hatur lumayan, punten teu di tarjamahkeun nun, Teater Dinasti yang lama tidak pentas, ternyata menyimpan kerinduan tersendiri. Tak mengherankan jika pentas 'Tikungan Iblis' karya Emha Ainun Nadjib dengan sutradara Fadjar Suharno dan Jujuk Prabowo di Taman Budaya Yogyakarta, Jalan Sriwedani, Sabtu (23/8) disesaki penonton. Prof Amien Rais juga ikut berjejalan bersama penonton. Meski awalnya para pemain sempat berdebar-debar, apakah masih mampu berakting dengan prima di hadapan penonton. Kenyataan, pentas yang diproduksi Progress bekerja sama dengan SKH Kedaulatan Rakyat ini sukses. Teater Dinasti mengingatkan, meski iblis mencengkeram hidup, manusia harus tetap bersama hati nurani, memenangkan kebenaran, kejujuran dan masih memiliki rasa kemanusiaan. Harapannya, manusia mampu merebut kebahagiaan. Kalau membuka-buka khasanah sastra, 'Tikungan Iblis' berangkat dari teks puisi panjang karya Emha yang ditafsir dan diterjemahkan dalam bahasa pemanggungan secara teaterikal, musikal maupun auditif-visual. 'Tikungan Iblis' mengisahkan perjalanan eksistensi manusia dari awal penciptaan Adam hingga masa di mana manusia telah berkembang biak dan membangun peradaban. Iblis yang sejak awal diciptakan sudah tidak percaya manusia mampu menjadi khalifah di bumi akhirnya membuktikan ketidakpercayaannya itu: hidup manusia hanya berkisar dari tiga kata kunci yaitu rakus, merusak bumi dan saling bunuh-bunuhan. Iblis selalu menggoda, yakni manusia agar gagal sebagai insan kamil di bumi, karena ketidakmampuannya memilih hal-hal yang bernilai dalam kehidupan. Pentas ini menjadi menarik diperkuat penyanyi dan pemain sinetron Novia Kolopaking berperan sebagai Siti Majenunan. Pentas ini didukung aktor-aktor Yogya seperti Joko Kamto, Novi Budianto, Seteng, Fadjar Suharno, Tertib Suratmo, Untung Basuki, Eko Winardi, Cithut DH, Agung Gareng dan belasan pemain muda lainnya. Penyutradaraan ditangani Jujuk Prabowo dan Fadjar Suharno. Tata pentas dan multi media digarap Pang Warman. Tata musik diolah Bobiet Santosa dan Gamelan Kiai Kanjeng Group. Sedangkan Fauzie Ridjal, Indra Tranggono, Toto Rahardjo dan Halim HD bertindak sebagai kontributor gagasan. Bertanggung jawab sebagai pimpinan produksi Muzaki dan Eko Nuryono. Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan, 'Tikungan Iblis' lebih dimaksudkan sebagai pentas kebahagiaan Keluarga Besar Dinasti dan Kiai Kanjeng; selain mencoba menyodorkan berbagai paradigma yang berbeda tentang sosok iblis dan ide-ide pemanggungan. Di tengah tarikan berbagai kepentingan, manusia kini makin sulit menemukan kebahagiaan karena manusia telah tereduksi menjadi fungsi-fungsi yang kadang kurang manusiawi. Tereduksi sebagai makhluk sosial dan religi menjadi makhluk yang bernllai ekonomi. Teater bisa menjadi media untuk merebut kebahagiaan itu, selain untuk pengembangan potensi. Ketika para politisi dan aktor-aktor kekuasaan sibuk berlomba meraih kekuasaan lewat Pemilu 2009, Dinasti dan Kiai Kanjeng justru mengajak masyarakat untuk belajar memahami berbagai persoalan sosial, budaya dan religiusitas.[] Jayadi Kastari/Kedaulatan Rakyat
On Thu, Aug 28, 2008 at 9:22 PM, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Tirta widjaja > > > Bah Willy lamun ngaca kana ajaran islam mah ngan aya manusa, malaikat > > jeung jin (syaitan). > > Kang Tirta, kuring rada ragu JIN teh sami sareng SETAN atawa IBLIS. Sabab > dina folklore sering didongengkeun yen kaum jin teh aya Jin Islam jeung Jin > > Kapir. Ieu hartina Jin mah beda jeung setan/ Iblis, nu salilana teu daek > "iman" kanu nyiptakeunana jeung salawasna ngagoda jelema ..... > > Baktos, > WALUYA > > > -- Ema Sujalma
