Ya udahlah kalau begitu! Gak usah mengeluh apalagi protes ya. Jalani aja Kalau mau ikut ya ikuuut kalau gak ya udah Emang gue pikirin
Gitu ajalah ya. Kalau gak punya duit belajar aja lewat internet , gak bayar apalagi yang bisa on line terus dari kantor . Kita juga gak usah mikirin rekan-rekan kita yang gak punya internet dan juga gak punya banyak duit. Iyakaaan ? Tetapi mengapa hatiku sedih ya??? salam buat TS yang tercinta semuanya kemala --- Ridwan Gustiana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > hmmmmmm menarik juga yah......membahas tentang > 'mahal" > > kalau aku pikir sih "mahal mah relatip" (maklum > orang > sunda) > > sekarang kan semua ada harganya...tapi kadang gak > semuanya berharga....hehehehhe > > mau ngeluh juga susah... dokter tea > peodal....hehehehe.... > > yah mungkin bener kata mas fabian, di timbang aja. > perlu apa gaknya kursus atau seminar itu di > jalanin....tokh gak ada peraturan kalau gak ikut > kursus lagi dipecat jadi dokter hehehhehe..cuma > mungkin harus ikut perkembangan aja.. dan itu bisa > di > lakukan dengan banyak cara.. baca, nonton (asal > jangan > nonton sinetron)....internet.. > > salam > > > > > --- Fabian <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Dear Mbak Kemala, > > > > Mohon maaf saya menyebut Mas dalam e-mail > > sebelumnya. > > Kalau boleh tahu, Mbak ini PN dimana yaa.....? > > Kebetulan saya bekerja di suatu perusahaan. > > Pengalaman saya menunjukkan bahwa saya tidak perlu > > menjadi ahli bedah syaraf atau ahli penyakit dalam > > untuk dapat memberikan kontribusi saya bagi > > perusahaan. Saya mengembangkan diri dengan banyak > > membaca dan browsing internet untuk mendapat > > informasi baru. Namun saya merasa ketertarikan > luar > > biasa terhadap occupational health dan saya > > mendalaminya melalui sharing kepada sesama dokter > > yang bekerja di perusahaan lain dan sesekali ikut > > pertemuan para dokter. Saya juga mengikuti kursus > > kompetensi dan mendapat manfaat yang sangat > bernilai > > dalam pekerjaan dan pengetahuan saya terhadap > > pekerjaan saya saat ini. Sebelumnya saya adalah > > praktisi yang sangat menyenangi emergency medicine > > dan advance care. Kesenangan itu masih bisa > berjalan > > beriringan dengan tugas dan tanggungjawab saya > > sekarang........enak kan....? Saya juga bisa > menjadi > > trainner dan membagi ilmu buat kolega. > > Jadi Mbak Kemala, jangan putus arang........ Look > at > > the bright side......Make one main goal and > > breakdown into several options and decide the > > priority....... > > Dokter kan juga manusia.....dan dokter sekarang > kan > > gak "sugih" semua, makanya uang yang saya tabung > > saya gunakan untuk suatu pelatihan atau training > > yang betul-betul saya perlukan dan bermanfaat > untuk > > pekerjaan saya. Sukur-sukur dibayarin perusahaan > > atau dapet sponsor. > > Kalau ada kasus bedah saraf atau ortopedik, > > yaaa.....kita konsulkan kepada yang ahlinya saja, > > dan kita cukup menguasai deteksi dan penanganan > awal > > serta mampu mentransfer ke fasilitas kesehatan > yang > > lebih baik. > > > > Salam, > > Fabian > > > > > > -----Original Message----- > > From: [email protected] > > [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of > > kemalaz yapas > > Sent: Thursday, July 28, 2005 12:07 PM > > To: [email protected] > > Subject: RE: [indofirstaid.com]: minta info PKB > IPD > > (Sekedar Keluhan ) > > > > > > Hallo mas Fabian! > > Tapi maaf ya mas saya bukan mas tapi "mbak". > > Mungkin benar pendapat anda kalau membayar kita > akan > > lebih serius mengikuti seminar , dan dapat ilmu > dari > > seminar , tapi kalau terlalu mahal bukannkh kita > > jadi gak jadi mengikuti seminar ? Jadinya malah > gak > > dapat ilmu sama sekali. Kita semua tahu bahwa > dokter > > umum yang pintar akan sangat memnabtu para dokter > > spesialis karena kalau mereka merujuk pasien , > > mereka telah mempersiapkannya dengan benar. > Bukankah > > seharusnya para spesialis membantu para dokter > umum > > agar jadi pintar dengan membagi pengetahuan mereka > > supaya dokter umum bisa banayk membantu (saling > > bekerja sama?) Coba anda lihat seminar sehari > bedah > > syaraf yang akan datang , yang banyak ditujukan > > untuk dokter umum , biayanya 250.000 rp. > > > > salam > > > > kemala > > > > Fabian <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Dear Mas Kemala, > > > > Sekedar pendapat..... > > Dokter umum merupakan dokter yang seharusnya serba > > tahu walaupun tidak mendalami hanya di satu > bidang. > > Spesialis atau dokter ahli adalah konsultan yang > di > > Indonesia adalah dokter umum yang mengambil > keahlian > > khusus dan mendapatkan pengakuan dari institusi > > pendidikan lanjutan. Seharusnya dokter konsultan > > hanya dimintakan pendapat dan rencana > > penatalaksanaan penderita untuk selanjutnya > > mengembalikan penderita ke dalam pengawasan dokter > > umum. > > Kemajuan pengetahuan selain didapat dari sekolah > > formal dapat melalui seminar maupun pelatihan. > Namun > > pada saat seminar seringkali juga peserta hanya > > datang dan mendengarkan tanpa melakukan interaksi. > > Umumnya karena tidak memiliki bahan catatan, hasil > > penelitian untuk di argumentasikan, pengalaman > > dilapangan untuk di share, maupun keberanian untuk > > mengacungkan tangan dan bicara dihadapan sejawat > > yang kita tidak tahu apakah memiliki level > > pengetahuan yang seimbang. Apakah ini menjadi > > efektif walaupun sudah keluar uang untuk bisa > hadir? > > Lain cerita bila seminar atau pelatihan itu > gratis, > > kan gak ada beban untuk mengetahui dan membawa > > pulang hasil seminar atau diskusi untuk bahan > follow > > up. Lebih asik berburu cendera mata dari pabrikan > > obat sponsor..... > > Saat ini pendidikan untuk dokter mengarah kepada > > pendidikan andragogi (bisa juga campuran) dimana > > bahan yang akan dipelajari dipertukarkan kepada > > sejawat sehingga informasi menjadi berkembang > tanpa > > kita menjadi malu untuk bicara. Lembaga pendidikan > > dan pelatihan tertentu dapat memfasilitasi > kebutuhan > > ini dan jumlah peserta juga tidak banyak (supaya > > bener-bener efektif). Nampaknya dimasa mendatang, > > kemampuan seseorang akan dihargai atau akan > memiliki > > nilai berdasarkan kompetensinya dan bukan atas > dasar > > sertifikatnya semata-mata. Sertifikat atau ijazah > > belum tentu dapat menunjukkan kompetensi > seseorang. > > Maka ada baiknya menabung dan pandai-pandai > memilih > > pelatihan dan atau kursus yang mendapatkan > > kompetensi dibandingkan sertifikat kepesertaan > > semata. Kompetensi ini akan menjadi memiliki harga > > yang sesuai dengan uang yang kita keluarkan. Namun > > pada saat menjalaninya tentu saja harus proaktif > > karena yang menentukan kemajuan diri kita adalah > > kita sendiri. Bukan begitu.......? > > > > Salam, > > Fabian > > > > -----Original Message----- > > From: [email protected] > > [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of > > wansuzusino syaripudin > > Sent: Thursday, July 28, 2005 6:46 AM > > To: [email protected] > > Subject: Re: [indofirstaid.com]: minta info PKB > IPD > > (Sekedar Keluhan ) > > > > > === message truncated === ____________________________________________________ Start your day with Yahoo! - make it your home page http://www.yahoo.com/r/hs ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12kahneu1/M=327951.6903888.7846657.1589681/D=grphealth/S=1705189881:TM/Y=YAHOO/EXP=1122702847/A=2896148/R=0/SIG=11betrp34/*http://www.facetheissue.com/anorexia.html ">Dying to be thin? Anorexia. Narrated by Julianne Moore</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> 25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com ======================================= Donatur IndoFirstAid melalui Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O. Kirimkan pesan melalui [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

