Budaya bangsa kita yg meski dihilangkan, suka berdebat daripada inovasi,berkarya untuk menghasilkan sesuatu yg bermafaat.Hilangkan model politikus yg suka mengkritisi cm untuk menutupi kelemahan kita.gak ada tools didunia ini yg sempurna bro,microsoftpun yg udah exist lama jg masih butuh penyempurnaan terus.Buktikan sendiri aja dengan membuat tools(language sendiri) baru kita berkoar...
________________________________ From: abangkis <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, June 9, 2009 2:51:05 PM Subject: Re: [JUG-Indonesia] Java is inrelevan 2.0 I totally disagre .. ini omongan jaman Orba nih, tanda orang yang gak ngerti open source. Yang pertama untuk menggunakan open source harus mengerti dulu mengenai license open source. Okeh yang di takutin itu GPL, tapi opensouce mencakup banyak license, bisa pilih yang lebih linient kayak LGPL, atau CDDL. Terus GPL itu sendiri sekarang udah sampe v3, banyak perubahan. Dan kalau mau tetap benar-benar closed, biasanya license GPL bisa di convert jadi propietary, tapi harus deal langsung dengan pembuat library-nya, dan kalo library itu menggunakan lib lain yang GPL maka harus deal juga dengan pembuatnya, dst sampe ke ujung. Memang jadi lebih ribet, tapi itulah tujuannya GPL untuk membuat Open Source Software tetap free. Gak fair, kalau ada orang yang membuang weekendnya selama 6 bulan untuk membuat sebuah library yang dia pikir bermanfaat buat orang banyak, lalu tiba-tiba ada satu perusahaan yang memberi sedikit aksesoris kemudian menjualnya seharga $10.000 dolar. You can do this, but you need the consent of the maker for GPL. Kalau LGPL gak butuh. > Keuntungan open source itu dah jelas. Quality n freedom... yang gak perlu > lagi gw bahas. Gw cuma mo point out opposide side, devil advocate, yang > jarang banget dihighlight. .. cost dari OSS. > > Gw dah sering liat banyak company yang strictly nolak any OSS part dari > project yg dikerjain vendor2nya. They make it loud n clear. Terutama dari > banking industry. > Law suit cuma 1 hal. Future developments n needs yang gak compatible dengan > policy OSS licensenya.. itu juga laen hal. Hal yang paling expensive buat > mereka juga adalah gak ada pihak yang legally responsible terhadap OSS > project. Kalo productnya ada flaw... worst casenya, lo cuma dapet response > dari community... "yeah, send me the patch", "I'll look at it when i feel > like to", ato "dude.. its free.. for god sake just take it or leave it. Or > better, why don't you fix it and contribute something for what you get?". > Kalo ada cacat, gak ada yang bisa dijadiin kambing hitam yang mereka bisa > legally minta pertanggungjawaban. --> Ini lagi, udah jelas free, masih mau nuntut orang yang ngasih sesuatu secara cuma2 ? Damn what a greedy corporate people *my comment to the individuals that think like this*. Sekarang ngomong dari segi bisnis, rata-rata company, untuk menjamin kelangsungan bisnisnya butuh support atau bahasa si hendry ada orang yang bisa disalahin kalau ada apa-apa. Untuk itu banyak perusahaan yang memberikan support terhadap software2 seperti ini. Contoh paling umum SUN, JBoss, RedHat. So ... statement phail ! Kalau ada library yang tidak ada yang support, pilihannya gampang. Kontak pembuatnya dia mau support atau engga, atau cari library lain yang ada supportnya. Kalau gak ada library yang lebih bagus, ya udah terima aja gak usah di pake itu library, suruh programmernya bikin sendiri dari 0, bakal mau gak kira2 ? > Banyaak banget client yang terang2an strict no-OSS policy. Mereka lebih > prefer solusi2 official, misalnya dari IBM... yang akhirnya mereka complaint > siapa bilang java murah? OS non windows juga larinya ke box Solaris yang > anything but cheap. > > Di .net in particular banyak banget client yang strict no OSS, dan nolak2in > project yang mengandung NHibernate, nServiceBus, Windsor, Monorail, n > stuffs. Mereka demand product yg "official" (baca: keluaran redmond)... yang > dah lengkap dari ORM, DI container, MVC dalam frameworknya. > > Kenapa ini lebih common di .net (daripada java)? Kenapa mereka pilih .net in > first place? Because mereka lari ke .net justru karna solusi official > non-OSS nya lebih gampang n murah (in fact, they're all free). > > Di pasar non-OSS kayak ginilah, keunggulan java (mix n play OSS products) > justru jadi kelemahan. > > Dan for all its worth, gw juga benci company2 yg ngelarang OSS.. karna > hampir semua tooling favorite gw dari OSS.. Tapi alas, itu fact yg we have > to live with. --> kata siapa propietary software gak ada resiko-nya. Gimana pengalaman frans yang kehilangan beberapa tahun hidupnya karena VB6 dimatiin microsoft, terus gimana kalo perusahaannya bangkrut? mau di tuntut juga udah bangkrut. di OSS setidaknya lu bisa oprek sendiri codenya kalau ada major bug. Yah kalo ada perusahaan yang masih berpikiran seperti itu yang its their option, it work 10 years ago, so it should work now right ? Tapi kita harus lihat sekarang dunia bergerak ke arah mana, apa lagi di jaman krisis kayak gini. > 2009/6/9 Edward Yakop <[email protected]> >> >> >> 2009/6/8 Hendry Luk <hendrym...@gmail. com>: >> >> > Yang gw liat itu kekuatan java justru sekaligus kelemahannya. >> > Open-source di indo selalu disenangi dan digemari... terutama karna >> > orang2 >> > suka gratisan. Padahal justru di kebanyakan negara laen, OSS adalah >> > wabah. 1 >> > yang perlu ditegaskan: OSS itu gak gratis! >> >> Err, abis baca semua argument kamu. >> OSS itu gratis tapi tergantung apa yang kamu pengen kerjain. >> Kalo kamu mau pakek OSS di commercial, be careful dengan licensenya. >> >> > Gw gak tau company indo, tapi kebanyakan company di negara2 yang >> > hukumnya >> > kuat, OSS itu sering strictly dilarang. Terlalu banyak masalah hukum di >> > OSS >> > yang bisa menyedot keuangan company gila2an. Terutama GPL license. >> > GPL license literally adalah virus, karna salah satu isi licensenya >> > adalah, >> > kalo ada small part dari solusi kita yang mengadung GPL, maka seluruh >> > bagian >> > dari solusi itu juga menjadi GPL. Intinya, kalo kita pake sedikit jasa >> > dari >> > GPL, maka GPL minta sebagai imbalannya berhak buat menyita seluruh >> > bagian >> > application kita jadi milik GPL community. Ini disebut "quodque pro quo" >> > (dari latin yang artinya "everything in return for something"). >> > >> > GPL itu adalah puncak dari ideologi sosialis ato komunis. Yang intinya, >> > segala hasil kerja keras kita harus 100% disumbangkan ke community. Gak >> > ada >> > paten, intelectual property, ato hak ato persenan atas kerja kita. Kita >> > bahkan gak boleh make some money dari hasil project kita. Segala kerja >> > dan >> > usaha kita semata2 hanyalah bentuk kontribusi sosial kita kepada >> > community. >> > Ini menghambat kreativitas. Gak akan ada orang ato company yang bikin >> > research ato project ambisius, karna gak ada imbalannya. Sepenuhnya jadi >> > milik bersama. Kayak ekonomi di comunism in general, menghambat >> > pertumbuhan >> > company yang kreatif dan innovative. >> >> Not true. Kernel = GPL, glibc = LGPL, java is on top of libc dan our >> app is on top of java. >> Another example, >> Kernel, nvidia non gpl license layer, nvidia driver. >> Are you obligated to open source your app? Nope. >> >> Jadi, as long as there's a non GPL layer between the GPL library dan your >> app. >> You don't have to release your application source code. >> >> > Ada beberapa company yg gw pernah tau dah bikin agreement dengan sebuah >> > GPL >> > product (dengan duit tentunya), dan dah pake.. happy days.. project >> > mereka >> > akhirnya selesai dan mature.. running beberapa tahun. Tapi belakangan >> > kena >> > sued juga. GPL minta project di company itu diopensource kan. Dan sesama >> > lawyer saling berperang... yang diakibatkan karna agreeement mereka dan >> > license GPL itu agak ambiguous. Ini sering terjadi di dunia software. >> > Dah >> > gak keitung berapa banyak law suit yang diluncurkan oleh OSS community >> > ke >> > company2 gede maupun menengah.. yang kadang2 bisa bikin mereka >> > kehilangan >> > business mereka. >> >> Ini company fault kalo nggak get "commercial" license atau bikin >> middle layer dan license dengan LGPL/Apache/ etcs. >> >> > Dan kita blom lagi ngomong masalah license community dan support. >> > Support >> > itu di OSS project relatively susah, dan gak ada jaminan bahwa mereka >> > bersedia support. Mereka berhak nolak. Bahkan kadang2, donate duit buat >> > developer implement sebuah fitur yang kita pengen, itu sering dianggap >> > gak >> > etchical di dunia OSS. Dengan bayar duit buat minta OSS implement sebuah >> > fitur, kita dianggap menggunakan kekuatan duit buat menggerakan arah OSS >> > project. >> > Buat sebagian besar company, ini gak cukup terutama kalo project mereka >> > mission critical. Bukan cuma timely support yang mereka butuh, tapi >> > mereka >> > butuh sebuah pihak yang legally responsible kalo terjadi masalah ato >> > software mereka gak deliver sesuai yang diharapkan. >> >> It depends kalo ada commercial entity di belakang open source tersebut. >> For example, >> Mysql, >> redhat, >> Hibernate, >> JBOSS, >> spring, >> etcs >> >> > Karna itulah semua project open-source microsoft gak ada yang GPL. Semua >> > OSS >> > project dari microsoft sejauh ini pake license MIT (e.g. JQuery) ato >> > MS-LPL >> > (e.g. Unity, MEF, ASP.Net MVC). Yang artinya kita bisa pake bebas dari >> > ikatan apapun, dan kita punya hak penuh atas code tersebut, yang bisa >> > dipake >> > 100% free dan bisa diganti2 sesuka hati, dan diship sebagai product laen >> > commercially. Dan kita 100% berhak atas duit yang dihasilkan dari >> > product >> > itu. I.e., gak ada imbalan. >> >> So, in this case OSS is free ... right >> >> > Microsoft juga notorious dengan historynya yang selalu reinvent the >> > wheel, >> > yang sering mematikan OSS project. Dah ada project OSS di luaran, tapi >> > malah >> > reinvent lagi. Ini mostly karna komitment steve balmer yang gak mo >> > terikat >> > dengan obligation dari OSS license, kecuali license yang liberal kayak >> > MIT.. >> > OSS yang tanpa pamrih. Kalo 1 kali ajah ms terikat dengan OSS license, >> > maka >> > langsung seluruh pengguna microsoft products kena impactnya, dan jadi >> > terjerat OSS obligation. Ini gak sesuai policy microsoft, dan relatively >> > jauh lebih murah buat mereka rewrite lagi 100% dari scratch, dan ship as >> > their own product, tanpa ikatan dari OSS. >> >> Competition is good regardless on the reason behind reiventing the wheel. >> >> > Java adalah dunia yang berdiri hampir sepenuhnya di atas OSS. Ini bisa >> > jadi >> > keuntungan di negara tertentu, tapi mostly bikin masalah yang kebanyakan >> > companies gak willing to take. OSS itu gak free... in fact, kadang2 >> > lebih >> > mahal daripada proprietary vendor. >> >> And this closing statement is pure FUD. >> Kamu udah susah-susah kasih argument tentang kapan OSS itu ideal buat >> commercial project dan balik ke argument ini? >> weird >> >> Regards, >> Edward Yakop > >

