Wiss wisss ....pokoq'e sampeyan pinter....yo
ma'kasih yo!
sulhan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
sulhan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [EMAIL PROTECTED], mohamed sulhanudin
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Teman-teman yang berbahagia,
Saya postingkan artikel tentang media dan anak muda di Indonesia
yang dimuat di rubrik Bentara, Kompas, hari ini (Sabtu, 6/5/06).
Materi wacana sebenarnya tak baru-baru amat. Seputar peranan gerakan
mahasiswa dalam pemerintahan.
Sesuai pengakuannya, penulis adalah mantan aktivis pers mahasiswa
era awal 90-an. Artikel yang memaparkan heroik semangat juang kaum
muda itu diakhiri dengan pertanyaan tentang kondisi gerakan mahasiswa
saat ini.
Yach sekedar refleksi, artikel ini cukup bermanfaat. Syukur bisa
memberikan pencerahan, meski data-data yang digunakan masih sempit
karena data yang dipakai adalah pengalaman pribadi, saat penulis
aktif di salah satu pers mahasiswa di UGM. Nggak ada salahnya sih,
cuma kalau penulis bermaksud membesar-besarkan pengalamannya itu, kok
kurang bijak.
Setiap generasi memiliki masanya sendiri. Memiliki ciri khasnya
sendiri. Memiliki ukurannya sendiri. Problem yang dihadapi tak
seperti yang dihadapi generasi sebelumnya. Menilai fenomena saat ini
dengan kacamata "cara pandang masa lalu" tidak sepenuhnya menjawab
persoalan. Sebagai audiens, saya merasa disuguhi tontotanan-tontonan
romantisme-cengeng kejayaan masa lalu. Seperti anak kecil yang
diceritai tentang kejayaan nenek moyangnya yang dulu sebagai pelaut
handal....
KAKEKMU ITU LHO, DULU PEJUANG HUEBATTTT!!! Emangnya untuk menjadi
hebat, sang cucu harus berperang seperti sang kakek yang hidup pada
masa penjajahan. Padahal persoalan sekarang sudah bukan lagi soal
perang-perangan dengan model kolonialisme kuno itu, sekarang sudah
canggih! Masak sih dengan bambu runcing bisa mengalahkan penjajah
yang bersenjata modern? Jangan-jangan ini cumaa mitos untuk
membangkitkan heroisme kaum muda. Atau perbuatan keterlaluan para
kaum tua?
Sebagai bagian dari anak muda yang hidup pada era ini, saya sangat
menghargai perjuangan mereka, pemikiran para senior, penilaian para
orang tua atas zaman kami. Terima kasih atas perhatiannya. Tapi,
biarkanlah kami yang menentukan, mengatur sendiri, menemukan sendiri
jatidiri kami tanpa cerita-cerita kejayaanmu itu.
Perlu orang seperti Chairil Anwar untuk meruntuhkan dominasi para
orang tua "kolot" di negeri ini. Bukan sekedar beda, tapi bisa
menunjukkan kualitasnya yang lebih baik. Atau sekedar membeo di
belakang orang-orang tua, yang belum tentu benar. sapere aude!
salam,
udin
Media dan Anak Muda di Indonesia
Sebelum dan Sesudah 1998
NURAINI JULIASTUTI
Tulisan ini dibuat guna memotret gerak anak muda pada masa
sebelum reformasi dan perubahan di wilayah kreativitas yang terjadi
pada tahun-tahun setelahnya. Fokus tulisan adalah pada media
alternatif yang dikerjakan oleh anak muda. Saya akan memulainya
dengan pengalaman pribadi sebagai aktivis pers mahasiswa di awal
tahun 1990-an dan refleksi atas perubahan yang terjadi pada
tahun-tahun setelah 1998.
Tahun 1994-1998. Pada pertengahan 1990-an, paling tidak ada tiga
jenis mahasiswa. Pertama, mereka yang aktif di berbagai gerakan
mahasiswa (pada masa itu gerakan mahasiswa tersebar di kota-kota
Indonesia, saling berhubungan satu sama lain, dan membangun jaringan)
atau aktif di pers mahasiswa. Kedua, mereka yang aktif di kegiatan
ekstrakurikuler olahraga dan seni (paduan suara, kelompok tari dan
karawitan, judo, renang, selam, fotografi, dan sebagainya). Biasanya
golongan ekstrakurikuler ini dikelompokkan di dalam satu tempat. Di
Universitas Gadjah Mada, misalnya, mereka bisa dijumpai di area
Gelanggang Mahasiswa. Ketiga, mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan
apa pun, hanya kuliah saja.
