Halim HD anu kasebat dina eta artikel,
sering kempel di Mojokerto...biasa wae,
ngadon ngopi



2008/8/29 Ema Sujalma <[EMAIL PROTECTED]>

> hatur lumayan, punten teu di tarjamahkeun nun,
>
> Teater Dinasti yang lama tidak pentas, ternyata menyimpan kerinduan
> tersendiri. Tak mengherankan jika pentas 'Tikungan Iblis' karya Emha Ainun
> Nadjib dengan sutradara Fadjar Suharno dan Jujuk Prabowo di Taman Budaya
> Yogyakarta, Jalan Sriwedani, Sabtu (23/8) disesaki penonton. Prof Amien Rais
> juga ikut berjejalan bersama penonton. Meski awalnya para pemain sempat
> berdebar-debar, apakah masih mampu berakting dengan prima di hadapan
> penonton. Kenyataan, pentas yang diproduksi Progress bekerja sama dengan SKH
> Kedaulatan Rakyat ini sukses. Teater Dinasti mengingatkan, meski iblis
> mencengkeram hidup, manusia harus tetap bersama hati nurani, memenangkan
> kebenaran, kejujuran dan masih memiliki rasa kemanusiaan. Harapannya,
> manusia mampu merebut kebahagiaan.
> Kalau membuka-buka khasanah sastra, 'Tikungan Iblis' berangkat dari teks
> puisi panjang karya Emha yang ditafsir dan diterjemahkan dalam bahasa
> pemanggungan secara teaterikal, musikal maupun auditif-visual. 'Tikungan
> Iblis' mengisahkan perjalanan eksistensi manusia dari awal penciptaan Adam
> hingga masa di mana manusia telah berkembang biak dan membangun peradaban.
> Iblis yang sejak awal diciptakan sudah tidak percaya manusia mampu menjadi
> khalifah di bumi akhirnya membuktikan ketidakpercayaannya itu: hidup manusia
> hanya berkisar dari tiga kata kunci yaitu rakus, merusak bumi dan saling
> bunuh-bunuhan. Iblis selalu menggoda, yakni manusia agar gagal sebagai insan
> kamil di bumi, karena ketidakmampuannya memilih hal-hal yang bernilai dalam
> kehidupan.
> Pentas ini menjadi menarik diperkuat penyanyi dan pemain sinetron Novia
> Kolopaking berperan sebagai Siti Majenunan. Pentas ini didukung aktor-aktor
> Yogya seperti Joko Kamto, Novi Budianto, Seteng, Fadjar Suharno, Tertib
> Suratmo, Untung Basuki, Eko Winardi, Cithut DH, Agung Gareng dan belasan
> pemain muda lainnya. Penyutradaraan ditangani Jujuk Prabowo dan Fadjar
> Suharno. Tata pentas dan multi media digarap Pang Warman. Tata musik diolah
> Bobiet Santosa dan Gamelan Kiai Kanjeng Group. Sedangkan Fauzie Ridjal,
> Indra Tranggono, Toto Rahardjo dan Halim HD bertindak sebagai kontributor
> gagasan. Bertanggung jawab sebagai pimpinan produksi Muzaki dan Eko Nuryono.
> Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan, 'Tikungan Iblis' lebih dimaksudkan
> sebagai pentas kebahagiaan Keluarga Besar Dinasti dan Kiai Kanjeng; selain
> mencoba menyodorkan berbagai paradigma yang berbeda tentang sosok iblis dan
> ide-ide pemanggungan. Di tengah tarikan berbagai kepentingan, manusia kini
> makin sulit menemukan kebahagiaan karena manusia telah tereduksi menjadi
> fungsi-fungsi yang kadang kurang manusiawi. Tereduksi sebagai makhluk sosial
> dan religi menjadi makhluk yang bernllai ekonomi. Teater bisa menjadi media
> untuk merebut kebahagiaan itu, selain untuk pengembangan potensi. Ketika
> para politisi dan aktor-aktor kekuasaan sibuk berlomba meraih kekuasaan
> lewat Pemilu 2009, Dinasti dan Kiai Kanjeng justru mengajak masyarakat untuk
> belajar memahami berbagai persoalan sosial, budaya dan religiusitas.[]
> Jayadi Kastari/Kedaulatan Rakyat
>
>
> On Thu, Aug 28, 2008 at 9:22 PM, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>>   > From: Tirta widjaja
>>
>> > Bah Willy lamun ngaca kana ajaran islam mah ngan aya manusa, malaikat
>> > jeung jin (syaitan).
>>
>> Kang Tirta, kuring rada ragu JIN teh sami sareng SETAN atawa IBLIS. Sabab
>> dina folklore sering didongengkeun yen kaum jin teh aya Jin Islam jeung
>> Jin
>> Kapir. Ieu hartina Jin mah beda jeung setan/ Iblis, nu salilana teu daek
>> "iman" kanu nyiptakeunana jeung salawasna ngagoda jelema .....
>>
>> Baktos,
>> WALUYA
>>
>>  
>>
>
>
>
> --
> Ema Sujalma
>



-- 
Ema Sujalma

Kirim email ke