BW yang mereka tumpangi masuk jurang di 
Kampung Ciparigi, Desa/Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Sementara, 28 
orang lainnya luka berat dan ringan.

Para korban adalah bagian dari rombongan Mudika Paroki BHK yang akan menuju ke 
Palabuhanratu, Sukabumi. Rombongan menggunakan satu bus dan dua kendaraan 
pribadi.

Menurut seorang anggota rombongan yang tak mau disebut namanya yang ditemui di 
RS PMI Bogor, kecelakaan itu terjadi di sebuah tikungan. Saat itu bus dengan 31 
penumpang tersebut melaju paling depan. Di salah satu jalan yang menikung 
tajam, tiba-tiba bus yang dikemudikan Sarifudin (27), asal Desa Tanjung Baru, 
Cikarang, Bekasi, terperosok ke jurang yang dalamnya 15 meter. Rita (30) dan 
Nico (24) tewas di tempat kejadian, sementara Willy (22) meninggal di RS 
Palabuhanratu.

Sedangkan korban luka-luka segera ditolong warga setempat bersama petugas dari 
Kepolisian Sektor Sektor Cikidang dan Kepolisian Resor Palabuhanratu. Para 
korban kemudian dibawa ke RS Palabuhanratu, beberapa rumah sakit di Sukabumi, 
dan RS PMI Bogor.

Menurut Wakil Ketua Dewan Paroki BHK Kiki, tiga korban tewas segera dibawa ke 
Jakarta. Demikian pula korban lainnya yang menderita luka berat dan ringan.

 

Kutipan dari Republika Online:

Kecelakaan juga terjadi di Sukabumi. Musibah tersebut menimpa rombongan jemaat 
Gereja Mudikan Paroki Kemakmuran, Jakarta Pusat. Bus yang ditumpangi rombongan 
terperosok ke jurang sedalam 50 meter di Kampung Bantar Pelang, Desa Cikidang, 
Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Ahad (10/7) pukul 11.00 WIB. 

Akibat kecelakaan tunggal itu, tiga orang penumpangnya tewas dan 10 orang luka 
berat. Berdasarkan informasi yang dihimpun Republika, bus naas bernopol B 7949 
BW tersebut mengangkut sekitar 30 penumpang. Rombongan tersebut, sedang menuju 
lokasi wisata Arung Jeram Sungai Citarik di Kecamatan Cikidang. Sebelum sampai 
ke tempat tujuan, sekitar 500 meter dari lokasi wisata, tepatnya pada sebuah 
turunan, bus yang disewa dari PO Fajar tersebut tidak bisa dikendalikan. 

Dugaan sementara, kecelakaan itu akibat rem blong. Dampaknya, bus sarat 
penumpang itu terperosok ke dalam jurang sedalam 50 meter. Sebagian penumpang 
terlempar dari tempat duduknya. Sesaat setelah kejadian, warga setempat 
termasuk para petugas rafting Citarik ikut membantu mengevakuasi para korban.

Tiga korban dilaporkan tewas seketika masing-masing bernama Niko (26 tahun), 
Willy Brodus (31) dan Rita. ''Seluruh korban dilarikan ke RS Palabuanratu. 
Namun karena tidak bisa menangani semuanya, enam orang korbvan dilarikan ke RS 
Asyifa Kota Sukabumi,'' ujar Sandra (25), saksi kejadian.

Kasat Lantas Polres Sukabumi, AKP Purwanto, ketika dihubungi membenarkan 
kejadian tersebut. Namun demikian, pihaknya belum bisa memberikan data lengkap 
karena masih dilakukan penyelidikan di lokasi kejadian.

 








25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donatur IndoFirstAid melalui
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O. 
Kirimkan pesan melalui [email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke