Saya melihat kondisi pada saat ini yang kayaknya semakin tidak beraturan
Dengan kesalahan sedikit saja (yang sengaja dibuat), orang saling bunuh dan
saling menghancurkan, hal tersebut kita lihat di Ambon dan Sambas.
Rasanya wajar saja kalau dalam hidup kita ini ada perbedaan-perbedaan, namun
yang harus kita cari adalah solusi bagaimana untuk mengecilkan
perbedaan-perbedaan tersebut. Hal ini akan semakin buruk jika perbedaan yang
sedikit tersebut malah diperbesar.
Sebagai ilustrasi, Antara gigi dan lidah kita yang berada dalam satu ruang/
rongga mulut, kadang-kadang bertengkar, yaitu dengan tergigitnya lidah oleh
gigi kita sendiri. Lalu bagaimana solusi kita ?, apakah mencoba lebih
hati-hati, sehingga lidah tidak tergigit lagi, atau dengan memotong lidah
dan mencabut semua gigi kita sehingga lidah tidak tergigit lagi. Kalau
dilihat dari prilaku negara/ bangsa kita pada saat ini, maka option ke 2
yang banyak dilakukan. Gara-gara 1 orang, semua orang yang sealiran, baik
Suku, Agama, Etnis dan lain sebagainya harus dimusnahkan. Haruskah demikian,
bukankah itu perbuatan konyol.
Contoh lain adalah, gara-gara konglomerat yang mempraktekkan KKN tersebut
banyak yang orang Tiong Hua, maka semua orang Tiong Hua di Indonesia harus
dimusuhi, padahal dengan kondisi penduduk Tiong Hua sekitar 10 juta orang,
maka jika yang melakukan KKN = 1.000 orang (0,01%), mengapa yang 9.999.000
orang lagi harus menerima akibatnya. Apakah mereka yang 9.999.000 orang
tersebut ikut menikmati hasil KKNnya ?, saya rasa tidak, malah justru lebih
dipersulit dengan UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Padahal entah sadar atau tidak,
berapa banyak pejabat yang melakukan KKN, berapa instansi yang korupsi (mark
up) dalam pembelian barang. Mungkin jika dihitung-hitung, jumlah instansi
yang melakukan KKN saja lebih banyak dari jumlah konglomerat yang KKN, belum
lagi jumlah orang yang melakukan KKN dalam 1 instansi.
Regards
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!