Citra has it:
Saya melihat kondisi pada saat ini yang kayaknya semakin tidak beraturan
Dengan kesalahan sedikit saja (yang sengaja dibuat), orang saling bunuh dan
saling menghancurkan, hal tersebut kita lihat di Ambon dan Sambas.
Anton S:
Bagi banyak orang, kerusuhan yg terjadi sungguh tak terpahami.
Dari perkara sepele menjadi malapetaka besar.
Namun, saya setuju dgn pendapat bahwa masalah di banyak daerah
bukanlah masalah sepele, melainkan bak gunung es. Masalah yg terpendam
seabreg jumlahnya, sedang yg muncul tampak kecil, setelah diobok sedikit
ternyata bejibun yg ada.
Di Kalimantan ini, di mana saya tinggal, misalnya, penderitaan masyarakat
asli semakin hari semakin parah tak terperikan.
Di Kaltim, misalnya, hanya sedikit penduduk asli (Kutai)
yg mendapatkan tempat yg wajar. Ibukota Samarinda dan Balikpapan,
secara ekonomis dikuasai warga Tionghoa dan Banjar,
sedang secara sosio-politik lebih didominasi
orang Jawa, Banjar, Bugis. Sementara 400.000 warga
Kutai dan Dayak masih tersudut di desa-desa tepi sungai di pinggir hutan
HTI
dan tambang besar yg sudah dikuasai orang Jakarta.
Citra:
Rasanya wajar saja kalau dalam hidup kita ini ada perbedaan-perbedaan,
namunyang harus kita cari adalah solusi bagaimana untuk mengecilkan
perbedaan-perbedaan tersebut. Hal ini akan semakin buruk jika
perbedaan yang sedikit tersebut malah diperbesar.
Anton:
Kita memang mengenal toleransi, yg secara etimologis
artinya "membiarkan" berbeda. Sebenarnya membiarkan
perbedaan tidaklah cukup. Mungkin lebit tepat kita pakai
kata "menghargai" atau "apresiasi" .
Namun kuncinya justru pada keadilan perlakukan, baik secara
ekonomis, sosial dan politis, karena ketidakadilan itulah biang dari
segala bencana ini.
Anton S
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!