betull mas udin, tua itu pasti, dewasa itu pilihan..dan belum tentu orang yang suka mengkritiki orang juga lebih baik dan bisa mengerjakan apa yang dikritiknya.
salam
mohamed sulhanudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
mohamed sulhanudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Chakim,
Terima kasih atas komentar dan masukannya. Saya tidak membenci generasi tua. Saya dari SD sampai sekarang diajar oleh guru-guru saya. Para orang tua itu sangat berjasa. Saya bahkan menganggap mereka sebegai orang tua rohani saya. Saya tidak akan mengecamnya. Saya juga tak lupa mencantumkan orang-orangyang berjasa itu dalam doa saya.
Tapi bukan berarti mencintai itu tampa kritik. Bagi saya mengkritik menunjukkan kalau kita perhatian. Saya kira si penulis yang saya komentari itu masih perhatian pada orang-orang muda di mana penulis dulu pernah menjadi golongan muda.
Persoalannya, saya memang kurang suka dengan cara penulis itu mencintai generasi di bawahnya, termasuk saya. Dan itu bukan karena sentimen almamater. Bukan. Saya sangat respek pada orang-orang tua yang memang masih komit pada anak muda. Tidak hanya mengkritik dengan membanggakan masa lalu. Sama artinya lempar batu, terus ngumpet.
Orang tua yang tidak menjadi tua karena usianya. Tapi orang tua yang masih berjiwa muda. Saya masih menyempatkan diri sowan ke orang-orang tua itu seperti itu untuk sekedar ngobrol. Mereka nggak ngomong kayak si penulis itu kok. Nggak membangga-banggakan masa lalunya. Menurut saya karena mereka masih bisa merasakan jiwa muda mereka, kendati sekarang sudah tak lagi muda.
Saya kira Pram tak akan menangis. Sebaliknya dia malah tersenyum. Menjadi Pramis, bukan berati kita mengikuti ajaran Pram, seperti yang dilakukan banyak orang. Menjadi Pramis adalah melakukan seperti yang dilakukan oleh Pram. Yakni tidak mengikuti ajaran siapapun kecuali ajarannya sendiri. Tidak juga termasuk orang tua. Ia mendengarkan suara nuraninya. Setiap orang pasti bisa. Ia bisa berpikir dengan pikirannya sendiri. Sapere aude!
Maaf kalau pendapat saya ini Anda anggap sebagai ekstrem-kiri, yang secara mekanis tak jauh beda dengan ekstrem-kanan-islam-fundamentalis. Ya begitulah, saya. Saya tidak suka, ya saya bilang begitu. Saya tidak bisa pura-pura untuk suka di depan orang. Masih perlu banyak waktu bagi saya untuk belajar menjadi bijak seperti Anda. Btw, anda sudah tua kali ya, atau anak muda yang sudah menjadi orang tua? Kalau begitu, anda berarti orang yang pertama kali harus saya perangi, he2 (sori becanda).
Kalau komentar saya itu anda anggap sudah basi, silakan. Saya hanya menulis, mengeluarkan apa yang saya pikirkan. Kritikan anda saya anggap sebagai bentuk apresiasi. Saya juga sangat menghargai cara pandang anda. Saya juga tak memaksa anda untuk berpikir seperti saya. Dan saya juga tak akan menyerang balik, mengatakan pendapat anda yang old-fashioned-thinking! Perbedaan tak harus diseragamkan. Perbedaan itu yang menjadikan diskusi tambah menarik. Ini namanya demokrasi.
Terima kasih banget atas komentarnya yang padat. Saya sangat senang bisa berdiskusi dengan anda.
Salam,
Udin
Chakim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Komentar saya: Mas Udin ini seperti sedang menyuguhkan
minuman anggur. Karena angka tahunnya tertulis berasal
dari jaman bahoela, maka mas Udin bilang, "Ini minuman
nikmat. Berkelas. Cozy, deh, pokoke. Tapi, sayang,
udah lama banget, tuh, tahun produksinya. yaaa,
silakan aja. Mau diminum boleh. Endak juga gpp. Tapi,
saran saya, mending jangan deh. Basi, you know. Udah
beracun kaleeee..."
> Teman-teman yang berbahagia,
>
> Saya postingkan artikel tentang media dan anak
> muda di Indonesia
> yang dimuat di rubrik Bentara, Kompas, hari ini
> (Sabtu, 6/5/06).
> Materi wacana sebenarnya tak baru-baru amat.
> Seputar peranan gerakan
> mahasiswa dalam pemerintahan.
>
> Sesuai pengakuannya, penulis adalah mantan
> aktivis pers mahasiswa
> era awal 90-an. Artikel yang memaparkan heroik
> semangat juang kaum
> muda itu diakhiri dengan pertanyaan tentang kondisi
> gerakan mahasiswa
> saat ini.
>
***
Semoga ini bukan karena sentimen almamater. Ya, mas
Udin, ya? :0)
> Yach sekedar refleksi, artikel ini cukup
> bermanfaat. Syukur bisa
> memberikan pencerahan, meski data-data yang
> digunakan masih sempit
> karena data yang dipakai adalah pengalaman pribadi,
> saat penulis
> aktif di salah satu pers mahasiswa di UGM. Nggak
> ada salahnya sih,
> cuma kalau penulis bermaksud membesar-besarkan
> pengalamannya itu, kok
> kurang bijak.
>
***
Ini betul, mas Udin. Tapi kalau saya bilang: Jangan
sampai memandang dan mensikapi sesuatu persoalan
secara ekstrim karena reaksi yang akan anda munculkan
juga akan sangat ekstrim berkebalikan dengan persoalan
yang anda sedang hadapi.
Kebencian terhadap petuah orang tua semacam itu
seringnya membuat kita phobi --tepatnya alergi--
terhadap hal-hal yang berbau perjuangan dan, parahnya,
sejarah kehidupan bangsa kita sendiri. Bukan berarti
saya orang yang terbiasa menyimak dan menyerap semua
penuturan para sesepuh tentang kejayaan masa lalu
(baca: sejarah) dengan mengamini tanpa
memperbandingkan dengan versi dari penutur lain (wong
teks2 sejarah yang kita baca sepanjang sekolah kita
itu semua versinya orba). Bukan itu maksud saya.
Maksud saya, reaksi ekstrim terhadap sejarahlah yang
pada akhirnya membuat kita sebagai bangsa yang suka,
sadar atau tidak, melupakan sejarah, masa lalu, dan
pada akhirnya menjadi bangsa yang pemaaf, permisif,
dan kompromistis terhadap pelaku kejahatan politik dan
kemanusiaan di masa lalu di negeri ini.
Sekarang siapa yang ingat dan tetap mengikuti proses
peradilan Pak Harto? Kalau sehabis penampakan beliau
di ruang umum aja kita jadi inget,'Wah! Orang ini
musti kita adili ya? Kok ini sudah sehat dan seenaknya
berkeliaran? Mana itu kejaksaan? Mana polisi? Mana
semua orang???'
Siapa yang sadar bahwa pemilu terakhir kemarin Golkar
masih saja semaunya kampanye sana-sini, teriak-teriak
reformasi lantas pagi buta tetap saja melakukan
serangan fajar, kemudian dengan jumawanya memenangi
posisi kedua perolehan suaranya. Siapa yang harus
bertanggung jawab? KITA! Kita yang mudah sekali
menyingkirkan rasa sakit dan derita di masa lalu hanya
karena senyum kebapakan, penampilan cantik di media
massa, sakit yang di-blow-up; hanya karena partai yang
dulunya menjadi penyokong terbesar kediktatoran
menyatakan telah melakukan reformasi tanpa sama sekali
meminta maaf atas dosa2 masa lalunya dan, apalagi, mau
memperbaiki, menebusnya.
Cih!
> Setiap generasi memiliki masanya sendiri.
> Memiliki ciri khasnya
> sendiri. Memiliki ukurannya sendiri. Problem yang
> dihadapi tak
> seperti yang dihadapi generasi sebelumnya. Menilai
> fenomena saat ini
> dengan kacamata "cara pandang masa lalu" tidak
> sepenuhnya menjawab
> persoalan. Sebagai audiens, saya merasa disuguhi
> tontotanan-tontonan
> romantisme-cengeng kejayaan masa lalu. Seperti anak
> kecil yang
> diceritai tentang kejayaan nenek moyangnya yang
> dulu sebagai pelaut
> handal....
>
***
Nah. Ini. Ini. Mulai antipati tehadap golongan tua.
Jangan dianggap golongan tua itu semua reaksioner,
mas. Oom Pram, yang anda puji-puji kemaren itu,
golongan tua juga. Dia revolusioner. Dan saya yakin
120%, kalau anda ketemu orngnya langsung juga akan
diceritai soal bambu runcing, mitraliur, nekolim,
manikebu, laskar2 perjuangan rakjat, nasakom, dlsb...
> KAKEKMU ITU LHO, DULU PEJUANG HUEBATTTT!!!
> Emangnya untuk menjadi
> hebat, sang cucu harus berperang seperti sang kakek
> yang hidup pada
> masa penjajahan. Padahal persoalan sekarang sudah
> bukan lagi soal
> perang-perangan dengan model kolonialisme kuno itu,
> sekarang sudah
> canggih! Masak sih dengan bambu runcing bisa
> mengalahkan penjajah
> yang bersenjata modern? Jangan-jangan ini cumaa
> mitos untuk
> membangkitkan heroisme kaum muda. Atau perbuatan
> keterlaluan para
> kaum tua?
>
***
Saya takut, kalau Oom Pram masih hidup dan kebetulan
mebaca tulisan anda ini, beliau akan nangis
sesenggukan.
> Sebagai bagian dari anak muda yang hidup pada era
> ini, saya sangat
> menghargai perjuangan mereka, pemikiran para
> senior, penilaian para
> orang tua atas zaman kami. Terima kasih atas
> perhatiannya. Tapi,
> biarkanlah kami yang menentukan, mengatur sendiri,
> menemukan sendiri
> jatidiri kami tanpa cerita-cerita kejayaanmu itu.
>
***
Kenapa anda mikirnya mekanis gitu? Njagakke orang2
yang semacam Chairil (beliau ini, bersama dengan Amir
Hamzah dan STA, adalah idola2 dan guru2 saya. Salam
takzim untuk mereka.)? Anda yang harus turun sekarang
iniiiiii.....!!!!!!!!! Bukan malah sibuk
terkotak-kotak ke dalam mahasiswa politis-nonpolitis;
benci bicara politik karena termakan stigmatisasi
bahwa politik itu kejam, jahat, culas; terjebak ke
dalam sistem pendidikan yang terkapitalisasi;
dikooptasi dan diplot untuk kepentingan kapitalisme?
> Perlu orang seperti Chairil Anwar untuk
> meruntuhkan dominasi para
> orang tua "kolot" di negeri ini. Bukan sekedar
> beda, tapi bisa
> menunjukkan kualitasnya yang lebih baik. Atau
> sekedar membeo di
> belakang orang-orang tua, yang belum tentu benar.
> sapere aude!
>
***
Last but not least, ini kesimpulan saya:
Komentar anda terhadap tulisan yg anda forward ini
justru menguatkan muatan tulisan tersebut. Saya
berharap bukan berarti anda tersinggung harga dirinya
karena anda yang dianggap sebagai mahasiswa angkatan
pasca 2000 yang tidak mengalami reformasi langsung
melainkan hanya dengar2 dari orang lain. Anda tidak
sepicik itu kan?
Sekali lagi, saya ingin menekankan pentingnya
mengingat sejarah, masa lalu, dan kemelut yang
berlangsung di saat itu. Penting sekali kita berpikir
untuk mencari pemecahan masalah dengan menarik garis
jauh ke belakang untuk melihat benang merah yang
menghubungkan semua kejadian pada setiap masa.
Bukankah teori perkembangan sosial masyarakat juga
dirumuskan dengan cara demikian.
Itu saja komentar saya. Semoga ini juga bukan dianggap
sebagai kebanggaan akan kejayaan masa lalu, melainkan
upaya untuk belajar dari kesalahan2 masa lalu.
Semoga tidak menggurui. Kalaupun iya, saya mohon
kelapangan dada untuk saling melakukan kritik dan
otokritik. Toh saya tidak pernah sama sekali untuk
menggurui.
Salam,
Chakiem
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low PC-to-Phone call rates.
How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low PC-to-Phone call rates.
_____ http://www.Kendal-Online.Net _____
Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "kendal-online" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
- [kendal-online] Fwd: Media dan Anak Muda di Indonesia sulhan
- Re: [kendal-online] Fwd: Media dan Anak Muda di I... kutilang dara
- Re: [kendal-online] Fwd: Media dan Anak Muda ... Chakim
- Re: [kendal-online] Fwd: Media dan Anak M... mohamed sulhanudin
- Re: [kendal-online] Fwd: Media dan An... Asrofi sm
- Re: [kendal-online] Fwd: Media dan Anak Muda di I... Chakim
- Re: [kendal-online] Fwd: Media dan Anak Muda ... mohamed sulhanudin
- Re: [kendal-online] Fwd: Media dan Anak M... witono hidayat
Kirim email ke

