Hallo mas Agung dan TS semuanya.
 
Saya senang keluhan saya didengar dan ditanggapi banyak pihak walau mungkin bukan pihak yang "berwenang" dan mungkin juga bukan pihak yang "memihak" saya.
 
Saya mengerti kalau yang "mahal" itu adalah pelatihan atau training apa lagi yang bersifat International seperti institusinya mas Agung yang standartnya dolar. Lagian untuk suatu pelatihan butuh bahan- bahan dan alat yang kadang-kadang hanay sekali pakai .
Tapi yang saya maksud semula adalah seminar atau simposium yang nggak butuh banyak bahan dan juga bisa dipakai berulang seperti LCD , USB atau apalah . Kenapa harus diadakan di hotel berbintang lima dan dengan makanan yang mewah dan "tidak sehat" kalau tujuannya benar-benar untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan dokter umum . Kecuali itu semua ditanggung oleh sponsor ( walau pada akhirnya itu akan menaikkan harga obat dan membebani pasien)
Saya bersyukur di "daerah " saya tinggal yaitu kab Tangerang , IDI masih rajin mengadakan simposium atau seminar sehari dengan biaya yang terjangkau malah seringkali gratis. Juga dapat sertifikat IDI dan makalah yang kadang2 dalam bentuk CD Kalau dalam skala kecil kalau nggak ada makalah kadang-kadang kita boleh minta dikopikan ke USB kalau kita kebetulan bawa.
Semoga hal ini akan berlangsung selamanya.
 
salam buat semua TS yang telah ikut"nimbrung"
 
kemala

Agung Sarono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sorry jadi 'gatal' ikut nimbrung... Boleh dong?
Kalau dikatakan 'mahal' atau 'murah' memang relatif ya? Tetapi untuk suatu training memang cukup sulit sih, karena banyak komponen biaya yang harus dihitung (termasuk perbandingan pengajar dan peserta). Misalnya ICC SOS dengan BTCLS 118, keduanya hampir mirip; namun harga berbeda jauh misalnya; kenapa? Karena di ICC SOS maksimum peserta 15 orang dengan instruktur 5 (belum termasuk lecture, asisten + administrasi), sedangkan di 118 peserta bisa mencapai 30-an orang dengan instruktur yang hampir sama. Jadi terlihat bedanya khan? Belum termasuk fasilitas yang digunakan, makan dll dsb.
Namun, tentunya berpulang kepada user (customer) tipe mana yang diinginkan... Kalau bersifat kompetensi, nampaknya yang 'mahal' adalah hal yang akan menjadi 'mandatory' sedangkan yang 'murah' biasanya substitusi....
Yang bisa kita lakukan adalah mengoptimalkan hasil dan daya guna suatu training. Contoh begini, bila anda mengirim seseorang maka pikirkan output apa yang sebaiknya ia dapatkan dan sumbangkan kepada anda. Misalkan setelah mengikuti suatu training, maka ia harus mau dan mampu membagi ilmunya ini kepada rekan sekerja atau se-tempat kerja. Jadi dengan demikian, anda tetap mendapatkankan keuntungan. Ia harus pula menulis resume / lapran mengenai apa implementasi training tersebut di tempat kerja.
Nah kalau sudah demikian, maka biaya 'mahal' tadi akan terasa agak 'murah' karena bisa dibagi untuk banyak orang...
AgungS

kemalaz yapas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ya udahlah kalau begitu!
Gak usah mengeluh apalagi protes ya. Jalani aja Kalau
mau ikut ya ikuuut kalau gak ya udah Emang gue pikirin

Gitu ajalah ya.
Kalau gak punya duit belajar aja lewat internet , gak
bayar apalagi yang bisa on line terus dari kantor .
Kita juga gak usah mikirin rekan-rekan kita yang gak
punya internet dan juga gak punya banyak duit.

