Saya sependapat dengan Mba Lelita.
Sedih rasanya membaca kisah seperti ini, sementara sudah banyak sekali kisah yang membuktikan bahwa jaman sudah berubah.
Saya punya 2 pengalaman yang saya rasa cukup baik untuk dibagi.
Pengalaman Pertama, waktu saya masuk kuliah, seperti biasa ada masa orientasi. Saya dan sebagian besar teman2 satu regu, menganggap itu sekedar perkenalan dan pengakraban. Kebetulan senior2 kami juga cukup berperasaan dalam mengerjai kami. Tidak ada sikap yang melewati batas.
Hingga pada saat perkemahan gabungan, kami disuruh duduk di lapangan rumput sambil diberikan berbagai perintah (bergaya cleopatra, jongkok, gaya putri duyung,
dsb). Saat itu, teman yang duduk persis di sebelah saya kakinya kram tapi dia takut untuk lapor ke senior. Bolak-balik saya berbisik, senior paling2 teriak, gak akan ngapa2in.. tapi, dia sudah sungguh2 takut (anak ini bukan dari regu saya, dan mungkin seniornya dia selama orientasi lebih galak daripada senior saya).
Setelah beberapa saat, anak itu berbisik ke saya kalau kakinya mulai sakit sekali, dan dia tidak tahan. Saya berbisik balik, kalau dihukum, biar sama2.. Saya teriak memanggil senior yang ada di situ, sambil meluruskan kaki teman saya itu, dan memutar pelan pergelangan kakinya.
Seorang senior menghampiri kami dan bertanya kalau saya bisa P3K. Saya jawab bisa.
Senior itu menyuruh saya membawa teman saya itu ke posko medis dan menunggu sampai ada panitia medis yang datang. Dan sejak itu, masa orientasi saya bisa dibilang selesai, karena saya malah disuruh bantu2 kalo ada teman2 yang sakit..
Saya salut pada senior2 saya saat itu. Mereka sanggup menjadikan masa orientasi itu sebagai ajang pengakraban dengan mahasiswa baru, hingga pada saat kuliah mulai-pun kami tidak segan lagi untuk bertanya dan tukar pikiran dengan mereka.
Pengalaman Kedua, salah satu senior saya
di Gudep mengatakan bahwa adik2 latih yang sekarang ini manja dan fisiknya lemah, karena tidak terbiasa dengan hukuman fisik (push-up, sit-up, squat-jump, etc.). Saat itu, saya tidak begitu saja percaya. Jaman memang sudah berubah, tapi, saya melihat adik2 penggalang (usia SMP) itu sangat antusias dalam mempelajari berbagai hal dalam setiap latihan.
Dalam satu kesempatan, saya tanyakan pada para penggalang itu, kenapa mereka menolak hukuman fisik, toh senior mereka tidak pernah keterlaluan. Jawaban mereka saat itu, mereka tidak merasa ada manfaatnya.
Saya jelaskan, sebenarnya hukuman fisik itu tujuannya agar paling tidak, pada saat mereka latihan, mereka melakukan gerak
badan. Olah raga itu dibutuhkan oleh semua orang yang mengikuti kegiatan yang menggunakan fisik mereka, dan Pramuka adalah salah satunya (terlebih karena anggota Gudep kami sangat senang berkemah dan turun tebing).
Akhirnya para penggalang itu mengerti pentingnya olah raga bagi kesehatan dan sebagai pendukung kegiatan fisik mereka.
Sejak percakapan kami saat mereka kelas 1 SMP itu, mereka mulai aktif dan konsisten dalam berolah raga. Ada yang ikut klub bela diri, tennis, basket, dll. Hasilnya, di akhir masa penggalang mereka (menjelang mereka lulus SMP), seluruh anggota Pramuka yang kami latih berhasil
memiliki kondisi fisik yang sangat baik walaupun tanpa hukuman fisik.
Saya ingin bilang ke senior saya bahwa penanaman kesehatan jasmani tidak selalu harus dengan hukuman fisik, tapi sayangnya, senior itu sudah aktif melatih lagi.
Semoga rekan2 di seluruh penjuru tanah air yang bertanggung jawab untuk mendidik/melatih adik2 angkatannya bisa lebih 'mendalami' dan 'memahami' peranan dan bidang yang digelutinya, hingga dapat menerapkan disiplin dengan cara yang tepat agar kualitas generasi yang dihasilkan juga akan lebih baik.
-indri-
lelita sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Innalillahi waina'ilaihi rojiuun..Membaca berita tersebut sedih sekali rasanya. mengapa kejadian serupa ini harus terjadi lagi ? mengapa tidak belajar dari pengalaman-pengalaman serupa sebelumnya ?saya rasa pendidikan pecinta alam dan sejenisnya sudah tidak jamannya lagi dilakukan dengan memberikan hukuman-hukuman secara fisik, apalagi sifatnya mengarah ke penganiayaan. Pendidikan pecinta alam alangkah baiknya jika dilakukan secara terarah mengikuti metode pembelajaran orang dewasa. Jika yang dikehendaki adalah fisik yang tangguh, tentu saja pendidikan dasar tidak bisa seketika membentuk fisik yang kuat dan tangguh. Latihan fisik haruslah dilakukan secara rutin setelah para calon anggota tersebut diterima sebagai anggota. untuk itu para seniornya harus belajar mengenai teknik-teknik latihan fisik yang baik yang bisa dipelajari melalui buku, internet atau berkonsultasi dengan ahlinya (dari FPOK, misalnya). Jika yang dikehendaki mental yang tangguh, saya rasa bukan dengan cara dipukuli. Wah, sudah salah kaprah...Para calon anggota pecinta alam ini kan para calon sarjana, begitu juga dengan para seniornya, seharusnya semua metode yang digunakan didalam melakukan pendidikan dasar haruslah ilmiah.Saya adalah anggota Pecinta alam di fakultas saya dulu belajar, selama pendidikan kami tidak pernah dipukul atau dihukum secara fisik, tetapi senior-senior kami banyak melatih dan memberikan pengetahuan yang mau tidak mau menuntut kami harus melatih fisik dan mental. Dan kelompok pecinta alam kami baik-baik saja secara skill dan mental.Jadi kesimpulannya pendidikan dasar yang banyak memberikan hukuman fisik sudah tidak bisa lagi dipertahankan.Di otak kita terdapat bagian yang disebut sistem limbik, jika seseorang dalam kondisi tertekan atau marah, sistem ini akan tertutup, sehingga orang tersebut akan sangat sulit menerima materi pelajaran/perintah masuk ke dalam otak. sementara jika seseorang hatinya gembira, maka sistem limbik ini akan terbuka, sehingga seseorang akan sanagt mudah menerima pesan/pelajaran masuk ke dalam otaknya. Jadi bisa dipahami jika para pecinta alam banyak yang nggak ngerti-ngerti ilmu tentang kepecintalaman karena selama pendidikan sistem limbiknya tertutup...Salamlita
ridhos_cs <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Saat Ikuti Mapak Alam
Mahasiswa Unpas Tewas
MAJALENGKA, (PR).-
Deka Dimas Kusniawan (19), mahasiswa semester III
Universitas Pasundan (Unpas) yang juga warga Perum
Gunungsari, Desa Gunungsari, Kec. Dawuan, Kab.
Majalengka meninggal dalam kondisi mengenaskan dengan
sekujur tubuh penuh luka.
Pihak kepolisian mengindikasikan korban meninggal
akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh
seniornya dalam acara Mapak Alam, Unpas yang mengambil
lokasi di Lembang, Bandung, Jumat (16/12). Namun,
untuk memastikan penyebab kematiannya, jenazah korban
diautopsi di Rumah Sakit Gunung Jati, Cirebon.
Luka yang diderita korban antara lain mata kiri,
ketiak kiri dan dada tampak biru lebam, sementara
bagian pahanya melepuh seperti bekas terkena benda
panas.
Demikian juga pada bagian dada, tepat di ulu hati ada
lingkaran merah kebiru-biruan. Yang lebih
mengherankan, hampir di seluruh bagian tangan kanan
dan kirinya terdapat puluhan luka gores dan luka bakar
kecil-kecil seperti terkena sulutan api rokok.
Sementara, bagian muka penuh bercak luka gores.
Demikian juga di bagian sikut dan lutut terdapat luka
memar.
Menurut keterangan Kasatreskrim Polres Majalengka AKP
Boby P. Tambunan disertai Kaur Reskrim Susilo, Deka
Dimas Kusniawan meninggal saat menjalani proses
pelatihan dasar untuk menjadi anggota Mapak Alam di
lingkungan Unpas, Bandung sejak Rabu (7/12).
Polisi menerima pengaduan dari orang tua korban,
Kustur Kusniawan (45) yang mencurigai kejanggalan
penyebab kematian putranya tersebut, karena pada
beberapa anggota tubuh almarhum banyak terdapat tanda-
bekas penganiayaan.
"Sementara kami menduga itu adalah akibat sikap
seniornya yang menerapkan pendidikan militerisme. Di
sekujur tubuh korban banyak luka. Namun, untuk
memastikan kematian korban dilakukan autopsi," ungkap
Susilo seraya menyebutkan beberapa saksi telah
dimintai keterangan.
Berdasarkan keterangan sementara para saksi, korban
meninggal akibat sakit perut saat latihan pencinta
alam di Bukit Tunggul, Lembang. "Saksi menyebutkan
korban sakit perut dan meninggal saat dalam perjalanan
menuju Puskesmas Jayagiri, Lembang, pada Jumat (16/12)
sekira pukul 8.00 WIB," ungkap Boby.
Sudah dikafani
Sementara itu ayah korban, Kustur Kusniawan, S.H.,
menyebutkan dirinya menerima kabar dari istrinya Lilis
Mulyati (40) melalui telefon menyangkut Deka, saat
berada di tempat kerjanya sekira pukul 15.30 WIB.
Tetapi ketika itu, Lilis tidak menyebutkan perihal
kematian anaknya.
"Selang lima menit kemudian, istri saya kembali
menghubungi lewat telefon minta menjelaskan penyakit
yang diderita Deka sebelumnya. Katanya (pertanyaan)
itu atas permintaan dari mahasiswa yang mengantar
jenazah. Saya kaget dan menanyakan kenapa ada
pertanyaan seperti itu. Tetapi kemudian muncul
penjelasan baru, ada ambulans datang dan katanya anak
saya meninggal di Bandung," tutur Kustur yang mengaku
tiba di rumah sekira pukul 16.30 WIB dan mendapati
anaknya telah terbujur kaku dibungkus kain kafan.
Jenazah anaknya tersebut ketika diantar beberapa orang
mahasiswa dan panitia Mapak Alam ke rumahnya
kondisinya sudah terbungkus kain kafan. Kustur mengaku
ingin segera melihat jasad anaknya, namun mahasiswa
yang mengaku panitia Mapak Alam di antaranya Agus,
Deni dan Asep malah berusaha mencegahnya dengan
mengatakan jenazah sudah dibersihkan dan sudah
dikafani.
Dengan penjelasan itu, Kustur mengaku marah dan
tersinggung, ia kemudian memaksa membuka kafan dan
gumpalan kapas yang menutupi wajah putranya tersebut.
"Dia kan anak saya, kali ini mungkin saya terakhir
melihat jasad anak saya kok dilarang," ungkap Kustur
yang mengaku betapa kaget ketika melihat kondisi
putranya.
Dia langsung bertanya kepada perwakilan para mahasiswa
tersebut. Kenapa hal tersebut bisa terjadi. Kenapa
matanya biru lebam. Saat itu mereka menjawab, Deka
meninggal karena sakit perut.
"Masa sakit perut, bisa membuat matanya lebam, bagian
dada di ulu hatinya membiru, atau seluruh tangannya
seperti terkena sulutan rokok? Diapakan anak saya
sampai seperti ini? Ini betul-betul tindakan paling
kejam dan biadab. Tak pantas dilakukan oleh masyarakat
intelektual seperti mahasiswa. Di lingkungan
masyarakat yang ingin menegakkan budaya Sunda yang
demikian santun dan berbudaya luhur. Saya bisa
menerima kematian anak saya sebagai takdir Allah.
Namun, sampai kapan pun saya tidak akan menerima apa
yang menjadi penyebab kematian anak saya tersebut.
Kecuali hukum yang mengambil alih persoalan ini,"
ungkap Kustur kepada mahasiswa yang mengantarkan
jenazah putranya.
Salah seorang mahasiswa tersebut sempat menyebutkan
kalau mata yang biru tersebut memang karena pukulan.
"Mendengar kata pukulan saya kembali marah, karena
ternyata kejadian yang menimpa mahasiswa STPDN dan
STAIN ternyata menimpa anak saya," ungkapnya.
Anehnya menurut Kustur, seorang perwakilan dari Unpas
yang mengaku bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan tersebut, sempat berbicara dengan
Iwan, adiknya, yang intinya, mereka mengajak berdamai
dan minta hal ini tidak diekspos serta minta
diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, hal itu
ditolak mentah-mentah. Kustur segera melaporkan
kejadian yang menimpa anaknya tersebut ke polisi.
Berpamitan
Menurut teman-teman bergaul almarhum di Majalengka
maupun kerabatnya, Deka adalah anak yang tak banyak
bicara, bahkan terkesan pendiam, taat beribadah dan
santun kepada sesama temannya.
Menurut nenek korban, Siti Rafiah yang beralamat di
Jln. Samoja, Bandung, cucunya tinggal bersamanya
selama kuliah. Deka sempat pamit kepada semua keluarga
di rumah, termasuk para tetangga Perumahan Gunungsari,
sehari sebelum berangkat ke Sekretariat Mapak Alam di
Kampus Unpas Tamansari, Bandung. Deka berpamitan
hendak berangkat ke Bandung mengikuti kegiatan Mapak
Alam selama 10 hari sejak 7 Desember hingga 17
Desember 2005.
Neneknya, selain memberi bekal uang dan makanan bagi
cucunya seraya berpesan agar berhati-hati.(C-34)***__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
---------------------------------------------------
Kirimkan pesan melalui [email protected]
Forum Diskusi http://forum.indofirstaid.com
Lowongan Kerja http://loker.indofirstaid.com
Pasang Iklan http://iklan.indofirstaid.com
Iklan Baris http://iklanbaris.indofirstaid.com
Bantu kami menjalankan IndoFirstAid.com melalui
Bank BNI Cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Bank BCA KCP Mangkubumi 1260440850 A/n. Yudhistira O.
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "indofirstaid" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
- [indofirstaid.com]: Saat Ikuti Mapak Alam Mahasiswa Unpas... ridhos_cs
- Re: [indofirstaid.com]: Saat Ikuti Mapak Alam Mahasi... lelita sari
- Re: [indofirstaid.com]: Saat Ikuti Mapak Alam Ma... Ridwan Gustiana
- Re: [indofirstaid.com]: Saat Ikuti Mapak Alam Ma... Indri Hutapea
- Re: [indofirstaid.com]: Saat Ikuti Mapak Alam... Andre Yulianto
- Re: [indofirstaid.com]: Saat Ikuti Mapak ... arie cantique
- [indofirstaid.com]: Re: Saat Ikuti Mapak Alam Mahasi... Pandu
- Re: [indofirstaid.com]: Re: Saat Ikuti Mapak Alam... Ridwan Gustiana
- [indofirstaid.org]: TURUT BERDUKA CITA YANG SEDALAM D... sunyi_73
- RE: [indofirstaid.com]: Saat Ikuti Mapak Alam Mahasi... ENSCO1 MEDIC
Kirim email ke

