Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 
(http://id.wikipedia.org/wiki/Bukti_keberadaan_Kerajaan_Tarumanegara)
Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang 
berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah 
prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak 
Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara 
dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 M dan beliau memerintah 
sampai yahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai 
Gomatri (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan 
Salakanagara.
 
Prasasti yang ditemukan
Tarumanegara meninggalkan 7 (tujuh) prasasti:
Prasasti Ciaruteun
 
Salinan gambar prasasti Ciaruteun dari buku The Sunda Kingdom of West Java 
>From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor
 
Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, 
dekat muara sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa 
dan bahasa Sansekerta yang terdiri dari 4 baris disusun ke dalam bentuk Sloka 
dengan metrum Anustubh. Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta 
sepasang telapak kaki Raja Purnawarman.
 
Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:
        1. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut 
(tempat ditemukannya prasasti tersebut). 
        2. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang 
(biasanya penguasa) sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti 
menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap 
sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat 
Prasasti Jambu
Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di 
perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga 
menggunakan bahwa Sansekerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak 
kaki yang isinya memuji pemerintahan raja Mulawarman.
Prasasti Kebonkopi
Prasasti Kebonkopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang 
Bogor . Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah, 
yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa 
Wisnu.
Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang 
belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
Prasasti Pasir awi
Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwiliang, juga tertulis dalam aksara 
ikal yang belum dapat dibaca.
Prasasti Cidanghiyang
Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi 
sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini 
baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan 
huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan 
keberanian raja Purnawarman.
Prasasti Tugu
 
Prasasti Tugu di Museum Nasional
 
Prasasti Tugu di temukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara. 
Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar dan isinya 
paling panjang dibanding dengan prasasti Tarumanegara yang lain, sehingga ada 
beberapa hal yang dapat diketahui dari prasasti tersebut
 
Hal-hal yang dapat diketahui dari prasasti Tugu adalah:
        1. Prasasti Tugu menyebutkan nama dua buah sungai yang terkenal di 
Punjab yaitu sungai Chandrabaga dan Gomati. Dengan adanya keterangan dua buah 
sungai tersebut menimbulkan tafsiran dari para sarjana salah satunya menurut 
Poerbatjaraka. Sehingga secara Etimologi (ilmu yang mempelajari tentang 
istilah) sungai Chandrabaga diartikan sebagai kali Bekasi. 
        2. Prasasti Tugu juga menyebutkan anasir penanggalan walaupun tidak 
lengkap dengan angka tahunnya yang disebutkan adalah bulan phalguna dan caitra 
yang diduga sama dengan bulan Pebruari dan April. 
        3. Prasasti Tugu yang menyebutkan dilaksanakannya upacara selamatan 
oleh Brahmana disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan raja. 
Sumber dari Luar Negeri
Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok 
antara lain:
        1. Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi 
menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama 
Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih 
animisme. 
        2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah 
datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan. 
        3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah 
datang utusaan dari To-lo-mo. 
Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara 
fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.
 
Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat 
diketahui beberapa aspek kehidupan tentang kerajaan Tarumanegara.
 
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. 
Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu 
itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, 
meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor 
dan Cirebon.
Kepurbakalaan Masa Tarumanagara
 
Candi Jiwa di situs Percandian Batujaya
 
No.
 
Nama Situs
 
Artepak
 
Keterangan
1 Kampung Muara Menhir (3)  
  Batu dakon (2)  
  Arca batu tidak berkepala  
  Struktur Batu kali  
  Kuburan (tua)  
2 Ciampea Arca gajah (batu) Rusak berat 
3 Gunung Cibodas Arca Terbuat dari batu kapur 
  3 arca duduk  
  arca raksasa  
  arca (?) Fragmen 
  Arca dewa  
  Arca dwarapala  
  Arca brahma Duduk diatas angsa
(Wahana Hamsa)
dilengkapi padmasana 
  Arca (berdiri) Fragmen kaki dan lapik 
  (Kartikeya?)  
  Arca singa (perunggu) Mus.Nas.no.771 
4 Tanjung Barat Arca siwa (duduk) perunggu Mus.Nas.no.514a 
5 Tanjungpriok Arca Durga-Kali Batu granit Mus.Nas. no.296a 
6 Tidak diketahui Arca Rajaresi Mus.Nas.no.6363 
7 Cilincing sejumlah besar pecahan settlement pattern 
8 Buni perhiasan emas dalam periuk settlement pattern 
  Tempayan  
  Beliung  
  Logam perunggu  
  Logam besi  
  Gelang kaca  
  Manik-manik batu dan kaca  
  Tulang belulang manusia  
  Sejumlah besar gerabah bentuk wadah  
9 Batujaya (Karawang) Unur (hunyur) sruktur bata Percandian 
  Segaran I  
  Segaran II  
  Segaran III  
  Segaran IV  
  Segaran V  
  Segaran VI  
  Talagajaya I  
  Talagajaya II  
  Talagajaya III  
  Talagajaya IV  
  Talagajaya V  
  Talagajaya VI  
  Talagajaya VII  
10 Cibuaya Arca Wisnu I  
  Arca Wisnu II  
  Arca Wisnu III  
  Lmah Duwur Wadon Candi I 
  Lmah Duwur Lanang Candi II 
  Pipisan batu  
Terkait:
        * Kerajaan Tarumanagara 
        * Kerajaan Salakanagara 
Rujukan
        1. Richadiana Kartakusuma (1991), Anekaragam Bahasa Prasastidi Jawa 
Barat Pada Abad Ke-5 Masehi sampai Ke-16 Masehi: Suatu Kajian Tentang Munculnya 
Bahasa Sunda. Tesis (yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh 
gelar Magister dalam bidang Arkeologi). Fakultas Pasca Sarjana Universitas 
Indonesia. 
        2. Dinas Purbakala R.I (1964) Laporan Tahunan 1954 Dinas Purbakala 
Republik Indonesia. Djakarta: Dinas Purbakala 
        3. J.L.Moens (1940)"was Purnawarman van Taruma een Sanjaya?" TBG.81 
        4. J. noorduyn and H.Th.Verstappen (1972), "Purnawarman's River-works 
near Tugu" BKI 128:298-307 
        5. R.M.Ng.Poerbatharaka (l952), Riwayat Indonesia I. Djakarta: Jajasan 
Pembangunan 
        6. Soetjipto Wirjosuparto (1963), The Second Wisnu Image of Cibuaya, 
West Jawa, MISI. I/2: 170-87 
        7. Teguh Asmar (1971), "Preliminary Report on Recent Excavation near 
the Kenon Kopi Inscription (Kampung Muara)" Manusia Indonesia V(4-6), 
l971:416-424; 
        8. Teguh Asmar (l971) "The Megalithic Tradition" dalam Haryati Soebadio 
et.al.(editor) Dynamic of Indonesian History, Amsterdam. 1978:29-40 
        9. W.P.Groeneveldt, Catalogus der Archaeologische Verzameling van het 
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia l887 
        10. N.J.Krom "inventaris der Hindoe-Oudheden" ROD 1914-1915. 
        11. Hasan Djafar "Pemukiman-Pemukiman Kuna di Daerah akarta dn 
Sekitarnya" makalah pada Dskusi Ilmiah Arkeologi VI, Jakarta 11-12 Februari 
1988. IAAI Komda Jawa Barat. 
        12. Van der Hoop Catalogus der Prehistorische Verzameling. 1941. 
        13. R.P.Soejono "Indonesia (REgional REport)" Asian Perspectives VI, 
1962: 23-24 
        14. I Made Sutayasa (l970) "Gerabah Prasedjarah dari Djawa Barat Utara 
(kompleks Bun), makalah pada Seminar Sjarah Nasional II 
        15. Jurusan Arrkeologi FSUI (l985/1986), Peninggalan Purbakala di 
Batujaya (naskah Laporan untuk Proyek Penelitian Purbakala, Jakarta) 


      

Kirim email ke