Makasih ceritanya mas Sungguh menginspirasi saya Ditunggu kisah sukses berikutnya
warmth ASROFI Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal Mobile : +6281 311 661 479 Yahoo : asrofism G-Talk : [email protected] Email : [email protected] Blog : www.asrofi.web.id Office : www.sentraproperty.com 2009/5/29 Arlies Bayu <[email protected]> > > > Dulu Kondektur Sekarang Juragan > Kisah sukses Muhadi menjadi pengusaha bus PO Dedy Jaya > > Lewat kerja keras dan keuletan, Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy > Jaya. Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi kondektur > bus. Kini bisnisnya sudah menggurita, mulai dari hotel, pabrik cat, mal, > hingga toko bangunan. > > Soal nasib urusan belakang. Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, > konglomerat asal Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun > kini membuahkan hasil. Grup usaha PT Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri > sekitar 15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan 2.500 > karyawan. Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari mengelola > ratusan armada di bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy Jaya, hotel, > pabrik cat, toko bahan bangunan, toko emas, hingga bisnis mal di Tegal. > "Nasib itu urutan kesekian. Siapa pun yang bekerja keras pasti bisa > berhasil," ucap lelaki kelahiran Brebes, Maret 1961 ini mantap. > > Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan > pendidikan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dari sebuah pesantren di > Cirebon ini, benar-benar sudah membuktikannya. Maklum, kerajaan bisnisnya > itu ia rintis dengan susah payah dan bukan terima menjadi dari warisan. > "Saya benar-benar mulai dari nol besar," tandas bapak tiga anak ini. > > Merintis sukses dari berdagang bambu > > Simak saja kisahnya. Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti > berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan minyak > tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima tahun sejak > menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga ikut membantu > ayahnya bertani di sawah. > > Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik Sri > Subekti pada 1981. "Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat > menikah," tuturnya mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi > anak konglomerat. Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai > keluarga barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja > serabutan itu. > > Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu dengan modal awal sekitar > Rp 50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah membantu orang tuanya di sawah. > "Usaha ini masih saya pertahankan sampai sekarang karena ia adalah cikal > bakal semua usaha yang tidak bisa saya lupakan," tutur Muhadi. > > Guratan sukses Muhadi tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih > payahnya berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa > pesanan dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat > mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan > batang. Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp > 470.000 saban bulan. > > Selain mendapat order, ada berkahnya juga Muhadi bergaul dengan para > kontraktor itu. Ia jadi mulai mafhum tentang seluk-beluk usaha bahan > bangunan. Dua tahun setelah berdagang bambu, Muhadi lantas mendirikan toko > bahan bangunan dengan modal yang ia kumpulkan dari untung berdagang bambu. > "Kekurangannya saya pinjam dari bank," ucapnya terus terang. > > Rupanya pilihan Muhadi melebarkan sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh > tepat. Karena usaha barunya itu benar-benar menjadi tambang emas yang tiada > henti mengalirkan untung. Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, > keuntungannya dari berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk > membeli beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana > angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin mengenang > masa sulitnya menjadi kondektur. > > Kini, jumlah armada busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai > ratusan unit. Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang > hendak ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy > Jaya melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan > Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia mencomot nama untuk bus serta grup usahanya > dari nama anak pertamanya, Dedion Supriyono. Selain menggeluti bus, Muhadi > juga mulai merambah ke toko emas dan bisnis perkayuan. > > Masih muda sudah kaya raya > > Konglomerasi bisnis Muhadi tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai > melirik bisnis pusat perbelanjaan lantaran melihat peluang yang masih > terbuka lebar di Tegal. Selain itu, "Saya ingin menjadi pelopor pengembang > pribumi, daripada peluang itu diambil developer dari luar," ucapnya. > > Alhasil, berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat > perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal, Muhadi > lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang setelah > membangun mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang sekaligus. Satu di > Tegal dan satunya lagi di Brebes. > > Sepak terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun > kerajaan bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran jika ia > mendapat banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini bisa dilihat > dari tiga buah lemari besar yang penuh berisi berbagai penghargaan. Yang > paling membanggakan Muhadi, dia pernah terpilih menerima penghargaan > upakarti dari presiden. "Saya bangga, karena saya ini cuma orang desa," > tuturnya merendah. > > Muhadi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran > bank yang mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau > mengucurkan pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang. Kendati > sekarang utangnya masih lumayan besar, dia mengaku tak risau ataupun malu. > "Saya baru malu kalau tak bisa membayar," tegasnya. > > Begitulah, kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Toh, ia tak lantas > puas dengan hasil yang sudah ia peroleh. Muhadi juga tak lantas > bermewah-mewah dengan hasilnya selama ini. Kantornya pun sederhana. Hanya > sebuah ruang seluas 24 m2 di salah satu sudut rumahnya di Jalan Raya > Cimohong, Bulakamba, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Brebes. Toh, > dari kota kecil inilah Muhadi mengendalikan bisnisnya yang sudah menggurita. > > +++++ > > Menggulung Layar Hiburan dan Kapal Ikan > > Sudah lumrah setiap ada senang pasti ada susah. Kalau tidak untung ya rugi. > Demikian pula dengan bisnis yang dijalani Muhadi. Tidak semua usahanya > berjalan mulus dan menjadi tambang duit yang berlimpah. Salah satu usahanya > yang terpuruk adalah bioskop Dedy Jaya di Tegal. Semula bioskopnya sempat > menjadi maskot dan sasaran hiburan warga Tegal. Namun, usaha itu menjadi > berantakan akibat membanjirnya video compact disc (VCD) bajakan yang murah > meriah. Bioskopnya menjadi sepi pengunjung dan pemasukannya makin seret > hingga berbuntut rugi. Tak heran Muhadi lantas melego bisnis tontonannya > itu. > > Selain bioskop, bisnis kapal ikannya pun terpaksa gulung tikar. Itu terjadi > akibat sengitnya persaingan di Tegal serta belitan krisis moneter pada 1997 > hingga 1998. Padahal, kala itu usaha Muhadi baru mulai berbiak dan > membutuhkan dana besar untuk mengembangkannya. Sayang, ketika itu tak ada > bank yang berani mengucurkan kredit. Muhadi mengaku hampir menyerah saat itu > lantaran imbasnya begitu dahsyat menerpa usahanya. "Berat sekali waktu itu. > Ternyata lebih mudah merintis ketimbang mempertahankan usaha yang sudah > ada," kenang Muhadi. > > Arlies Bayu Swastika > 085640091151 / 081320480100 > [email protected] > [email protected] > bayyex.multiply.com > terminalbahurekso.multiply.com > > > >