Satu hal yang bisa diamati dari ketiga golongan itu adalah bahwa
yang aktif di berbagai organisasi sosial politik, termasuk gerakan
mahasiswa dan pers mahasiswa, tak terlalu memperhitungkan faktor
kecepatan atau ketepatan waktu lulus. Banyak di antara mereka yang
menyelesaikan kuliah dalam tempo yang cukup lama: 6-8 tahun, bahkan
lebih. Sebutan buat mereka: mahasiswa abadi. Justru bukan karena
mereka tak mampu menyerap materi kuliah—sebagian cemerlang, jelas
terlihat dari artikel yang telah mereka hasilkan di media massa, atau
kepiawaian berorasi di lapangan saat demonstrasi—tapi karena
mementingkan "kematangan" selama masa kuliah. Ada memang
kecenderungan berlama-lama dalam status mahasiswa karena dengan itu,
mahasiswa berpeluang besar membuat perubahan, apalagi situasi sosial
politik saat itu menuntut demikian. Lulus lebih cepat hanya kehendak
mereka yang antipolitik, tak peduli pada lingkungan sekitarnya.
Mereka yang bergabung dalam pers mahasiswa saat itu biasanya sering
disambungkan dengan gerakan mahasiswa sebab pers mahasiswa dikenal
sebagai model pers penantang pers-pers umum, juga pers partisan karena
isinya yang sangat politis. Tentu perkembangan demikian bukan tanpa
asal muasal yang jelas. Ingat: dunia kampus saat itu dianggap sebagai
tempat suci tempat semua orang bebas menyampaikan pikirannya dan saat
itu pers umum sangat dikekang pemerintah.
Sebagai pers partisan, pers mahasiswa lebih bertitik berat pada
opini. Karena itu, mereka tak begitu butuh teknik jurnalisme yang
memadai. Namun, pada pertengahan 1990-an ada perkembangan kesadaran
penulisan yang lebih baik. Umumnya tak ada yang memberi pelajaran
khusus tentang teknik penulisan atau asas-asas jurnalisme. Semua
dilakukan dengan asas "carilah semuanya sendiri".
Pada tahun 1997 Institut Studi Arus Informasi (ISAI) mengadakan
kompetisi media alternatif se-Indonesia. Kompetisi ini secara tak
langsung mendorong keinginan membuat penulisan berita yang lebih baik
di kalangan pers mahasiswa. Di surat kabar mahasiswa Bulaksumur,
tempat saya dulu, ISAI juga membantu pelatihan penulisan jurnalisme
investigasi.
Selain ISAI, lembaga lain yang aktif membangun jaringan dengan pers
mahasiswa adalah Kompas melalui bantuan sponsor dan pelatihan
penulisan teknik jurnalisme presisi. Kami menyadari bahwa setiap
hubungan dengan elemen mahasiswa pada masa itu mungkin saja tak
selalu tanpa diembeli maksud apa-apa. Hubungan dengan kedua lembaga
tersebut ikut memengaruhi isi media alternatif kami karena dalam
kurun 1997-1999, misalnya, banyak tulisan yang dibuat dengan model
investigatif atau dengan teknik jurnalisme presisi.
Dalam pelaksanaan lokakarya, biasanya kami mendapat sponsor penuh
dari institusi tersebut yang memungkinkan kami mengundang rekan pers
mahasiswa dari Jakarta, Bandung, Malang, Solo, Semarang, Medan,
Bandar Lampung, dan lain-lain. Tak ada kesulitan mengundang pers
mahasiswa dari kota lain sebab sebelumnya telah terbangun jaringan di
antara kami.
Secara teratur kami saling kirim edisi terbaru terbitan kami,
saling berbagi pengetahuan tentang jurnalistik lewat diklat
jurnalistik yang rutin kami lakukan. Selain membangun jaringan dengan
sesama pers mahasiswa, kami juga membangun hubungan dengan kegiatan
jurnalistik di kalangan SMA (karena itu juga sering dimintai bantuan
mengisi lokakarya di sekolah-sekolah).
Mempertanyakan komunitas
Pemikiran yang tampak jelas jadi bahan pergulatan pers mahasiswa
dari waktu ke waktu adalah persoalan di mana sebenarnya pers
mahasiswa menunjukkan perannya? Di dalam kampus atau di luar kampus?
Dari isi pers mahasiswa saat itu, tampak kecenderungan kuat ingin
melampaui dinding-dinding kampus untuk menjadi pers nasional, sejajar
dengan pers umum. Namun, persoalan khas media alternatif saat itu
(keuangan, kebijakan kampus, lingkungan kehidupan mahasiswa secara
umum) membuat pertanyaan "di mana kami ingin berperan?" semakin
kencang, akhirnya membuat kebutuhan membuat model pers mahasiswa yang
lebih memenuhi kebutuhan komunitas semakin mendesak.
Pertanyaan mengenai komunitas dianggap penting karena pers
mahasiswa sebetulnya menyadari bahwa dia jauh dan berjarak dari
komunitasnya. Tanggapan dari teman sesama mahasiswa tak banyak, hanya
dari kelompok tertentu saja. Sebabnya, aktivis pers mahasiswa dalam
beberapa hal boleh dibilang kelompok elitis (hanya mereka yang bisa
menulis atau yang berkeinginan aktif di gerakan mahasiswa saja yang
berminat bergabung atau mengikuti kegiatan-kegiatannya). Akhirnya ada
desakan lebih berperan dan berarti bagi komunitas terdekatnya:
lingkungan kampus.
Diskusi-diskusi mengenai "komunitas" ini semakin menguat dalam
1997-1999. Dalam tingkat yang lebih luas, mulai ada media dalam
format sederhana yang lebih memfokuskan diri pada komunitasnya
sendiri, misalnya Entho Cothot yang berisi isu terbaru kampung,
pertukaran resep masakan para ibu yang tinggal di kampung tersebut.
Di tengah-tengah keadaan seperti itu lahir pula newsletter Gugat,
yang dibuat tepat saat mahasiswa menemukan momentum gerakannya pada
1998. Gugat terbit pertama kali pada 25 April 1998 oleh semua
penggiat pers mahasiswa yang saat itu menempati sekretariat bersama
di lingkungan Bulaksumur. Gugat dijual seharga Rp 400 (sebagai
pengganti ongkos fotokopi) dan terbit rutin sekali dua hari. Gugat
mencerminkan gerakan mahasiswa masa itu. Isinya berita demonstrasi
mahasiswa, isu terbaru gerakan mahasiswa, dan sumbangan teman sesama
mahasiswa di luar kota. Edisi terakhir Gugat bertanggal 4 Juni 1998.
Pada masa genting itu di beberapa tempat juga dijumpai media semacam
ini, Bergerak! (Universitas Indonesia) dan Suga Alternatif
(Universitas Airlangga).
Sebetulnya telah lama ada gagasan mengubah format SKM Bulaksumur
menjadi lebih sederhana untuk menekan ongkos produksi dan membuat
waktu terbitnya lebih terjaga demi terpeliharanya komunikasi dengan
komunitas pembacanya. Namun, tak semua yang berani menjalankan
gagasan itu. Barulah pada 8 Mei 2000, SKM Bulaksumur berubah dalam
format yang benar-benar baru: newsletter, hitam-putih, awalnya empat
halaman (dan terus bertambah sampai 16 halaman), terbit setiap
minggu, dan didistribusikan gratis. Pada edisi pertamanya tertulis di
editorial: Seiring perubahan besar dan mendasar yang terjadi pada Mei
1998, situasi pers nasional juga terkena dampaknya. SKM Bulaksumur
harus melakukan adaptasi dan inovasi guna menjawab tantangan jaman.
Sadar bahwa permasalahan sivitas akademika dalam kampus masih banyak
yang belum terangkat apalagi terjawab tuntas, Bulaksumur pun segera
bermetamorfosis menjadi media komunitas.
Sementara itu, pers mahasiswa lain, Balairung, mengubah dirinya
menjadi jurnal berisi pemikiran ilmiah mahasiswa dan koran dinding
yang berisi isu-isu di dalam kampus.
Bulaksumur Pos yang mulai terbit lima tahun lalu masih terbit
sampai sekarang. Dalam bentuknya yang sekarang, Bulaksumur Pos
menarik perhatian komunitasnya karena memuat rubrik iklan baris
(berisi penawaran produk, ucapan selamat ulang tahun, dan salam kenal
dengan sesama mahasiswa di fakultas lain) dengan tarif Rp 500 per
baris, iklan kolom yang dijual Rp 20.000 per paket, dan rubrik "Ini
Caranya" (berisi aneka tips cara menyewa gedung pertemuan di UGM,
menyewa stadion kampus, dan cara mengakses pusat-pusat studi yang ada).
Edisi yang paling banyak dicari adalah ketika Bulaksumur Pos memuat
berita mengenai kematian mahasiswa pencinta alam UGM di Gunung
Slamet. Saat itu banyak rekan sekampus yang mendatangi sekretariat,
sementara Bulaksumur Pos dicetak dalam jumlah tak banyak sehingga
akhirnya harus difotokopi.
Gelombang baru
Mulai 1997 terdapat perubahan yang tak terlalu kelihatan, tetapi
dalam tahun-tahun berikutnya mampu mengubah pandangan seseorang akan
makna menjadi mahasiswa, pilihan-pilihan kegiatan yang ia tempuh di
tengah kondisi sosial dan politik Indonesia yang nyata. Saat itu
tampak kecenderungan pada mahasiswa untuk lulus lebih lekas. Di UGM,
misalnya, hal itu ditunjang oleh perkenalan aneka model Kuliah Kerja
Nyata (KKN): mulai dari KKN yang bisa dilakukan selama liburan
semester (KKN Semester Pendek), KKN di dalam kota, sampai kuliah
selama liburan semester (semester pendek) yang semuanya berujung
mendorong mahasiswa lulus lebih lekas.
Lekas lulus dan segera mendapatkan kerja. Ini tentu pilihan yang
masuk akal dalam situasi negeri dengan segala macam krisis. Namun,
keadaan itu layak dirinci untuk memperlihatkan campur tangan resmi
pemerintah (institusi pendidikan) mengangkat tingkat kelulusan
mahasiswanya sekaligus menjauhkan mahasiswa dari urusan sosial-politik.
Pertengahan 1990-an adalah masa yang dengan mudah dapat digunakan
menandai atau membedakan ideologi anak-anak muda Indonesia.
Ketidakbebasan berpolitik membuat kelompok mahasiswa yang aktif di
pers mahasiswa, gerakan mahasiswa, LSM-LSM, kegiatan seni dan
olahraga, dan mereka yang hanya kuliah bisa dipetakan dengan jelas.
Pertanyaannya, apakah pembagian itu sekarang dapat dijadikan patokan
untuk menggambarkan mahasiswa pada masa kini?
Saat ini seorang anak muda bisa saja setiap minggu membaca Cosmo
Girl, Ripple, dan macam-macam majalah independen lain, atau mungkin
telah membuat majalah independennya sendiri. Ia bisa juga pendatang
tetap rave party, pembelanja pakaian di distro-distro (distribution
outlet), tahu semua band indie, mendengarkan The Strokes, sekaligus
membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer dan berlangganan majalah
Tempo. Jarak antara membaca Pramoedya sebagai bentuk kehausan akan
ekspresi kebebasan berbicara (seperti bisa dilihat 6-10 tahun lalu)
dan membaca Pramoedya sebagai bagian dari gaya hidup telah hancur.
Saat ini bisa disaksikan betapa hubungan antara gaya berpakaian,
gaya berbicara, musik yang didengarkan, dan bacaan yang dikonsumsi
telah kehilangan makna. Gambaran yang paling jelas terlihat terutama
pada generasi yang lahir pada akhir 1970-an dan akhir 1980-an. Mereka
tak mengalami secara langsung kolonialisme dan masa-masa awal
pascakolonial. Mereka berhadapan langsung dengan produk kultural baru
dan konsep baru bersamaan dengan posisi ekonomi dan kultural
Indonesia yang terus-menerus berlari cepat dalam sistem global.
Paparan di atas menunjukkan bagaimana mahasiswa mengubah strategi
penerbitan media mereka dan menciptakan taktik baru bagi ekspresi
politik identitas mereka. Mulai tahun 2000 terdapat gelombang baru
kemunculan media anak muda dengan ciri berbeda dari masa sebelumnya.
Media baru itu biasanya dicetak sederhana atau difotokopi, dicetak
dalam jumlah kecil dan didistribusikan melalui jaringan komunitas
kecil sehingga menjadi semacam media pembelajaran bersama.
Dapat disaksikan keberagaman tema yang dikerjakan oleh media baru
ini. Blocknote, Ajaib, Beni, dan Pagina adalah media yang berisi
kumpulan puisi atau cerpen. Clea berisi kritik film, Ego!Scrapbook
kumpulan esai dan gambar, 10:05 i kumpulan foto, profil klub, dan
info rave party di Yogyakarta, Blow kumpulan esai, grafis, dan ulasan
musik, Ripple berupa kumpulan ulasan musik, info tentang surfing,
skateboard, esai desain, fashion.
Mes 56 dan Kitsch berupa newsletter foto dan esai seni visual, Rude
dan Daging Tumbuh berisi kumpulan komik, Requiem kumpulan puisi,
Momen Inersia kumpulan esai dan kritik atas kapitalisme dalam
industri musik, ulasan musik. Shine berisi apa pun tentang musik,
Revolver kumpulan esai tentang gaya hidup dan musik, Air Seni
kumpulan esai seni, karya-karya seniman muda, ulasan musik, buku, dan
film. Dalam banyak media baru ini juga bisa dilihat esai-esai yang
sangat politis. Semuanya ditulis dengan gaya personal. Jelas terlihat
adanya irisan antara seni visual, sastra, musik, dan kritik sosial
politik dalam isi media tersebut, sekaligus menunjukkan konsumsi isu
global yang intens oleh anak muda dalam berbagai aspek produk
kebudayaan.
Menurut katalog media alternatif yang diterbitkan oleh Peniti Pink
(Jakarta), sampai pada Februari 2004 saja terdapat 223 media yang
dibuat oleh anak muda dari berbagai kota di Indonesia. Rata-rata para
pembuat media baru ini adalah generasi yang lahir pada tahun 1980-an
dan mulai kuliah pada tahun 2000-an. Mereka adalah generasi yang
lahir pada zaman Orde Baru dan mulai kuliah ketika reformasi sudah
lewat dan hanya bisa didengar lewat cerita orang atau dibaca lewat
dokumentasi yang tertulis di media massa. Beberapa media baru itu
mungkin tidak berumur panjang. Bisa dijumpai media yang hanya terbit
satu atau dua kali dan para pembuatnya dengan mudah membuat lagi
media lain. Saat ini dalam dunia sibernetis juga tumbuh banyak situs
pribadi yang bisa dengan mudah dibuat dengan teknologi blog.
Paparan di atas memperlihatkan kebutuhan kuat untuk menunjukkan
kepribadian sendiri. Sampai di sini jelas bahwa bagi anak muda,
teknologi adalah jalur bebas untuk berekspresi dan berbuat apa saja.
Tapi, sejauh ini tampaknya medium baru ini lebih banyak membuka ruang
eksplorasi pada kebebasan yang terfokus pada diri sendiri. Sesuatu
yang terfokus pada diri sendiri bukan cuma mengimplikasikan kebebasan
diri yang ekstrem, tapi juga melahirkan kesan "senang-senang" dan
"asyik-asyik saja".
Sesudah 1998 kebingungan luar biasa menyergap anak muda.
Berlangsung peralihan dari persoalan politik yang "besar" ke
persoalan perayaan komunitas dan keberadaan diri. Kondisi selanjutnya
menggiring saya pada pertanyaan: apakah semua "senang-senang" itu
punya makna atau tidak. Mungkin juga semua kebebasan itu berujung
pada perjuangan mendobrak sebuah kekuatan besar yang saat ini belum
bisa dibahasakan dengan mudah oleh anak muda. Yang juga luar biasa
sulit ditangkap adalah batas-batas penanda antara perilaku, gaya
hidup, dan ideologi pada diri anak muda sekarang.
Nuraini Juliastuti Pekerja pada KUNCI Cultural Studies Center,
Yogyakarta
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--- End forwarded message ---
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.
_____ http://www.Kendal-Online.Net _____
Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet
SPONSORED LINKS
| Bali indonesia hotel | Bali indonesia | Indonesia hotel |
| Bali indonesia vacation | Bali indonesia travel |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "kendal-online" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

