Hahaha....memang gusti pangeran mah mun mere milik teu pilih2, nu puasa jeung 
nu teu puasa, nu solat jeung nu teu solat, nu bener jeung nu jahat....bahkan 
bisa tibalik...misalna nu puasa rejekina sakedik nu teu puasa bisa leuwih 
gede...bisa gede nao wae...hahah.
Hese mun urusan jelema "pikun" kieu, pikun ngadamel dokumentasi (ceuk Mang 
Hasan tea), pikun kana sajarah jst.Matak mun sajarah urang nu sabenerna mah 
bisa 180 darajat jeung sajarah nu dipikanyaho ku urang2 ayeuna,
Hiji conto kapungkur aya istilah BSH "Barisan Sakit Hate", anu eusi pajuang2 
rakyat anu protes ka kebijakan Bung Karno anu ngangkat eks KNIL janten tentara 
Republik Indonesia, diangkat janten tangtara Indonesia dengan pangkat lebih 
tinggi lantaran dianggap gaduh kompetensi leuwi alus lantaran didikan Walanda, 
mun maot oge di makamkeun di TMP. Matak mun jelema nu boga "harga diri" plus 
teu "pikun" mah moal daekeun dimakamkeun di TMP
Hapunten nu sok  blak-blakan TM


--- Pada Kam, 25/8/11, Sp Saprudin <[email protected]> menulis:

Dari: Sp Saprudin <[email protected]>
Judul: Bls: [Urang Sunda] Suhud lain Karim ?!Bls: [kisunda] Re: Tokoh - Ilyas 
Karim
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Tanggal: Kamis, 25 Agustus, 2011, 1:03 AM















 
 



  


    
      
      
      he..he..he....wanian nyah eta jelema ngaku-ngaku, marukan ahli-ahli 
sejarah rek cicing wae...........
geus bosen hirup pinuh ku karudin, sugan meureun kujalan ngabohongan pakta 
sejarah bisa ngadatangkeun kauntungan, bener untung buktina dibere apartemen



Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Cc: "[email protected]" <[email protected]>; Baraya Sunda 
<[email protected]>
Dikirim: Rabu, 24 Agustus 2011 15:29
Judul: Re: [Urang Sunda] Suhud lain Karim ?!Bls: [kisunda] Re: Tokoh - Ilyas 
Karim



  

Hehehe. Enya jadi rame nya. Ieu conto kasus teh nuduhkeun yen urang teh bangsa 
nu katarajang panyakit pikun dokumentasi, teu wawuh jeung nu disebut arsip 
atawa dokumentasi. 

Aya hadena mun ieu panyakit teh buru-buru diubaran, bisi jadi panyakit turunan, 
nu nurun ka anak-incu.

Cing naon ubarna nya? 



2011/8/24 Jalak Pakuan <[email protected]>


  




Jalma nu naekeun bandera beureum bodas teh fotona nukangan kamera. Cenah eta 
teh lain Ilyas Karim tapi alm. Suhud. Mangga geura koletrak warta kompas.
 
 
http://nasional.kompas.com/read/2011/08/24/08554658/Ilyas.Karim.Bukan.Pengibar.Sang.Saka.Pertama

 
jp




Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Urang Sunda <[email protected]>; Baraya Sunda 
<[email protected]>
Dikirim: Sabtu, 20 Agustus 2011 11:56
Judul:
 [kisunda] Re: Tokoh - Ilyas Karim


  

Kado Apartemen bagi Pengibar Pertama

 Sabrina Asril
Ilyas Karim, pengibar bendera merah putih pertama, mendapatkan sebuah 
apartement dari Kalibata City, Rabu (17/8/2011). 
Rabu, 17 Agustus 2011 | 14:38 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Lama tak ada perhatian dari pemerintah, pihak swasta pun 
akhirnya tergerak memberikan bantuan kepada pengibar bendera Merah Putih 
pertama Republik Indonesia (RI), Ilyas Karim. Ilyas mendapat bantuan sebuah 
apartemen di Kalibata City setelah belasan tahun tinggal di rumah sederhana 
yang terletak di pinggir rel Jalan Rawajati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan.
Satu unit apartemen itu merupakan pemberian dari pengembang Kalibata City, PT 
Pradani Sukses Abadi. Upacara simbolis serah terima kepada Ilyas dilakukan 
bertepatan pada peringatan HUT Ke-66 Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2011. 
Penyerahan dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Prijanto dan CEO Kalibata City, 
Budi Yanto Lusli.
Dalam sambutannya, Prijanto mengatakan, pemberian unit apartemen sebagai kado 
kepada sang pejuang merupakan salah satu bentuk kepedulian dari seseorang dan 
sekelompok orang terhadap perjuangan Ilyas Karim selama ini. Kondisi 
memprihatinkan yang dialami Ilyas ini diketahui Prijanto setelah bertemu dengan 
para pejuang veteran dua tahun lalu di Balai Agung.
"Saya ingat bertemu dengan para pejuang veteran sekitar dua tahun lalu di Balai 
Agung. Setelah selesai acara, Pak Ilyas ini menceritakan kondisi rumahnya," 
ungkap Prijanto, Rabu (17/8/2011) di Kalibata City, Jakarta.
Setelah mendengarkan cerita Ilyas, Prijanto berjanji akan mencarikan bantuan 
rumah bagi pria kelahiran Padang Pariaman tersebut.
"Saya kemudian tanya kepada Kadis Tata Ruang, minta tolong kalau ada pengembang 
yang mau berbaik hati, akhirnya Kalibata City yang menyanggupi dua tahun 
kemudian," kata Prijanto.
Prijanto menjelaskan, pemerintah tidak dapat memberikan bantuan rumah lantaran 
memerlukan proses yang panjang. "Bisa saja sebenarnya tapi panjang sekali, 
harus ada persetujuan legislatif dan masuk ke dalam APBD. Akan sangat lama 
kalau menunggu pemerintah," ujar Prijanto.
CEO Kalibata City, Budi Yanto Lusli, menuturkan, pemilihan Ilyas Karim sebagai 
penerima satu unit apartemen lantaran hanya Ilyas lah saksi hidup pengibar 
bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kini masih ada.
"Sayangnya di usia 84 tahun sekarang, pria sepuh yang pernah jadi pasukan 
perdamaian di Lebanon dan Vietnam pada 1979 itu justru menikmati hidupnya di 
pinggir rel Kalibata," kata Budi.
Dia melanjutkan, apresiasi yang diberikan kepada Ilyas ini tak bisa 
dibandingkan dengan jasa beliau. "Pria ini seharusnya hidup layak. Sebab pria 
benama Ilyas Karim ini adalah pelaku sejarah penting. Dialah pengibar pertama 
sang saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945. Kami sebagai pengembang, inilah 
cara kami mengisi kemerdekaan RI," tutur Budi.
Setelah itu, Ilyas Karim pun maju ke hadapan para pengunjung dan sejumlah 
pejabat DKI. Dengan seragam safari berwarna hijau, pria ini tampak 
tertatih-tatih berjalan menggapai panggung, kelopak matanya pun tak lagi kuat 
terbuka. Namun, ketika dia mulai berbicara, suara lantangnya langsung 
menegaskan semangatnya yang tak lekang dimakan umur.
"Merdeka!" kata pertama yang dia pekikan saat itu.
Ia melanjutkan sambutannya dengan berterima kasih kepada semua pihak. Baginya, 
mendapatkan sebuah apartemen bagai mimpi di tengah siang bolong. "Tidak sangka 
ada perhatian dari Kalibata City dan Wagub. Saya terima kasih, saya tidak 
sangka saat dapat satu kamar dari bangunan ini," tandasnya.
Nama Ilyas Karim memang tidak terlalu dikenal publik apalagi bagi mudi-mudi 
zaman sekarang. Namun, ialah saksi penting dari peristiwa bersejarah pengukuhan 
kemerdekaan RI pada  17 Agustus 1945 di rumah Bung Karno, Jalan Pegangsaan 
Timur, Jakarta Pusat.
Sebuah foto menjadi bukti keterlibatan Ilyas dalam peristiwa monumental itu. Di 
dalam foto upacara pengibaran bendera Merah Putih pertama kali, dua pengibar 
bendera tampak dikelilingi oleh Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad 
Hatta, Fatmawati, dan Rahmi Hatta. Pemuda pengibar bendera yang bercelana 
pendek itulah Ilyas Karim. Sementara seorang lagi merupakan Sudanca Singgih 
yang kini sudah meninggal dunia.
Sabrina Asril 
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/08/17/14383849/Kado.Apartemen.bagi.Pengibar.Pertama








    
     

    
    


 



  








Kirim email ke