Hmm salut ma pak Muhadi dah pernah d masukin TV critany, jatuh bangun tanpa 
mengenal menyerah
Klo lewat kota Tegal pasti sering liat logo "Dedi Jaya"

--- Pada Jum, 29/5/09, ASROFI <[email protected]> menulis:

Dari: ASROFI <[email protected]>
Topik: Re: [kendal-online] KISAH SUKSES PENJUAL ES LILIN DARI mBREBES
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 29 Mei, 2009, 1:25 AM











    
            
            


      
      Makasih ceritanya mas
Sungguh menginspirasi saya

Ditunggu kisah sukses berikutnya

warmth

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan

Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
Email : m...@asrofi. web.id

Blog : www.asrofi.web. id
Office : www.sentraproperty. com



2009/5/29 Arlies Bayu <bay_...@yahoo. com>


















    
            
            


      
      Dulu Kondektur Sekarang Juragan
Kisah sukses Muhadi menjadi pengusaha bus PO Dedy Jaya

Lewat
kerja keras dan keuletan, Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy
Jaya. Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi
kondektur bus. Kini bisnisnya sudah menggurita, mulai dari hotel,
pabrik cat, mal, hingga toko bangunan.

Soal nasib urusan
belakang. Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, konglomerat asal
Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun kini
membuahkan hasil. Grup usaha PT Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri
sekitar 15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan
2.500 karyawan. Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari
mengelola ratusan armada di bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy
Jaya, hotel, pabrik cat, toko bahan bangunan, toko emas, hingga bisnis
mal di Tegal. "Nasib itu urutan kesekian. Siapa pun yang bekerja keras
pasti bisa berhasil," ucap lelaki kelahiran Brebes, Maret 1961 ini
mantap.

Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang
hanya menamatkan pendidikan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dari
sebuah pesantren di Cirebon ini, benar-benar sudah membuktikannya.
Maklum, kerajaan bisnisnya itu ia rintis dengan susah payah dan bukan
terima menjadi dari warisan. "Saya benar-benar mulai dari nol besar,"
tandas bapak tiga anak ini.

Merintis sukses dari berdagang bambu

Simak
saja kisahnya. Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti
berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan
minyak tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima
tahun sejak menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga
ikut membantu ayahnya bertani di sawah.

Jalan terang agaknya
mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik Sri Subekti pada 1981.
"Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah," tuturnya
mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi anak konglomerat.
Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai keluarga
barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja
serabutan itu.

Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu
dengan modal awal sekitar Rp 50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah
membantu orang tuanya di sawah. "Usaha ini masih saya pertahankan
sampai sekarang karena ia adalah cikal bakal semua usaha yang tidak
bisa saya lupakan," tutur Muhadi.

Guratan sukses Muhadi
tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih payahnya
berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa pesanan
dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat
mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan
batang. Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp
470.000 saban bulan.

Selain mendapat order, ada berkahnya juga
Muhadi bergaul dengan para kontraktor itu. Ia jadi mulai mafhum tentang
seluk-beluk usaha bahan bangunan. Dua tahun setelah berdagang bambu,
Muhadi lantas mendirikan toko bahan bangunan dengan modal yang ia
kumpulkan dari untung berdagang bambu. "Kekurangannya saya pinjam dari
bank," ucapnya terus terang.

Rupanya pilihan Muhadi melebarkan
sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh tepat. Karena usaha barunya itu
benar-benar menjadi tambang emas yang tiada henti mengalirkan untung.
Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, keuntungannya dari
berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk membeli
beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana
angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin
mengenang masa sulitnya menjadi kondektur.

Kini, jumlah armada
busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai ratusan unit.
Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak
ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy Jaya
melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan
Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia mencomot nama untuk bus serta grup
usahanya dari nama anak pertamanya, Dedion Supriyono. Selain menggeluti
bus, Muhadi juga mulai merambah ke toko emas dan bisnis perkayuan.

Masih muda sudah kaya raya

Konglomerasi
bisnis Muhadi tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai melirik
bisnis pusat perbelanjaan lantaran melihat peluang yang masih terbuka
lebar di Tegal. Selain itu, "Saya ingin menjadi pelopor pengembang
pribumi, daripada peluang itu diambil developer dari luar," ucapnya.

Alhasil,
berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat
perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal,
Muhadi lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang
setelah membangun mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang
sekaligus. Satu di Tegal dan satunya lagi di Brebes.

Sepak
terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun
kerajaan bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran
jika ia mendapat banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini
bisa dilihat dari tiga buah lemari besar yang penuh berisi berbagai
penghargaan. Yang paling membanggakan Muhadi, dia pernah terpilih
menerima penghargaan upakarti dari presiden. "Saya bangga, karena saya
ini cuma orang desa," tuturnya merendah.

Muhadi tak memungkiri
bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran bank yang
mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau mengucurkan
pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang. Kendati sekarang
utangnya masih lumayan besar, dia mengaku tak risau ataupun malu. "Saya
baru malu kalau tak bisa membayar," tegasnya.

Begitulah, kerja
kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Toh, ia tak lantas puas dengan
hasil yang sudah ia peroleh. Muhadi juga tak lantas bermewah-mewah
dengan hasilnya selama ini. Kantornya pun sederhana. Hanya sebuah ruang
seluas 24 m2 di salah satu sudut rumahnya di Jalan Raya Cimohong,
Bulakamba, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Brebes. Toh, dari
kota kecil inilah Muhadi mengendalikan bisnisnya yang sudah menggurita.

+++++

Menggulung Layar Hiburan dan Kapal Ikan

Sudah
lumrah setiap ada senang pasti ada susah. Kalau tidak untung ya rugi.
Demikian pula dengan bisnis yang dijalani Muhadi. Tidak semua usahanya
berjalan mulus dan menjadi tambang duit yang berlimpah. Salah satu
usahanya yang terpuruk adalah bioskop Dedy Jaya di Tegal. Semula
bioskopnya sempat menjadi maskot dan sasaran hiburan warga Tegal.
Namun, usaha itu menjadi berantakan akibat membanjirnya video compact
disc (VCD) bajakan yang murah meriah. Bioskopnya menjadi sepi
pengunjung dan pemasukannya makin seret hingga berbuntut rugi. Tak
heran Muhadi lantas melego bisnis tontonannya itu.

Selain
bioskop, bisnis kapal ikannya pun terpaksa gulung tikar. Itu terjadi
akibat sengitnya persaingan di Tegal serta belitan krisis moneter pada
1997 hingga 1998. Padahal, kala itu usaha Muhadi baru mulai berbiak dan
membutuhkan dana besar untuk mengembangkannya. Sayang, ketika itu tak
ada bank yang berani mengucurkan kredit. Muhadi mengaku hampir menyerah
saat itu lantaran imbasnya begitu dahsyat menerpa usahanya. "Berat
sekali waktu itu. Ternyata lebih mudah merintis ketimbang
mempertahankan usaha yang sudah ada," kenang Muhadi.
 Arlies Bayu Swastika

085640091151 / 081320480100

bay_...@yahoo. com
xbo...@gmail. com

bayyex.multiply. com
terminalbahurekso. multiply. com





      
 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! 
http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke