boleh kenal ga??
--- On Wed, 11/26/08, Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [HISTORIA-INDONESIA] Peninggalan Tarumanagara
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 26, 2008, 8:55 AM
Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (http://id.wikipedia
.org/wiki/ Bukti_keberadaan _Kerajaan_ Tarumanegara)
Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang
berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah
prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak
Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara
dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 M dan beliau memerintah
sampai yahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai
Gomatri (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan
Salakanagara.
Prasasti yang ditemukan
Tarumanegara meninggalkan 7 (tujuh) prasasti:
Prasasti Ciaruteun
Salinan gambar prasasti Ciaruteun dari buku The Sunda Kingdom of West Java
>From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor
Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun,
dekat muara sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa
dan bahasa Sansekerta yang terdiri dari 4 baris disusun ke dalam bentuk Sloka
dengan metrum Anustubh. Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta
sepasang telapak kaki Raja Purnawarman.
Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:
Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat
ditemukannya prasasti tersebut).
Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya
penguasa) sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan
kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai
penguasa sekaligus pelindung rakyat
Prasasti Jambu
Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di
perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga
menggunakan bahwa Sansekerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak
kaki yang isinya memuji pemerintahan raja Mulawarman.
Prasasti Kebonkopi
Prasasti Kebonkopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang
Bogor . Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah,
yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa
Wisnu.
Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang
belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
Prasasti Pasir awi
Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwiliang, juga tertulis dalam aksara
ikal yang belum dapat dibaca.
Prasasti Cidanghiyang
Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi
sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini
baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan
huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan
keberanian raja Purnawarman.
Prasasti Tugu
Prasasti Tugu di Museum Nasional
Prasasti Tugu di temukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara.
Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar dan isinya
paling panjang dibanding dengan prasasti Tarumanegara yang lain, sehingga ada
beberapa hal yang dapat diketahui dari prasasti tersebut
Hal-hal yang dapat diketahui dari prasasti Tugu adalah:
Prasasti Tugu menyebutkan nama dua buah sungai yang terkenal di Punjab yaitu
sungai Chandrabaga dan Gomati. Dengan adanya keterangan dua buah sungai
tersebut menimbulkan tafsiran dari para sarjana salah satunya menurut
Poerbatjaraka. Sehingga secara Etimologi (ilmu yang mempelajari tentang
istilah) sungai Chandrabaga diartikan sebagai kali Bekasi.
Prasasti Tugu juga menyebutkan anasir penanggalan walaupun tidak lengkap dengan
angka tahunnya yang disebutkan adalah bulan phalguna dan caitra yang diduga
sama dengan bulan Pebruari dan April.
Prasasti Tugu yang menyebutkan dilaksanakannya upacara selamatan oleh Brahmana
disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan raja.
Sumber dari Luar Negeri
Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok
antara lain:
Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi
menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama
Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih
animisme.
Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan
dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan.
Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang
utusaan dari To-lo-mo.
Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara
fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.
Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat
diketahui beberapa aspek kehidupan tentang kerajaan Tarumanegara.
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M.
Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu
itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu,
meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor
dan Cirebon.
Kepurbakalaan Masa Tarumanagara
Candi Jiwa di situs Percandian Batujaya
No.
Nama Situs
Artepak
Keterangan
1
Kampung Muara
Menhir (3)
Batu dakon (2)
Arca batu tidak berkepala
Struktur Batu kali
Kuburan (tua)
2
Ciampea
Arca gajah (batu)
Rusak berat
3
Gunung Cibodas
Arca
Terbuat dari batu kapur
3 arca duduk
arca raksasa
arca (?)
Fragmen
Arca dewa
Arca dwarapala
Arca brahma
Duduk diatas angsa
(Wahana Hamsa)
dilengkapi padmasana
Arca (berdiri)
Fragmen kaki dan lapik
(Kartikeya?)
Arca singa (perunggu)
Mus.Nas.no.771
4
Tanjung Barat
Arca siwa (duduk) perunggu
Mus.Nas.no.514a
5
Tanjungpriok
Arca Durga-Kali Batu granit
Mus.Nas. no.296a
6
Tidak diketahui
Arca Rajaresi
Mus.Nas.no.6363
7
Cilincing
sejumlah besar pecahan
settlement pattern
8
Buni
perhiasan emas dalam periuk
settlement pattern
Tempayan
Beliung
Logam perunggu
Logam besi
Gelang kaca
Manik-manik batu dan kaca
Tulang belulang manusia
Sejumlah besar gerabah bentuk wadah
9
Batujaya (Karawang)
Unur (hunyur) sruktur bata
Percandian
Segaran I
Segaran II
Segaran III
Segaran IV
Segaran V
Segaran VI
Talagajaya I
Talagajaya II
Talagajaya III
Talagajaya IV
Talagajaya V
Talagajaya VI
Talagajaya VII
10
Cibuaya
Arca Wisnu I
Arca Wisnu II
Arca Wisnu III
Lmah Duwur Wadon
Candi I
Lmah Duwur Lanang
Candi II
Pipisan batu
Terkait:
Kerajaan Tarumanagara
Kerajaan Salakanagara
Rujukan
Richadiana Kartakusuma (1991), Anekaragam Bahasa Prasastidi Jawa Barat Pada
Abad Ke-5 Masehi sampai Ke-16 Masehi: Suatu Kajian Tentang Munculnya Bahasa
Sunda. Tesis (yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister dalam bidang Arkeologi). Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia.
Dinas Purbakala R.I (1964) Laporan Tahunan 1954 Dinas Purbakala Republik
Indonesia. Djakarta: Dinas Purbakala
J.L.Moens (1940)"was Purnawarman van Taruma een Sanjaya?" TBG.81
J. noorduyn and H.Th.Verstappen (1972), "Purnawarman' s River-works near Tugu"
BKI 128:298-307
R.M.Ng.Poerbatharak a (l952), Riwayat Indonesia I. Djakarta: Jajasan
Pembangunan
Soetjipto Wirjosuparto (1963), The Second Wisnu Image of Cibuaya, West Jawa,
MISI. I/2: 170-87
Teguh Asmar (1971), "Preliminary Report on Recent Excavation near the Kenon
Kopi Inscription (Kampung Muara)" Manusia Indonesia V(4-6), l971:416-424;
Teguh Asmar (l971) "The Megalithic Tradition" dalam Haryati Soebadio
et.al.(editor) Dynamic of Indonesian History, Amsterdam. 1978:29-40
W.P.Groeneveldt, Catalogus der Archaeologische Verzameling van het Bataviaasch
Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia l887
N.J.Krom "inventaris der Hindoe-Oudheden" ROD 1914-1915.
Hasan Djafar "Pemukiman-Pemukima n Kuna di Daerah akarta dn Sekitarnya" makalah
pada Dskusi Ilmiah Arkeologi VI, Jakarta 11-12 Februari 1988. IAAI Komda Jawa
Barat.
Van der Hoop Catalogus der Prehistorische Verzameling. 1941.
R.P.Soejono "Indonesia (REgional REport)" Asian Perspectives VI, 1962: 23-24
I Made Sutayasa (l970) "Gerabah Prasedjarah dari Djawa Barat Utara (kompleks
Bun), makalah pada Seminar Sjarah Nasional II
Jurusan Arrkeologi FSUI (l985/1986), Peninggalan Purbakala di Batujaya (naskah
Laporan untuk Proyek Penelitian Purbakala, Jakarta)