Saudara Sian Djiw eh..., Djie Wong, kok gencar sekali memberitakan hal itu
ya? How do you know for sure that the letter wrote by a true PDIPs? Kalau
saya orang PDIP, pasti saya enggak akan kasih alasan seperti itu yang malah
merugikan. Saya melihat alasan itu tidak logis diucapkan sebagai pembelaan
diri, tapi malah pura-pura membela diri untuk menjatuhkan PDIP. Lagipula,
yang saya tahu, warga PDI Perjuangan, tidak menyingkat nama partainya
menjadi PDIP, tetapi tetap PDI Perjuangan. Megawati sendiri mengatakan
sewaktu deklarasi partai --seingat saya yang saya dengar di radio--, "Nama
partai kita adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, atau disingkat PDI
Perjuangan. Ingat, PDI Perjuangan, jangan disingkat PDIP". Jadi, saya
meragukan bahwa surat itu dibuat oleh warga PDI Perjuangan.

------------------------Martin Manurung-----------------------------
[EMAIL PROTECTED]  [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
____________________________________________
"Love your enemies, do good to those who hate you"

-----Original Message-----
From: Sian Djie Wong <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 05 April 1999 10:33
Subject: [Kuli Tinta] Pengakuan Wanita Banteng


Ini lah pengakuan salah satu pelaku yang terlibat dalam acara di
Jateng itu. Ybs marah krn kalimat Amien Rais. AR mengatakan yang
ribut itu paling kriminal yang pakai atribut pdip.
Tentu saja maksudnya AR tak berani nuduh langsung kalau yang bikin
onar itu adalah anggota PDIP. Tapi salah satu wanita banteng ini
marah-marah pada AR, yang menunjukkan bahwa sebenarnya anggota
PDIP memang terlibat.

Meski Ketua-ketua yang di Jakarta tak memerintahkan mengganggu,
toh pelaku itu anggota PDIP. Ach, jadi mikir lagi nih mau pilih
PDIP. Kayaknya enggak jadi deh.

_Wong.

-----fwd---------------------------

Re: Re; Masa PDI Perjuangan mengamuk.
From: Ayu Setiarini
Date: 04 Apr 1999
Time: 11:40:21
Remote Name: 195.96.98.222

Comments

Mas Prayitno hendaknya tidak serta merta mempercayai tudingan Pak Amien
bahwa kami ini kriminal. Kami sakit hati dituding begitu.
Tidak rela...!!! Enak saja menuding orang kriminal.
Saya ada di tengah massa, ikut memperingatkan wanita Golkar supaya
kembali dan tidak meneruskan perjalanannya. Kok semena-mena menuding
orang sebagai kriminal. Tahu apa Amien Rais di kejauhan sana daripada
kami? Kalau berani silakan Amien Rais datang ke Banjarnegara untuk
klarifikasi.

Peristiwa bentrok itu sudah risiko perjuangan. Kalau tidak bisa
menghayati apa makna perjuangan beserta segala risikonya ya maaf
saja kalau anda semua salah persepsi terhadap kami.

Setiap perjuangan mengandung risiko. Petani mengayunkan sabit dan
cangkul berisiko terluka kena sabit atau keterjang cangkul.
Para buruh memakai palu juga berisiko terluka kena hantam palu.
Tetapi setelah itu kan mereka memetik hasilnya, berupa panen yang
menggembirakan hati atau upah yang diterima. Tetapi untuk mencapai hasil
panen atau upah itu seseorang harus berjuang dulu. Harus siap terluka,
sakit, bahkan mati. Mana ada hasil turun begitu saja dari
langit kalau tidak diperjuangkan terlebih dahulu?

Bentrok dengan massa Golkar itu sudah risiko politik, sebagaimana petani
atau buruh menanggung risiko masing-masing. Kami sudah
bertekad bulat untuk memenangkan PDIP di Banjarnegara. Karena itu Golkar
yang kami pandang sebagai salah satu hambatan, ya harus
disingkirkan.

Soal wanita Golkar yang dilepas kaosnya hingga tinggal BH, saya harap
tidak usah dibesar-besarkan. Gitu aja kok dibesar- besarkan. Di desa
kami ibu-ibu juga terbiasa hanya berkain dan berBH saja ramai-ramai
mencuci pakaian di sungai. Lagipula saya ulangi sekali lagi: kalau sudah
niat terjun ke politik, ya jangan cengeng. Perjuangan itu keras.
Makanya kami bangga dengan ketegaran Mbak Mega. Beliau betul-betul
typikal wanita idaman: tidak cengeng, menyadari apa risiko perjuangan,
tabah menghadapi segala rintangan.

Ini baru dilepas kaosnya saja sudah menangis...Memang dasar wanita
Golkar itu manja. Bukti bahwa mereka tidak ditempa oleh perjuangan.
Selama ini mereka enak-enak saja menikmati fasilitas tanpa harus
berjuang. Makanya baru digituin saja sudah menangis. Sebagai wanita SAYA
JUSTRU MALU dengan kualitas wanita yang lembek begini. Karena itu saya
katakan, lebih baik di rumah saja, menyusui anak. Bukan bermaksud
negatif, tetapi kalau memang tidak siap menghadapi risiko perjuangan ya
lebih baik di rumah saja toch?

Itulah bedanya kami dengan wanita Golkar. Ini sekaligus sebagai
tanggapan untuk posting Mbak Diah. Perjuangan itu keras, Mbak... Sadari
itu.
Terimakasih,
Salam,
Ayu Setiarini,

Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!






______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke