Benar sekali,pak. Semuanya ada di telinga kita. Tapi dlm batasan2 tertentu, pengetahuan seperti ini nyaris mutlak diketahui, terlebih jika kita mau ke jenjang pro (saya sendiri masih amatiran...He..He..). Krn mau ga mau, bunyi yg kita dengar itu adalah salah satu akibat proses fisika. Dan mau ga mau lg, fisika berurusan dgn rumus2. Nah pengetahuan akan rumus2 inilah yg bs jd pendukung kita mencapai hasil maksimal. Sekedar mengandalkan telinga, ga selalu bs akurat,pak. Misal, seorang sound engineer yg udah benar2 pro sekalipun, tetap akan membutuhkan berbagai alat pengukur. Krn kl cm dgn telinga saja, ga cukup. Atau bagi kita yg udah berdekatan dgn suara dr speaker berkuatan besar, akan terbiasa mendengar yg kuat, bahkan mungkin "stamina" telinga kita jadi menurun, dan kita menyetel output sound system kita dgn lbh kuat, low yg menghantam, high mendecit, bagi kita biasa aja, tp bagi orang umum, mungkin jd kurang nikmat atau bahkan merasa kesakitan. Ini bisa saja disebabkan krn kita ga tau batasan2 freq yg umum spt di kurva tsb. Atau malah, di telinga kita terdengar nyaman, tp bagi orang lain, ga demikian. So, mungkin, pengetahuan spt ini, bs sangat membantu di pekerjaan kita,pak. Awam ato ga, tergantung sejauh apa kita mau mempelajarinya. Maaf pak, saya cm memberi pendapat aja. Lagian saya jg msh jauh lbh junior.
Salam ANTONI PASARIBU http://solfegio.wordpress.com --- In [email protected], "tutug" <tu...@...> wrote: > > Sebagai bahan pengetahuan bolehlah. Tetapi bagi saya yang awam audio, > mau kurvanya berbentuk V, Z, A, X, terserah saja. Asal telinga nyaman > mendengarkan. > Tetapi jika menyinggung soal keyboard, kita harus kembali kepada > pemahaman alat ini berfungsi sebagai peniru bunyi, sehingga semua > bunyi yang dihasilkan sifatnya artifisial. > Tentu yang paling baik adalah yang mendekati aslinya. Tetapi jika > tidak sama betul dengan aslinya, kita akan maklum karena bunyi yang > dihasilkan memang tiruan. > > > > --- In [email protected], "Antoni Pasaribu" > <a_n_t_o_n_i_pasaribu@> wrote: > > > > info bagus yang masih banyak belum mengetahui atau bahkan lupa sama > > kurva si Fletcher Munson ini:-) > > > > Untuk dibaca-baca : > > http://en.wikipedia.org/wiki/Fletcher-Munson_curves > > > > > > Salam > > ANTONI PASARIBU > > http://solfegio.wordpress.com > > > > > > > > --- In [email protected], "g.a.mantiri" > > <g_a_mantiri@> wrote: > > > > > > Kalo saya sih penggunaan equalizer itu sah-sah saja dan terbukti > > bermanfaat. > > > Sebagai tambahan, setting graphic equalizer yang bentuk "V" adalah > > akibat fisiologi telinga manusia yang kepekaannya pada suara dibawah > > 85dB memang tidak flat. > > > > > > Ini sering disebut sebagai "Fletcher Munson Curve", dimana agar > > suara 100Hz (bass) dapat terdengar sama kuat oleh telinga manusia > > dengan suara 2 kHz 30 dB, maka suara 100 Hz itu harus sebesar > > kira-kira 60dB. Sehingga pada level suara kecil, kita biasanya butuh > > bass boost atau equalizer di set nambah bass & treble. > > > Tetapi katanya respons telinga kita jadi hampir flat pada level 85 dB. > > > > > > Karena ortung main diatas 80 dB maka mungkin memang tak perlu > > equalizer. Tetapi bila main kurang keras maka biasanya butuh > > equalizer V. Ini memang fisiologi telinga. he he he > > > > > > Salam, > > > G > > >
