apakah budaya membelah isi perut lalu dimakan, harus dipertahankan dan
dibela?. 

ada satu laporan yang saya rasa cukup obyektif, maaf bagi yang sudah
membaca.

wassalam
alvi
-----Original Message-----
From: Anton Sudarisman [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, 30 March 1999 1:59
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Kuli Tinta] Inilah bangsaku


Day posits:
Mungkin saudara Anton sedang sangat sensitif dengan istilah "barbar"
tersebut
ya?, karena mungkin Anda pernah mendengar ada yang menghubungkannya dengan
suku tertentu.. tapi saya rasa bukan di milis ini kan?

Anton S:
Saya memang sedang sensitif karena maunya sedang sensitif :) Yg jelas, saya 
tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yg bersengketa (Dayak, Melayu, Cina vs
Madura).
Sy juga belum pernah baca-baca ttg perkara ini di milis lain yg bisa membuat
saya
kehilangan kesadaran diri.

Saya hanya sungkan dgn pihak-pihak yg dgn mudah mencap sebuah budaya 
itu barbar sambil mengklaim diri bagian dari "abad modern, abad informasi,
di abad
tinggal landas," dlsb - sambil melihat sisi lain hidup ini dgn sikap
superioritas. Seperti lembaran dua dimensi. 

Day:
By the way.. dengan tulisan Anda..
saya rasa jika ada yang secara pendek nalar langsung menghubung-hubungkan
suatu tindakan dengan budaya suatu suku (padahal nggak ada hubungannya)
bisa terbuka matanya.. ya nggak?

Anton S:
Saya setuju sekhalei dengan Anda bahwa orang kini orang
semakin terbuka matanya. Dulu kita dicekoki dgn cerita (sebagian besar
Mitos) tentang keganasan suku asing (dayak, irian, dll). Tapi yg terjadi
skrgn
ini membukakan mata, bahwa keganasan itu -dgn segala ekspresinya -
bisa menghinggapi siapa saja dan dari golongan apa saja. 

Wassalam,

Anton S




______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!





KRONOLOGIS KERUSUHAN di KABUPATEN SAMBAS
Tim Pencari Fakta DPD Partai.Keadilan Kab.Sambas

Ada beberapa peristiwa yang dapat dijadikan pemicu kerusuhan diantaranya 
:
Peristiwa tertanggapnya seorang warga Madura dari Desa Rambayan Kec. 
Tebas yang ketahuan akan mencuri Motor di Desa Parit Setia Kec. Jawai, 
sedangkan dua temannya lagi berhasil meloloskan diri, tersangka tersebut 
sebelum diserahkan kepada pihak aparat sempat dianiaya atau dipukuli 
oleh warga setempat.  Pihak keamanan kemudian tersangka ke pihak 
keluarganya (di Desa Rambaian) tetapi pihak tersangka tidak menerima 
atas perlakuan warga tersebut dan indikasi akan melakukan pembalasan.   
Peristiwa ini terjadi kira-kira akhir Ramadhan 1419 H.

Tanggal 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia
Penyerbuan orang Madura ke Perkampungan Melayu dengan 3 truk berisi 300 
orang yang menelan korban 3 orang, dua orang melayu, 1 Dayak Mu'alaf.  1 
orang mati di tempat, 2 meninggal di rumah sakit.  Setelah peristiwa 
tersebut diadakan upaya damai dengan mediator camat tebas, namun pihak 
melayu merasa tidak puas sebab penyerbuan tersebut dianggap di tolerir 
tanpa hukuman yang berarti.  Oknum yang terlibat langsung dalam 
penyerangan tersebut yang dianggap sebagai tertuduh (pembunuh) setelah 
disidik menurut saksi korban ternyata bukan pelaku sesungguhnya dan 
hingga saat ini pelakunya masih misteri.  Pihak melayu meminta para 
pelaku seluruhnya ditindak tetapi pelaku yang ditangkap hanya 1 orang 
yakni anak kepala Desa yang mempunyai truk sedangkan dari pihak melayu 
ditangkap (diamankan sebanyak 8 orang kesemuanya mengaku sebagai 
penganiaya pencuri kendaraan.

Tanggal 26 Januari 1999, Singkawang
Forum Komunikasi Pemuda Melayu (FKPM) dibentuk dengan pemrakarsa : Uray 
Aminuddin, SH (Staff Pemda Bagian Hukum) dan Rosita Nengsih, SH menuntut 
kasus Parit Setia dituntaskan melalui jalur hukum sebagai ketua adalah 
M. Jamras (kontraktor dan termasuk jawara warga melayu).

Tebas, 21 Februari 1999
 Seorang warga Madura berinisial Rd turun dari Bis jurusan Pontianak 
Kertayasa di Semparuk dengan tidak membayar ongkos sehingga Kernet 
bernama Bujang L. Idris (Warga Melayu) marah. Sore harinya warga Madura 
menghadang si kernet yang berasal dari Semparuk diterminal Semparuk 
kemudian si madura menikam kernet melukai jari tangn dan kaki kanannya. 
Melihat kejadian itu warga Melayu yang berada di terminal tersebut 
menghampiri dan mengeroyok si Pelaku penikaman hingga tewas. Kemudian si 
kernet yang segera dilarikan ke rumah sakit siisukan meninggal maka sore 
itu juga terjadi pembakaran rumah-rumah yang dilakukaan oleh Warga 
Melayu, kemudian meerebak ke beberapa daerah sekitar Tebas antara lian : 
Tebas Sungai, Sunai Kelambu dan daerah sekitarnya yang merupkan pemukian 
Madura. Dari peristiewa tersebut warga Dayak di Sungai Kelambu mulai 
ikut terlibat pembakaran bahkan bertindak sebagai motor penggerak. Perlu 
diketahui bahwa salah satu Kepala Suku Dayak Sungai Kelambu menjadi 
korban orang Madura pada peristiwa Sanggau Ledo tahun 1997.

Pemangkat, 1 Maret 1999
Terjadi penganiayaan terhadap 6 orang pekerja buruh jalan dari warga 
madura, 4 orang meninggal 1 orang meninggal diantaranya meninggal di 
tempat dan 2 orang lolos

Desa Lonam Kec. Pemangkat
Seorang ibu peladang (melayu) ditakut-takuti dan dikejar oleh sekelompok 
Madura (pencari rumput) kemudian warga Melayu di sekitar Lonam yang 
tadinya tidak ingin terlibat akhirnya membakar rumah-rumah orang madura 
di desanya (dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa karena penduduknya 
telah diungsikan).  Pembakaran menjalar ke jalur lintas pemangkat 
(Gresik, Pusaka, Harapan, Pemangkat Kota, Lonam dan Sinam).  Adanya 
penyulutan di mana pihak Madura menantang pihak melayu dengan ucapan 
bahwa orang melayu tidak akan melawan orang Madura kalau tidak didukung 
orang dayak, salah satu cara pembakaran dengan cara disediakan obat 
nyamuk yang sudah menyala, sebatang korek api dan sebotol bensin yang 
diletakkan berdekatan dengan sasaran, yang beberapa saat kemudian 
terjadi kebakaran yang tidak diketahui pelakunya

Pemangkat (Desa Prapakan)
Pihak madura melakukan pencegatan di jalur lintas Pemangkat khususnya 
Desa Prapakan.  Salah seorang korban bernama Manurung (warga Batak) 
seorang pensiunan Guru dimana isterinya warga Dayak mobilnya dibakar dan 
diisukan ada korban jiwa dalam pembakaran tersebut orang Melayu 
(Pemuda-pemuda yang sebagian besar pengangguran) melakukan pembakaran 
yang membabi-buta yang didukung warga Dayak.

Pemangkat, 17 Maret 1999
Terjadi pembakaran serentak di beberapa Desa antara lain : Gresik, 
Prapakan, Sungai Palai, Parapakan Serdang, Parit Sinam dan Parit Baru)

Selakau, 17 Maret 1999
Terjadi tabrak lari di pasar Selakau oleh orang Madura, tersangka lari 
dan tertangkap oleh masa dan dianiaya sampai meninggal.  Masa spontan 
berkumpul mencapai kurang lebih 1.000 orang sedangkan aparat sedikit dan 
masa bergerak ke beberapa arah melakukan aksi pembakaran rumah yang 
sudah ditinggalkan oleh penghuninya (Madura) sore harinya terjadi 
pembunuhan orang Madura yang baru datang dari Laut setelah 4 hari 
mencari ikan di laut saat orang tersebut hendak menjual ikannya.  
Selanjutnya pembakaran massal terjadi pula di Desa Mentibar sampai di 
daerah pegunungan Selindung.

Samalantan, 17 Maret 1999
Menyusul terjadinya kabar pembunuhan 1 orang Dayak di Pemangkat oleh 
orang Madura orang-orang Dayak membakar pemukiman warga Madura yang 
telah ditinggalkan penghuninya, pasukan Dayak diisukan menyerang kota 
Singkawang, hal ini dipicu oleh isu meninggalnya seorang warga Dayak di 
Desa Prapakan Pemangkat. Terjadinya pencegatan oleh orang Madura dimana 
1 orang Dayak terbunuh dan otomatis jalur Samalantan ditutup.

Sanggau Ledo, 17 Maret 1999
Adanya pembakaran pemukiman Madura karena adanya berita terbunuhnya 
orang Dayak di Pemangkat (pada umumnya warga Madura telah diungsikan ke 
Pasir Panjang sebelum pembakaran).  Tersebar isu Dayak Pedalaman akan 
turun ke kota Singkawang namun aparat  sudah siap siaga dan dapat 
diblokade di kompi Batalyon 641 Beruang Hitam, Dayak kembali dan 
mengambil jalan lain ke daerah bukit Batu.
Kamis dinihari tanggal 18 Maret 1999 terdengar letupan senapan, kabarnya 
dayak datang kembali namun berhasil diblokade oleh pasukan keamanan.
Jum'at siang 19 Maret 1999, Dayak Pedalaman sudah memasuki batas blokade 
keamanan, tawar-menawar tidak dapat diatasi kemudian aparat 
memerintahkan kepada penduduk Madura (khususnya wanita dan anak-anak 
untuk mengungsi).  Aparat menyiapkan truk dan diangkut ke Pasir Panjang 
ada sebagian warga yang mendapati orang Dayak Pedalaman yang pergi ke 
Desa untuk membeli rokok dengan membawa uang yang cukup banyak.

Singkawang
Pemukiman Madura yang semula tidak ada tanda-tanda akan dijadikan lahan 
pembakaran sudah mulai dikosongkan (Condong, Roban dan Pasiran) tetapi 
masih ada juga yang tetap terutama di daerah yang dekat kantor atau 
markas keamanan.  Berkembang isu juga bahwa beringasnya aksi dayak ini 
disulut oleh terjadinya pemboman kapal pasukan Dayak oleh pasukan 
Artileri ABRI di sungai Selakau beberapa waktu yang lalu.

Sedau
Pada awal kejadian di daerah-daerah lain terjadi, warga Melayu Sedau 
tidak terlalu terpancing dan sebagian tokoh masyarakat mengharapkan agar 
tidak terjadi seperti di daerah lain, tetapi karena ada hasutan dari 
warga Melayu daerah lain diantaranya dengan mengirim (afwan) celana 
dalam maka wargapun terhasut dengan berencana membakar pemukiman Madura.  
Maka warga Madura diungsikan ke Singkawang dan Pontianak dan upaya 
penyerbuan atau pembakaran dapat diatasi oleh aparat kepolisian dan 
tentara.


Hal-hal yang bisa diperhatikan terutama di daerah singkawang kota :
a. Aparat menginstruksikan melalui para bintara agar masyarakat 
mengambil peran aktif didalam menjaga keamanan lingkungan, ada sloga 
selamatkan diri masing-masing (SDM).  Pada hari jum'at siang (19 Maret 
1999) kondisi Singkawang cukup tegang dengan isu Dayak masuk kota 
ditambah dengan aksi hilir mudiknya anggota keamanan dengan senjata 
lengkap (rata-rata 1 aparat dengan 2 senjata ; pistol dan senapan laras 
panjang).
b. Di tingkat elit sipil kab. Sambas beredar kecurigaan keterlibatan 
inteligent militer yang sengaja mengambil kepentingan terhadap peristiwa 
ini sebagai contoh ketika hal ini diungkapkan oleh salah seorang Eselon 
III (Kepala BPS) di depan Bupati dan Muspida, tanggapan dari Polres 
kurang memuaskan dengan mengemukakan alasan berkaitan dengan HAM. Bahkan 
dalam mengungkapkan ketidak puasan salah seorang pejabat tadi mengatakan 
: "ABRI terkesan kurang berwibawa dibandingkan daripada Dayak" dan hal 
ini diiyakan oleh kepada MAWIL Hansip setempat (purnawirawan ABRI)
c. Warga Melayu umumnya ikut tersulut oleh peristiwa di daerah lain dan 
sedikit warga yang memahami kondisi secara objektif.  Warga mudah 
tersulut oleh isu yang berlebihan sebagai contoh ketika Jum'at Siang 19 
Maret tersebar isu orang-orang Dayak Pedalaman Memasuki Singkawang maka 
secara spontan warga Melayu mempersiapkan senjata tajam berupa pedang, 
prang, golok, tombak disertai dengan memakai pita kuning maka semua toko 
dijantung kota tutup dan sebagaian besar kantor-kantor tutup sebelum 
waktunya (perlu diingat bahwa pita kuning adalah lambang melayu dan pita 
warna merah adalah Dayak).  Tersebar pula isu bahwa penyerbuan ke 
pemukiman Madura singkawang kota akan dilakukan atnggal 18 Maret 1999 
dan apabila gagal maka tanggal 21 Maret 1999, yang anehnya justru warga 
Melayu yang bersiap-siap dengan persenjataan yang berlebihan dengan 
dalih Madura akan menyerang Melayu apabila Melayu tidak siap atau 
bersenjata (Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada kerusuhan di Kota 
Singkawang)

Kasus yang berhadapan langsung dengan tokoh PK di Kab. Sambas
1. Seorang supir Oplet, abang ipar Sapoead (Pengurus DPD PK Sambas) 
dipaksa untuk menyeret dengan opletnya mayat orang Madura yang sudah 
dipenggal lehernya (dadanya sudah bolong tanpa hati dan jantung) kurang 
lebih berjarak 3 Km menyusuri jalan propinsi sepanjang Desa Pusaka.  
Supir tersebut diancam kalau tidak mau menyeret mayat mobilnya akan 
dibakar
2. Tarmizan, adik ipar Sapoead (Pengurus DPD PK Kab. Sambas) melihat 
langsung kejadian ada mayat warga Madura tanpa kepala, hati dan 
jantungnya telah diambil kemudian dibakar dan dimakan oleh orang-orang 
Dayak (Daerah Setapuk)
3. Salah seorang pengurus DPD PK Sambas (Idris) yang bertugas sebagai 
supir perusahaan kue dicegat oleh sekelompok warga Melayu di Pemangkat 
dan menanyai pimpinan rombongan bernama Suroso (Simpatisan PK) setelah 
menjelaskan bahwa dia berasal dari Jawa maka mereka disuruh melanjutkan 
perjalanan.  Alhamdulillah Allah SWT melindungi hamba-Nya yang ditanya 
adalah pimpinan rombongan bukan supir (Idris) yang berasal dari Madura


Singkawang, Senin 22 Maret 1999


        Mengetahui
Ketua DPD Partai Keadilan               Tim Pencari Fakta
Kab. Sambas

Ttd                                                             ttd

Ustadz H. Ahmad Hambali, Lc             (Drs.R.Arso BR, Sapoead, Asep
S,A.Ak)



Bagi Yang ingin mengirimkan donasinya ke Posko Keadilan kirimkan ke :
BCA Pontianak : No. 0290428009 an. Arif Joni Prasetyo ST


______________________________________________________

------------------------------------------------------------------------
eGroups Spotlight:
"Africanshereandthere" - African-American artists, djembe drummers, dancers.
http://offers.egroups.com/click/243/2

eGroup home: http://www.eGroups.com/list/sabili
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com




______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!

Kirim email ke