dr Widya Kandi Susantiitu kan istrinya Hendy Bundoro kan?!!terang aja soalnya 
Hendy dah gak berkuasa ya biasalah...coba dulu mesti adem ayem aja, masalah 
terminal bisa yang nganggur saja gak pernah muncul rame2 untuk menginterpelasi 
Bupatinya tuh..padahal saya kira lebih penting mengusut kehilangan uang kita 
untuk membangun "monumen" di depan Sari Rasa itu

Btw, saya baca pimpinan redaksi Rahmat Da’wah, beliau masih di partai gak ya 
mas redaktur yang memposting di milis ini?atau jangan2 beliau sendiri neh yang 
posting .

Sukses deh untuk kendalku tercinta...


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/






----- Original Message ----
From: redaksibarometer <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, 23 September, 2008 8:17:29
Subject: [kendal-online] Wabup Terancam Mosi Tidak Percaya


KEGAGALAN kerja sama Pemkab dengan pemerintah provinsi (pemprov) dan 
pemerintah pusat dalam pembangunan terminal kayu terpadu (TKT) 
disikapi serius oleh DPRD. Melalui Komisi A (bidang pemerintahan dan 
hukum), lembaga legislatif sepakat menginterpelasi Pemkab, guna 
mencari kejelasan mengapa rencana spektakuler bernilai ekonomi tinggi 
itu sampai gagal, apa penyebabnya dan sebagainya. Kesepakatan diambil 
dalam rapat Komisi yang dipimpin oleh ketuanya dr Widya Kandi Susanti 
di gedung Dewan, Kamis (15/9). 

" Kita sudah sepakat untuk mengajukan interpelasi. Memang ada wacana 
untuk mengajukan hak angket saja, seperti diusulkan Pak Sa'du 
(Sa'dullah dari PAN-red). Tapi akhirnya disepakati interpelasi, supaya 
semua anggota Dewan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Kalau 
angket kan anggota Dewan hanya mewakilkan ke beberapa orang saja, 
sehingga bisa saja mereka main-main dengan eksekutif, " terang dr 
Widya penuh semangat. 

Tak biasanya, salah satu perempuan anggota Fraksi PDI-P itu memerlukan 
menghubungi langsung para wartawan untuk meliput sidang. Yang menarik, 
yang menjadi pokok bahasan dalam rapat tersebut adalah berita utama 
Barometer edisi ke-5 periode 1-15 September 2008, yang kali pertama 
mengungkap dan mengupas tuntas soal kegagalan tersebut. 

" Koran Barometer digelar...dibahas di sidang, " lapor Ario Widiyanto 
yang diundang mewakili tabloid ini. Bahkan salah seorang anggota 
Komisi, entah bermaksud menyindir atau sungguh-sungguh ingin bertanya, 
pada kesempatan tersebut menanyakan kepada jajaran pers, " Lho, sing 
ngungkap kok mung Barometer, yang lain pada nulis apa? " 

Wajar saja dia bertanya begitu. Sebab, bagaimana mungkin berita besar 
bagi masyarakat Kendal itu bisa sampai tak terendus oleh makhluk 
bernama wartawan yang konon bertelinga banyak. Atau, kalau toh mereka 
mengetahui soal kegagalan tersebut, mengapa tidak menjadikannya isu 
menarik untuk disajikan ke masyarakat. 

Sa'du malah berpikiran lebih jauh lagi. Katanya, kegagalan TKT 
mendorong Komisi A untuk meminta pertanggungjawaban dari eksekutif, 
dalam hal ini Kabag Tata Pemerintahan dan Tim 9 (panitia pengadaan 
tanah). Selanjutnya Komisi A juga akan menggelar hak angket bahkan 
jika perlu interpelasi, yang bisa jadi berkembang menjadi mosi tidak 
percaya. 

Koleganya Satiyo dari Partai Golkar dengan lantang meneriakkan, 
kegagalan TKT menunjukkan kinerja eksekutif tidak profesional. 
Buktinya mengurus pengadaan tanah saja tidak mampu. Padahal TKT adalah 
aset berharga untuk Pemkab, tapi jika pengelolaannya diambilalih 
Provinsi tentu Pemkab tidak akan kebagian apa-apa. 

Berbagai komentar wakil rakyat itu menunjukkan, kegagalan eksekutif 
merealisasikan TKT itu bisa mengancam posisi Wabup. Setidaknya raport 
merah akan diberikan DPRD, yang bisa berdampak pada penolakan Dewan 
terhadap LKPj (laporan keterangan pertanggungjawaban) Markesi. Jika 
itu terjadi, mosi tidak percaya pun tinggal soal waktu. 

Baca selengkapnya di http://www.tabloidb arometer. com/

    


      

Kirim email ke