Pak Muhad memang luar biasa, saya pernah silaturahmi ke rumahnya di Cimohong 
Bulakamba, kebetulan tidak jauh dari SMK Negeri 1 Bulakamba tempat suami dinas 
waktu itu.
Awal tahun 2000-an saya masih melihat produksi kapalnya dengan label Dian Jaya, 
tuh? kok dibilang 1997 dah gulung tikar, ya?
Dedy yang dipakai sebagai label usaha otobus dan mall adalah nama anak pertama 
beliau. Sedang Dian yang dipakai untuk Pabrik Kapal adalah nama anak ke dua. 
gitu, kalau ga salah.
 
Bravo Pak Muhadi
 


--- Pada Jum, 29/5/09, TIGOR OSEANIKA <[email protected]> menulis:


Dari: TIGOR OSEANIKA <[email protected]>
Topik: Re: [kendal-online] KISAH SUKSES PENJUAL ES LILIN DARI mBREBES
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 29 Mei, 2009, 9:14 PM












Hmm salut ma pak Muhadi dah pernah d masukin TV critany, jatuh bangun tanpa 
mengenal menyerah
Klo lewat kota Tegal pasti sering liat logo "Dedi Jaya"

--- Pada Jum, 29/5/09, ASROFI <m...@asrofi. web.id> menulis:


Dari: ASROFI <m...@asrofi. web.id>
Topik: Re: [kendal-online] KISAH SUKSES PENJUAL ES LILIN DARI mBREBES
Kepada: kendal-online@ yahoogroups. com
Tanggal: Jumat, 29 Mei, 2009, 1:25 AM




Makasih ceritanya mas
Sungguh menginspirasi saya

Ditunggu kisah sukses berikutnya

warmth

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
Email : m...@asrofi. web.id
Blog : www.asrofi.web. id
Office : www.sentraproperty. com



2009/5/29 Arlies Bayu <bay_...@yahoo. com>









Dulu Kondektur Sekarang Juragan
Kisah sukses Muhadi menjadi pengusaha bus PO Dedy Jaya

Lewat kerja keras dan keuletan, Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy Jaya. 
Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi kondektur bus. Kini 
bisnisnya sudah menggurita, mulai dari hotel, pabrik cat, mal, hingga toko 
bangunan.

Soal nasib urusan belakang. Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, konglomerat 
asal Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun kini 
membuahkan hasil. Grup usaha PT Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri sekitar 
15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan 2.500 karyawan. 
Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari mengelola ratusan armada di 
bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy Jaya, hotel, pabrik cat, toko bahan 
bangunan, toko emas, hingga bisnis mal di Tegal. "Nasib itu urutan kesekian. 
Siapa pun yang bekerja keras pasti bisa berhasil," ucap lelaki kelahiran 
Brebes, Maret 1961 ini mantap.

Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan 
pendidikan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dari sebuah pesantren di Cirebon 
ini, benar-benar sudah membuktikannya. Maklum, kerajaan bisnisnya itu ia rintis 
dengan susah payah dan bukan terima menjadi dari warisan. "Saya benar-benar 
mulai dari nol besar," tandas bapak tiga anak ini.

Merintis sukses dari berdagang bambu

Simak saja kisahnya. Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti 
berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan minyak 
tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima tahun sejak 
menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga ikut membantu ayahnya 
bertani di sawah.

Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik Sri Subekti 
pada 1981. "Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah," 
tuturnya mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi anak 
konglomerat. Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai keluarga 
barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja serabutan itu.

Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu dengan modal awal sekitar Rp 
50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah membantu orang tuanya di sawah. "Usaha 
ini masih saya pertahankan sampai sekarang karena ia adalah cikal bakal semua 
usaha yang tidak bisa saya lupakan," tutur Muhadi.

Guratan sukses Muhadi tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih 
payahnya berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa 
pesanan dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat 
mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan batang. 
Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp 470.000 saban 
bulan.

Selain mendapat order, ada berkahnya juga Muhadi bergaul dengan para kontraktor 
itu. Ia jadi mulai mafhum tentang seluk-beluk usaha bahan bangunan. Dua tahun 
setelah berdagang bambu, Muhadi lantas mendirikan toko bahan bangunan dengan 
modal yang ia kumpulkan dari untung berdagang bambu. "Kekurangannya saya pinjam 
dari bank," ucapnya terus terang.

Rupanya pilihan Muhadi melebarkan sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh tepat. 
Karena usaha barunya itu benar-benar menjadi tambang emas yang tiada henti 
mengalirkan untung. Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, 
keuntungannya dari berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk 
membeli beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana 
angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin mengenang 
masa sulitnya menjadi kondektur.

Kini, jumlah armada busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai ratusan 
unit. Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak ke 
Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy Jaya melayani 
trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia 
mencomot nama untuk bus serta grup usahanya dari nama anak pertamanya, Dedion 
Supriyono. Selain menggeluti bus, Muhadi juga mulai merambah ke toko emas dan 
bisnis perkayuan.

Masih muda sudah kaya raya

Konglomerasi bisnis Muhadi tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai 
melirik bisnis pusat perbelanjaan lantaran melihat peluang yang masih terbuka 
lebar di Tegal. Selain itu, "Saya ingin menjadi pelopor pengembang pribumi, 
daripada peluang itu diambil developer dari luar," ucapnya.

Alhasil, berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat 
perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal, Muhadi 
lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang setelah membangun 
mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang sekaligus. Satu di Tegal dan 
satunya lagi di Brebes.

Sepak terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun kerajaan 
bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran jika ia mendapat 
banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini bisa dilihat dari tiga buah 
lemari besar yang penuh berisi berbagai penghargaan. Yang paling membanggakan 
Muhadi, dia pernah terpilih menerima penghargaan upakarti dari presiden. "Saya 
bangga, karena saya ini cuma orang desa," tuturnya merendah.

Muhadi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran 
bank yang mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau mengucurkan 
pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang. Kendati sekarang utangnya 
masih lumayan besar, dia mengaku tak risau ataupun malu. "Saya baru malu kalau 
tak bisa membayar," tegasnya.

Begitulah, kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Toh, ia tak lantas puas 
dengan hasil yang sudah ia peroleh. Muhadi juga tak lantas bermewah-mewah 
dengan hasilnya selama ini. Kantornya pun sederhana. Hanya sebuah ruang seluas 
24 m2 di salah satu sudut rumahnya di Jalan Raya Cimohong, Bulakamba, sekitar 
tujuh kilometer dari pusat kota Brebes. Toh, dari kota kecil inilah Muhadi 
mengendalikan bisnisnya yang sudah menggurita.

+++++

Menggulung Layar Hiburan dan Kapal Ikan

Sudah lumrah setiap ada senang pasti ada susah. Kalau tidak untung ya rugi. 
Demikian pula dengan bisnis yang dijalani Muhadi. Tidak semua usahanya berjalan 
mulus dan menjadi tambang duit yang berlimpah. Salah satu usahanya yang 
terpuruk adalah bioskop Dedy Jaya di Tegal. Semula bioskopnya sempat menjadi 
maskot dan sasaran hiburan warga Tegal. Namun, usaha itu menjadi berantakan 
akibat membanjirnya video compact disc (VCD) bajakan yang murah meriah. 
Bioskopnya menjadi sepi pengunjung dan pemasukannya makin seret hingga 
berbuntut rugi. Tak heran Muhadi lantas melego bisnis tontonannya itu.

Selain bioskop, bisnis kapal ikannya pun terpaksa gulung tikar. Itu terjadi 
akibat sengitnya persaingan di Tegal serta belitan krisis moneter pada 1997 
hingga 1998. Padahal, kala itu usaha Muhadi baru mulai berbiak dan membutuhkan 
dana besar untuk mengembangkannya. Sayang, ketika itu tak ada bank yang berani 
mengucurkan kredit. Muhadi mengaku hampir menyerah saat itu lantaran imbasnya 
begitu dahsyat menerpa usahanya. "Berat sekali waktu itu. Ternyata lebih mudah 
merintis ketimbang mempertahankan usaha yang sudah ada," kenang Muhadi.

 Arlies Bayu Swastika
085640091151 / 081320480100
bay_...@yahoo. com
xbo...@gmail. com
bayyex.multiply. com
terminalbahurekso. multiply. com








Dapatkan nama yang Anda sukai! 
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.
















      Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke 
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke