Sebagai bahan pengetahuan bolehlah. Tetapi bagi saya yang awam audio, mau kurvanya berbentuk V, Z, A, X, terserah saja. Asal telinga nyaman mendengarkan. Tetapi jika menyinggung soal keyboard, kita harus kembali kepada pemahaman alat ini berfungsi sebagai peniru bunyi, sehingga semua bunyi yang dihasilkan sifatnya artifisial. Tentu yang paling baik adalah yang mendekati aslinya. Tetapi jika tidak sama betul dengan aslinya, kita akan maklum karena bunyi yang dihasilkan memang tiruan.
--- In [email protected], "Antoni Pasaribu" <a_n_t_o_n_i_pasar...@...> wrote: > > info bagus yang masih banyak belum mengetahui atau bahkan lupa sama > kurva si Fletcher Munson ini:-) > > Untuk dibaca-baca : > http://en.wikipedia.org/wiki/Fletcher-Munson_curves > > > Salam > ANTONI PASARIBU > http://solfegio.wordpress.com > > > > --- In [email protected], "g.a.mantiri" > <g_a_mantiri@> wrote: > > > > Kalo saya sih penggunaan equalizer itu sah-sah saja dan terbukti > bermanfaat. > > Sebagai tambahan, setting graphic equalizer yang bentuk "V" adalah > akibat fisiologi telinga manusia yang kepekaannya pada suara dibawah > 85dB memang tidak flat. > > > > Ini sering disebut sebagai "Fletcher Munson Curve", dimana agar > suara 100Hz (bass) dapat terdengar sama kuat oleh telinga manusia > dengan suara 2 kHz 30 dB, maka suara 100 Hz itu harus sebesar > kira-kira 60dB. Sehingga pada level suara kecil, kita biasanya butuh > bass boost atau equalizer di set nambah bass & treble. > > Tetapi katanya respons telinga kita jadi hampir flat pada level 85 dB. > > > > Karena ortung main diatas 80 dB maka mungkin memang tak perlu > equalizer. Tetapi bila main kurang keras maka biasanya butuh > equalizer V. Ini memang fisiologi telinga. he he he > > > > Salam, > > G >
