Komentar saya: Mas Udin ini seperti sedang menyuguhkan
minuman anggur. Karena angka tahunnya tertulis berasal
dari jaman bahoela, maka mas Udin bilang, "Ini minuman
nikmat. Berkelas. Cozy, deh, pokoke. Tapi, sayang,
udah lama banget, tuh, tahun produksinya. yaaa,
silakan aja. Mau diminum boleh. Endak juga gpp. Tapi,
saran saya, mending jangan deh. Basi, you know. Udah
beracun kaleeee..."

>   Teman-teman yang berbahagia,
>  
>   Saya postingkan artikel tentang media dan anak
> muda di Indonesia
> yang  dimuat di rubrik Bentara, Kompas, hari ini
> (Sabtu, 6/5/06).
> Materi  wacana sebenarnya tak baru-baru amat.
> Seputar peranan gerakan
> mahasiswa  dalam pemerintahan.
>  
>   Sesuai  pengakuannya, penulis adalah mantan
> aktivis pers mahasiswa
> era awal  90-an. Artikel yang memaparkan heroik
> semangat juang kaum
> muda itu  diakhiri dengan pertanyaan tentang kondisi
> gerakan mahasiswa
> saat ini.
>  
                        ***



Semoga ini bukan karena sentimen almamater. Ya, mas
Udin, ya? :0)

>   Yach  sekedar refleksi, artikel ini cukup
> bermanfaat. Syukur bisa
> memberikan  pencerahan, meski data-data yang
> digunakan masih sempit
> karena data  yang dipakai adalah pengalaman pribadi,
> saat penulis
> aktif di salah  satu pers mahasiswa di UGM. Nggak
> ada salahnya sih,
> cuma kalau penulis  bermaksud membesar-besarkan
> pengalamannya itu, kok
> kurang bijak.
>
                       ***



Ini betul, mas Udin. Tapi kalau saya bilang: Jangan
sampai memandang dan mensikapi sesuatu persoalan
secara ekstrim karena reaksi yang akan anda munculkan
juga akan sangat ekstrim berkebalikan dengan persoalan
yang anda sedang hadapi.

Kebencian terhadap petuah orang tua semacam itu
seringnya membuat kita phobi --tepatnya alergi--
terhadap hal-hal yang berbau perjuangan dan, parahnya,
sejarah kehidupan bangsa kita sendiri. Bukan berarti
saya orang yang terbiasa menyimak dan menyerap semua
penuturan para sesepuh tentang kejayaan masa lalu
(baca: sejarah) dengan mengamini tanpa
memperbandingkan dengan versi dari penutur lain (wong
teks2 sejarah yang kita baca sepanjang sekolah kita
itu semua versinya orba). Bukan itu maksud saya.

Maksud saya, reaksi ekstrim terhadap sejarahlah yang
pada akhirnya membuat kita sebagai bangsa yang suka,
sadar atau tidak, melupakan sejarah, masa lalu, dan
pada akhirnya menjadi bangsa yang pemaaf, permisif,
dan kompromistis terhadap pelaku kejahatan politik dan
kemanusiaan di masa lalu di negeri ini.

Sekarang siapa yang ingat dan tetap mengikuti proses
peradilan Pak Harto? Kalau sehabis penampakan beliau
di ruang umum aja kita jadi inget,'Wah! Orang ini
musti kita adili ya? Kok ini sudah sehat dan seenaknya
berkeliaran? Mana itu kejaksaan? Mana polisi? Mana
semua orang???'

Siapa yang sadar bahwa pemilu terakhir kemarin Golkar
masih saja semaunya kampanye sana-sini, teriak-teriak
reformasi lantas pagi buta tetap saja melakukan
serangan fajar, kemudian dengan jumawanya memenangi
posisi kedua perolehan suaranya. Siapa yang harus
bertanggung jawab? KITA! Kita yang mudah sekali
menyingkirkan rasa sakit dan derita di masa lalu hanya
karena senyum kebapakan, penampilan cantik di media
massa, sakit yang di-blow-up; hanya karena partai yang
dulunya menjadi penyokong terbesar kediktatoran
menyatakan telah melakukan reformasi tanpa sama sekali
meminta maaf atas dosa2 masa lalunya dan, apalagi, mau
memperbaiki, menebusnya.
Cih!

>   Setiap  generasi memiliki masanya sendiri.
> Memiliki ciri khasnya
> sendiri.  Memiliki ukurannya sendiri. Problem yang
> dihadapi tak
> seperti yang  dihadapi generasi sebelumnya. Menilai
> fenomena saat ini
> dengan kacamata  "cara pandang masa lalu" tidak
> sepenuhnya menjawab
> persoalan. Sebagai  audiens, saya merasa disuguhi
> tontotanan-tontonan
> romantisme-cengeng  kejayaan masa lalu. Seperti anak
> kecil yang
> diceritai tentang kejayaan  nenek moyangnya yang
> dulu sebagai pelaut
> handal....
>  
                       ***


Nah. Ini. Ini. Mulai antipati tehadap golongan tua.
Jangan dianggap golongan tua itu semua reaksioner,
mas. Oom Pram, yang anda puji-puji kemaren itu,
golongan tua juga. Dia revolusioner. Dan saya yakin
120%, kalau anda ketemu orngnya langsung juga akan
diceritai soal bambu runcing, mitraliur, nekolim,
manikebu, laskar2 perjuangan rakjat, nasakom, dlsb...


>   KAKEKMU ITU LHO, DULU PEJUANG HUEBATTTT!!!
> Emangnya untuk menjadi
> hebat, sang cucu harus berperang seperti sang  kakek
> yang hidup pada
> masa penjajahan. Padahal persoalan sekarang sudah
> bukan lagi soal
> perang-perangan dengan model kolonialisme kuno itu,
> sekarang sudah
> canggih!  Masak sih dengan bambu runcing bisa
> mengalahkan penjajah
> yang bersenjata modern? Jangan-jangan ini cumaa
> mitos untuk
> membangkitkan heroisme kaum muda. Atau perbuatan
> keterlaluan para
> kaum tua?
>  
                      ***



Saya takut, kalau Oom Pram masih hidup dan kebetulan
mebaca tulisan anda ini, beliau akan nangis
sesenggukan.

>   Sebagai  bagian dari anak muda yang hidup pada era
> ini, saya sangat
> menghargai  perjuangan mereka, pemikiran para
> senior, penilaian para
> orang tua atas  zaman kami. Terima kasih atas
> perhatiannya. Tapi,
> biarkanlah kami yang  menentukan, mengatur sendiri,
> menemukan sendiri
> jatidiri kami tanpa  cerita-cerita kejayaanmu itu.
>  
                        ***



Kenapa anda mikirnya mekanis gitu? Njagakke orang2
yang semacam Chairil (beliau ini, bersama dengan Amir
Hamzah dan STA, adalah idola2 dan guru2 saya. Salam
takzim untuk mereka.)? Anda yang harus turun sekarang
iniiiiii.....!!!!!!!!! Bukan malah sibuk
terkotak-kotak ke dalam mahasiswa politis-nonpolitis;
benci bicara politik karena termakan stigmatisasi
bahwa politik itu kejam, jahat, culas; terjebak ke
dalam sistem pendidikan yang terkapitalisasi;
dikooptasi dan diplot untuk kepentingan kapitalisme?

>   Perlu orang seperti Chairil Anwar untuk
> meruntuhkan dominasi para
> orang tua "kolot" di negeri ini. Bukan  sekedar
> beda, tapi bisa
> menunjukkan kualitasnya yang lebih baik. Atau
> sekedar membeo di
> belakang orang-orang tua, yang belum tentu benar.
> sapere aude!
>  
                      ***




Last but not least, ini kesimpulan saya:

Komentar anda terhadap tulisan yg anda forward ini
justru menguatkan muatan tulisan tersebut. Saya
berharap bukan berarti anda tersinggung harga dirinya
karena anda yang dianggap sebagai mahasiswa angkatan
pasca 2000 yang tidak mengalami reformasi langsung
melainkan hanya dengar2 dari orang lain. Anda tidak
sepicik itu kan?

Sekali lagi, saya ingin menekankan pentingnya
mengingat sejarah, masa lalu, dan kemelut yang
berlangsung di saat itu. Penting sekali kita berpikir
untuk mencari pemecahan masalah dengan menarik garis
jauh ke belakang untuk melihat benang merah yang
menghubungkan semua kejadian pada setiap masa.
Bukankah teori perkembangan sosial masyarakat juga
dirumuskan dengan cara demikian.

Itu saja komentar saya. Semoga ini juga bukan dianggap
sebagai kebanggaan akan kejayaan masa lalu, melainkan
upaya untuk belajar dari kesalahan2 masa lalu.

Semoga tidak menggurui. Kalaupun iya, saya mohon
kelapangan dada untuk saling melakukan kritik dan
otokritik. Toh saya tidak pernah sama sekali untuk
menggurui.


Salam,

Chakiem


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


_____ http://www.Kendal-Online.Net _____
Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet








SPONSORED LINKS
Bali indonesia hotel Bali indonesia Indonesia hotel
Bali indonesia vacation Bali indonesia travel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke