Saya setuju dengan sdr. Wong.
Buat Mbak Ayu, tolong jangan disalah artikan kata perjuangan dengan
perjuangan yang menghalalkan segala cara, atau perjuangan yang membabi buta.
Menanggapi tulisan anda, saya juga jadi ngeri dengan semangat perjuangan
yang membabi buta seperti itu. Saya juga yakin kalo Mbak Megawati pasti
tidak merestui cara-cara atau tindakan 'oknum pdip' yang melanggar HAM
seperti yang terjadi di Purbalingga itu. Lagipula belum tentu pelaku
tindakan tidak terpuji itu adalah kader pdip. Atau tidak semua dilakukan
oleh kader pdip. Seharusnya kita sekarang bisa bertindak lebih dewasa, kalo
nggak mau dibilang sama dengan cara-cara Orde Baru bahkan lebih gila.
Ingat, demokrasi bukan berarti memperbolehkan orang bertindak seenaknya, dan
reformasi tidak menghalalkan orang untuk menjadi anarkis dan memperkosa HAM.
Reformasi total yang kita inginkan adalah untuk membawa Indonesia menjadi
bangsa yang terhormat bagi semua warga negara maupun dunia internasional,
aman, tentram, dan kemakmuran milik seluruh rakyat (tanpa terkecuali), serta
menjunjung tinggi hukum dan undang-undang yang berlaku.
NOTE: Sebaiknya polemik ini selayaknya tidak diperpanjang lagi deh...
Mari kita introspeksi masing-masing diri kita, apakah kita sudah
siap memasuki era Indonesia Baru yang kita cita-citakan itu.
At 20:24 04/04/99 PDT, Sian Djie Wong wrote:
>Ini lah pengakuan salah satu pelaku yang terlibat dalam acara di
>Jateng itu. Ybs marah krn kalimat Amien Rais. AR mengatakan yang
>ribut itu paling kriminal yang pakai atribut pdip.
>Tentu saja maksudnya AR tak berani nuduh langsung kalau yang bikin
>onar itu adalah anggota PDIP. Tapi salah satu wanita banteng ini
>marah-marah pada AR, yang menunjukkan bahwa sebenarnya anggota
>PDIP memang terlibat.
>
>Meski Ketua-ketua yang di Jakarta tak memerintahkan mengganggu,
>toh pelaku itu anggota PDIP. Ach, jadi mikir lagi nih mau pilih
>PDIP. Kayaknya enggak jadi deh.
>
>_Wong.
>
>-----fwd---------------------------
>
>Re: Re; Masa PDI Perjuangan mengamuk.
>From: Ayu Setiarini
>Date: 04 Apr 1999
>Time: 11:40:21
>Remote Name: 195.96.98.222
>
>Comments
>
>Mas Prayitno hendaknya tidak serta merta mempercayai tudingan Pak Amien
>bahwa kami ini kriminal. Kami sakit hati dituding begitu.
>Tidak rela...!!! Enak saja menuding orang kriminal.
>Saya ada di tengah massa, ikut memperingatkan wanita Golkar supaya
>kembali dan tidak meneruskan perjalanannya. Kok semena-mena menuding
>orang sebagai kriminal. Tahu apa Amien Rais di kejauhan sana daripada
>kami? Kalau berani silakan Amien Rais datang ke Banjarnegara untuk
>klarifikasi.
>
>Peristiwa bentrok itu sudah risiko perjuangan. Kalau tidak bisa
>menghayati apa makna perjuangan beserta segala risikonya ya maaf
>saja kalau anda semua salah persepsi terhadap kami.
>
>Setiap perjuangan mengandung risiko. Petani mengayunkan sabit dan
>cangkul berisiko terluka kena sabit atau keterjang cangkul.
>Para buruh memakai palu juga berisiko terluka kena hantam palu.
>Tetapi setelah itu kan mereka memetik hasilnya, berupa panen yang
>menggembirakan hati atau upah yang diterima. Tetapi untuk mencapai hasil
>panen atau upah itu seseorang harus berjuang dulu. Harus siap terluka,
>sakit, bahkan mati. Mana ada hasil turun begitu saja dari
>langit kalau tidak diperjuangkan terlebih dahulu?
>
>Bentrok dengan massa Golkar itu sudah risiko politik, sebagaimana petani
>atau buruh menanggung risiko masing-masing. Kami sudah
>bertekad bulat untuk memenangkan PDIP di Banjarnegara. Karena itu Golkar
>yang kami pandang sebagai salah satu hambatan, ya harus
>disingkirkan.
>
>Soal wanita Golkar yang dilepas kaosnya hingga tinggal BH, saya harap
>tidak usah dibesar-besarkan. Gitu aja kok dibesar- besarkan. Di desa
>kami ibu-ibu juga terbiasa hanya berkain dan berBH saja ramai-ramai
>mencuci pakaian di sungai. Lagipula saya ulangi sekali lagi: kalau sudah
>niat terjun ke politik, ya jangan cengeng. Perjuangan itu keras.
>Makanya kami bangga dengan ketegaran Mbak Mega. Beliau betul-betul
>typikal wanita idaman: tidak cengeng, menyadari apa risiko perjuangan,
>tabah menghadapi segala rintangan.
>
>Ini baru dilepas kaosnya saja sudah menangis...Memang dasar wanita
>Golkar itu manja. Bukti bahwa mereka tidak ditempa oleh perjuangan.
>Selama ini mereka enak-enak saja menikmati fasilitas tanpa harus
>berjuang. Makanya baru digituin saja sudah menangis. Sebagai wanita SAYA
>JUSTRU MALU dengan kualitas wanita yang lembek begini. Karena itu saya
>katakan, lebih baik di rumah saja, menyusui anak. Bukan bermaksud
>negatif, tetapi kalau memang tidak siap menghadapi risiko perjuangan ya
>lebih baik di rumah saja toch?
>
>Itulah bedanya kami dengan wanita Golkar. Ini sekaligus sebagai
>tanggapan untuk posting Mbak Diah. Perjuangan itu keras, Mbak... Sadari
>itu.
>Terimakasih,
>Salam,
>Ayu Setiarini,
>
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>
=================================================================
David Muhammad
PT. Sony Electronics Indonesia
Production Control Department
Tel : 62-021-8980062 (direct : 9-071-314)
262
Fax : 62-021-8980460 (direct : 9-071-337)
E-mail address : [EMAIL PROTECTED]
=================================================================
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!