Iyakaaan ?
Tetapi mengapa hatiku sedih ya???

salam buat TS yang tercinta semuanya

kemala

--- Ridwan Gustiana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> hmmmmmm   menarik juga yah......membahas tentang
> 'mahal"
>
> kalau aku pikir sih "mahal mah relatip" (maklum
> orang
> sunda)
>
> sekarang kan semua ada harganya...tapi kadang gak
> semuanya berharga....hehehehhe
>
> mau ngeluh juga susah... dokter tea
> peodal....hehehehe....
>
> yah mungkin bener kata mas fabian,  di timbang aja.
> perlu apa gaknya kursus atau seminar itu di
> jalanin....tokh gak ada peraturan kalau gak ikut
> kursus lagi dipecat jadi dokter hehehhehe..cuma
> mungkin harus ikut perkembangan aja.. dan itu bisa
> di
> lakukan dengan banyak cara.. baca, nonton (asal
> jangan
> nonton sinetron)....internet..
>
> salam
>
>
>
>
> --- Fabian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Dear Mbak Kemala,
> > 
> > Mohon maaf saya menyebut Mas dalam e-mail
> > sebelumnya.
> > Kalau boleh tahu, Mbak ini PN dimana yaa.....?
> > Kebetulan saya bekerja di suatu perusahaan.
> > Pengalaman saya menunjukkan bahwa saya tidak perlu
> > menjadi ahli bedah syaraf atau ahli penyakit dalam
> > untuk dapat memberikan kontribusi saya bagi
> > perusahaan. Saya mengembangkan diri dengan banyak
> > membaca dan browsing internet untuk mendapat
> > informasi baru. Namun saya merasa ketertarikan
> luar
> > biasa terhadap occupational health dan saya
> > mendalaminya melalui sharing kepada sesama dokter
> > yang bekerja di perusahaan lain dan sesekali ikut
> > pertemuan para dokter. Saya juga mengikuti kursus
> > kompetensi dan mendapat manfaat yang sangat
> bernilai
> > dalam pekerjaan dan pengetahuan saya terhadap
> > pekerjaan saya saat ini. Sebelumnya saya adalah
> > praktisi yang sangat menyenangi emergency medicine
> > dan advance care. Kesenangan itu masih bisa
> berjalan
> > beriringan dengan tugas dan tanggungjawab saya
> > sekarang........enak kan....? Saya juga bisa
> menjadi
> > trainner dan membagi ilmu buat kolega.
> > Jadi Mbak Kemala, jangan putus arang........ Look
> at
> > the bright side......Make one main goal and
> > breakdown into several options and decide the
> > priority.......
> > Dokter kan juga manusia.....dan dokter sekarang
> kan
> > gak "sugih" semua, makanya uang yang saya tabung
> > saya gunakan untuk suatu pelatihan atau training
> > yang betul-betul saya perlukan dan bermanfaat
> untuk
> > pekerjaan saya. Sukur-sukur dibayarin perusahaan
> > atau dapet sponsor.
> > Kalau ada kasus bedah saraf atau ortopedik,
> > yaaa.....kita konsulkan kepada yang ahlinya saja,
> > dan kita cukup menguasai deteksi dan penanganan
> awal
> > serta mampu mentransfer ke fasilitas kesehatan
> yang
> > lebih baik.
> > 
> > Salam,
> > Fabian
> > 
> >
> > -----Original Message-----
> > From: [email protected]
> > [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of
> > kemalaz yapas
> > Sent: Thursday, July 28, 2005 12:07 PM
> > To: [email protected]
> > Subject: RE: [indofirstaid.com]: minta info PKB
> IPD
> > (Sekedar Keluhan )
> >
> >
> > Hallo mas Fabian!
> > Tapi maaf ya mas saya bukan mas tapi "mbak".
> > Mungkin benar pendapat anda kalau membayar kita
> akan
> > lebih serius mengikuti seminar , dan dapat ilmu
> dari
> > seminar , tapi kalau terlalu mahal bukannkh kita
> > jadi gak jadi mengikuti seminar ? Jadinya malah
> gak
> > dapat ilmu sama sekali. Kita semua tahu bahwa
> dokter
> > umum yang pintar akan sangat memnabtu para dokter
> > spesialis karena kalau mereka merujuk pasien ,
> > mereka telah mempersiapkannya dengan benar.
> Bukankah
> > seharusnya para spesialis membantu para dokter
> umum
> > agar jadi pintar dengan membagi pengetahuan mereka
> > supaya dokter umum bisa banayk membantu (saling
> > bekerja sama?) Coba anda lihat seminar sehari
> bedah
> > syaraf yang akan datang , yang banyak ditujukan
> > untuk dokter umum , biayanya 250.000 rp.
> > 
> > salam
> > 
> > kemala
> >
> > Fabian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Dear Mas Kemala,
> > 
> > Sekedar pendapat.....
> > Dokter umum merupakan dokter yang seharusnya serba
> > tahu walaupun tidak mendalami hanya di satu
> bidang.
> > Spesialis atau dokter ahli adalah konsultan yang
> di
> > Indonesia adalah dokter umum yang mengambil
> keahlian
> > khusus dan mendapatkan pengakuan dari institusi
> > pendidikan lanjutan. Seharusnya dokter konsultan
> > hanya dimintakan pendapat dan rencana
> > penatalaksanaan penderita untuk selanjutnya
> > mengembalikan penderita ke dalam pengawasan dokter
> > umum.
> > Kemajuan pengetahuan selain didapat dari sekolah
> > formal dapat melalui seminar maupun pelatihan.
> Namun
> > pada saat seminar seringkali juga peserta hanya
> > datang dan mendengarkan tanpa melakukan interaksi.
> > Umumnya karena tidak memiliki bahan catatan, hasil
> > penelitian untuk di argumentasikan, pengalaman
> > dilapangan untuk di share, maupun keberanian untuk
> > mengacungkan tangan dan bicara dihadapan sejawat
> > yang kita tidak tahu apakah memiliki level
> > pengetahuan yang seimbang. Apakah ini menjadi
> > efektif walaupun sudah keluar uang untuk bisa
> hadir?
> > Lain cerita bila seminar atau pelatihan itu
> gratis,
> > kan gak ada beban untuk mengetahui dan membawa
> > pulang hasil seminar atau diskusi untuk bahan
> follow
> > up. Lebih asik berburu cendera mata dari pabrikan
> > obat sponsor.....
> > Saat ini pendidikan untuk dokter mengarah kepada
> > pendidikan andragogi (bisa juga campuran) dimana
> > bahan yang akan dipelajari dipertukarkan kepada
> > sejawat sehingga informasi menjadi berkembang
> tanpa
> > kita menjadi malu untuk bicara. Lembaga pendidikan
> > dan pelatihan tertentu dapat memfasilitasi
> kebutuhan
> > ini dan jumlah peserta juga tidak banyak (supaya
> > bener-bener efektif). Nampaknya dimasa mendatang,
> > kemampuan seseorang akan dihargai atau akan
> memiliki
> > nilai berdasarkan kompetensinya dan bukan atas
> dasar
> > sertifikatnya semata-mata. Sertifikat atau ijazah
> > belum tentu dapat menunjukkan kompetensi
> seseorang.
> > Maka ada baiknya menabung dan pandai-pandai
> memilih
> > pelatihan dan atau kursus yang mendapatkan
> > kompetensi dibandingkan sertifikat kepesertaan
> > semata. Kompetensi ini akan menjadi memiliki harga
> > yang sesuai dengan uang yang kita keluarkan. Namun
> > pada saat menjalaninya tentu saja harus proaktif
> > karena yang menentukan kemajuan diri kita adalah
> > kita sendiri. Bukan begitu.......?
> > 
> > Salam,
> > Fabian
> >
> > -----Original Message-----
> > From: [email protected]
> > [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of
> > wansuzusino syaripudin
> > Sent: Thursday, July 28, 2005 6:46 AM
> > To: [email protected]
> > Subject: Re: [indofirstaid.com]: minta info PKB
> IPD
> > (Sekedar Keluhan )
> >
> >
>
=== message truncated ===



           
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page
http://www.yahoo.com/r/hs





25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donatur IndoFirstAid melalui
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]



---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS


    Visit your group "indofirstaid" on the web.
 
    To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
 
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


---------------------------------





(Anytime anywhere We are ready to help)
Click: http://asarono.tripod.com

           
---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page




25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donatur IndoFirstAid melalui
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]



Start your day with Yahoo! - make it your home page

25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donatur IndoFirstAid melalui
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]




SPONSORED LINKS
First aid Rumah sakit Cpr and first aid
First aid burn First aid cpr training First aid kit supply


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke