-----Original Message-----
From: Anton Sudarisman <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, March 26, 1999 2:44 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] Inilah bangsaku
>Orang dengan mudah teriak, mencap, dan memandang rendah
>Komunitas tertentu, tanpa tahu kompleksnya permasalahan sebenarnya.
>Karena, bagi saya, akar permasalahannya bukan pada budayanya,
>Namun menggunungnya masalah sosial-ekonomi, keterdesakan,
>Social-political jealosy, yg sudah mencapai titik tertinggi.
>Ini berlaku bagi Ambon dan Sambas, Ujung Pandang, Medan,
>Jawa Timur. Kekerasan, kebiadapan sendiri, bisa meletus dimana saja.
>Tak mengenal suku, golongan, tak mengenal agama.
Maaf ikut nimbrung.
Menurut saya, memang bisa kejadian yang digambarkan oleh bung Gagak Putih
sebagai tindakan yang dikategorikan barbar. Namun mungkin yang ingin
dikemukakan oleh bung Gagak Putih adalah mengapa harus seperti itu, dan apa
jalan yang terbaik untuk menghindar terulangnya peristiwa seperti itu.
Tolong betulkan bila salah.
Memang permasalahan di negara kita ini sudah sangat pelik / rumit..
menyebabkan ketidakpuasan di berbagai kalangan. Tapi tindakan memenggal
kepala, menguliti kepala adalah tindakan orang yang tidak beradab. Orang
yang beragama, tentunya tidak akan berbuat sampai seperti itu. Kecuali bila
sudah out of mind.
Dan memang perlu disesali, pemerintah malah mengurusi Mr. Winters yang
hendak berusaha 'mengupas borok' pemerintah. Ini menandakan bahwa pemerintah
tidak bisa lagi memilih prioritas yang mana yang harus diatasi terlebih
dahulu.
Seharusnya aparat sudah menyiapkan 'agen-agennya' utk stand-by di daerah-2
yang rawan seperti Sambas. Yang maksud saya, memang sudah ada 'minyak' dan
'kayu' berserakan, tinggal diberi 'api', terbakarlah.
Sehingga kejadian seperti di Sambas itu tidak perlu sampai berlarut-larut.
Setidaknya dalam satu hari sudah bisa diredam.
Karena semakin banyak peristiwa ini terjadi, akan ada anggapan bahwa
tindakan seperti itu adalah suatu tindakan yang biasa dilakukan orang kalap
atas suatu konflik apapun. Saya sangat berharap kejadian seperti itu tidak
terulang di tanah air tercinta ini.
Banyak contoh di Ibukota, walau tidak seperti di Sambas, yaitu konflik antar
warga di Matraman, Jakarta Timur. Yang sudah sering mengambil korban jiwa.
Apa bisa coba kita pikirkan sejenak, apakah sebenarnya konflik mereka itu?
Hingga harus membunuh?! Hanya karena membiarkan konflik berlarut-larut?
Hari ini (Jum'at 26/03/99), sekitar jam 18 kurang, sebelum Maghrib, saya
sempat lihat segerombolan manusia yang mayoritas anak muda. Membawa
potongan-potongan kayu, memenuhi jalan dari arah Klender menuju Pulogadung.
Wajah mereka seperti siap untuk menghancurkan. Toko-2 sudah ditutup.
Saya sempat merasa was-was ketika beberapa orang melintas di sebelah mobil
saya yang sedang berusaha menuju Klender. Ada yang kelihatan hendak berbuat
macam-macam, tapi ada komando dari depan rombongan yang melarang.
Entah itu rombongan yang berniat apa, aparat sudah bersiap-siap di pinggir
jalan. Namun saya hanya berharap di dalam hati supaya tidak terjadi apa-apa.
Sukurlah saya bisa lewat.
Maaf terlalu bertele-tele, intinya masyarakat kita sudah mulai dijejali
dengan peristiwa-peristiwa destruktif yang tidak beradab, dapatkah kita STOP
sampai di sini?
Mudah-mudahan ada yang memiliki jawabannya.
Wassalam & peace,
DEZIG!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!